[Resensi Buku] My Wedding Dress : Teman Perjalanan yang Menyenangkan

Pada setiap kepergian, sakit bukan hanya milik mereka yang ditinggalkan, melainkan juga milik mereka yang memilih pergi.

Exif_JPEG_420

Apa yang akan kamu lakukan jika sesaat sebelum memasuki ruang ijab qabul atau altar pernikahan ternyata calon mempelaimu tidak muncul? Hancur? Sesak? Menangis sejadi-jadinya? Mari bertanya pada perempuan cantik bernama Abigail Kenan Larasati.

Abby masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tepat di hari pernikahannya. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menunggu Andre—sang calon suami—hingga berjam-jam, berharap ada keajaiban yang membawa Andre tiba di tempat upacara pernikahan. Kenyataannya … Andre tak pernah datang. Lelaki itu menghilang sesaat sebelum mengikat Abby di altar pernikahan.

Abby merasa dunianya seketika runtuh. Mimpi untuk membangun keluarga bahagia bersama Andre luruh bersama air matanya. Sejak peristiwa itu ia menutup diri dari sekitar bahkan orang-orang terdekatnya. Ia membenci tatapan kasihan yang diberikan orang-orang kepadanya. Abby hidup membawa luka-luka yang tak pernah ia biarkan mengering. Di depan adik dan kedua orang tuanya ia berpura-pura terlihat baik-baik saja.  Ia mencandu rasa sakitnya sendiri.

“Sendirian seperti sekarang ditambah sedikit kenangan dengan Andre berhasil membuatku galau dan menangis.”

Setelah setahun terjebak dalam kubangan kenangan, Abby memutuskan untuk berhenti memikirkan Andre dan kegagalan rencana pernikahannya. Ia mengumpulkan semua benda yang mengingatkannya pada Andre. Hasilnya? Nyaris lima kantong sampah besar! Sini sumbangin ke Princess aja, sih. Kalau kalian, gimana cara move on­-nya?

Setelah semua ‘sampah’ terkumpul, ternyata ada satu barang yang tertinggal. Apakah itu?

 

1461331132243

Yup! Gaun pengantun yang harusnya ia kenakan saat naik altar bersama Andre. Tapi … ah, sudahlah.

Dalam proses melupakan kejadian yang menyakitkan itulah Abby membuat keputusan yang cukup mengejutkan: travelling menggunakan gaun pengantin! Wew, Abby bakal jadi pusat perhatian pastinya. Dan terpilihlah Penang sebagai tujuan Abby melepas kesedihannya setahun belakangan ini.

Dalam pikiranku, gaun ini akan menyerap semua kesedihanku dan berubah menjadi hitam.

Di Penang, Abby bertemu Wira secara tidak sengaja saat sedang nyasar. Ini sih, namanya nyasar membawa berkah. Wira yang ramah, humoris, dan perhatian bertemu dengan Abby yang tertutup dan penakut. Selanjutnya, perjalanan Tuan Pengelana dan Nona Gaun Pengantin di Penang dimulai.

Berhasilkah Abby melupakan Andre? Rahasia masa lalu seperti apakah yang juga disembunyikan Wira? Apakah alasan Andre menghilang tepat pada hari pernikahannya? Well, ternyata secara kebetulan juga—meski tak ada kebetulan di dunia ini—Abby memilih travelling sebagai cara untuk move on pun secara tidak langsung karena Wira. Soalnya Wira ini ternyata … penasaran? Silakan baca bukunya. Kamu akan diajak Abby dan Wira untuk bertualang ke beberapa tempat indah.

*

Membaca buku ini awalnya kupikir akan sama sensasinya dengan membaca cerita bertema sama. Dengan percaya diri saya menebak-nebak jalan cerita bahkan ending buku ini, dan ternyata … tebakan saya banyak salahnya! Hahaha.

My Wedding Dress adalah buku kedua Dy Lunaly yang saya baca–setelah Senja Memerah yang diterbitkan Nulisbuku beberapa tahun silam. Saya suka sekali dengan cara Dy Lunaly mendeskripsikan latar tempat di dalamnya. Membaca kisah travelling Abby dan Wira di Penang seolah-olah saya diajak mengunjungi tempat-tempat yang mereka datangi. Kalian tahu Penang itu di mana? Nah, awalnya saya juga tidak tahu Penang itu di negara mana—maklum saya tidak paham geografi. Mungkin ini bisa jadi salah satu kelemahan buku ini, kurang jelasnya informasi tentang negara tempat Abby berkunjung.

penang-hills-1b

Penang Hill di Penang, Malaysia. (Sumber: google)

Karakter Wira pun digambarkan Dy cukup apik melalui sosok Abby sebagai pencerita. Saya langsung jatuh cinta dengan sosok Wira. Apa yang menarik dari Wira? Lelaki itu pandai membuat orang nyaman berada di sampingnya. Dia menikmati berbicara dengan orang lain. Wira sering tersenyum dan tertawa. Kalau kata Abby, Wira bisa menularkan kebahagiaan dengan cepat.

