[Review Buku] KAMU: Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Identitas Buku
Judul : KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Penulis : Sabda Armandio
Penyunting : Dea Anugrah
Penerbit : Moka Media
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm. : viii + 348 Halaman
ISBN : 979-795-961-9

PicsArt_1432280900578[1]

Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Apa yang terpikirkan saat temanmu mengajak bolos sekolah hanya untuk mencari sendok yang tertukar di tukang bakso? Atau bagaimana jika kamu yang terbiasa melihat kaos bertuliskan ‘Save Earth’ atau ‘Save Orang Utan’ justru bertemu orang utan yang memakai kaos bertuliskan ‘Save Human’? Lalu bagaimana reaksimu saat pacarmu tiba-tiba meminta putus karena dia hamil dengan lelaki lain?

Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) dibuka dengan cerita tokoh utama, yaitu ‘aku’—pemuda berumur 27 tahun—yang baru saja menempati kamar kontrakan dan mengenang beberapa kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Di antaranya tentang jarinya yang kini tinggal tujuh dan orang tuanya yang meninggal dalam kebakaran beberapa tahun silam.

Cerita selanjutnya adalah ketika tokoh ‘Aku’ mengenang masa 10 tahun lalu, saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Petualangan selama tiga hari yang diceritakan ‘aku’ inilah yang akan mengajak pembaca merasakan keresahan penulis yang dituangkan dalam buku setebal 348 halaman ini.

Mengambil latar kota Bogor, cerita yang terjadi selama tiga hari ini dimulai ketika ‘Kamu’ yang merupakan teman sekolah ‘Aku’ mengajak bolos sekolah untuk membantunya mencari sendok yang tertukar juga menemani Kamu untuk mengantar titipan dari Ayah Kamu. Dalam perjalanan mengantarkan titipan itulah Aku mengalami pengalaman yang absurd. Mereka harus berhenti di tengah jalan karena Bogor sedang diserang Badai Monyet Parit. Mereka lalu melewati jalan pintas berupa gorong-gorong yang membawa ke suatu tempat dan bertemu dengan kawanan orang utan yang bisa berbicara. Di bagian ini penulis tampaknya ingin menghadirkan konsep hubungan antara manusia dan alam serta manusia dengan makhluk lainnya.

Buat apa alam diselamatkan? Lagipula diselamatkan dari siapa? Alam selalu bisa menjaga diri, ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Pohon dan rumput akan tetap tumbuh meski kita tak ada. Justru kita yang harus saling menyelamatkan, bukan?

Peristiwa aneh tersebut berlanjut saat mereka sampai di rumah Kek Su yang menjadi tujuan mereka. Kek Su digambarkan memiliki kebiasaan unik. Ia gemar melukis dan hanya memiliki satu buah mata. Ia melukis satu buah mata—yang tampak seperti mata asli—lagi untuk melengkapi kedua buah matanya.

Hari kedua tokoh Aku mendapat ajakan bolos lagi. Kali ini dari ‘Mantan Pacarku’ yang minta ditemani ke dokter kandungan. Konon kabarnya si Mantan Pacar ini hamil oleh pria lain. Saat berada di kafe dengan Si Mantan Pacar, tokoh Aku bertemu dengan seorang pesulap yang memberikan kartu nama aneh kepadanya. Seorang pesulap yang tertelan oleh topinya sendiri.

Hari ketiga, tokoh Aku lagi-lagi membolos. Kali ini ia mendapat ajakan bolos dari siapa? Nah, silakan baca sendiri bukunya. ^^

*

Novel Kamu berisi banyak hal absurd, unik, dan ganjil—alih-alih disebut surealis. Penulis, lewat beberapa tokohnya seakan menceritakan tentang keresahan-keresahannya terhadap beberapa hal. Selain tokoh Aku, Kamu, Mantan Pacar, ada juga tokoh Perempuan Teman Sekelas, Permen, Kek Su, dan Johan yang masing-masing karakter membawa pesan sendiri terhadap keresahan-keresahan yang coba diungkapkan penulis dalam bukunya. Melalui narasi yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dalam tulisannya, penulis mencoba mengkritik beberapa hal.

