[Review Buku] Pudarnya Pesona Cleopatra : Tentang Perempuan yang (Tidak) Lemah

image

Gambar dari Google

Buku yang terbit sekitar 10 tahun lalu ini terdiri dari dua judul novelet: Pudarnya Pesona Cleopatra dan Setetes Embun Cinta Niyala.

Cerita pertama, Pudarnya Pesona Cleopatra, yang juga dijadikan judul buku ini bercerita tentang seorang pemuda yang begitu terobsesi dengan kecantikan gadis Mesir yang secantik Cleopatra. Sang Pemuda yang juga adalah narator dalam cerita ini merasa tersiksa dan tertekan tatkala ibunya menjodohkannya dengan seorang wanita berakhlak baik. Raihana, seorang penghapal Al-Quran, sholehah, dan tulus. Walaupun dijodohkan dengan perempuan yang ‘nyaris sempurna’ fisik dan akhlaknya, tapi tokoh aku yang seorang lulusan Mesir tetap saja merasa hidupnya tidak bahagia. Ternyata setelah pernikahan bahkan ketika Raihana mengandung bayinya, si aku ini masih terobsesi dengan kecantikan Cleopatra. Ia selalu bersikap yak acuh dan dingin pada Raihana. Meski begitu, Raihana tak mengeluh dan tetap mengabdi kepada suaminya.

Jika ada 8 gadis Mesir, maka yang cantik ada 16. Sebab, bayangannya pun cantik.

Pada akhirnya, tokoh aku sampai pada satu momen saat ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kecantikan fisik bukanlah segalanya. Lalu, apakah pada akhirnya tokoh aku menyesali sikap tidak peduli dan tidak tanggung jawabnya? Lalu apakah pernikahan mereka akan baik-baik saja sampai akhir?

Pertama kali membaca buku ini sekitar 6 tahun lalu. Waktu itu sedang booming cerita sejenis yang membawa tema religi. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMA. Membaca cerita-ceritanya cukup menggugah sampai saya berani merekomendasikan buku ini untuk teman-teman saya. Hanya saja, setelah saya membaca ulang beberapa hari yang lalu, entah kenapa sensasi yang saya dapatkan sudah jauh berbeda. :p

Tokoh aku yang digambarkan lulusan Mesir, penghapal Al-Quran, baik, dan berbakti pada orang tua justru bersikap tidak manusiawi kepada istrinya sendiri. Lelaki yang digambarkan berakhlak baik justru bersikap seolah-olah menelantarkan istrinya. Menurut saya malah novel ini tidak bisa digolongkan ke dalam novel religi atau yang bertema islami. Saya mungkin saja melewatkan edukasi soal agama yang terdapat dalam cerita ini–jika ada. Hanya cerita tentang seorang lelaki yang terobsesi pada kecantikan perempuan Mesir sampai rela ‘menelantarkan’ istri yang digambarkan sudah sangat sempurna. Pada akhirnya kak menyesal, itu pun setelah mendengar cerita orang tentang gadis Mesir. Setelah itu ia menyesal, tapi semuanya ternyata telah terlambat.

Tokoh aku–yang sampai cerita selesai masih misterius identitasnya–justru membuat saya dan mungkin pembaca yang lain kesal. Ia digambarkan lelaki berakhlak baik, lulusan universitas Mesir, tetapi tidak mengerti tentang hukum menelantarkan istri? Wah, gawat! Beberapa adegan dalam buku ini juga tidak mencerminkan sisi islami sama sekali. Sikap pasrah Raihana dan sikap semena-mena sang suami betul-betul membuat saya gemas. Dalam Islam dikatakan bahwa istri harus berbakti pada suami, tetapi bukan berarti pasrah diinjak-injak oleh suami yang bahkan sempat merasa terpaksa menikahinya.

