[Review Buku] Kucing Hitam : Sihir dalam Karya-karya Poe

Edgar Allan Poe (1809-1949) memiliki kisah hidup yang penuh penderitaan layaknya cerpen-cerpennya. Namun, ia memiliki bakat besar sebagai penulis dan merupakan seorang pekerja keras. Ia menulis puisi, cerpen, dan kritik sastra. Kisah-kisahnya mengenai misteri, horor, dan kejahatan menjadi dasar bagi cerita detektif modern. Hanya segelintir penulis yang mampu mendekati pencapaian Poe dalam hal kekuatan dramatis dan intensitas emosional.

Poe bisa dibilang merupakan arsitek cerpen modern. Pada 1832, ia merupakan orang pertama yang berkeras bahwa cerpen seharusnya membangun efek tunggal. Gagasan lainnya berkaitan dengan panjang cerpen. Ia meyakini bahwa seorang pembaca seharusnya bisa menuntaskan sebuah cerpen “dalam sekali duduk”. Poe diakui secara luas sebagai salah seorang pengarang Amerika paling penting abad ke-19.

image

Buku ini menghimpun empat buah cerpen Edgar Allan Poe, yakni: Tong Anggur, Topeng Maut Merah, Sebuah Kisah, dan Kucing Hitam. Keempatnya mewakili kekhasan Poe dalam menulis mengenai misteri, horor, kejahatan, mitos, dan hal yang menakutkan.

Cerita pertama, Tong Anggur, berkisah tentang dua orang kaya yang sangat menyukai anggur. Orang pertama adalah seorang yang sombong lagi bodoh. Sedangkan orang kedua lebih pandai, tetapi jahat. Salah satu di antara mereka ingin balas dendam atas sebuah penghinaan dari yang lain. Maka, disusunlah sebuah rencana yang mematikan berkaitan dengan kesukaan mereka terhadap anggur.

Cerpen kedua berjudul Topeng Maut Merah. Penyakit ‘maut merah’–dinamai berdasarkan nama darah–melanda sebuah negeri. Tak pernah ada penyakit yang begitu mematikan dan amat mengerikan sebelumnya. Sang Pangeran yang pandai mencoba meloloskan diri dari penyakit mematikan tersebut. Maka, ia dan rombongannya pergi ke sebuah puri megah miliknya yang terletak di luar wilayah negeri itu. Akankah rencana pangeran bisa mencegah nasib buruk mereka?

Cerita berjudul “Sebuah Kisah” merupakan salah satu favorit saya. Menggunakan sudut pandang orang pertama, seseorang yang merencanakan pembunuhan dengan begitu ‘sempurna’. Poe mengajak pembacanya melihat isi kepala orang gila yang berpikir cukup jernih untuk merencanakan sebuah pembunuhan. Melalui tokoh ‘aku’, pembaca diajak mengikuti secara detail apa yang dilakukannya terhadap lelaki tua. Kengerian yang dibangun perlahan-lahan dalam kisah ini pula yang membuatnya menjadi salah satu cerpen Poe yang paling terkenal.

Cerpen terakhir–dan juga dijadikan judul kumpulan cerita ini–berjudul Kucing Hitam. Bercerita tentang seseorang yang besok akan dihukum mati. Ia bercerita secara runut apa yang menyebabkan sampai ia berada di posisinya saat ini. Semua bermula pada saat ia menikah muda dan memiliki hewan piaraan yang banyak. Salah satunya adalah kucing hitam yang pintar dan menjadi salah satu hewan yang disayangi si ‘aku’ dan istrinya. Suatu hari, Istrinya bercerita tentang suatu tahayul, bahwa dongeng kuno mengatakan bahwa kucing hitam biasanya memiliki kekuatan sihir. Akibat kecanduan alkohol, tabiat si lelaki makin hari makin buruk. Ia sering bersikap buruk pada istri dan hewan peliharaannya. Puncaknya adalah saat ia mencongkel sebelah mata si kucing lalu beberapa waktu setelahnya ia pun membakar si kucing beserta rumah mereka. Setelah peristiwa itu kejadian-kejadian aneh mulai terjadi pada tokoh ‘aku’, termasuk datangnya seekor kucing yang mirip sekali dengan kucingnya sebelumnya. Akankah lelaki itu melakukan kesalahan yang sama terhadap si kucing? Kejahatan apakah yang telah ia lakukan sehingga hukuman yang sangat berat telah menantinya?

Membaca karya Poe rasanya seperti membaca kisah yang benar-benar terjadi di salah satu tempat di belahan dunia sana. Tentang dua sahabat yang di permukaan sangat akrab dan terlihat berteman baik. Tentang seseorang yang kelihatannya waras, tapi memiliki pikiran-pikiran gila. Atau tentang sebuah keluarga yang kena sihir dan kutukan dari hewan-hewan yang telah disiksa. Terjemahannya pun cukup nyaman dibaca. Cara bercerita Poe detail, menegangkan dari awal, dan penuh misteri sampai akhir. Jika kalian menyukai cerita-cerita misteri dan penuh ketegangan, tak salah jika kalian berkenalan dengan karya-karya Edgar Allan Poe. ^^
——————————–
Judul buku: Kucing Hitam | Penulis: Edgar Allan Poe | Penerjemah: Anton Kurnia | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | Jumlah halaman: 92 halaman | ISBN: 979-9481-62-7

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s