[Resensi Buku] Wonderful Life : Hidup Ini Indah Jika …

2016-09-28-05-12-46-11

Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi. Petualanganku tiap pagi sejak kanak-kanak hingga remaja selalu dimulai dengan raut wajah Bapak yang dingin. Ia mewajibkan kami, kelima anaknya, sarapan bersama di meja makan dengan sikap sempurna. Duduk tegak, berpakaian rapi, sikap tertib.

“Membaca itu,” kata Bapak, “… adalah jendela dunia. Kamu akan menonjol jika pengetahuanmu luas! Percaya dirimu akan tumbuh kuat jika engkau paham banyak hal! Orang akan menghargai isi otakmu, bukan penampilanmu!”

Begitulah kisah Amalia Prabowo dimulai. Sejak kecil ia menjalani hidup teratur dan terencana. Semua aman terkendali. Selepas SMA ia mendapat ‘tiket’ PMDK (Penelusuran Minat Dan Bakat) di salah satu universitas terbaik dan bergengsi di negeri ini. Taklama setelah lulus kuliah ia menikah dengan sosok laki-laki yang menurutnya mendekati ‘sempurna’—sampai tiba-tiba bencana itu datang. Mereka harus berpisah dikarenakan beberapa prinsip. Salah satunya karena keluarga suaminya ‘menuntut’ adanya keturunan dalam pernikahan mereka sementara Amalia dan suaminya waktu itu lebih memilih fokus pada karir dan tak terlalu memikirkan keturunan.

Tanpa sadar kugali sendiri jurang yang memisahkan diriku dengan suami, yang dulu pernah menjadi idolaku. Setelah berjalan 10 tahun, kehidupan perkawinan kami merapuh. Kami menjadi dua sosok alien di rumah sendiri. Bahasa kami berbeda, ritme hidup kami tak lagi sama, bahkan kami saling menjauh.” (Halaman 35)

Tak butuh waktu lama bagi Amalia untuk bangkit. Baginya, hidup harus terus berjalan. Karirnya terus meningkat, tanggung jawab bertambah, dan gaya hidup juga berubah. Setelah dua tahun hidup—dalam sepi—naluri perempuannya memintanya untuk berkeluarga lagi dan punya anak. Dia ingin hidupnya lebih berwarna. Ia akhirnya menikah lagi dengan seorang lelaki yang memberinya dua malaikat kecil; Aqil dan Satria.

Hidup nyaris sempurna bukan berarti tak ada masalah dalam hidupnya. Satu per satu masalah datang. Mulai dari masalah kantor—dikhianati, dimusuhi karyawan, lalu dikucilkan—hingga masalah rumah tangganya. Namun, masalah perkembangan Aqil-lah yang membuatnya paling kaget.

Aqil suspek disleksia.

Bagaimana seorang Amalia, ibu dari dua orang anak, menghadapi masalah yang bertubi-tubi menimpanya? Akankah ia menyerah? Atau berdamai dengan Pemilik Kehidupan? Ikuti kisahnya dalam buku ‘penuh warna’ ini.

*

Saya tertarik membaca buku ini setelah melihat info promo di instagram milik Penerbit KPG dan langsung ‘meminjamnya’ melalui aplikasi perpustakaan digital i-Jakarta. Tak cukup sehari saya berhasil menyelesaikan buku Wonderful Life karya Amalia Prabowo ini.

Buku dengan sampul cantik ini bercerita tentang perjuangan Amalia Prabowo, ibu dua anak, dalam menjalani kehidupannya yang penuh liku. Meski hidup berkecukupan dan berasal dari keluarga ningrat, ia bertekad memulai semuanya dari nol. Hingga ia mencapai puncak.

Anak sulungnya, Aqil, ‘divonis’ suspek disleksia. Awalnya ia tak percaya dan menganggap bahwa Aqil hanya sedikit lambat dan tertinggal dalam hal pelajaran dan lambat laun akan kembali normal. Hingga ia ‘tertampar’ oleh kenyataan. Disleksia adalah gangguan membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya (sumber: A.D.A.M Medical Encyclopedia).

Perjuangannya dalam membesarkan kedua buah hatinya baru dimulai. Beragam cara sudah dicoba sampai ia menemukan kenyataan bahwa malaikat kecilnya memiliki bakat dalam dunia seni lukis. Aqil yang riang sangat hobi menggambar objek dan imajinasinya sangat liar saat melihat sebuah objek. Pembaca dapat melihat karya Aqil dalam buku ini. Percayalah, ilustrasi dalam Wonderful Life adalah karya indah dari seorang anak penderita disleksia.

photogrid_14749986086841

Ilustrasi Aqil yang ada di buku ini

Membaca buku ini sungguh menyenangkan karena selama membaca kita akan ditemani oleh ilustrasi indah. Wonderful Life memberikan saya pandangan baru tentang bagaimana berjuang saat sebenarnya kita hamper menyerah. Penulis sepertinya ingin memberitahukan pada pembaca bahwa ‘tangan Tuhan’ tak akan pernah berhenti memegangmu. Bahwa di balik semua yang kamu alami akan ada sebuah cerita indah yang tercipta. Bahwa jika satu pintu tertutup, akan ada pintu lain yang terbuka.

2016-09-26-20-04-06-11

Kekurangan buku ini selain beberapa kesalahan pengetikan (seperti pada halaman 137 dan 158) adalah kisahnya yang kurang dieksplor. Penulis terlalu jauh melompat. Buku ini terlalu tipis—iya, tipis, meski say abaca secara digital :p. Saya mengharapkan penulis mau lebih banyak bercerita tentang dirinya, keluarganya, kehidupan rumah tangganya, dan tentunya tentang Aqil dan Satria. Apalagi soal Satria, si kecil ini mendapat porsi sedikit sekali dalam cerita. Huhuhu.

Pada akhirnya, hidup ini memang indah jika kau memandangnya indah.

*

“Patuh pada peraturan—tanpa catatan—adalah caraku menjalani hidup agar lebih sederhana; tidak takut dan terbebani ancaman hukuman. To make itu simple.”

“Kesedihan hanya punya secuil tempat dalam kehidupanku. Kesedihan kuberi waktu hanya sesaat, selebihnya adalah evaluasi dan perbaikan. Ini adalah cara terbaik untuk meninggalkan kesedihan jauh di belakang.”

“Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.”

*

Judul Buku: Wonderful LifePenulis: Amalia Prabowo Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto Ilustrator: Aqillurachman A.H. Prabowo Penerbit: POP Tahun Terbit: 2015 Jumlah Halaman: viii + 169 Halaman ISBN: 978-979-91-0854-8

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s