[Review Buku] To Kill a Mockingbird: Tentang Kekuatan Prasangka

“You never understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around it.” -Atticus Finch, To Kill a Mockingbird-

PhotoGrid_1430195244428[1]

Buku ini berkisah tentang kehidupan Atticus Finch, seorang pengacara—yang juga duda beranak dua—di Maycomb County, sebuah kota tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat. Atticus tinggal bersama dua anaknya, Jeremy Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka juga mempekerjakan seorang pelayan berkulit hitam bernama Calpurnia.

Kehidupan mereka berjalan sebagaimana biasanya warga kota kecil, sampai suatu hari Jem dan Scout bertemu dengan Charles Baker Harris atau lebih akrab dipanggil Dill, keponakan tetangganya. Ketiga anak itu menghabiskan waktu bersama sampai suatu hari mereka mencoba petualangan lebih seru, yaitu memecahkan misteri Arthur ‘Boo’ Radley. Boo Radley, seorang pemuda tetangga keluarga Finch yang sering menjadi bahan desas-desus masyarakat Maycomb tentang masa lalunya serta kabar bahwa ia kurang waras lalu dikurung di rumahnya sendiri.

Peristiwa yang benar-benar mengubah kehidupan keluarga Finch yang awalnya biasa sama bermula saat Atticus Finch ditunjuk menjadi pengacara Tom Robinson, seorang pemuda kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan serta kekerasan terhadap Mayella Ewell—seorang gadis kulit putih keturunan keluarga Ewell.

Sekitar tahun 1930-an adalah masa saat Amerika diselimuti racial segregation. Diskriminasi terhadap kaum kulit hitam sangat terasa. Orang kulit hitam tak dianggap sama sekali. Segala aspek kehidupan dibedakan berdasarkan warna kulit. Pada masa itu sebagian besar orang berpikir bahwa hukum yang paling pantas bagi orang kulit hitam adalah hukum gantung, meski tanpa pengadilan sebelumnya.

Mengambil sudut pandang seorang gadis polos dan blak-blakan berusia sekitar 7 tahun yang awalnya hanya tahu bahwa hidup hanya ada dua warna: hitam dan putih, baik-buruk. Lewat Scout pembaca akan dibawa menyelami kejamnya prasangka dan apa yang orang dewasa maksud dengan kompromi. Lewat kacamata seorang gadis yang lebih suka memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Atticus’ atau ‘Sir’, pembaca akan diajak menyelami isi hatinya dan alasan mengapa sekolah, guru, dan teman-temannya amat sangat membosankan.

Bahwa selain hitam dan putih, ada juga warna abu-abu… dan juga warna lainnya.

Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa

*

To Kill a Mockingbird mencoba memberitahu kepada para pembaca bahwa prasangka dapat menghancurkan seseorang, bahkan lebih kejam: membunuh seseorang. Novel yang memenangi Penghargaan Pulitzer pada tahun 1961 ini mengangkat isu rasisme yang sedang marak pada masa itu.

Mengambil sudut pandang orang pertama dari seorang anak kecil bernama Scout—Jean Louise Finch—Harper Lee seolah mencoba bersikap netral. Scout yang polos dan blak-blakan memberikan humor tersendiri bagi pembaca. Scout sendiri dikait-kaitkan dengan masa kecil Harper Lee itu sendiri. Beberapa sumber mengungkapkan bahwa To Kill a Mockingbird sebenarnya adalah memoar masa kecil penulisnya. Bukan kebetulan bahwa ayah Harper Lee, Amasa Coleman Lee, adalah seorang pengacara. Ibunya, Frances Cunningham Finch, menjadi dasar untuk nama belakang keluarga Finch.

Narasi dari sudut pandang anak-anak serta karakter tokoh adalah hal yang paling menarik sekaligus yang menjadi kekuatan dalam buku ini. Atticus digambarkan sebagai sosok ayah yang bijaksana dan menyayangi anaknya dengan caranya sendiri. Dia juga seorang pengacara yang tidak pemilih dalam hal kasus yang diberikan. Terbukti saat ia menjadi pengacara pembela untuk Tom Robinson, seorang kulit hitam, yang oleh sebagian besar orang sangat dibenci. Tokoh Atticus ini, mungkin kalau meminjam istilah anak zaman sekarang: suami-able.

Tokoh Scout sendiri digambarkan sebagai anak yang cerdas dan kadang berbicara layaknya orang dewasa. Dia terbilang terlalu dewasa dibanding anak seumurannya. Cara didik Atticus secara langsung berpengaruh pada karakter Jem dan Scout. Mereka tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, selalu bertanya, dan blak-blakan. Melalui kacamata Scout, pembaca akan dikenalkan dengan beberapa tokoh.

Ada banyak tokoh dalam buku ini, tapi masing-masing memiliki kesan yang kuat. Antara karakter yang satu dengan karakter yang lain diceritakan Scout dengan gaya kanak-kanaknya yang polos dan jujur. Tema yang awalnya terpikir berat, jadi enak dibaca dengan penuturan anak-anak.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama soal kasih sayang, menghargai orang lain, dan tentang prasangka yang sama sekali tak mengandung kebenaran di dalamnya.

*
Identitas Buku
Judul: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerbit: Qanita
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Tahun Terbit: 2006 (Cetakan I)
Jumlah Halaman: ix + 568 Halaman
ISBN: 979-3269-40-5
*

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho.^^

wpid-mbrc2015.jpg

Salam,
-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s