[Resensi Buku] The Old Man and The Sea : Belajar dari Santiago

picsart_01-08-06-38-391

The Old Man and The Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama delapan puluh empat hari berlayar tanpa mendapat satu ekor ikan pun sehingga ia dijuluki salao–bentuk terburuk dari keadaan sial. Si Lelaki Tua awalnya selalu ditemani Manolin, seorang bocah laki-laki yang sangat menyayangi Santiago. Sayangnya, orang tua si bocah pada empat puluh hari pertama melaut tanpa hasil tersebut menyuruh si bocah untuk pindah ke kapal lain dengan tangkapan yang besar dan banyak. Meski berat hati, si bocah tetap menuruti permintaan orang tuanya.

Kegagalan pada 84 hari berlayar tanpa hasil tersebut tak membuat Lelaki Tua menyerah. Pada hari kedelapan puluh lima ia memutuskan pergi berlayar sendiri demi menangkan seekor ikan yang besar. Bersama perahu dan layarnya, ia berangkat mengarungi laut luas demi menangkap seekor ikan yang besar.

“Setiap waktu adalah kesempatan baru dan ia tidak pernah memikirkan yang telah dikerjakannya pada masa lalu.” (Halaman 63)

Pada saat berlayar itulah ia akhirnya berhasil menangkap seekor ikan marlin yang besarnya bahkan dua kali lipat dari perahunya. Dengan usaha dan perlengkapan seadanya, ia ‘bertarung’ melawan ikan raksasa tersebut. Apa yang kemudian ia alami selanjutnya bukan hanya pertarungan melawan seekor ikan, melainkan pertarungan melawan dirinya sendiri, serta usaha untuk tetap menjaga ‘kewarasannya’.

*

The Old Man and The Sea bukan hanya cerita tentang kegagalan Santiago dalam 84 hari perlayaran tanpa ikan-nya, tetapi bagaimana dalam tiga hari pelayaran selanjutnya ia mengajarkan kepada para pembaca tentang kebijaksanaan, perjuangan, kesabaran, dan bagaimana menghadapi kegagalan pada masa lalu.

Santiago tinggal sendiri di ‘gubuk’nya. Hanya Manolin, si bocah lelaki yang setia menemani dan membantunya. Hal yang membuat saya tersentuh salah satunya saat mereka berdua melakukan percakapan imajiner tentang makanan dan baseball.

Tak ada jala tebar dan si bocah ingat mereka telah menjualnya. Namun, mereka terus melakukan fiksi ini setiap hari. Tak ada sepanci nasi jagung dan ikan, si bocah juga tahu ini.

Pada hari kedelapan puluh lima–karena 85 adalah angka keberuntungan Lelaki Tua–ia pergi berlayar, tanpa membawa Manolin. Berharap ia bisa menangkap dan membawa pulang ikan dengan berat seribu pound lebih. Kenyataannya, ia memang berhasil menangkap ikan yang sangat besar.

Tapi, apakah ia berhasil membawa pulang ikan yang besarnya dua kali lipat dari kapal yang ia gunakan?

Selama tiga hari terombang-ambing di tengah lautan, Santiago lebih sering berbicara dengan laut, ikan-ikan, burung-burung, dan dengan dirinya sendiri. Ia adalah lelaki dengan keinginan yang kuat, berpikiran positif, serta bijaksana. Bahkan di tengah kesusahannya melawan ikan marlin raksasa tersebut, dengan kondisi tangan kram dan punggung kebas, ia masih memikirkan kondisi ikan raksasa yang segera akan ia bunuh.

“Ikan, aku sangat mencintai dan menghormatimu. Tatapi aku akan membunuhmu sampai mampus sebelum hari ini berakhir.” (Halaman 50)

Ernest Hemingway lebih banyak menggunakan narasi-deskripsi. Sangat sedikit dialog yang digunakan. Jika pun ada, hanya dialog Santiago dan Manolin–di awal dan akhir cerita saja, dan dialog Santiago dengan dirinya sendiri saat terjebak di tengah lautan. Tokoh Santiago digambarkan Hemingway dengan sangat sederhana. Seorang lelaki tua yang bersahaja, semangat, optimis, dan tak pernah menyerah.

Hal yang menakjubkan lainnya dari Lelaki Tua kita ini adalah dalam keadaan paling menyedihkan pun ia masih sempat memberi kekuatan pada dirinya untuk tidak menyerah. Bagaimana di tengah laut yang luas, sendirian, Lelaki Tua–meski ia selalu berpikir bahwa laut, ikan, burung, bintang selalu menemaninya–harus berusaha menjaga pikirannya agar tetap jernih.

“Tarik, tangan. Berdirilah, kaki. Bertahanlah untukku, kepala. Bertahanlah kalian semua untukku.” (Halaman 90)

Meski di tengah laut si Lelaki Tua kadang berharap seandainya si bocah ada bersamanya, yang tentu akan sangat membantunya menaklukkan ikan raksasa tersebut, toh pada akhirnya ia sadar bahwa ia harus berusaha sendirian.

*

The Old Man and The Sea (dalam bahasa Indonesia diterbitkan juga dengan judul Lelaki Tua dan Laut) ditulis oleh Papa Ernest Hemingway sekitar tahun 1951 di Kuba dan diterbitkan setahun kemudian. Novella ini sendiri telah memenangkan beberapa penghargaan, di antaranya Penghargan Pulitzer tahun 1953, Award of Merit Medal tahun 1953, dan Nobel Sastra tahun 1954.

picsart_01-02-03-05-521

Masuk dalam list 1001 Books Must Read before You Die

Heroisme bagi Hemingway adalah manusia yang berhasil mengatasi penderitaan dalam kesendiriannya.

**

Judul buku: THE OLD MAN AND THE SEA (LELAKI TUA DAN LAUT) │ Penulis: Ernest Hemingway │ Penerjemah: Dian Vita Ellyati │ Editor bahasa: Bagus Manilkara │ Desain sampul: Bambang Hidayatullah │ Tata Letak: Arga Tutuka │ Penerbit: Liris │ Tahun terbit: 2013 │ Jumlah halaman: 128 halaman │ ISBN: 978-602-1526-13-2

*NB: Buku di atas adalah versi terjemahan Penerbit Liris. Saya masih mendambakan dan penasaran dengan versi terjemahan Sapardi Djoko Damono yang sekarang diterbitkn ulang dengan kover minimalis oleh Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s