[Resensi Buku] Warna Tanah : Bunga-bunga dalam Karya Kim Dong Hwa

Kau mungkin saja bunga Kamelia. Namun, kau juga bisa jadi bunga hollyhock. Seorang wanita dapat menjadi ratusan jenis bunga sepanjang hidupnya.”

image

Warna Tanah menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Ehwa baru saja memulai perjalanannya menjadi seorang wanita. Bersama setiap musim hujan, Ehwa kecil semakin matang dalam pikiran maupun tubuh. Ehwa dan ibunya sama-sama bertumbuh dan berubah. Namun, ikatan yang sangat dalam di antara ibu dan anak ini membuat mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan lingkungan sekitar yang tidak terlalu ramah.

Kisah dimulai saat Ehwa kecil berusia tujuh tahun, bertanya kepada ibunya tentang alat vital. Pemikirannya mulai terbuka, rasa ingin tahunya tinggi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kedewasaan. Ibunya, seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dengan bijak menjelaskan kepada Ehwa kecil dengan menggunakan analogi-analogi yang menarik.

Kehidupan ibu dan anak ini berlanjut sampai masing-masing bertemu dengan lelaki yang pada perjalanan selanjutnya memberi warna pada kehidupan mereka. Ehwa yang beranjak remaja bertemu dengan seorang biksu di jembatan yang ditumbuhi banyak bunga tiger lily. Sedangkan ibunya bertemu dengan seorang tukang gambar keliling yang selalu berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mencari uang.

Ehwa kecil pun akhirnya patah hati saat sang biksu harus fokus mengabdikan diri pada sesuatu yang sudah dipilihnya. Tak sampai di situ Ehwa lalu bertemu dengan lelaki menarik dan lagi-lagi harus patah hati.

Perjalanan Ehwa dan ibunya dipenuhi hal-hal lucu dan menarik lainnya. Ikuti kisah Ehwa kecil menuju remaja dalam buku pertama dari Trilogi Warna ini.
*

Saya mengetahui novel grafis (atau di Korea disebut manhwa) ini sekitar 2-3 tahun lalu. Tapi baru tertarik baca setahun belakangan. Tidak menyangka kalau buku ini sangat menarik, indah dan berisi pelajaran-pelajaran tentang perempuan, kehidupan, dan kedewasaan–khususnya perempuan Korea. Trilogi Warna (Warna Tanah, Warna Air, dan Warna Langit) berkisah tentang Ehwa sejak berumur 7 tahun sampai Ehwa menikah. Perjalanan Ehwa mencari arti dan memahami arti kedewasaan seorang perempuan.

image

Selain ilustrasi yang sangat indah, kalimat-kalimatnya pun disusun dengan indah. Salut untuk penerjemah yang bisa membuat gambar dan kalimat-kalimat terjemahannya begitu ‘satu’. Analogi-analogi yang dipakai Kim Dong Hwa pun begitu menarik, sehingga sangat mudah dipahami. Seperti laki-laki yang dianalogikan sebagai kumbang: kuat dan pekerja keras. Hal lainnya, katanya, kumbang itu suka ganti-ganti pasangan. :p. Lalu perempuan yang dianalogikan sebagai bunga-bunga: Hollyhock, tiger lily, bunga labu, kamelia, dan bunga pir.

“Wanita dan bunga hanya merekah ketika mereka mendambakan sesuatu atau seseorang.”

Saya suka sifat polos Ehwa yang penuh rasa ingin tahu. Kadang ia bersikap sok dewasa, kadang sangat polos, kadang juga centil khas anak kecil yang sedang ‘tumbuh’.

Karena takut orang lain melihat ke dalam hatiku, aku berhati-hati untuk tidak menunjukkan perasaanku… Tapi Bongsoon bahkan membiarkan orang lain melihat ke balik roknya. Apakah itu artinya Bongsoon sudah dewasa? Apakah ia melalukan semua kehebohan itu karena ingin menjadi dewasa?” -Ehwa-

Selain itu, hal menarik lainnya adalah penggambaran tentang lingkungan tempat tinggal Ehwa di Namwon, salah satu desa di Korea, yang sangat indah. Penuh bunga-bunga dan tumbuhan. Mitos, budaya, dan hal-hal yang khas dilakukan orang Korea pun tak luput dari buku ini. Menyenangkan bisa mengetahui sedikit kebiasaan dan budaya orang lain. Selain sebagai tambahan informasi, kita juga bisa belajar dari situ.

Hubungan ibu dan anak antara Ehwa dan ibunya juga bisa jadi pelajaran untuk keluarga lainnya. Bagaimana kedekatan antara dua perempuan dua generasi itu dibangun dengan dialog-dialog yang hanya bisa dibicarakan antar perempuan saja. Percakapan yang sebenarnya sensitif tapi dibicarakan dengan santai seperti antar dua sahabat dekat. Tentu menyenangkan menjadikan ibu sebagai tempat curhat nomor 1 kita. :’)

Nah, buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh perempuan saja, tetapi lelaki pun cocok untuk membacanya. Kisah ini tak akan indah tanpa kehadiran laki-laki di dalamnya. Selain bunga-bunga, hujan, tentunya hal yang paling menarik untuk dibahas oleh dua ibu dan anak itu adalah lelaki. :p Selamat menikmati karya yang indah! ^^

PS: Buku ini ada label ‘Novel Grafis Dewasa’ di sampul belakangnya. Beberapa ilustrasi dan dialog di dalamnya memang dutujukan untuk pembaca dewasa. Nah, buat anak-anak masih perlu pendampingan orang dewasa, yak!

—————————-
Judul buku: Warna Tanah (#1 Trilogi Warna) | Penulis: Kim Dong Hwa | Penerjemah: Rosi L. Simamora | Penyunting: Tanti Lesmana | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2010 | Jumlah halaman: 320 halaman | ISBN: 978-979-22-5927-8 |
Rating Goodreads: ♥♥♥♥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s