[Review Buku] Remember When: Cinta Punya Waktunya Sendiri untuk Hadir

image

Judul buku : REMEMBER WHEN
Penulis : Winna Efendi
Editor : Samira & Gita Romadhona
Proofreader : Christian Simamora
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2011
Jumlah hal. : viii + 252 halaman
ISBN : 979-780-487-9

                           Cinta Punya Waktunya Sendiri Untuk Hadir
                     “Apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.”

Setiap orang memiliki momen-momen remember when yang tidak terlupakan; kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori, saat-saat bermakna yang sesekali akan kita putar kembali untuk dikenang (Winna Efendi).

Remember When bercerita tentang kisah empat orang anak SMU yang menjalin hubungan persahabatan dan hubungan cinta. Freya, Gia, Moses, dan Adrian. Cerita berawal saat penembakan, Adrian dan Gia serta Moses dan Freya. Bagian selanjutnya berisi konflik-konflik yang seakan tak pernah habis dari keempat siswa putih abu-abu ini. Ada beberapa kejadian yang membuat tokoh-tokohnya kemudian berpikir “Apakah benar dia orang yang tepat untukku?”

Novel ini adalah novel kedua Winna yang saya baca setelah AI. Winna menggunakan sudut pandang orang pertama dengan lima orang pencerita—Moses, Freya, Adrian, Gia, dan Erik—serta dibagi ke dalam lima bagian cerita yang masing-masing diberi judul bagian lagi.

Cerita yang ditampilkan klise percintaan anak SMA, bahkan di bab awal sudah bisa ditebak konflik hubungan mereka nantinya seperti apa. Beruntungnya konflik-konflik kompleks dan lumayan menguras emosi (halah :p) menjadikan novel ini cukup menarik. Penggunaan sudut pandang dengan banyak pencerita juga membuat pembaca bisa membandingkan sendiri seperti apa karakter tokoh-tokoh di dalam cerita.

Hanya saja karakter tokoh di dalamnya memang terasa agak dewasa, atau mungkin memang begitulah karakter anak SMA zaman sekarang. hahaha. Mungkin karena saya adalah juga salah satu pembaca novel-novel dengan tokoh remaja, jadi saya bisa merasakan sendiri perbedaan tokoh remaja dari novel yang satu dengan novel lainnya. Ending yang memang bisa ditebak juga menjadikan cerita ini kehilangan ‘greget’ di akhir.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, saya sangat menikmati cara bertutur Winna dalam buku ini. Lancar dan tidak membosankan. Saya suka cara dia memainkan sudut pandang, sama seperti di AI. Maka dari itu saya memberi 2,8 dari 5 bintang untuk novel remaja ini.

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s