[Resensi Buku] Corat-Coret di Toilet : Cerita dari Balik Dinding

Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik, penjahat  besar yang keji, kotor, dan bau neraka memang susah dikalahkan dan susah mati.” (Peter Pan)

photogrid_1478120869306

Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata: ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan-gagasan radikal progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair-penyair yang puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh masterpiece-nya di dinding toilet. Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakkannya dengan gagasan-gagasan ‘the toilet comedy’. Hasilnya, dindig toilet penuh dengan corat-coret nakal, cerdas maupun goblok, sebagaimana toilet-toilet umum di mana pun: di terminal, di stasiun, di sekolah-sekolah, di stadion, bahkan di gedung-gedung departemen. (Corat-Coret di Toilet, halaman 27-28)

Buku ini memuat 12 judul cerpen yang ditulis selama periode tahun 1999-2000. Corat-coret di Toilet kali pertama terbit sekitar tahun 2000 oleh Yayasan Aksara Indonesia berisi sepuluh cerpen, kemudian diterbitkan ulang oleh Gramedia pada tahun 2014 dengan menambah dua cerpen lagi. Cerpen-cerpen tersebut adalah Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat Si Orang Gila, Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, Siapa Kirim Aku Bunga?, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti, Kisah dari Seorang Kawan, Dewi Amor, serta Kandang Babi. Hampir semua cerpen saya suka. Favorit saya adalah tiga cerpen pertama—Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, serta Corat-Coret di Toilet.

Peter Pan bercerita tentang seseorang yang suka membaca buku dan menulis puisi yang gemar mencuri buku. Ia mencuri buku agar ditangkap, dengan demikian ia tahu bahwa pemerintah sangat mencintai buku seperti dirinya. Sayangnya, ia tak pernah ditangkap karena mencuri buku-buku yang jumlahnya mencapai ribuan. Kisah Peter Pan ini mengingatkan kita pada sosok Wiji Tukul dan orang-orang yang sampai sekarang masih dinyatakan hilang. Silakan baca cerpennya untuk tahu hubungan Peter Pan si Pencuri Buku dengan penyair kita itu.

Dongeng Sebelum Tidur mengambil kisah Syarazad dalam 1001 Malam. Berkisah tentang pasangan yang baru saja menikah. Sang istri tak mau melakukan hubungan suami istri jika dongengnya belum selesai dibacakan. Tengan saja, tak ada adegan tebas-tebasan leher dalam cerita ini. Tapi, kalian akan kagum dengan kecerdasan penulis meramu ending yang … hmm baca sendiri, monggo.

Corat-Coret di Toilet lebih sederhana lagi. Berkisah tentang dinding toilet yang menyimpan banyak kisah. Seperti potongan paragraf dalam pembuka ulasan ini, dinding toilet hanya ruangan marjinal tempat orang-orang berceloteh. Banyak hal yang disimpan oleh dinding toilet, bahkan dinding toilet lebih dipercaya daripada bapak-bapak anggota dewan.

Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.”

*

Saya kali pertama bertemu dengan Eka Kurniawan sekitar Juni 2014. Saat itu saya menjadi volunteer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) di mana Eka Kurniawan sebagai salah satu partisipan dalam festival tersebut. Saat itu saya mengurusi dua program yang dibawakan Eka—salah satunya adalah launching buku Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Saat meminta tanda tangan untuk buku Cantik Itu Luka—buku Eka Kurniawan yang saya baca kali pertama dan langsung membuat saya jatuh cinta dengan tulisan-tulisannya—saya sempat bertanya padanya, “Apa sih isi kepala Mas Eka? Sehari-hari makan apa, Mas?” dan dia hanya menjawab dengan senyum sambil menandatangani buku. Kami akhirnya bertemu kembali saat MIWF 2016 dan lagi-lagi saya mengurusi program-program yang ia bawakan—termasuk launching buku O.

2016-11-02-21-57-49-1

Saat membaca kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet saya merasa cerpen-cerpen yang ditulis Eka sangat dekat dengan kita. Apa yang ditulis adalah gambaran apa yang pernah terjadi di negeri ini (dalam Peter Pan dan Rayuan Cinta Marietje, misalnya), apa yang terjadi pada masyarakat kita (dalam Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, atau Kandang Babi, misalnya). Pembaca akan jarang menemukan cerita yang berakhir bahagia, justru kisah-kisah yang dipaparkan terasa sangat nyata, penuh kritikan dan sindiran terhadap satu periode, dan satire.

Karya-karya Eka Kurniawan nyatanya tak pernah mengecewakan. Saya menemukan diri saya memaki saat mendapati ending Teman Kencan yang kampret. Atau meringis saat membaca Hikayat Si Orang Gila dan Siapa Kirimi Aku Bunga?.

Meski ada beberapa kesalahan pengetikan dalam buku ini—setidaknya saya menemukan dua kata salah ketik—tetap tak mengurangi kenikmatan membaca bukunya. Eka Kurniawan, melalui karya-karyanya mencoba meramu hal-hal sederhana dan menjadikannya bacaan yang layak untuk dinikmati.

*

1478099320790

Sebagai catatan tambahan, saya kali pertama membaca kumcer Corat-Coret di Toilet saat MIWF 2014. Saya akhirnya membaca ulang buku bagus ini dalam rangka #ReadingChallenge yang diadakan Gramedia dan Perpustakaan Digital i-Jakarta tentunya melalui aplikasi i-Jak. Kumcer ini adalah buku kedelapan yang saya baca via i-Jak selama bulan Oktober—dari 13 total buku yang saya baca. Belakangan saya sedang menikmati membaca buku digital dikarenakan beberapa alasan—salah satunya agar tak sering-sering membuka tab chat di beberapa aplikasi obrolan. I-Jak juga menjadi solusi untuk saya jika ingin membaca buku yang belum ada di rak buku tetapi sangat ingin saya baca. Tinggal melihat persediaan di i-Jak, meminjam, dan tadaaaa! Buku tersebut sudah mejeng dalam rak buku virtual di ponsel!

img_20161021_1614411

*

Judul buku : CORAT-CORET DI TOILET │ Penulis : Eka Kurniawan │ Desain sampul : Eka Kurniawan │ Penerbit : Gramedia Pustaka Utama │ Tahun terbit : 2014 │ Jumlah halaman: 125 halaman │ ISBN : 978-602-03-0386-4

sign

Advertisements

2 thoughts on “[Resensi Buku] Corat-Coret di Toilet : Cerita dari Balik Dinding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s