[Resensi Buku] Kedai 1002 Mimpi: Ada Lelucon di Setiap Duka

Setiap orang berhak mengatakan apa pun yang mereka mau, kita dapat memutuskan kapan mau terluka atau tertawa

image

Kedai 1002 Mimpi.
Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.
Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Buku ini merupakan lanjutan dari Kedai 1001 Mimpi yang ditulis oleh Valiant Budi Yoga (@vabyo). Kedai 1002 Mimpi lebih banyak mengambil latar di Indonesia, setelah Vabyo pulang dari Arab Saudi dan beberapa peristiwa setelah Kedai 1001 Mimpi terbit.

Pulang ternyata bisa begitu membahagiakan bagi Vabyo. Berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya di Indonesia–khususnya Bandung. Awalnya ia pikir tak akan berurusan lagi dengan ‘masa lalunya’ di Saudi sana. Tetapi, peristiwa demi peristiwa yang cukup menyiksa jiwa dan raga Vabyo lantas terjadi. Ia dikatai kafir, lalu mendapat teror di media sosial, surel, pesan singkat, bahkan ia beberapa kali dicelakai. Semuanya hanya karena orang-orang itu tidak percaya dengan apa yang diceritakan Vabyo selama menjadi TKI sewaktu di Saudi dulu.

Aku mulai belajar untuk tidak membesarkan masalah. Termasuk ketika melihat ban mobilku tertusuk benda-benda tajam. Aku sibuk menghibur diri; toh, setiap ban yang terkoyak, ada senyum seorang tukang tambal ban yang mendapat kerjaan. Jadi, terima kasih kau tukang tusuk ban!

Tak hanya itu, sepulangnya menjadi TKI, ia sering mendapat mimpi buruk. Mimpi kejadian-kejadian tidak menyenangkan yang ia alami selama bekerja. Kejadian-kejadian tersebut sangat nyata di mimpinya sehingga sempat membuatnya ketakutan.

Bisnis yang mulai dibangun dengan sang kakak, Warung Ngebul, sempat juga mendapat gangguan dengan hadirnya ‘peneror-peneror’. Untungnya semangat dan sikap pantang menyerah membuat Warung Ngebul berhasil ‘eksis’.

Aku lantas tersadar. Kenapa harus bersusah payah sibuk memberikan pembuktian pada seseorang yang sampai kapan pun akan selalu punya alasan untuk melukai?

*
“Di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.” -Vabyo-

Kedai 1002 mimpi adalah novel kedua Vabyo yang saya baca setelah Joker. Awalnya saya tak tertarik baca. Tapi setelah membaca salah satu tulisan Vabyo di The Journeys–entah yang pertama atau ketiga–yang menceritakan bahwa ia sering mendapat teror setelah menulis Kedai 1001 Mimpi, saya baru tertarik. Sayangnya, sampai sekarang belum dapat pinjaman buku itu dari teman. Hahaha.

Gaya bercerita Vabyo yang kadang diselingi humor membuat isinya cukup menarik untuk dibaca. Belum lagi beberapa potongan cerita Vabyo selama menjadi barista di Saudi membuat saya makin penasaran untuk membaca buku pendahulunya. Hihihi.

Selain kisah ‘miris’ diteror oleh orang-yang-namanya-tidak-terdeteksi, ada juga kisah Vabyo saat mulai membangun kafe sederhananya dengan sang kakak yang diberi nama Warung Ngebul. Juga ada kisah tentang Vabyo yang menjadi penulis lirik lagu untuk sebuah boyband terkenal. Lalu kisah perjalanannya ke luar negeri–bukan Saudi lagi, yak!, cara ia pelan-pelan ‘menyembuhkan’ traumanya, dan sepotong kisah tentang teman-teman TKI-nya.

Hal yang cukup mengganggu dalam buku pelit (personal literature) ini adalah hadirnya iluatrasi-ilustrasi gambar pada beberapa halaman. Bukannya tambah menarik, ilustrasi-ilustrasi itu malah mengganggu buat saya pribadi. Tapi, saya suka ilustrasi untuk awal ke-bab-nya! Kalimat berima yang ada di beberapa bagian juga terkesan dipaksakan. Hihihi. Ada juga beberapa kalimat yang membuat saya harus mengerutkan alis. Contohnya pada halaman 294.

Harapan dan khayalan liar silih berganti dalam benaknya. Bambang mengulum tersenyum dikulum sepanjang perjalanan bus antarkota dari Damman ke Riyadh.

Terlepas dari itu semua, saya cukup menikmati membaca buku ini di sela-sela mengerjakan tugas akhir. Meskipun masih ada beberapa cerita yang lompat-lompat dan terkesan ‘dipaksakan ada dalam plot’, toh buku ini memberitahu saya bahwa ‘ada lelucon di setiap duka’.

Aku ternyata begitu merindukan kebersamaan atas nama manusia, tanpa kecurigaan, persangkaan, atau letup amarah. Cukup atas nama manusia saja, bila ternyata embel-embel identitas lainnya hanya membuat kita meniadakan cinta.

Ps: ada bonus beberapa artikel di belakang. Di antaranya ada kisah perjalan Vabyo di London. Membantu kalian yang ingin jalan-jalan ke sana… dan cukup membuat envy. Selamat membaca! ^^
——————————
Judul buku: Kedai 1002 Mimpi | Penulis: Valiant Budi Yoga (@vabyo) | Penyunting: Alit Tisna Palupi | Penerbit: GagasMedia | Tahun terbit: 2014 | Jumlah halaman: iv + 384 halaman | ISBN: 979-780-711-8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s