[Resensi Buku] Critical Eleven : Tiga Menit Pertama

Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri.”

20160503_173829

Aku lupa baca di mana, dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit itu, para air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu critical eleven ini. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, I think it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance. Semua terjadi dalam tiga menit pertama.

And then there’s the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi “andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi” atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.

Tanya ‘Anya’ Letitia Baskoro dan Aldebaran ‘Ale’ Risjad kali pertama bertemu dalam penerbangan dari Jakarta menuju Sydney. Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk asmara.

Dan itulah yang dialami Ale, seorang petroleum engineer, kepada Anya, seorang management consultant. Ale merasa hatinya jatuh pada kali pertama pertemuannya dengan Anya. Hanya sebulan setelah pertemuan ‘singkat’ di dalam pesawat tersebut, mereka akhirnya berpacaran lalu menikah setahun kemudian.

Memasuki usia pernikahan kelima tahun, mereka mendapat musibah yang cukup berat bagi pasangan suami istri, Anya keguguran saat usia kehamilannya memasuki bulan kesembilan.Duh, nyesek banget pasti, ya? Anya dan Ale mencoba tegar dan saling menguatkan … sampai dua pekan setelah anak mereka meninggal. Ale mengeluarkan kata-kata yang pada akhirnya membuat hubungan kedua pasangan ‘sempurna’ ini menjadi seperti orang asing di rumah sendiri. Perkataan yang membuat Anya merenungkan kembali arti lima tahun kebersamaan mereka. Memikirkan kembali makna pertemuan singkat mereka.

Mungkin begini sewajarnya nasib sebuah pernikahan yang dimulai dengan jatuh cinta dalam tujuh hari. Sewajar hujan yang membasahi tanah. Sewajar api yang berasa panas. Dan mungkin, sewajar membenci seseorang yang dulu pernah jadi alasan kita percaya cinta.”

*

Saya ingat beberapa waktu lalu teman saya pernah tiba-tiba mengirimkan pesan bahwa ia penasaran dengan buku ini. “Aku lihat sampulnya gambar pesawat, kupikir cocok untuk dibaca oleh ‘dia’ mengingat studi-nya tak jauh-jauh dari penerbangan.” Teman saya berpikir bahwa buku ini sebagian besar bercerita tentang pesawat dan penerbangan. Ya, penulis memakai istilah dalam dunia penerbangan dalam novelnya kali ini. Tetapi novel ini sama sekali tidak berbicara tentang pesawat, kecuali pertemuan kedua tokohnya terjadi di dalam pesawat dan pekerjaan mereka memang menuntut untuk selalu menaiki elang besi tersebut.

Aldebaran Risjad. Ada yang familiar dengan nama tersebut? Kalau kalian menghubungkan dengan karya Ika Natassa sebelumnya yang berjudul Antologi Rasa, tebakan kalian benar. Yup! Tokoh Aldebaran Risjad dalam novel ini tak lain dan tak bukan adalah kakak dari Harris Risjad, tokoh dalam novel Antologi Rasa. Selain tokoh Harris Risjad, kalian akan bertemu tokoh dalam karya Ika Natassa yang lain di novel ini. Ada yang bisa tebak?

Well, novel setebal 339 halaman ini menggunakan sudut pandang orang pertama melalui dua pencerita, yaitu Anya dan Ale—ditandai dengan penyebutan nama tokoh tiap berganti sudut pandang. Khas Ika Natassa—setidaknya dari beberapa novelnya yang saya baca—adalah penggunaan sudut pandang orang pertama. Melalui penggunaan sudut pandang tersebut, pembaca diajak menyelami sendiri pikiran, perilaku, dan isi hati kedua tokoh sentralnya. Ale yang memiliki suara berat yang membuat Anya selalu rindu saat mereka sedang LDR-an, Anya yang setiap gerak-geriknya selalu membuat Ale jatuh cinta, atau perasaan sakit dan tersiksanya mereka saat sedang berada dalam ‘masa tegang’.

Saya merasa tidak ada hal baru yang dibawa Ika Natassa dalam karyanya kali ini. Karakter yang terlalu sempurna, penggunaan bahasa yang kadang diselingi dengan bahasa asing, penyebutan merk ternama dan tempat-tempat khas kaum urban, serta gaya bercerita yang nyaris mirip dengan novel lainnya. Selain itu, penggunaan narasi panjang di beberapa bagian terkesan bertele-tele. Saya sampai sengaja melewatkan beberapa kalimat karena terlalu panjang dan membosankan.

Konflik yang diusung penulis pun masih kurang kuat. Terasa seperti tempelan dan sebenarnya terlalu berlebihan. Pasangan suami istri yang merasakan jatuh cinta setiap hari, hanya karena satu kalimat khilaf efek kesedihan mendalam, mendadak membuat hubungan mereka seperti orang asin.

Dan baikan karena satu peristiwa yang … aduh.

Hal yang menarik dalam novel ini adalah penulis menyelipkan beberapa informasi yang menarik dan terkesan tidak menggurui. Misalnya, analisis soal laki-laki dan twitter. Selain itu, pada beberapa narasi tampak terlihat latar belakang penulis yang suka jalan-jalan, nonton film, dan membaca buku sangat berpengaruh dalam penulisan buku ini. Misalnya penyebutan beberapa judul film dan buku, atau deskripsi sebuah tempat yang cukup membantu untuk memvisualisasikan latarcerita dalam novel ini.

Alur maju-mundur yang membentuk puzzle pun sebenarnya menarik. Sayangnya, banyak logika cerita yang bolong di sana-sini. Mulai dari alasan Anya keguguran yang tidak disebutkan, padahal dari narasi yang dijelaskan panjang lebar dikatakan bahwa kandungan Anya sebenarnya baik-baik saja. Kondisi fisik Anya setelah melahirkan anak yang sudah meninggal dalam kandungan sama sekali tidak disinggung. Atau soal ‘palang pintu error’ yang maksa banget.

Pada akhirnya kenikmatan dan penilaian dari sebuah buku akan kembali pada pembacanya. Mungkin karya-karya Ika Natassa bukan termasuk dalam jenis bacaan saya. Tapi, saya tidak menutup kemungkinan untuk membaca karya-karya beliau selanjutnya—mengingat penilaian atas dua karya sebelumnya kurang lebih sama. Bagaimanapun semua kembali lagi kepada kita sebagai pembaca. Sebab pembaca yang baiik-lah yang menjadikan sebuah karya itu akan bertahan atau mengalami ‘kepunahan dini’ di pasaran.

*

Sebagai laki-laki, tugas utama kita adalah mengambil pilihan terbaik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang dekat dan tergantung pada kita. Sering proses mengambil pilihan ini nggak bisa sebentar, harus sabar. Hidup ini jangan dipaksakan menikmati yang instan-instan, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.”

Identitas Buku:

Judul Buku: Critical Eleven | Penulis: Ika Natassa | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Editor: Rosi L. Simamora | Desain Sampul: Ika Natassa | Tahun Terbit: 2015 (Cetakan Keenam, September 2015) | Jumlah Halaman: 344 Halaman | ISBN: 978-602-03-1892-9

sign

Advertisements

2 thoughts on “[Resensi Buku] Critical Eleven : Tiga Menit Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s