[Resensi Buku] Sayap-Sayap Kecil : Lana, Buku Harian, dan Memar Di Tubuh

Manusia pada akhirnya harus menghadapi semuanya sendirian, meskipun dikelilingi banyak orang.” (Halaman 15)

sayap sayap kecil

Kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan anak-anak yang riskan mengalami kekerasan oleh orang-orang terdekat di sekelilingnya. Anak-anak tentu tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Dia berada di kekuasaan ibunya, dan tdidak mungkin melaporkan kekerasan yang dia alami. Jadi di sinilah sebetulnya butuh bantuan orang sekelilingnya.” (Retno Listyarti, Komisioner KPAI)

Coba sekali-kali mengunjungi situs www.kpai.go.id dan buka tab bank data. Atau sekadar membaca judul artikel dan berita pd halaman depan. Kalian mungkin akan tercengang melihat statistik jumlah kekerasan pada anak yg terus meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2015-2017). Miris sekaligus sedih.

Lana Wijaya menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri dalam kurun waktu lima tahun terakhir–setelah kedua orang tuanya berpisah. Ibunya sering menyiksa dan memukuli hingga sekujur tubuhnya memar-memar.

Harapan Lana sederhana: bisa lulus SMA sesegera mungkin agar bisa meninggalkan rumah.

Lana menceritakan kisahnya melalui catatan harian yang ditulisnya sepanjang buku ini. Jadi, pembaca disuguhkan cerita melalui sudut pandang Lana. Bagaimana ibunya yang suka marah, tetapi kadang menyesal dan menangis tersedu setiap habis memukulinya. Bagaimana Lana bertemu dengan tetangga barunya, seorang cowok cakep yang kelak akan mengubah takdirnya.

*

Membaca buku ini mengingatkan saya pada Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang juga mengangkat isu yang sama, yaitu kekerasan pada anak. Apa yang terjadi pada Lana, Ava, dan P sungguh menyesakkan dada saat membacanya.

Novel ini tipis, tetapi apa yang ingin disampaikan oleh penulis saya rasa sudah cukup tersampaikan. Menggunakan format buku harian dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Lana sebagai pencerita, buku ini sukses memberi gambaran bagaimana perasaan seorang anak remaja korban kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya. Jika Ava dalam ‘Di Tanah Lada’ digambarkan sebagai anak umur enam tahun, maka Lana sudah menginjak bangku SMA.

Saat perlakuan mamanya makin menjadi–seringkali menimbulkan bekas luka dan memar di sekujur tubuh, tiba-tiba hadir sosok Surya, yang kadang menjadi tempat Lana berkeluh kesah. Buat Lana, Surya selalu datang pada waktu yang tepat. Tetapi, ada rahasia besar yang tidak diketahui Lana tentang Surya. Apakah itu?

Untuk sosok Surya sendiri sebenarnya sudah bisa saya tebak, tetapi yang menjengkelkan adalah ‘profesi’ yang dijalani oleh tokoh tersebut. Buat saya, ending novel ini memang mengejutkan, tetapi lebih ke arah menjengkelkan.

Well, satu hal yang saya suka dari pesan yang ingin disampaikan penulis dalam buku ini: Jika kamu melihat kejadian seperti yang dialami oleh Lana, yaitu kekerasan dalam rumah tangga, jangan ragu-ragu untuk melaporkannya. Jangan berpikir bahwa itu bukan urusanmu dan kamu tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga orang lain. Sebab, kekerasan bukanlah urusan yang sepele. Jangan sampai kalian menyesal dengan tidak melaporkannya sejak dini.

Novel ini tipis, tetapi berhasil menyampaikan ‘makna besar di baliknya’.

**

Judul buku: SAYAP-SAYAP KECIL │ Penulis: Andry Setiawan Penerbit: Inari │ Tahun terbit: 2015 │ Jumlah halaman: 122 halaman │ ISBN: 0978602715052

 

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s