[Resensi Buku] The Girl on The Train : Kisah Muram Tiga Perempuan

Dua kali sehari aku disodori tawaran untuk melihat kehidupan orang lain, walau sekejap saja. Ada sesuatu yang melegakan ketika melihat orang-orang asing berada di rumah dengan aman.” (Halaman 2)

index

Gambar : Google

Buku yang terbit tahun 2015 ini menggunakan sudut pandang orang pertama dengan tiga pencerita: Rachel, seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, ditinggalkan oleh suami yang selingkuh, tidak stabil, dan seringkali mengalami memory blackout saat sedang mabuk. Megan, seorang istri dari lelaki yang posesif, mempunyai kecemasan yang tinggi dan susah tidur, serta memiliki rahasia masa lalu yang kelam. Anna, selingkuhan Tom—mantan suami Rachel—dan akhirnya menikah dengan Tom, memiliki seorang anak bernama Evie, merasa kehidupan keluarganya baik-baik saja jika saja mantan istri suaminya tidak pernah mengganggu mereka. Ketiga perempuan ini terhubung oleh satu peristiwa mengerikan.

Rachel merahasiakan tentang pekerjaannya kepada Cathy, teman yang bersedia ‘menampungnya’ di rumahnya. Maka dari itu, setiap hari ia harus ‘berpura-pura bekerja’, menaiki kereta komuter dari Ashbury menuju London dan sebaliknya agar Cathy tak curiga. Di komuter itulah ia sering memikirkan dan membayangkan banyak hal. Ia ‘memberikan cerita’ pada apa pun yang ia lihat. Gaun dan pita di sudut rel, rumah-rumah yang ia lihat, dan memberikan nama pada orang-orang. Di komuter itu pula Rachel memberi nama Jess dan Jason pada sepasang suami istri yang terlihat bahagia yang tinggal di pinggir perlintasan rel kereta. Pasangan suami istri yang tinggal di rumah nomor 15, hanya berjarak beberapa rumah dengan rumah nomor 23—rumah yang dulu ia tinggali bersama suaminya. Sebelum perempuan itu merusak segalanya.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan, yang lebih merusak, daripada kecurigaan.” (Halaman 351)

Keterlibatan ketiga perempuan tersebut dimulai saat berita hilangnya Megan Hipwell diumumkan. Rachel yang merasa sehari sebelum menghilangnya istri dari Scott Hipwell itu melihat sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya Megan kemudian melaporkan hal tersebut kepada polisi, berharap ‘kesaksiannya’ bisa membantu. Sayangnya, alih-alih dianggap membantu, Rachel dianggap mengacaukan penyelidikan. Kebiasaannya minum alkohol ditambah ia sering mengalami memory blackout saat mabuk membuat polisi menganggap ia kacau dan tidak stabil.

Akhirnya dengan berbagai cara ia membuat dirinya terlibat, termasuk dengan berbohong. Belum lagi tuduhan dari Anna yang mengatakan bahwa Rachel terlibat dalam hilangnya Megan Hipwell karena pada malam hilangnya Megan, Anna melihat Rachel berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka. Tentu saja Rachel tidak mengingat itu semua, sebab ia sedang dalam keadaan mabuk—ya, dia hampir tiap hari mabuk, sih.

Misteri hilangnya Megan Hipwell membuka rahasia-rahasia kelam yang disembunyikan beberapa tokoh dalam buku ini. Akankah Rachel berhasil ‘menemukan’ ingatan-ingatannya yang hilang saat Megan menghilang—juga ingatan lainnya di masa lalu? Rahasia apakah yang disembunyikan Megan? Ikuti kisah tiga perempuan yang terikat pada satu benang merah di buku ini.

*

 “Satu berarti peneritaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. Tiga berarti bocah perempuan. Aku tertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah. Tiga berarti bocah perempuan. Aku bisa mendengar burung-burung magpie itu, mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar. Kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari. Bukan burung-burung itu, tapi sesuatu yang lain. Seseorang datang. Seseorang bicara kepadaku. Kini lihatlah. Lihatlah apa yang terpaksa kulakukan karenamu.

picsart_01-06-05-23-101

Baca via I-Jak ^^

Sebenarnya buku ini sudah lama berada dalam daftar wishlist buku yang harus dibaca. Sayangnya belum ada kesempatan untuk mengadopsi dari toko buku. Buku ini sempat ramai dibahas di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia dan dijadikan bahasan bulanan di salah satu regional. Terima kasih untuk I-Jakarta yang sudah menyediakan versi digitalnya, jadi saya bisa lebih cepat membacanya. Haha. Hanya butuh dua hari untuk menyelesaikan kisah perempuan dalam kereta ini. Untuk yang ingin membaca versi digitalnya bisa ke sini. Jangan lupa juga untuk membeli versi cetaknya, ya. Wangi kertas buku itu enak lho, Readers!

