[Review Buku] Mati Baik-Baik, Kawan: Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

image

Judul buku : Mati Baik-Baik, Kawan
Penulis : Martin Aleida
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Penerbit : Akar Indonesia
Tahun terbit : 2009
Jumlah hal. : 144 halaman
ISBN : 979190044-2

 

Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…”

Saat saya sekolah dulu—bahkan sampai sekarang—pengetahuan sejarah saya sangat minim. Saya tidak begitu tertarik mempelajari sejarah, jujur. Baru dua tahun terakhir ini entah kenapa, melalui sastra, saya sepertinya mulai menyukai sejarah. Haha. Sastra, membawa saya mengetahui hal-hal yang bahkan tak akan saya temui di bangku sekolah. Sejarah yang coba ditutup-tutupi atau dibuat kabur misalnya.

Mati Baik-Baik, Kawan berisi sembilan cerpen yang ditulis Martin Aleida, mengangkat tema peristiwa ’65—disebut-sebut sebagai tahun-tahun tergelap bangsa Indonesia—yang dalam buku-buku sejarah dulu dikenal dengan G30S/PKI. Penulis mencoba menghadirkan lagi cerita bertema ’65 dengan versi yang sangat berbeda dengan yang dibentuk pemerintahan orde baru.

Melalui antologi cerpennya, Martin bercerita dari sudut pandang korban peristiwa tersebut, korban ‘pelabelan’ komunis, korban stigma dari apa yang dibentuk oleh pemerintah, korban—bahkan keturunannya—yang sampai mati membawa ketakutan-ketakutan akibat label tersebut.

Cerpen pertama, Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh, bercerita tentang lelaki berdarah Bali yang memilih lari meninggalkan tanah kelahirannya demi angan bahwa suatu hari dia bisa mati terhormat. Tidak seperti ayahnya yang diseret ke tepi lubang lalu tengkuknya dihantam linggis hingga meninggal di dalam lubang, ditimbun bersama jasad petani lain, tanpa doa dan upacara.
Dalam cerpen pertama jelas keinginan tokoh Mangku yang tidak tahan dan ingin lari sejauh-jauhnya dari kampung yang ia cintai tapi tak ingin mati di tanahnya. Mangku sebagai perwakilan dari mereka yang tidak tahan dengan tekanan dari masyarakat dan aparat pemerintah yang memandang dia sebagai antek-antek komunis. Cerpen ini memiliki magisnya sendiri bagi saya—dan mungkin berlaku untuk pembaca yang lain. Bahkan di paragraf terakhir—di mana Mangku memperlakukan kera-nya yang mati dengan sangat terhormat—saya sempat bergidik saat membacanya, “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…

Tanpa Pelayat dan Mawar Duka adalah cerpen kedua dalam buku ini. Bercerita tentang seorang lelaki yang pada saat meninggal dunia, tak ada seorang pun yang datang melayat. Orang-orang yang dia rebut tanahnya secara paksa dulu—sebelum pemerintahan 30 tahun lebih di negeri ini lengser—telah datang membawa dendamnya masing-masing. Tak ada pelayat yang datang, apalagi bunga duka. Pekuburan sepi, bahkan para penggali kuburan memilih menepi dan tak menghiraukan peti mati yang teronggok di atas tanah-tanah hasil rampasan dari mereka.
Pikiran mereka melayang mengenang ayah mereka yang dipaksa naik ke atas truk di tengah malam, dilarikan entah ke mana. Disiksa untuk mengakui apa yang tak mereka perbuat, atau pikirkan sekalipun. Melalui kalimat tersebut, penulis mencoba memperlihatkan lagi bagaimana kenyataan yang harus dihadapi oleh mereka yang tak tahu apa-apa tapi dipaksa mengakui dan bagaimana nasib keturunan-keturunan mereka. Dan lagi-lagi pada penutup, Martin seolah menunjukkan kegetiran dari sisi lain: Tak ada suasana duka di pekuburan itu. Kecuali pada sebentuk hati seorang istri yang harus menggali sendiri liang lahat untuk jenazah suaminya.

