[Resensi Buku] Manusia Langit : Banuaha dan Adat Istiadat Di Dalamnya

image

Blurb:

Mahendra, seorang arkeolog muda, berusaha melepaskan diri dari kungkungan peradaban kampus. Ia kabur ke Banuaha, sebuah kampung di pedalaman Pulau Nias, yang diyakini penduduk aslinya sebagai tempat turunnya manusia dari langit. Di sana ia banyak belajar soal persamaan dan perbedaan antara dua dunia: dunia kampus di Yogyakarta dan dunia orang Nias di Banuaha. Persamaan dan perbedaan yang menyangkut prinsip hidup-mati, harga diri, pesta, juga soal… perempuan.

Bagaimana kegundahan hati Mahendra saat jatuh cinta pada Saita, gadis Nias yang ternyata sudah dibeli pemuda kampung tetangga? Bagaimana kelanjutan nasib Yasmin, gadis asal Lombok, mahasiswinya di Yogyakarta? Bagaimana pula Mahendra akhirnya sampai pada kesadaran diri sebagai manusia langit?

*

“Dahulu kala, orang Jawa pun mengukur sensualitas perempuan bukan dari dada, melainkan betis. Kamu pernah dengar tentang Ken Arok?”

Mari mengikuti Mahendra, seorang arkeolog asal Jogja yang sedang ‘menepi’ dari rutinitas kampus, menuju Desa Banuaha di Nias sana.

Cerita dibuka oleh penemuan periuk hasil kerja keras Mahendra dan Sayani selama berhari-hari menggali tanah di Banuaha. Mahendra berusaha menjelaskan hubungan periuk yang mereka dapatkan dengan kehidupan dan kebudayaan orang zaman dulu. Periuk digunakan orang zaman dulu untuk mengubur bayinya–yang sekarang lebih dikenal dengan aborsi–dengan tujuan mengurangi populasi dalam keluarga. Mengingat masyarakat waktu itu masih dalam masa berburu dan berladang. Jadi tidak memungkinkan untuk membawa banyak anggota keluarga.

Ingatannya lalu berlanjut pada beberapa waktu silam, di ruang kelas saat salah satu mahasiswanya melakukan presentasi mengenai mitos kuyang, hantu pemakan bayi pada masyarakat Suku Dayak.

“Menurut dugaanku, yang menjadi kuyang adalah para orang tua mereka.

Di suku Dayak cerita tentang roh jahat pemangsa bayi sudah diterima sebagai kebenaran. Itulah mitos, cerita yang sengaja diciptakan untuk melegalkan suatu tindakan.”

Selain ilmu arkeologi dan antropologi, Mahendra juga belajar tentang etnografis–kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia, khususnya budaya orang Nias. Mahendra menemukan kenyataan bahwa di Nias sana, perempuan masih sangat terikat oleh adat istiadat. Perempuan dibeli dan kebebasannya dirampas. Mahendra menemukan kenyataan bahwa orang di Nias sana masih percaya dengan hal-hal yang bersifat mitos dan takhayyul. Ia menemukan bahwa, untuk menjadi seorang ketua adat atau orang yang dipandang di Banuaha, seseorang harus rela utang sana-sini untuk membayar pesta pengangkatan yang tak tanggung-tanggung. Ia mendapati dirinya lagi-lagi harus kecewa karena perempuan yang ia cintai tak bisa ia nikahi karena sudah ‘dibeli’ oleh pemuda lain…

Selain untuk belajar lebih banyak tentang budaya, adat, dan kebiasaan orang Nias di Banuaha, Mahendra sebenarnya punya tujuan lain. Ia meninggalkan kehidupan di kampus dan mencoba ‘masuk’ ke dalam kehidupan orang Nias. Ia lalu menemukan perbedaan dan persamaan antara suku-suku lain di Indonesia–khususnya Jawa–dengan orang-orang Nias.

Pada akhirnya Mahendra berada di persimpangan antara Langit dan Bumi. Ia berada di tempat manusia langit diturunkan dan sesekali ingatannya berada pada satu tempat di ujung bumi yang lain.

