[Review Buku]: 1984 – Peringatan Orwell dan Pasifitas Masyarakat Modern

wpid-img-20150404-wa0008.jpg

(pict by Riko)

Perang adalah Damai
Kebodohan adalah Kekuatan
Kebebasan adalah Perbudakan

Dengan slogan-slogan tersebut 1984 melejit menjadi novel yang mengangkat tema distopyan di pertengahan abad 20. Diterbitkan tahun 1949, dari tahun yang tidak begitu jauh dari selesainya perang dunia II, 1984 tidak serta merta menjadi novel yang secara keseluruhan memakai setting futurisme sebagai identitas. Kala itu Inggris sedang berada pada masa kelam, kelaparan dan kemiskinan akibat perang, kondisi dunia yang pernah berada di tangan para diktator macam Staline, Fuhrer, membawa pemikiran Orwell akan ketakutan bahwa dunia akan dibawa ke penjara totalitarianisme selama paham-paham diktator dan komunis masih meraja.

*

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Parta meski jauh di dalam hati dan pikirannyabersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyuran.

*

Novel ini juga membawa visi gelap tentang masa depan yang akan segera hadir di dunia, menjadi peringatan bahayanya pemerintahan totalitarian yang didukung teknologi tinggi. Orwell dengan sangat baik menggambarkan sebuah dunia yang telah hancur akibat nuklir dan kemiskinan, dunia barat jatuh ke bawah kaki pemerintahan diktator totaliter sosialis : Bung Besar. Pemerintahan yang dijalankan bukan oleh seorang yang tampak secara virtual, tapi oleh sebuah perasaan ketidaknyamanan publik akibat pengawasan yang terus menerus dan menghilangkan privasi individu.

Partai penguasa, telah sempurna menggunakan teknologi tinggi untuk memonitor setiap gerak hidup populasi di bawahnya, membuatnya tunduk dengan pengawasa, propaganda, dan cuci otak. Tetapi di samping itu semua yang paling brilian tentu adalah Newspeak. Newspeak adalah proyek pemerintah yang mendekonstruksi kata-kata dalam bahasa sehari-hari (dalam novel ini bahasa inggris) menjadi Newspeak, atau bahasanya para anggota partai penguasa. Setiap edisi baru, Newspeak akan menampilkan deretan kata-kata yang jumlahnya semakin sedikit dari sebelumnya. Beberapa kata yang mengadung makna subversif, pemberontakan, perlawanan, revolusi, atau yang menghadirkan pemikiran-pemikiran untuk melawan kekuatan penguasa akan dihilangkan. Tanpa adanya kata-kata atau bahasa untuk mengekspresikan rasa ketidaknyamanan, perlawanan, revolusi, maka pemberontakan atau revolusi itu tidak akan pernah ada. Bagi mereka yang masih ngotot ingin melawan (akan disebut penjahat pikiran) Pasukan pengamanan partai atau polisi pikiran akan segera bertindak menngintervensi, menangkap, dan memasukkan para pemikir bebas itu ke dalam Kementrian Cinta Kasih, di mana mereka akan dicuci otaknya atau mungkin malah lebih parah.

Teknologi tinggi yang dipakai penguasa adalah hadirnya Teleskrin. Televisi interaktif dua arah, yang selalu mengawasi setiap gerak gerik masyarakat dan tidak dapat dimatikan selama 24 jam penuh. Tak ada yang pernah tahu siapa atau apa yang ada di balik teleskrin-teleskrin yang tersebar itu. Entah manusia, ataukah mesin. Hanya para petinggi partai yang punya hak untuk mematikan teleskrinnya itu untuk beberapa waktu.

Bayangkan kamu hidup di suatu negara di mana apa yang harus kita pikirkan pun di atur. Berpikir untuk berontak pun sudah termasuk tindak kejahatan. Apa yang harus kita terima sudah diatur. Bahasa yang keluar pun udah diatur. Sejarah pun diubah seenak penguasa.

Winston Smith, adalah seorang anggota partai kelas bawah, pekerjaannya menulis ulang arsip-arsip dari London Times agar konsisten dengan kebijakan gaya bahasa newspeak. Saat partai mengubah kebijakan politiknya ketika beraliansi dengan negara lain dan mengobarkan perang kepada mantan aliansi sebelumnya, tugas Winston adalah menulis ulang sejarah bahwa sejak dulu Oceania tidak pernah memiliki aliansi dengan negara yang kini berperang dengannya. Keadaan tersebut diperparah oleh orang-orang yang ia temui, yang tak pernah menyadari bahwa berbagai perubahan telah dilakukan. Winston yang bertransformasi menjadi penjahat pikiran karena kegundahannya akan sesuatu yang tidak beres di sini merasa kesepian tapi sedikit demi sedikit ia mulai memahami manipulasi berbahaya macam apa yang telah disuntikkan ke dalam kesadaran masyarakat.

Maka ia menjadi korban berikutnya bagi kebijakan pemerintah. Winston mulai mempelajari sebuah kopian buku yang telah lama dibredel karena dianggap mengobarkan semangat revolusi, yang ditulis oleh sosok musuh negara yang paling terkenal: Goldstein. Winston menemukan banyak kesesuaian dengan pemikiran Goldstein ditambah Julia (rekan kerja yang terlibat kisah cinta dengannya) juga seorang pemberontak, lagipula buku terlarang itu juga diberi oleh rekan kerja dari petinggi partai O’Brien. Ia semakin yakin akan ‘kawan-kawannya’ ini. Karena keyakinannya dan kegembiraannya menemukan kawan sepemikiran ia terlalu terlambat menyadari bahwa O’Brien adalah polisi pikiran, dan O’Brien pula yang menulis buku terlarang tersebut atas nama Goldstein, dengan tujuan menangkap sebanyak mungkin para revolusioner dan menyeret mereka ke ruang 101 (sebuah ruang penyiksaan di mana ketakutan terdalam dari seseorang akan menjadi nyata). Maka dalam keadaan hancur sepenuhnya, tercuci otaknya dan terprogram ulang (sehingga menyetujui bahwa 2 + 2 = 5 seperti kata O’Brien) Winston dikembalikan ke tengah masyarakat sebagai pemuja Bung Besar yang tak berbahaya. Di akhir buku, Winston berlinang air mata karena takut dan gembira, memproklamirkan kecintaannya pada Bung Besar. Seluruh pemikirannya, harapan dan impiannya akan pelarian diri dan kebebasan, secara permanen telah terhapus dari kesadarannya.

Pikirkan beberapa hal berikut ini: Engkau dapat mematikan televisimu, tetapi apakah memang itu yang kau inginkan? Engkau hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis karena Pemilu yang lalu berjalan demokratis, tetapi kau melihat populasi masyarakat miskin terus bertambah, lantas kau berpikir, mengapa tak ada cukup dana untuk itu semua sementara para birokrat semakin bertambah kaya? Engkau bebas untuk menggunakan uangmu sesuka hatimu. Tetapi mengapa kau selalu ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang didiktekan oleh iklan-iklan di sekelilingmu?

Kini garis bawahi pernyataan berikut: engkau tak memiliki kebebasan ataupun kekuatan. Engkau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan lebih buruknya lagi, engkau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut.

Orwell memang tepat!

*

Identitas Buku

Judul : 1984
Penulis : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit : Bentang Pustaka
[Cetakan Kedua, Mei 2014]
*
Novel 1984 juga dijadikan bahan diskusi bulanan di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia.

wpid-mbrc2015.jpg

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

Salam,

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s