Cerpen Malam Kelabu, tentang seorang pemuda bernama Kamaluddin Armada yang ingin melamar kekasihnya di satu desa yang sedang memanas karena isu komunis. Sebelum sampai di rumah kekasihnya, dia harus menemui kenyataan pahit tentang calon istrinya itu beserta keluarganya. Buah dari pelabelan ‘komunis’, lagi-lagi.

Mengawini anak seorang komunis bukan berarti kita komunis. Aku kawin dengan anaknya, bukan dengan ayahnya.’

Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis, tak peduli Ibu Mulyo yang buta huruf. Seperti di daerah lain, keluarga komunis ikut hilang, tak peduli apakah mereka buta politik atau tidak.’

Lagi-lagi melalui cerpen ini penulis mewakili korban-korban yang diberi ‘cap’ ikut bertanya, apa salahnya menjadi komunis? Apa salah keluarga yang tak tahu apa-apa, lalu karena satu orang di keluarganya ‘dituduh komunis’, lantas mereka ikut dihilangkan? Lewat tokoh Kamal dan seorang carik desa, Martin memberitaukan bagaimana rasa kehilangan dan penyesalan atas sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa-apa.

Leontin Dewangga mengisahkan pasangan suami istri yang menyembunyikan rahasia masa lalu yang sebenarnya saling berkaitan. Mereka adalah korban-korban pe-label-an orba, yang takut jika suatu saat nanti pasangan mereka tahu dan membenci satu sama lain. Hingga di detik-detik terakhir Dewangga menghembuskan nafas, rahasia itu baru terkuak. Betapa kesedihan dan kedukaan masa lalu harus mereka bawa dan rahasiakan selama membangun rumah tangga.

Lalu, Ode untuk Selembar KTP, tentang perempuan berusia tujuh puluh dua tahun yang begitu bahagia di umurnya yang renta itu, menerima selembar KTP yang di dalamnya tak ada lagi embel-embel ET—eks tahanan politik. ‘Aku tak tahu apa kesalahan suamiku menjelang bencana tahun 1965, sehingga dia harus dilenyapkan. Dan istrinya, anak-anaknya yang masih merah, harus menderita.’

Bertungkus Lumus, tentang duka yang dibawa seorang perempuan korban kebiadaban zamannya, yang meskipun terluka dengan apa yang didapatkannya, dia tetap bertahan demi anak yang dicintainya. ‘Dendam bisa kehilangan isi, ingatan tak akan pernah.’

Salawat untuk Pendakwah Kami adalah kisah dari seorang Haji Johansyah, seorang penjual kupiah yang terkenal ramah dan humoris. Saat Haji Johansyah meninggal begitu banyak pelayat yang datang dari penjuru kota, mengenang hal-hal baik yang sering dilakukan pak haji itu. Dan lagi-lagi benang merahnya adalah tahun ’65. Melalui kisah sederhana Haji Johansyah, Martin seolah ingin memberitahu pada pembacanya bahwa siapa saja bisa jadi korban kebiadaban orba, meskipun hanya seorang penjual kupiah yang secara kebetulan dituduh menyumbangkan kupiah untuk hari ulang tahun Partai Komunis Indonesia.

Dendang Perempuan Pendendam tentang seorang perempuan yang mendendam pada pamannya yang dengan tega merampas tanah warisan ayahnya—yang ‘hilang’ karena dituduh komunis—dengan cara menggeser patok secara licik. ‘Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Terlalu lama aku memendam dendam yang telah membatu…’

Di akhir, Ratusan Mata di Mana-Mana sebagai penutup memberikan cerita tentang kisah si penulis itu sendiri. Apa dan bagaimana dia menggeluti pekerjaannya serta alasan ketika dia memilih berhenti.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini memberi penekanan yang mendalam terhadap rasa sedih, pilu, kehilangan, dendam, dan rahasia luka di masa lalu, yang bahkan mereka—para korban—sendiri tak tahu apa yang mereka perbuat sehingga diperlakukan semena-mena oleh penguasa yang lalim.
Martin berhasil memberi emosi pada setiap cerpennya, seolah-olah korbanlah yang sedang bercerita. Realisme magis dalam cerpen-cerpen tersebut sangat tampak, lagi- lagi berkat keberhasilan penelitian dan riset mendalam yang dilakukan oleh penulis. Tak ragu saya memberikan 5 dari 5 bintang untuk buku ini.

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s