[Resensi Buku] Gairah di Gurun : Pesan dalam Karya-karya Balzac

Mari berkenalan dengan seorang pengarang asal Prancis ini. Honoré de Balzac (1799-1850). Pada usia 30, ia mulai mengerjakan The Human Comedy, proyek raksasa yang kemudian menjadi salah satu monumen sastra terbesar sepanjang masa.

Seiring berjalannya waktu, The Human Comedy berkembang menjadi sebuah kumpulan novel dan cerita yang amat banyak. Lebih dari 2.000 tokoh terdapat di dalamnya. Secara keseluruhan, karya tersebut adalah bentuk sejarah kehidupan sosial pada masa hidup Balzac.

image

GAIRAH DI GURUN berisi tiga cerita pendek karya Honoré de Balzac. Rumah Misterius, Peristiwa di Ghent, dan Gairah di Gurun.

Karya-karya Balzac seringkali bernuansa erotis, tetapi tema utamanya sesungguhnya adalah efek buruk uang terhadap manusia. Ini tampak jelas dalam cerpen berjudul ‘Peristiwa di Ghent’. Bercerita tentang seorang perempuan tua sakit-sakitan, yang pada detik-detik kematiannya, sambil dikeliling oleh kerabat-kerabatnya ia tiba-tiba melompat dari tempat tidur. Peristiwa tersebut mengagetkan para kerabat yang datang menemani–sekaligus berjaga-jaga kalau-kalau si perempuan tua mengubah surat wasiatnya. Sampai ajal menjemput, ada sebuah rahasia yang belum sempat diungkapkan si perempuan tua. Nah, apakah para ahli warisnya bisa menangkap ‘pesan terakhir’ yang coba ditunjukkan perempuan itu?

Tak seorang pun yang mau beranjak dari sisi ranjangnya. Mereka semua takut perempuan itu akan mengubah surat wasiatnya di saat-saat terakhir.

Dalam karya-karyanya Balzac juga kerap menggabungkan realisme dengan romantika dan melodrama. Cerpen berjudul ‘Gairah di Gurun Pasir’ (dalam buku lain berjudul Cinta Tak Ada Mati) misalnya, bercerita tentang kisah persahabatan seorang prajurit Prancis yang tersesat di gurun dan bertemu seekor macan betina di sebuah goa. Awalnya tentara memiliki niat untuk membunuh sang macan dikarenakan rasa takutnya akan hewan buas tersebut. Namun, lama-kelamaan terjalin hubungan kasih sayang antara dua makhluk kesepian tersebut. Melalui gerak-gerik dan tatapan matanya, tentara tahu bahwa sang macan tak akan melukainya. Cerita ini ditutup dengan kalimat, “Itu adalah Tuhan tanpa kemanusiaan”. Cerpen ini sendiri ditulis pada tahun 1831 dan untuk pertama kalinya muncul dalam kumpulan cerita berjudul Tales from The Military Life.

Nah, untuk yang senang dengan karya-karya klasik, cerpen Honoré de Balzac bisa dijadikan salah satu pilihan.
———————————–
Judul buku: Gairah di Gurun | Penulis: Honoré de Balzac | Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | ISBN: 979-9481-57-0

-dhilayaumil-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s