Membaca karya Paula Hawkins betul-betul menguras emosi saya. Tidak ada rasa senang. Tidak ada tokoh yang lovable. Justru perasaan tertekan, depresi, kelam, suram, dan penasaran yang menemani saya saat membaca buku bergenre thriller psikologi ini. Membayangkan Rachel yang tidak bisa hidup tanpa alkohol, memiliki imajinasi yang tinggi, paranoid, dan masih belum bisa move on dengan mantan suaminya. Kemudian Anna yang  merasa hidupnya sering dibayang-bayangi oleh Rachel. Lalu ada Megan, yang sebenarnya memiliki suami penyayang, tapi justru itu membuatnya tertekan. Perhatian yang berlebihan dari mantan suami, kecurigaan, serta rahasia yang memuatnya susah menjadi bahagia.

Paula Hawkins benar-benar mempermainkan emosi pembacanya. Melalui diksi yang apik dan deskripsi cerita yang benar-benar membawa pembaca masuk dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Di sini kepiawaian Paula sebagai jurnalis selama belasan tahun dibuktikan. Meski alurnya terkesan lambat dan bagi sebagian orang justru membosankan, menurut saya justru di situlah kekuatan detil yang digunakan. Paula berhasil mengacak-acak pikiran pembacanya, menuntun pada satu kesimpulan kemudian mengaburkannya dengan memberikan petunjuk lainnya. Pada akhirnya, meski ‘dalang’ dari peristiwa dapat ditebak di setengah bagian pertama, toh sampai akhir Paula tetap memberikan kejutan-kejutan untuk pembacanya.

Novel yang menggunakan alur maju-mundur—ditandai dengan tanggal di setiap pergantian narasi—ini mengangkat cerita tentang perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, serta akibat dari kecanduan alkohol. Pada seratus halaman pertama mungkin pembaca merasa bosan. Apalagi dengan kehidupan Rachel yang menjemukan dan menjengkelkan. Tetapi, nyatanya, pembaca tidak bisa berhenti. Ada misteri yang harus dipecahkan. Pembaca sama saja seperti Rachel, yang punya rasa ingin tahu yang tinggi dan merasa perlu terlibat. Haha.

Sepanjang cerita, tokoh Rachel ini yang nasibnya paling menyedihkan sih. Dianggap tidak stabil, disebut perempuan gila, bahkan tidak dipercayai. Bayangkan bagaimana rasanya jadi dia. Saya pikir Paula sangat cerdas membentuk karakter Rachel ini. Jadi korban perselingkuhan saat dia merasa kehidupan rumah tangganya baik-baik saja, siapa yang tidak depresi coba? Hanya saja dia memilih jalan yang salah: menenggak alkohol.

Kisah ini juga melibatkan tiga lelaki yang memiliki peranan cukup penting. Tom Watson, suami Anna sekaligus mantan suami Rachel yang karakternya complicated. Scott Hipwell, suami Megan Hipwell yang over protective, serta Kamal Abdic, seorang terapis. Ada juga karakter Pria Berambut Merah yang kemunculannya cukup misterius hingga akhir.

Saya suka sensasi saat membaca novel ini. Penasaran, menguras emosi, muram, dan berbagai sensasi yang mengharuskan saya menyelesaikan membaca hingga halaman terakhir. Sayangnya, endingnya saya rasa sedikit terburu-buru. Banyak hal yang menurut saya ‘tidak selesai’. Tapi mungkin penulisnya ingin para pembaca yang memecahkan sendiri misteri di baliknya. Hihihi. Buku ini untuk kalian penggemar kisah misteri, thriller, psikologi-thriller, atau penyuka kisah-kisah dengan detil yang mengaduk-aduk emosi. Kalian bisa saja benci sekaligus kasihan pada tokoh-tokohnya pada waktu bersamaan.

the_girl_on_the_train1

The Girl on The Train juga telah difilmkan pada 2016 lalu oleh DreamWorks Pictures dan diperankan oleh Emily Blunt, Haley Bennett, Luke Evans, dll. Novelnya sendiri terjual lebih dari 4 juta kopi di seluruh dunia. Nah, kalau sudah baca bukunya, boleh lho nonton filmnya juga.

**

Judul buku: THE GIRL ON THE TRAIN Penulis: Paula Hawkins │ Penerjemah: Inggrid NimpoenoPenyunting: Rina Wulandari Penata aksara: Axin │ Perancang sampul: Wida Sartika │ Penerbit: Noura Books │ Tahun terbit: 2015 │ Jumlah halaman: 432 halaman │ ISBN: 978-602-0989-97-6

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s