“Happiness is like a kiss, you must share it to enjoy it. Aku gak takut hidup sendiri, tapi aku takut kalau gak punya seseorang untuk berbagi kebahagiaan. Kamu tahu rasanya ketika bahagia, tapi ga bisa membaginya?”

Sedangkan tokoh Abby adalah seorang perempuan pada umumnya. Dramaqueen, gampang down, perasa, penakut, tapi gampang untuk bangkit, semangat, dan periang. Abby mewakili sosok perempuan kebanyakan yang kasusnya sama. Ditinggal nikah, terpuruk, sedih, hancur, mencoba bangkit, mencari dan menemukan kebahagiaan baru.

“Aku harus berhati-hati dengan pikiranku. Aku pernah berharap konyol pada pria lebih dari yang bisa ia berikan dan itu menyakitkan.”

Gaya bercerita yang mengalir juga membuat saya susah untuk menunda membacanya. Bahasa yang tidak terlalu kaku dan pemilihan diksi yang apik juga mendukung cerita ini. Inti dari novel My Wedding Dress ini adalah perjalanan seorang perempuan dalam menemukan kebahagiaannya kembali. Ia memilih travelling menggunakan gaun pengantin, berharap gaunnya bisa menyerap semua kesedihannya.

Sayangnya, kekurangan novel ini, seperti yang sempat saya sebutkan di atas tadi bahwa penulis kurang menyebutkan detil posisi tempat-tempat yang di datangi Abby dan Wira. Dy hanya menulis Penang dan nama-nama kafe atau tempat yang dikunjungi, tapi tidak secara detil. Misalnya, Penang berada di negara mana, sebelah mana tempat ini, ditempuh berapa lama dari tempat ini, dsb. Kekurangan lainnya menurut saya adalah tokoh lain yang kurang dieksplor. Jadi seperti hanya tokoh tempelan. Bahkan kadang saya merasa tokoh Wira ini terlalu sempurna. Meski pada akhirnya saya tetap cinta Wira sih.

img1461332585156

Tiap awal bab, ada ilustrasi cantik dan quote karya penulisnya sendiri lho.

Terlepas dari kekurangan kecil yang ada, buku ini cukup memberitahu saya banyak hal. Bagaimana caranya untuk bangkit. Bagaimana menerima kehilangan dan melepaskan yang memang ingin dilepas. Bagaimana menikmati sebuah perjalanan dan betapa menyenangkannya bertemu teman baru dalam sebuah perjalanan. Jika Wira bisa dengan cepat menularkan kebahagiaan kepada orang lain, saya berharap bisa menularkan kebahagiaan membaca buku kepada kalian semua.

Kamu tanya kenapa ada orang yang bisa tersenyum seburuk apa pun keadaan mereka, kan? Itu jawabannya, karena mereka ikhlas. Kedengarannya emang sederhana, tapi sebenarnya nggak mudah. Susah mengeja ikhlas, apalagi mengejanya dengan hati.”

*

Identitas Buku

Judul: My Wedding Dress

Penulis: Dy Lunaly

Penyunting: Starin Sani

Sampul: Titin Apri Liastuti

Ilustrasi isi: Dy Lunaly

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: 2015 (Cetakan Pertama, Oktober 2015)

Jumlah Halaman: vi + 270 Halaman

ISBN: 978-602-291-106-7

Rating:

3.5 Bintang

wpid-photogrid_1439379776419-2.jpg

Advertisements

9 thoughts on “[Resensi Buku] My Wedding Dress : Teman Perjalanan yang Menyenangkan

  1. Hoi alamat pret. Aku biasanya move on itu gimana ya hmmm baca buku, ibadah, berbuat baik (karena setiap kali berbuat baik, aku merasa syantique), terus…. yaudah aku sih suka kayak Abby gitu, menikmati rasa sakit dulu, soalnya akan selalu ada: ah ini bakalan terlewati kok, hari ini bakalan jadi besok.
    Justru, di masa-masa itu, aku bakalan takut banget ketemu laki macam Wira. Bisi disakitin lagi. Wkwkwk.
    Aku mah gak mau ke Penang, ke Zimbabwe aja. Ketemu Pincesss. Penang mah terkenal mereun, Kakdhilak. Di Malaysia. Tapi teuing deh wkwkwk

  2. Ah, salah banget baca ulasannya. Malah jadi bikin penasaran dengan sosok Wira, haha. Kalau move on versi aku biasanya aku melakukan hal-hal yang aku suka (baca buku, nonton YouTube, update blog, bikin review). Pokoknya menyibukkan dirilah. Meski sekali waktu saat melakukan kegiatan tersebut seketika suka teringat aja gitu sama masa lalu wkwkwk.
    Tapi aku enggak mau ke Penang. Pengin ke LA/London aja ketemu gebetan abadi aku, Beckham. Atau ke Korea ketemu pacar imajiner aku, GD unyu, uwuwuwuw

  3. Pingback: [Resensi Buku] Il Tiramisu : Manis dan Pahit, Seperti Hidup, Seperti Cinta | Bibliotheca Nyctopidhila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s