[Resensi Buku] Menagih Nyawa : Eksperimen yang Berhasil

Sebuah kisah yang apik, bukan hanya muncul dari bakat semata. Tapi juga dari latihan yang keras kepala, dan keberanian melakukan eksperimen baik dari sisi bahasa maupun konten. Kumpulan cerita ini menunjukkan bagaimana penulis berani membuat ragam eksperimen. Memang tidak semua berhasil. Tapi tanpa eksperimen, laku menulis cerita telah kehilangan seni dan provokasinya. Tertinggal hanya semata himpunan teknis belaka. Keberanian macam ini jika diteruskan, tentu dengan disiplin tinggi, akan menuju ke kematangan bercerita.” (Puthut EA)
picsart_11-16-03-12-161
Saya tidak meragukan dua nama yang tertera dalam blurb di belakang buku ini. Tak main-main, ada nama Puthut EA dan Gunawan Tri Atmodjo. Berarti, setidaknya, kumpulan tulisan ini sudah pasti recommen-death.

Kesan pertama yang saya utarakan di atas untungnya tidak meleset. Buku setebal 200 halaman ini memuat 20 tulisan yang ditulis Septian Hung dalam kurun Januari – Februari 2016.

Saya tak akan membahas semua tulisan yang ada dalam buku ini. Lebih baik dan lebih seru kalau kalian baca sendiri. Kisah pertama–yang juga dipakai sebagai judul buku ini–berjudul Menagih Nyawa. Iya, judulnya seram. Jujur, saya sendiri takut membawa buku ini ke mana-mana. Entah mengapa. Ini kisah Indra, seorang anak seorang polisi yang tak sengaja membunuh seorang banci di toilet stasiun. Ceritanya lumayan panjang, mengambil porsi 31 halaman, tapi tidak membosankan. Bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama dengan dua pencerita serta sudut pandang orang ketiga. Pembaca bisa merasakan langsung ketakutan-ketakutan tokoh Indra, kecemasan, serta penyesalan-penyesalan yang dirasakan lelaki itu. Ending yang cukup sedih dan ‘pesan’ membuat cerita ini menarik.

Cerita kedua berjudul Lelaki yang Membenci dan Mencintai Benci, sedikit lucu sih. Bukan karena ceritanya, tetapi karena nama kedua tokohnya mirip dengan nama dua orang kenalan: Eko dan Kirana. Kisah Eko sendiri sedikit berhubungan dengan judul buku ini. Saya suka penggambaran toko buku merangkap perpustakaan dan kafe kecil dalam cerita ini.

Selain itu ada beberapa puisi juga yang ditulis. Tentang Mama, tentang cinta, tentang perasaan, tentang karma ….

Ini adalah karya pertama Septian Hung yang saya baca. Cara berceritanya menarik. Ending yang tidak diduga-duga sepertinya sengaja disajikan penulis. Meski tak semua berhasil, saya akui saya cukup terkesan dengan beberapa ending cerita yang tak diduga.

Penulis, seperti kata Puthut EA, sepertinya memang bereksperimen dengan bahasa dan konten. Banyak kosakata yang membuat catatan saya penuh dan ingin segera mengecek makna kata tersebut dalam kamus. Misalnya, Sang Baskara (matahari), Sang Bayu (angin), tergemap (tercengang), padmasana (singgasana), dan masih banyak lagi.

Selain bahasa, konten pun menjadi catatan utama saya. Dengan membaca beberapa cerita, saya bisa menebak bahwa penulis ingin mengangkat isu LGBT dalam tulisan-tulisannya. Dalam beberapa cerita, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sendiri, kadang-kadang mengutarakan sudut pandang melalui orang ketiga sebagai narator.

Tak melulu membahas tentang cinta, karma, atau hubungan ‘tabu’ lainnya, penulis juga mengkritik kehidupan masyarakat pada umumnya. Misalnya, kebiasaan antre dalam tulisan berjudul ‘Kawanan Semut dan Lautan Manusia‘ atau kebiasaan merokok dan bekerja tanpa henti dalam tulisan berjudul ‘Pulang‘.

Ada beberapa hal yang saya garis bawahi terkait kekurangan dalam buku ini. Pertama, dalam beberapa tulisan tak jarang penulis menyisipkan amanat dan itu disampaikan secara gamblang. Misalnya dalam cerpen ‘Menagih Nyawa’ dan ‘Pulang’. Memang itu menjadi pilihan penulis. Tapi, buat saya itu sangat disayangkan. Buat saya, biarkan pembaca sendiri yang menemukan ‘amanat’ atau apa yang ingin disampaikan oleh penulis itu sendiri tanpa harus diberitahu.

Kedua, beberapa kesalahan pengetikan. Tidak terlalu mengganggu tentunya, hanya saja saya merasa perlu memberitahu. Misalnya, pada kata memekau yang seharusnya memukau (dari kata pukau) atau kata frustasi yang seharusnya frustrasi.

Ketiga. Jujur, saya sedikit terganggu dengan satu kata yang sering sekali dipakai oleh penulis. Menyamperi. Meskipun kata tersebut baku dan sah-sah saja digunakan, tapi menurut saya penempatan katanya kurang pas dan itu sering saya temui di beberapa cerita. Mungkin bisa diganti dengan kata ‘mendatangi’ saja.

Terlepas dari tiga hal di atas, saya merasa kedua puluh tulisan dalam buku ini cukup dapat dinikmati. Banyak sudut pandang baru. Banyak kisah baru, meski ide dasarnya selalu kita temukan dalam cerita manapun–bahkan terjadi dalam kehidupan nyata. Septian Hung, melalui ‘eksperimen’nya telah menghasilkan karya yang tak hanya saling berhubungan satu sama lain, tetapi memberikan kita peringatan: nyawa bisa saja mengancam pada waktu dan kondisi apa pun.

Melalui buku ini, penulis ingin memberitahukan pada pembacanya bahwa cinta, bagaimana pun rupanya, adalah milik semua orang. Tak peduli ke arah mana kecenderungan seksualnya.

PS: buku ini mengandung konten dewasa. Anak tujuh tahun, tunggu sepuluh tahun lagi baru bacanya, ya, Dek.

**
Judul: Menagih Nyawa | Penulis: Septian Hung| Tata Letak: Maria Puspitasari | Penyelaras Akhir: Syafawi Ahmad Qadzafi | Penerbit: Indie Book Corner | Tahun terbit: 2016 | Jumlah halaman: 198 halaman | ISBN: 978-602-3091-82-9

 

sign
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s