[Resensi Buku] Table For Two : Kisah Petinju dan Dietisen

“Ternyata benar, kenangan tidak tersimpan dalam ingatan atau hati. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi.”

PicsArt_07-21-11.54.04

Asha, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu gizi, sekaligus pekerja paruh waktu di klinik kesehatan milik mamanya–klinik yang khusus menangani pasien yang membutuhkan pengaturan pola makanan karena berbagai alasan kesehatan. Asha nyaris menolak permintaan mamanya saat diminta menjadi pengawas diet seorang petinju muda bernama Satya Arganta Yudha atau Arga.

Asha membenci tinju setelah kejadian yang merenggut nyawa papanya. Ia juga membenci Arga, laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Kini, setelah beberapa tahun berlalu hubungan mereka tak pernah sama lagi. Ditambah, Arga tumbuh menjadi lelaki yang keras kepala dan sangat menyebalkan bagi Asha. Ia bahkan menolak rencana diet yang telah dibuat Asha dengan Kak Rama, seorang dietisen di klinik mamanya–sekaligus lelaki yang sedang dekat dengan Asha.

Saat menjadi pengawas diet untuk Arga, tanpa sadar Asha banyak kehilangan waktu bersama dengan Kak Rama, lelaki yang sangat ia kagumi. Meski sangat ingin berhenti dari pekerjaannya, Asha mencoba bertahan demi janjinya pada mama dan profesionalitas.

*

Hal paling menarik dari novel ini adalah profesi tokohnya. Seorang petinju dan dietisen. Dietisen sendiri adalah ahli gizi yang bekerja menerapkan prinsip gizi dalam pemberian makan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu, dan diet khusus, serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan. Nah, jarang ‘kan penulis Indonesia menggunakan karakter dan tema profesi seperti ini?

Makan nasi sambil minum teh bukan kombinasi yang baik. Terlebih saat menu makan siang kurang bervariasi dan tidak lengkap. Asam fitat yang terkandung dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi yang ada di dalam makanan. (Halaman 140)

Di dalam novel ini juga banyak informasi yang berhubungan profesi dietisen dan petinju. Dietisen sendiri adalah ahli gizi yang bekerja menerapkan prinsip gizi dalam pemberian makan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu dan diet khusus, serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan. Nah, mama Asha dan Rama dalam novel ini profesinya sebagai dietisen. Arga sendiri adalah petinju muda yang sedang melakukan diet ketat–yang tentunya membahayakan kesehatannya–demi masuk ke kelas Bantam (Kelas 115 Pound).

Untuk karakter sendiri, saya suka Arga–yang untuk sebagian pembaca novel ini justru karakter yang menyebalkan. Haha. Arga digambarkan sebagai sosok yang tidak banyak bicara, keras kepala, kadang kasar–yang pokoknya menyebalkan. :p Arga punya masa lalu yang kelam, yang mungkin menjadikannya tertutup dan membentengi dirinya dengan perbuatannya yang kurang menyenangkan. Dia bahkan punya sisi manja.

Sedangkan Asha adalah sosok mandiri, profesional dalam bekerja, pekerja keras, serta kadang manja. Ia sedikit trauma dengan profesi petinju. Asha dekat dengan Rama sejak lama. Pembaca juga dibuat penasaran dan menebak-nebak hubungan Asha dengan Rama. Apakah Asha nantinya akan dekat kembali dengan Arga, atau bagaimana hubungannya dengan Rama setelah Asha menjadi pengawas diet Arga. Nah, silakan dibaca bukunya! ^^

**

Judul buku: TABLE FOR TWO | Penulis: Dy Lunaly| Editor: Pratiwi Utami | Perancang Sampul: Musthofa Nur Wardoyo | Ilustrasi Sampul: Boby Erianto | Pemeriksa Aksara: Fitriana STP & Septi Ws | Penata Aksara: Martin Buczer & Rio | Penerbit: Bentang Belia | Tahun terbit: 2016 | Jumlah halaman: 260 halaman | ISBN: 978-602-1383-63-6

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s