Berhasilkah Mahendra mendapat apa yang selama ini ia cari?

Mengapa Banuaha dikatakan sebagai tempat turunnya manusia dari langit?
*

Buku ini hadiah dari seorang kawan sesama pencinta buku di Tangerang sana, kota yang jauh dari kota Makassar, tentunya. Ia bilang, buku ini adalah salah satu buku favoritnya. Saya baru membacanya setahun kemudian.

Awalnya saya malah tidak tertarik membaca isinya. Selain karena tumpukan buku yang belum dibaca masih banyak, judul dan sampulnya kurang menarik. Bodohnya, saya lupa membaca blurbnya. Saat beberapa waktu lalu saya akhirnya membaca tulisan di belakang bukunya, tanpa ragu saya membuka plastiknya dan mulai membaca.

Buku ini tidak mengecewakan. Justru memberitahu dan mengajarkan saya banyak hal tentang sejarah, tentang kehidupan masyarakat di salah satu daerah di Indonesia, tentang adat istiadat dan kebudayaan masyarakat kota dan masyarakat tempat manusia langit berada.

Dalam novel etnografis–begitulah label di sampul bukunya–ini, saya pun menemukan kenyataan bahwa adat istiadat di Nias sana tak jauh berbeda dengan adat yang masih dianut oleh sebagian besar masyarakat di kota ini dan juga daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Novel ini terbagi atas dua latar yang dibedakan melalui bab-bab yang diberi judul. Satu bagian tentang kehidupan Mahendra di Banuaha, sedangkan satu bagian tentang kehidupan Mahendra di Jogja–dunia kampus–yang dipaparkan melalui alur mundur. Sayangnya, bagian yang menceritakan kehidupan manusia kampus didominasi kisah romansa antara Mahendra dengan Yasmin.

Perbandingan ‘dunia kota’ dan Banuaha sangat jelas dipaparkan melalui dialog-dialog tokoh Mahendra dengan masyarakat asli Banuaha, seperti Sayani dan Ama Budi.

“Kalau di kotaku, hampir semua aturan ditulis, tapi lebih banyak pula yang dilanggar.”

“Begitulah di sini, Bang, perilaku kita saling dicermati oleh sesama. Jika ada yang melanggar, maka orang lain, terutama dari marga yang berbeda, akan melaporkannya ke tetua adat. Begitulah keteraturan dibangun di Banuaha. Tidak tertulis, tapi kekuatannya sungguh luar biasa.”

Banyak ‘kejutan-kejutan’ yang saya dapatkan, terutama tentang kehidupan kampus yang dijalani Mahendra. Juga tentang kehidupan bebas mahasiswa-mahasiswa. Sebab, latarnya berada di Jogja, salah satu kota yang masih ingin saya datangi, saya menemukan sisi lain kota pelajar itu juga. Hihihi.

Selain kelebihan-kelebihan di atas, ending yang terasa dipaksakan dan didramatisasi membuat saya sedikit terganggu. Cerita romansa dalam buku ini juga berlebihan. Kehidupan dunia kampus harusnya sebanding dengan kisah Mahendra di Banuaha. Karakter Mahendra pun lumayan plin-plan pada bagian cerita tertentu. Pantas ditinggal mulu, Hen.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, novel ini layak dibaca. Untuk kalian yang mau mengetahui kebudayaan, adat istiadat, serta sejarah orang-orang Nias. Untuk kalian yang suka etnografi, antropologi, arkeologi, dan kawan-kawannya, novel ini cukup baik menjadi media untuk mempelajarinya. Untuk yang ingin tahu dunia kampus dari kacamata dosen dan lelaki yang lahir dan besar di antara suku Jawa. Untuk kalian yang sedang ingin bacaan dengan tema yang sedikit Indonesia. ^^

———————————–
Judul buku: Manusia Langit | Penulis: J. A. Sonjaya | Penerbit: Penerbit Buku Kompas | Tahun terbit: 2010 | Jumlah halaman: 210 halaman | ISBN: 978-979-709-523-9

Rating:

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s