[Resensi Buku] 10 Anak Negro: Cerita Detektif Tanpa Detektif

Sajak anak-anak:
Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

image

Foto dari Bang Muchson

Ada sepuluh orang yang diundang oleh seseorang bernama Ulick Norman Owen atau U.N. Owen ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, pulau yang sedang ramai diperbincangkan karena kemisteriusannya. Masing-masing dari mereka memiliki latar belakang yang berbeda, serta membawa rahasia masing-masing.

Misteri dimulai oleh suara dari sebuah gramophon kuno dengan terompet besar yang mengeluarkan suara yang ditujukan kepada 10 tamu yang hadir. Melalui gramophon itulah ’10 dosa anak Negro’ diungkapkan.

“Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut:

‘Edward George Armstrong menyebabkan kematian Louisa Marv Dees.’
‘Emily Caroline Brent bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor.’
‘William Henry Blore menyebabkan kematian Jows Stephen Landor.’
‘Tera Elizabeth Daythorne membunuh Cyril Ogilvie Hamilton.’
‘Philip Lombard bersalah atas kematian dua puluh satu orang suku Afrika Timur.’
‘John Gordon Macarthur dengan sengaja membunuh pacar istri Anda, Arthur Richmond.’
‘Anthony James Marston bersalah atas kematian John dan Lucy Combes.’
‘Thomas Rogers dan Ethel Rogers menyebabkan kematian Jennifer Brady.’
‘Lawrence John Wagrave bersalah atas kematian Edward Seton.’

Terdakwa, apakah Anda ingin mengajukan pembelaan?”

Kejadian mengerikan secara beruntun lalu menimpa sepuluh orang yang awalnya tidak saling kenal tersebut. Kejadian tragis yang mirip dengan kalimat dalam syair 10 Anak Negro.

Apakah motifnya dan siapakah pelaku ‘sakit jiwa’ yang telah meneror orang-orang yang terisolasi di Pulau Negro?

*

Detil dan cerita yang sangat menarik membuktikan nama besar Agatha Christie memang mumpuni dalam dunia cerita detektif. Awalnya saya tidak punya petunjuk siapa pelakunya, lalu mulai menebak-nebak dan sampai akhir dibuat terkejut dengan twist yang sama sekali di luar dugaan.

Alur cerita yang menegangkan dan susah ditebak–meskipun sejak awal sudah diberikan beberapa petunjuk–membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan kasusnya. Kisah misteri tak lengkap tanpa kejutan-kejutan sampai akhir cerita dan yang paling seru dari kisah ini tentunya saat pelaku dan cara membunuhnya ketahuan.

Hanya satu yang mengganjal buat saya, yaitu motif pelaku untuk melakukan pembunuhan dengan cara yang ‘unik’ ini kurang kuat, atau malah terkesan dipaksakan. Tetapi, secara keseluruhan saya sangat menikmati buku ini.

Bagi saya yang baru beberapa kali membaca karya Agatha Christie, 10 Anak Negro menjadi pilihan pas untuk pembaca yang menyukai kisah-kisah misteri dan ingin merasakan sensasi berbeda dengan membaca cerita detektif … tanpa detektif ini! ^^

“Baiknya suatu pulau adalah sekali engkau ke sana, engkau tak bisa ke mana-mana lagi… engkau sampai pada akhir segala-galanya….”

———————————————————————-
Judul buku: 10 Anak Negro | Penulis: Agatha Christie | Penerjemah: Mareta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 1984 (Cetakan Kedua: Juni 1994) | Jumlah halaman: 264 halaman

Rating:

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s