[Resensi Buku] Re: : Perempuan, Perempuan, dan Perempuan

Gue ini pelacur….. Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia untukku.
image
Namanya Rere. Sering dipanggil Re:. Pekerjaannya sebagai pelacur. Tapatnya, pelacur lesbian.

Herman berkenalan dengan Re: saat melalukan riset untuk merampungkan skripsinya tentang pelacur lesbian di jurusan Kriminologi sekitar tahun 1987-1989. Pertemuannya dengan Re: perlahan mengubah hidup lelaki yang juga berprofesi sebagai wartawan salah satu tabloid itu. Re: adalah perempuan yang cantik dan memikat. Perempuan yang selalu jadi pusat perhatian. Re: yang memiliki sisi lain dalam dirinya daripada sekadar menjadi pemuas nafsu.

Banyak hal yang ditemukan Herman dalam pengalamannya terjun langsung dalam dunia prostitusi itu. Ia menyaksikan sendiri sisi tergelap dunia pelacuran yang penuh darah, dendam, ketakutan, air mata, juga kerinduan.

Herman banyak belajar bahwa orang-orang yang sering disebut ‘sampah masyarakat’ itu juga adalah manusia biasa. Sama seperti ia dan orang lainnya. Mereka punya hati nurani. Bahkan sebagian dari mereka ingin hidup bebas dan memiliki keluarga bahagia….

Bagaimana perjalanan Re: yang terjerumus dalam cengkeraman seorang germo yang menganggap para pelacur ‘asuhannya’ tak ubahnya barang antik yang harus dirawat kemudian dijual dengan harga tinggi? Bagaimana pula sisi lain seorang Re: si pelacur lesbian, yang ternyata memiliki seorang anak cantik dan menggemaskan….

*

Novel setebal 160 halaman ini merupakan hasil riset untuk bahan skripsi yang kemudian diangkat ke dalam novel oleh penulisnya sendiri, Maman Suherman. Menariknya, meski skripsi tersebut ditulis sekitar 26 tahun yang lalu, tapi isu yang diangkat masih relevan dengan kondisi sekarang.

Melalui novel ini, banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan. Selain istilah-istilah kriminilogi, ada pula bagian yang sifatnya lebih akademik, seperti Pembagian tujuh gradasi seksualitas manusia menurut Aldred C Kinsey. Saya jadi tahu sisi lain dunia malam dan para pekerjanya melalui sudut pandang seorang jurnalis seperti Herman. Banyak pula istilah yang umum dipakai dalam dunia gelap pelacuran, seperti sentul, kantil, threesome, suami-suamian, dll.

Selain isu pemerasan dalam kepelacuran lesbian sebagai tema utama novel ini, sedikit disinggung juga tentang dunia jurnalis Indonesia dan dunia hiburan-politik Indonesia yang tak jauh dari dunia prostitusi. Salah satu yang juga paling melekat dalam benak saya tentang bagaimana kekuatan media yang mampu menggiring opini masyarakat. Analisis seorang Herman tentang pelacur yang menjadi korban pembunuhan atau perempuan korban perkosaan, apakah seorang korban atau bahkan bisa menjadi pelaku?

“Andai Re: mendapat perlakuan kasar, kekerasan, seperti yang pernah dialaminya, dan ia terluka atau meninggal di kamar itu, apakah Re: bisa tetap diposisikan murni sebagai korban? Ataukah ia ikut dipersalahkan?”

Novel tipis tapi padat. Sangat apik diceritakan dengan gaya analisis dan investigasi yang menarik. Pilihan yang tepat untuk pembaca yang ingin membaca feature yang menawan.

Buku ini memang dikategorikan ke dalam karya fiksi, tapi sebagian besar isinya diangkat dari kisah nyata. Bahkan nama tokoh dan tempat tidak disamarkan oleh penulis. Saya sangat menikmati cara bertutur Daeng Maman. Mungkin karena sejak dulu saya tertarik dengan jurnalisme investigasi dan jurnalisme sastra, jadi tak ada kendala berarti saat membaca buku ini.

Satu hal yang saya sayangkan adalah tidak adanya penyunting maupun pemeriksa aksara untuk buku ini. Terbukti beberapa tata kalimatnya berantakan. Antara satu kata dengan kata lainnya atau antara tanda baca tidak diberi spasi, dan beberapa kata ada yang salah ketik. Tapi, terlepas dan masalah teknis tersebut, buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca keren di luar sana. ^^

Semoga Tuhan menempatkan di surga para pemikir viktimologi yang tegas mengatakan, negara turut bersalah dalam terjadinya kejahatan, dan karenanya negara harus memberikan kompensasi kepada korban, di samping memungkinkan adanya restitusi yang diberikan oleh si pelaku kejahatan kepada korbannya.

Perempuan, bagaimanapun ia dipandang rendah di masyarakat, punya sisi kuatnya masing-masing. Seperti kata penulis, “Perempuan adalah cahaya. Perempuan adalah jiwa.”

——————————-
Judul buku: Re: | Penulis: Maman Suherman | Penerbit: POP | Tahun terbit: 2014 | Jumlah halaman : vi + 160 halaman | ISBN : 978-979-91-0702-2

Rating:
image

Advertisements

2 thoughts on “[Resensi Buku] Re: : Perempuan, Perempuan, dan Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s