[Resensi Buku] Prajurit Schweik : Patriotisme dari Seorang yang Dianggap Lemah Akal

Mohon melapor, Tuan, aku menderita encok. Tetapi aku bersedia berjuang sampai titik darah terakhir untuk sang Kaisar.” -Jacob Schweik-

image

Pernahkah bertemu dengan seorang yang sangat lugu, polos, dan ‘terlalu baik hati’? Jika belum, mari berkenalan dengan Jacob Schweik–atau Josef Svejk, seorang prajurit teladan dari Austria. Penampilannya sederhana, tampak eksentrik, penuh kejujuran dan ketulusan, dan lugu–jika tak mau disebut bodoh.

Schweik adalah seorang bekas tentara. Beberapa tahun yang lalu ia dikeluarkan dari dinas ketentaraan karena dewan kesehatan tentara menyatakan ia menderita lemah akal yang tak bisa disembuhkan lagi. Kini Schweik hidup dari menjual anjing. -hal. 10-

Kisah dimulai saat Schweik ditangkap oleh polisi rahasia saat sedang minum-minum di kedai minum ‘Botol’. Ia ditangkap atas berbagai macam tuduhan, di antaranya pengkhianatan terhadap negara. Padahal apa yang dibicarakan di kedai minum itu semata-mata hanya pendapatnya terhadap kasus penembakan terhadap Ferdinand si Putera Mahkota.

Dari situ, si prajurit baik hati yang tak punya latar belakang pendidikan diplomatik ini mulai terjun ke dalam perang dunia yang menjadi latar kisah ini.

Ia dibawa ke kantor polisi, ‘dipaksa’ menandatangi laporan yang sama sekali tak dilakukannya, dipindahkan ke pengadilan kriminal lalu diperiksa para pejabat kesehatan di sana. Schweik menjalani dengan santai bahkan setelah didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan.

Sepeninggalnya, ketiga ahli itu memutuskan bahwa Schweik betul-betul seorang sinting sesuai dengan hukum alamiah yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli penyakit jiwa.

Tak sampai di situ, akibat sakit encok yang tak memungkinkannya bisa berjalan dengan baik, prajurit lugu kita, tetap menguatkan dirinya untuk tetap ikut berperang.

Orang itu sambil melambai-lambaikan tongkatnya berkali-kali berseru di sepanjanh jalan kota Praha: “Ke Belgrado! Ke Belgrado!”

Namun, lagi-lagi sial bagi Schweik, ia ditangkap dan dituduh berpura-pura sakit hanya karena ingin menghindari wajib militer.

Mengalami nasib ‘sial’ dan perlakuan tidak adil tak berarti menyerah bagi prajurit yang kadang bertindak seenaknya ini. Ia menjalani apa yang memang sedang menimpanya.

All hail, a good soldier, Schweik!

*

Meski kisah ini berlatar belakang Perang Dunia I, tapi pembaca tak akan menemukan kisah ‘berdarah’ atau peperangan yang sering dibaca di buku-buku sejarah. Jaroslav Hasek dengan sukses membuat tokoh Schweik dicintai para pembaca.

Novel yang kali pertama terbit dalam bahasa Indonesia pada tahun 1978 ini sangat satir, humoritis, dan filosofis. Banyak hal yang bisa dipelajari dari prajurit yang justru dicap sinting dan lemah akal ini. Hasek berhasil membuat karya yang berkisah tentang ‘tragedi dibalut komedi’.

Selain tokoh sentral kita, ada banyak sekali tokoh pendukung dalam novel ini. Hasek jelas ‘memunculkan’ mereka bukan tanpa sebab. Tokoh-tokoh tersebut mewakili sebulah kondisi, kelompok, atau kepribadian yang nantinya membuat kita merenung sendiri bahwa di sekitar kita–bahkan setelah puluhan tahun buku ini terbit–masih banyak orang yang berperilaku seperti tokoh-tokoh tersebut.

Buku ini juga dijadikan bahan Diskusi Buku Bulan Agustus di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia dan dimoderatori oleh Eko Agustanto dan Ilham Wahyudin. Banyak hal baru yang saya ketahui mengenai buku ini. Salah satunya isu tentang ending buku ini yang tidak sempat diselesaikan lantaran Jaroslav Hasek meninggal. Entahlah, yang jelas ending buku ini juga cukup mewakili karakter Schweik.

Satu hal yang sempat jadi perhatian member yang lain juga tentang peran media saat itu yang dikorelasikan dengan peran media saat ini. Sebagian besar media dengan gampangnya membolak-balikkan fakta, menambah, mengurangi, bahkan membuat berita palsu hanya untuk menaikkan oplah penjualan. Dan dalam buku ini, Schweik sempat menjadi ‘korban media’.

Monumen Hasek dan Patung Svejk ternyata juga ada lho. Monumen dan patung dari penulis dan tokohnya ini terdapat di negara Ceko–asal Jaroslav Hasek–dan di Polandia.

image

Patung Svejk di Polandia

Nah, penasaran dengan prajurit yang dipuja karena dapat menumbuhkan semangat patriotisme bagi bangsanya ini? Tak rugi membeli dan membaca buku ini lho. ^^

*

Judul buku: Prajurit Schweik (The Good Soldier Svejk) | Penulis: Jaroslav Hasek | Penerjemah: Djokolelono | Penerbit: Pustaka Jaya | Tahun terbit: 1978 (Cetakan ketiga, 2008) | Jumlah halaman: 278 halaman | ISBN: 978-979-419-106-4

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho.^^

image

* Buku ini juga bisa kalian dapatkan di toko buku online @foboekoe dan @standbuku.

Rating:

image

Advertisements

2 thoughts on “[Resensi Buku] Prajurit Schweik : Patriotisme dari Seorang yang Dianggap Lemah Akal

  1. Buku dan kisah yang menarik nih, tapi kayaknya nggak bakal mudah nyarinya. Di perpustakaan di Pontianak ada nggak ya? Ngomong-ngomong ini fiksi atau berdasarkan kisah nyata?

    • Kalau mau beli online bisa ke @Foboekoe atau @standbuku, Kak. Kalau di perpustakaan aku kurang tahu masih mudah ditemuin atau enggak. Di toko buku yang biasa juga sudah susah nemunya. Adanya di toko buku online.

      Ini fiksi, Kak. Ditulis Hasek dalam rangka membangun semangat bangsa Ceko pas Perang Dunia itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s