Seseorang yang bertuhan seharusnya membangun jembatan, bukan dinding. Membangun tanah lapang, bukan menara. Sebab keimanan seharusnya menghubungkan, bukan membatasi. Meluas, bukan meninggi.” (halaman 75)

Televisi menyiarkan berita korupsi yang terjadi dalam persiapan Ujian Nasional. Lucu sekali. Sekolah menekankan betapa buruknya mengambil hak orang lain. Namun, tak bisa mencegah orang-orang dalam sistem pendidikan melakukannya.” (halaman 201)

Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang secara emosional datar-datar saja. Tidak memiliki selera humor, dan bereaksi sama terhadap semua hal yang dialaminya. Saat tiga jarinya harus tanggal, saat orang tuanya meninggal akibat kebakaran, diajak putus dia setuju, diberitahu kalau mantannya hamil anak orang lain dia biasa saja, tidak diberitahu bapak si jabang bayi dia tak masalah. Tokoh aku digambarkan tak pernah marah pun tak pernah sedih. Datar-datar saja.

Marah nggak akan mengubah apa yang sudah terjadi, kan? Aku nggak mau direpotkan dengan perasaan seperti itu. Marah terhadap pilihan orang lain itu merepotkan, karena secara nggak langsung aku harus memikirkannya terus-menerus. Rasanya seperti membawa neraka kecil di pundak, dan aku harus membawanya ke mana-mana.” (halaman 212)

Tokoh Kamu, memiliki selera humor yang sama ganjilnya dengan tokoh Aku, digambarkan sebagai orang yang paling dekat dengan tokoh Aku. Tapi, dalam sebuah part, tokoh Aku menjelaskan hubungannya dengan Kamu. ‘Bukan sahabat, bukan juga musuh. Sama saja. Aku senang menghabiskan waktu dengannya, akan tetapi bukan masalah besar jika ia tak ada. Kurasa ia pun berpikir demikian’. Tokoh Kamu dan tokoh Aku seperti satu jiwa dalam dua raga. Kadang-kadang keduanya memiliki ‘suara’ yang sama dalam memandang beberapa hal. Anak SMA hobi mengisap ganja dan minum-minum, yang senang membahas hal-hal kurang penting dan menjadikannya menarik untuk disimak.

Ada juga tokoh Permen, perempuan yang—konon—ditaksir oleh Kamu. Lewat tokoh Permen, Johan, dan seorang teman Permen penulis mencoba mengkritisi sistem pendidikan khususnya yang terjadi di negeri ini. Melalui tokoh Perempuan Teman Sekelas, penulis ingin sedikit menyinggung apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Lalu lewat tokoh Mantan Pacar, penulis tampaknya ingin mencoba menghadirkan tema ‘Anak Sekolah yang Hamil di Luar Nikah, tapi Tetap Ingin Sekolah’.

Menurutku jatuh cinta itu nggak indah-indah amat. Kau buka hatimu supaya seseorang masuk ke dalam, kau jaga dia agar betah dan sehat, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti memelihara orang lain dalam tubuh sendiri. Sialnya, kau nggak punya perangkat untuk sepenuhnya memahami orang lain.” (halaman 279)

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya sebagai pembaca—alih-alih disebut kekurangan—adalah pada beberapa tokoh saya masih mendapati keseragaman ‘suara’. Entah itu tokoh Aku dengan tokoh Kamu yang kadang-kadang susah dibedakan ‘suaranya’. Atau saat detektif polisi yang menyamar sebagai pedagang bakso sedang membahas soal kehilangan dengan tokoh Aku dan Kamu.

Di dunia ini tak ada yang hilang. segala sesuatu yang tidak ada di tempat semula, kan, hanya berpindah tempat. Kalau dicari terus mungkin akan ketemu, tapi buat apa? Biar saja begitu. Tadinya ada, lalu tidak ada. Seperti mimpi. Orang-orang lahir dan mati, benda-benda diciptakan, lalu rusak, dan dibuang. Tak perlu disesali. Biar saja. Segalanya baik dan tidak ada yang terluka.” (halaman 153)

Selain itu, ada beberapa kata yang tidak dipisahkan dengan spasi, jadi dua kata bersambung. Meskipun tidak terlalu mengganggu, tapi cukup mengalihkan perhatianku *duh. Ada pula satu kata yang tidak sesuai ejaan: frustasi yang harusnya ‘frustrasi’ (halaman 278).

Pada akhirnya, Sabda Armandio melalui hal-hal absurd dalam buku ini memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk pembacanya. Penulis menularkan keresahan-keresahannya kepada para pembacanya. KAMU tidak menawarkan hal apa-apa. Seperti dalam buku yang sering dibaca tokoh Aku, ‘Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik’, tak ada bagian terbaik dalam buku ini. Tapi justru itulah yang membuat buku ini menarik untuk dibaca dan dikulik.

*

Setelah permainan berakhir, raja dan bidak masuk ke kotak yang sama.”

Seperti bahagia, tidak bahagia pun sederhana. Dan keduanya tetap masuk kotak yang sama setelah semuanya selesai. Sama saja.

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s