[Resensi Buku] Tiga Pertapa : Tolstoy dan Pesan Moral dalam Karyanya

Leo Tolstoy lahir pada tahun 1828 di Yasnaya Polyana, Rusia, di kalangan ningrat Rusia. Masa kuliah dihabiskan dengan berfoya-foya, berjudi, dan minum-minum.

Pada tahun 1856 Tolstoy melakukan perjalanan keliling Eropa Barat. Kegelisahan jiwanya mulai menemukan arah dalam perjalanannya. Ia mulai mempertanyakan kesia-siaan hidup manusia. Selama sisa hidupnya ia bergulat dengan spiritualitas yang diyakininya.

Pada usia 34, Tolstoy menikah dan menghabiskan 15 tahun berikutnya di rumah keluarga besarnya. Di sana ia menulis novel yang mengukuhkan namanya di jagat sastra–War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873).

Pertanyaan tentang makna dan tujuan hidup masih memburunya. Ia menjadi pembaharu moral dan mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Hartanya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Orang-orang dari segala penjuru dunia mengikuti ajaran-ajarannya tentang kesederhanaan dan kebajikan.

Keberhasilan Tolstoy sebagai pemimpin spiritual amat dipengaruhi oleh reputasinya sebagai salah seorang penulis terbesar dunia. Novel-novel dan cerpen-cerpennya amat kuat dan bercorak realistis, serta tokoh-tokoh rekaannya tak terlupakan.

image

TIGA PERTAPA terdiri dari tiga buah cerpen yang ditulis oleh pria berdarah bangsawan ini, yaitu: Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang?, Tiga Pertapa, dan Pengasingan yang Panjang.

Cerpen pertama, Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang? bercerita tentang seorang petani yang tak pernah puas dalam hidupnya. Ia berpindah dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya demi meningkatkan derajat hidupnya. Jika ada tanah yang menjanjikan lebih, ia akan pindah ke tempat itu. Ending sekaligus inti pesan yang ingin disampaikan Tolstoy kepada pembacanya sangat menawan.

Cerpen kedua, Tiga Pertapa–sekaligus dijadikan sebagai judul kumpulan cerpen ini–cukup dikenal. Bahkan beberapa tahun silam sempat ‘hangat’ ketika salah satu cerpen pemenang di salah satu media cetak ternama diisukan memplagiat cerpen ini. Tiga Pertapa bercerita tentang tiga orang pertapa tua yang hidup di sebuah pulau.

Suatu hari seorang uskup mengunjungi mereka dan bertanya, “Bagaimana cara kalian melayani Tuhan di Pulau ini?”

Salah satu pertapa menjawab bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan.

Lalu sang uskup bertanya lagi, “Lalu bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?

Pertapa menjawab, “Kami berdoa seperti ini: ‘Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Begitulah, hingga sang uskup bersikeras mengajarkan tiga pertapa itu bagaimana cara berdoa yang benar sesuai cara berdoa yang diajarkan oleh kitab mereka. Sang Uskup menyuruh tiga pertapa untuk mengulang-ulang perkataannya sampai mereka bertiga menghapalkannya.

Tiga pertapa lalu berhasil menghapalkan doa yang diajarkan oleh uskup.

Lalu apakah yang menyebabkan Sang Uskup terperangah dan mengerti makna dari berdoa yang sebenarnya?

Cerpen terakhir, Pengasingan yang Panjang–dalam kumpulan lain berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu–bercerita tentang saudagar muda yang dihukum atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ia menghabiskan nyaris separuh hidupnya di penjara, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sikap sang saudagar-lah yang membuat cerita ini begitu religius, sangat menyentuh, dan tak disangka-sangka. Hal apa kira-kira yang diperbuat ‘sang terpidana’ ini semasa menjalani hukuman di penjara? Berhasilkah ia mendapatkan keadilan yang dulu ia sangat dambakan?

Sederhana dan menyentuh. Itulah yang saya tangkap setelah membaca karya-karya Tolstoy dalam buku ini. Tolstoy tidak menggunakan bahasa berbunga-bunga untuk menyampaikan kisah tokoh-tokohnya. Banyak pesan yang sama sekali tidak menggurui.

Terlihat jelas bagaimana pengalaman religius Tolstoy dituangkan dalam cerita-ceritanya. Tolstoy menghadirkan Tuhan melalui cerpen-cerpennya. Bagaimana keadilan versi manusia dan versi Tuhan hadir melalui tokoh Aksionov yang dikurung dipenjara. Atau kekuatan doa hadir melalui interaksi Uskup dan Tiga Pertapa. Atau pesan kehidupan melalui petani yang tamak. Ketiga cerpen dalam buku ini juara! πŸ˜€

Karya-karya Tolstoy lebih banyak bercorak realis dan bernuansa religius. Sarat dengan perenungan moral dan filsafat.
———————————–
Judul buku: Tiga Pertapa | Penulis: Leo Tolstoy | Penerjemah: Anton Kurnia | Editor: M. Ni’mal Fata | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | Jumlah halaman: 96 halaman | ISBN: 979-9481-60-0

Rating:

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s