Cerita kedua, Setetes Embun Cinta Niyala, bercerita tentang seorang perempuan yang demi melunasi hutang ayahnya di kampung diminta untuk menikahi laki-laki yang sangat dibencinya. Niyala–seorang calon dokter, cantik, dan berakhlak baik–yang sejak kecil tinggal bersama umi dan saudara angkatnya yang bernama Faiq. Umi angkatnya adalah sahabat almarhumah ibunya dan diberi wasiat untuk mengurus Niyala sebab ayah Niyala adalah orang yang kurang mampu. Niyala bahagia sebab beberapa hari lagi dia akan diwisuda. Namun, kebahagiaan itu langsung sirna ketika surat dari ayahnya datang. Mengabarkan bahwa kak akan dipersunting oleh Roger. Niyala sendiri memiliki masa lalu yang buruk terkait Roger.

Dalam satu part, Niyala menunjukkan kebenciannya pada Roger dengan mengatakan bahwa Roger adalah seseorang yang sangat jahat dan tidak mungkin dia akan berubah jadi baik. Lalu, karena tak ingin dijodohkan dengan Roger yang dianggap sebagai mucikari, Niyala meminta pertolongan Faiq yang adalah saudara angkatnya.

Pertolongan seperti apakah yang diberikan Faiq pada Niyala? Apakah pada akhirnya Niyala akan membebaskan utang ayahnya dan demi baktinya dia rela menikah dengan lelaki yang sangat dibencinya?

Adegan paling memorable untuk seisi grup Klub Buku Indonesia yang sudah baca dan atau mengikuti diskusi buku ini pastinya adalah saat Faiq–yang bukan muhrim–menyuruh Niyala untuk memijitnya. Ketika Niyala menolak dengan alasan ‘belum muhrim’, Faiq justru berkilah dengan mengatakan bahwa dia memakai jaket. Sehingga otomatis jari Niyala tidak menyentuh kulitnya secara langsung. Jreeeengggg!

Khas dalam beberapa novel yang ditulis Kang Abik, tokoh-tokohnya digambarkan nyaris berakhlak sempurna. Tapi ketika menganalisis dari perilaku tokoh, saya malah menemukan jauh dari yang digambarkan. Niyala yang selalu berpikiran negatif kepada orang lain, berpikir bahwa seseorang tak mungkin bisa berubah. Lalu merasa sebagai perempuan paling menderita di dunia lantas menyalahkan orang lain atas penderitaan yang ia alami. Tokoh-tokoh perempuan yang digambarkan dalam dua cerita di buku ini merasa lemah pada saat sebenarnya mereka bisa bangkit. Mereka hanya pasrah pada saat mereka harusnya bisa melakukan sesuatu atas apa yang sedang menimpa mereka. Kedua tokoh perempuan dalam buku ini pun sama-sama dijodohkan dengan laki-laki pilihan orang tua mereka.

Pada akhirnya, kesimpulan ada pada pembaca yang budiman. Tiap buku punya pembacanya masing-masing. Sekitar enam tahun lalu saya akan merekomendasikan buku ini untuk kalian yang butuh motivasi. Sekarang, buku ini tetap akan menjadi kenangan dalam rak buku saya. Terlepas dari kenangan baik ataukah buruk setelah membaca ulang…. ^^

*

Judul buku: Pudarnya Pesona Cleopatra | Penulis: Habiburrahman El Shirazy | Penerbit: Republika | Tahun terbit: 2005 | Jumlah halaman: viii + 111 halaman | ISBN: 979-360-400

Buku ini juga dipakai sebagai buku bulanan dalam Diskusi Buku Bulanan Klub Buku Indonesia bulan Juni. Beberapa hasil diskusi sudah saya paparkan dalam resensi di atas.

Poin-poin dalam diskusi antara lain:
1. Konsep pernikahan secara umum.
2. Nikah paksa dan bagaimana agama memandang hal ini.
3. Aturan agama mengenai hubungan antar lawan jenis (pria-wanita, suami-isteri).
4. Posisi laki-laki dan perempuan (suami-isteri) ketika mempersiapkan pernikahan hingga menjalani pernikahan.

Empat poin di atas bahkan dibagi bahasannya ke dalam tiga sesi oleh moderator Mamak Nia Fajriyani dan Mamah Asti. Perpaduan yang pas mengingat kedua moderator tersebut berasal dari dua latar belakang yang berbeda–Psikolog dan Dosen Agama Islam. Selain pserta diskusi diberi dua sudut pandang terhadap isu yang dibahas dalam buku ini, pun peserta diberi kebebasan untuk mengomentari.

image

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho.^^

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s