[Resensi Buku] KAPPA : Buku Tipis yang Penuh

“Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri.” 

IMG_20170724_215745_852

Mari mendengar kisah pasien no. 23 dari sebuah rumah sakit jiwa sebuah desa di luar kota Tokyo yang menderita dementia praecox. Suatu hari ia terdampar di dunia Kappa. Dunia yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Dunia yang menurutnya berbeda–sangat berkebalikan–dengan dunia manusia yang sehari-hari ia tinggali.

Di dunia Kappa, jika ada bayi Kappa yang akan lahir, sebelum lahir bayi Kappa akan ditanyai terlebih dahulu apakah ia ingin dilahirkan atau tidak. Jika ia menolak, maka bayi Kappa tersebut akan langsung lenyap.

“Aku tidak ingin dilahirkan. Pertama, karena aku tidak ingin mewarisi darahmu. Kegilaanmu sudah cukup mengerikan untuk dipikirkan. Kedua, karena aku yakin, bahwa kehidupan Kappa terlalu mengerikan.”

Jika di dunia manusia, kebanyakan pihak laki-laki yang mengejar perempuan, di dunia Kappa pihak betinalah yang mengejar jantan bagaimanapun caranya. Bahkan tak jarang Kappa Betina yang terlalu agresif membahayakan nyawa Kappa Jantan.

*

Kappa adalah makhluk mitos dari Jepang. Dijelaskan bahwa Kappa itu mirip anak manusia umur 10 tahun. Biasanya telanjang. Berdirinya tegak dan dapat berbicara dengan bahasa manusia. Kepalanya yang berambut pendek mempunyai lekukan cekung yang berisi air sedikit. Hidup di air, suka bergulat dan menantang setiap laki-laki atau perempuan yang dijumpainya untuk menguji kekuatan ….

kappa

pict from pinterest

Akutagawa menciptakan sosok Kappa mungkin sebagai bentuk satir terhadap masyarakat kita, khususnya masyarakat modern Jepang saat itu. Novel tipis ini sungguh memukau. Sangat. Apa yang disajikan Akutagawa dalam Kappa, yang kali pertama terbit tahun 1927, bahkan masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Akutagawa ‘menyentuh’ segala hal dalam aspek kehidupan. Keluarga, hubungan sosial, ekonomi, politik, bahkan agama. Buku ini tipis, tetapi berisi banyak hal. Dalam dunia Kappa, sebuah perkataan pun bisa membuat Kappa meninggal. Banyak sindiran di dalamnya. Fix saya jatuh cinta dengan karya Akutagawa ini.

Sayangnya, Akutagawa meninggal dalam usia muda–35 tahun–dengan cara bunuh diri. Banyak yang beranggapan bahwa salah satu tokoh dalam novel ini, yaitu seniman yang mati dengan menembak dirinya, adalah refleksi dari Akutagawa sendiri. 😦

“Apa yang paling ingin kita banggakan ialah yang tidak ada pada kita.” (Halaman 48)

**

Judul buku: KAPPA | Penulis: Ryunosuke Akutagawa | Penerjemah: Winarta Adisubrata | Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia  | Tahun terbit: 2016 | Jumlah halaman: iv + 83 halaman | ISBN: 978-602-424-095-0

Rating:

wpid-photogrid_14393428917251.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s