[Review Buku] Murjangkung : Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu

image

                       MURJANGKUNG : Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu
Penulis : A.S. Laksana
Proofreader : Jia Effendie
Jumlah halaman: vii + 216 hlm.
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit: 2013

Maka, demi menuturkan cerita ini, pada malam Jumat kemarin kurasuki tubuh seseorang untuk menuliskannya. Kau mungkin akan mengira bahwa cerita ini ditulis oleh A.S. Laksana. Sesungguhnya bukan, ia sudah lama tidak menulis dan kurasa ia sedang tidak memiliki gagasan apapun untuk ditulis. Aku meminjam jari-jarinya dan menggunakan namanya agar cerita ini sampai kepadamu.” –Otobiografi Gloria-

Apa kau suka membaca atau mendengarkan dongeng? Apa yang kau sukai dari sebuah cerita? Idenya, cara bertutur penulisnya, atau bahasanya? Apa kau suka membaca cerita-cerita dengan akhir yang bahagia, sedih, atau ‘menggantung’? Murjangkung : Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu, berisi dua puluh cerpen yang ditulis oleh A.S. Laksana.

Kumpulan cerpen yang diterbitkan tahun 2013 ini dibuka oleh kisah tentang Murjangkung, seorang raksasa berkulit bayi yang membangun sebuah kota di negeri yang baru saja disinggahinya dalam cerpen Bagaimana Murjangkung Mendirikan Sebuah Kota dan Mati Sakit Perut. Sejarah pembentukan kota Batavia—yang sekarang dikenal dengan Jakarta—diramu menjadi sebuah dongeng oleh penulisnya, tragedi yang diceritakan dengan cara yang santai, bahkan terkesan lucu. Murjangkung sendiri mungkin adalah penjelmaan dari Jan Pietersen Coen. :p

Beberapa ratus tahun kemudian, ketika orang-orang berkulit bayi sudah kembali ke negeri mereka, di atas terowongan itu didirikanlah sebuah tugu dengan nyala api dari emas untuk mengenang semangat kepahlawanan para penggali terowongan.

Cerpen keempat, Perempuan Dari Masa Lalu, bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Seto, yang karena efek membaca sebuah buku, dia membayangkan adegan-adegan yang bisa jadi adalah kehidupan masa lalunya. Suatu waktu Seto bertemu dengan seorang perempuan dan meyakini bahwa perempuan tersebut adalah kekasihnya di kehidupannya sebelumnya. Menariknya, dia tak hanya bertemu dengan satu ‘perempuan di masa lalu’, melainkan dengan beberapa.

Di masa lalu …, kita adalah sepasang kekasih.”
Aku tak ingat,” balas perempuan itu.
Aku mengingatkanmu,” kata Seto.

Jika harus membenci orang yang sangat kau cintai, apa yang akan kau lakukan? Seto menjawab dengan, “Pindah agama saja.”
Teknik Mendapatkan Cinta Sejati adalah cerpen ketujuh, salah satu cerpen terbaik dalam buku ini menurut saya. Tentang cinta dan perbedaan agama dari tokoh bernama Seto. Sangat filosofis dan ending yang—lagi-lagi—tak bisa ditebak sebelumnya.

Membenci orang yang sangat kau cintai adalah sebuah keruwetan. Lebih parah lagi, itu abnormal. Hidup membutuhkan kewarasan dan aturan yang jelas. Jika seseorang sepatutnya dibenci, maka bencilah ia sebaik-baiknya. Jika seseorang sepatutnya dicintai, maka cintailah ia sebaik-baiknya.

Cerpen keempat belas, Efek Sayap Kupu-Kupu, mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Benjamin Button. Dalam satu bagian film itu dijelaskan tentang apa itu efek sayap kupu-kupu. Pun dalam cerpen ini.

Apakah kepak sebelah bibir di Jakarta meyebabkan banjir besar di Semarang, membawa kelaparan di Kupang, dan melongsorkan gunung sampah di Jawa Barat?” Cerita yang tanpa sadar berisi sindiran kepada pemerintah negeri ini, mungkin. Hanya saja, saya merasa “Efek Sayap Kupu-Kupu” yang terjadi pada tokoh Alit di cerpen ini terasa sedikit memaksa.

Kuda adalah cerpen kesembilan belas dalam kumcer ini. Bercerita tentang tokoh Alit yang menganggap dirinya ‘kuda’—putih dan tampan, berbulu putih dan biasa ditunggangi tokoh utama dalam film-film koboi—setelah bertemu dengan seorang perempuan di arena judi. Alit bertemu dengan kuda-kuda lain tatkala dirinya bangkrut di meja judi dan perempuan itu berkhianat padanya.

Pengkhianat memang akan selalu berkhianat. Ia lari darimu dan menusuk punggungmu justru pada saat kau bangkrut dan tak berdaya.”

Selain kelima cerpen tersebut, ada beberapa cerpen yang menarik dalam buku ini. Otobiografi Gloria, tentang tokoh Gloria yang bercerita tentang asal-usulnya, kakek-neneknya, ibu dan pamannya dan bagaimana ia bisa menceritakan kisahnya melalui tangan penulis kita yang cerdas ini. Banyak kejutan dalam cerpen ini—dan cerpen-cerpen lainnya. Dongeng Cinta yang Dungu, Dua Perempuan di Satu Rumah, dan Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa adalah beberapa cerpen yang menarik dalam buku ini.

Membaca buku ini, saya menemukan kejutan-kejutan di hampir semua cerita. Penulisnya, A.S. Laksana, sangat cerdas meramu humor dan tragedi menjadi satu kesatuan yang apik, dengan bahasa yang santai. Dari ide-ide sederhana dan klise mampu menjadi cerita komedi satire—sindiran terhadap suatu hal—yang sangat menarik. Penulis juga sangat cerdas meramu akhir dari cerita-ceritanya, penuh kejutan. Hal menarik lainnya adalah ciri khas tokoh yang ditampilkan. Seperti halnya SGA dengan Sukab-nya, A.S. Laksana menghadirkan tokoh Seto dan Alit beberapa kali dalam beberapa cerpennya.

Kelemahannya—entah kalau ini bisa disebut kelemahan—mungkin terletak pada penggambaran tokoh perempuan yang hampir sama di beberapa cerpen. Ibu rumah tangga yang cerewet, bermasalah, atau perempuan yang hubungan atau rumah tangganya berantakan.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Bahkan secara tidak langsung banyak ilmu-ilmu menulis yang disispkan ke dalamnya. 🙂

Saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk kumcer kedua A.S. Laksana ini.

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s