[Review Buku] Montase: Perempuan Sakura

image

Judul buku : Montase
Penulis : Windry Ramadhina
Editor : Ayuning & Gita Romadhona
Proofreader : Christian Simamora
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2012
Jumlah hal. : viii + 360 halaman
ISBN : 979-780-605-7

                           Perempuan Sakura
                   “Tapi, kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai … dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.”

Montase: (1) komposisi gambar yang dihasilkan dari percampuran unsur beberapa sumber; (2) karya sastra, music, atau seni yang terjadi dari bermacam-macam unsur; (3) gambar berurutan yang dihasilkan dalam film untuk melukiskan gagasan yang berkaitan; (4) pemilihan dan pengaturan pemandangan untuk pembuatan film. (KBBI)

Novel ini bercerita tentang Rayyi, mahasiswa perfilman yang bercita-cita menjadi sutradara film dokumenter. Mimpinya sempat mendapat halangan dari ayahnya yang seorang produser film terkenal yang menginginkan Rayyi mengikuti jejaknya memproduksi film yang akan laku di pasaran. Lalu Rayyi bertemu Haru, perempuan berdarah Jepang yang sama-sama mengikuti sebuah festival film dokumenter berskala nasional di Jakarta. Perkenalannya dengan Haru—si gadis berkepala angin—pun berlanjut karena Haru menjadi mahasiswa pertukaran pelajar di kampus yang sama dengan Rayyi. Mereka sama-sama menyukai film dokumenter.

Sejak saat itu Haru menemani perjalanan Rayyi menggapai impiannya menjadi sutradara film dokumenter sekelas Samuel Hardi, sutradara favoritnya. Perjalanan mereka juga dibumbui kisah-kisah persahabatan dan percintaan khas anak kuliahan.

Banyak ilmu tentang perfilman yang dipaparkan dalam buku yang—menurut saya—bercerita tentang impian, idealisme, keberanian mengambil keputusan, dan bagaimana menjalani semuanya.

Montase adalah novel pertama Windry yang saya baca. Mengambil sudut pandang orang pertama—Rayyi—dalam cerita. Saya merasa agak bosan di awal saat membacanya, alurnya sedikit lambat. Penggunaan tokoh laki-laki pun sebenarnya cukup berani, sebab saya masih menemukan masih ada sisi ‘perempuan’ dalam ungkapan-ungkapan Rayyi.

Windry, dalam hal pemilihan judul—saya menebak—adalah penulis yang kaya diksi. Narasinya lancar dan dalam beberapa hal tidak terkesan dipaksakan—meskipun masih ada yang ‘kurang’.

Secara keseluruhan, saya memberi 3 dari 5 bintang untuk novel bersampul cantik ini.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s