[Review Buku] Melihat Api Bekerja: Tentang Perempuan dalam Karya @hurufkecil

image
Saya merasa Aan berhadapan dengan saya dan dengan seenaknya menyampaikan apa yang terlintas dalam pikirannya. Ia tidak berpura-pura menyusun kata dan kalimat yang dilem dengan kausalitas–ia ‘ngomong’ saja.” (Sapardi Djoko Damono)

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia.
Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa.
Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja.
Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.’

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya.
Mereka tahu apa yang mereka cari.
Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.’
(Menikmati Akhir Pekan)

Menyenangkan membaca 54 puisi karya M Aan Mansyur dan 60 ilustrasi karya Emte yang terangkum dalam buku ini. Seperti yang dikatakan Sapardi dalam kata pengantarnya, membaca karya Aan Mansyur seperti mendengar langsung apa yang penyair berkacamata ini ingin sampaikan. Seperti “ada Aan yang sedang bercerita di kepalaku”. Isinya penuh dengan emosi, curahan hati, kritik, nasihat, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan kita–pembaca–ingin tanyakan. 

Ilustrasi yang terdapat dalam buku ini merupakan hasil penerjemahan bebas Sang Ilustrator, Muhammad Taufik–Emte, terhadap karya-karya Aan Mansyur. Penerjemahan Emte atas karya-karya Aan sebagian besar berpusat pada perempuan. Ini bisa dilihat dari ilustrasi-ilustrasi yang hadir dalam buku ini. Warna (seperti) tanah yang digunakan dalam ilustrasinya pun makin menegaskan emosi dari puisinya.

Membaca puisi sembari menerjemahkan atau menghubungkan ilustrasi dengan puisinya tentu bentuk lain dari menikmati puisi itu sendiri.

Dalam beberapa puisi, saya seperti mendapati Aan sedang berbicara pada seorang perempuan. Entah itu Ibu, sahabat, bahkan kepada kamu–perempuan yang ia cintai. Dalam puisi lain, Aan sedang bercerita kepada saya–pembaca–tentang perempuan lainnya. Puisi favorit saya selain Melihat Api Bekerja, adalah Pulang ke Dapur Ibu dan Surat Pendek buat Ibu di Kampung.

Dalam beberapa cerita–baik itu cerpen atau novel–yang ditulis Aan, ada cerita soal Ibu. Apa yang saya baca dalam cerpen dan novel (dalam hal ini novel Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi) saya temukan dalam puisi-puisi Aan di buku ini. Aan bercerita melalui puisi-puisinya, kepada pembacanya tentang sosok ibu dalam pandangannya.

Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman. Jangan pernah mengunjungiku, agar aku bisa tiba-tiba merindukanmu di antara hal-hal yang teratur.

Agar aku memiliki satu hal indah yang bisa membuat dadaku bersedih sebelum tidur memeluk diri sendiri dan tidak memimpikan apa-apa selain masa silam di rahimmu
(Surat Pendek buat Ibu di Kampung)

Saya sungguh tidak mengerti teori-teori sastra, apalagi soal puisi. Saya hanya penikmat dan ‘menyenangkan’ adalah satu kata untuk menggambarkan suasana hati saya ketika menikmati puisi-puisi @hurufkecil ini.

‘Di kota ini ruang bermain
adalah sesuatu yang hilang
dan tak seorang pun berharap
menemukannya. Anak-anak tidak butuh permainan. Mereka akan memilih kegemaran masing-masing setelah dewasa. Menjadi dewasa bukan menunggu negara bangun. Menjadi dewasa adalah menu favorit di restoran cepat saji.‘ (Melihat Api Bekerja)

———————————–
Judul buku: Melihat Api Bekerja | Penulis: M Aan Mansyur | Ilustrator: Emte | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2015 | Jumlah halaman: 160 halaman | ISBN: 978-602-03-1557-7

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s