[Resensi Buku] Rainbirds: Kota Imajiner dan Misteri di Dalamnya

“Kesedihan itu sendiri tak akan menyakiti siapa pun. Hal- hal yang kaulakukan ketika sedang sedihlah yang bisa menyakitimu dan orang-orang di sekitarmu.” (Halaman 127)

2018-04-16-02-07-50-1[1]

Pada tahun 1994, di Tokyo, Ren Ishida mendapat kabar bahwa kakak perempuannya, Keiko Ishida, meninggal dunia akibat dibunuh secara sadis. Lelaki berumur 24 tahun itu lalu memutuskan untuk menuju Kota Akakawa untuk mengurus pemakaman kakaknya juga menelusuri kasus pembunuhan keji itu.

Di kota kecil bernama Akakawa itulah Ren mulai menyisir jejak-jejak kakaknya selama beberapa tahun tinggal di sana. Ia tinggal di kamar sewa Keiko, bekerja di bimbingan belajar yang sebelumnya menjadi tempat kerja kakaknya, juga bertemu dengan orang-orang yang mengenal Keiko. Bagi Ren, terlalu banyak misteri yang meliputi kematian juga kehidupan kakaknya di Akakawa. Ia tinggal di kamar kakaknya, di rumah seorang politikus yang sangat pendiam, bertemu seorang siswa bimbingan belajar di tempat kakaknya yang senang mengutil, bertemu rekan kerja kakaknya yang sangat perhatian padanya, bertemu seorang pemilik hotel yang punya kisah hidup pilu, dan ia sering bermimpi didatangi seorang anak-anak berkuncir dua.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Keiko dan orang-orang di Akakawa? Hidup seperti apa yang telah dijalani kakaknya setelah meninggalkan rumah dan pindah ke kota kecil yang penuh misteri tersebut?

*

Masalahnya, luka emosional itu tidak terlihat. Tetapi selalu ada. Lukanya nyata.” (Halaman 133)

Rainbirds menjadi novel pembuka bulan April saya. Sudah sejak lama saya penasaran dengan novel debut Clarissa Goenawan ini—yang memenangkan The Bath Novel Award 2015 ini. Latar belakang Clarissa yang lahir di Indonesia menambah rasa penasaran saya. Beruntung, sebelum punya versi cetaknya, saya bisa membaca buku ini melalui aplikasi Gramedia Digital.

Novel ini mengambil latar Jepang, di sebuah kota imajiner bernama Akakawa. Jika saya tidak mencari di kotak pencarian tentang Kota Akakawa mungkin sampai sekarang saya akan percaya bahwa kota itu benar-benar ada—sebagai informasi, di Jepang hanya ada kota bernama Arakawa. Clarissa menggambarkan Akakawa benar-benar nyata, mulai dari suasana, kebiasaan, serta lekuk-lekuk kota.

Banyak misteri dalam novel ini. Kematian Keiko membawa Ren menyusuri kembali masa lalu mereka di Tokyo. Bagi Ren, Keiko adalah satu-satu orang dekat yang ia miliki—di tengah masalah keluarga yang mereka alami. Namun, suatu hari Keiko memutuskan untuk meninggalkan Tokyo menuju sebuah kota kecil yang sayangnya, sampai Keiko meninggal, belum sempat dikunjungi Ren.

Sejak kepergiannya dari Tokyo, aku selalu berharap dia akan pulang, tetapi aku tak pernah memberitahunya. Apakah aku terlalu angkuh, atau masa bodoh? Kalau saja aku memintanya pulang, mungkinkah dia masih hidup? (Halaman 119)

Bagi saya, Rainbirds mengungkap banyak rahasia. Membacanya membuat saya terperangkap dalam perasaan yang aneh, absurd, dan misterius—dan di situlah letak menariknya buku ini. Hampir semua karakter dalam buku ini penuh teka-teki. Mulai dari hubungan kakak-beradik—nyaris ketergantungan—antara Keiko dan Ren, hubungan politikus dengan istrinya, hubungan Ren dengan siswi yang ia juluki Seven Stars, hubungan kakaknya dengan beberapa orang yang ditelusuri Ren, kisah pemilik hotel, Honda, seorang suami yang mimiliki istri seorang model tangan … juga kisah cinta yang rumit.

Clarissa membangun kisah-kisah tersebut dengan sangat apik. Pada akhirnya, saya sebagai pembaca sangat menikmati novel ini, betapa pun absurd dan suramnya cerita ini. Rainbirds disebut-sebut sedikit bernuansa sama dengan karya-karya Murakami yang kelam dan imajinatif. Bagaimanapun, sebagai penulis kelahiran Indonesia yang tinggal di Singapura, dan sedikit banyak pernah bersentuhan dengan kebudayaan Jepang, Clarissa berhasil menggambarkan latar yang tidak hanya bertindak sebagai tempelan agar terlihat keren, tetapi menghadirkan sebuah setting tempat yang benar-benar bercerita—magis.

Bagaimana rasanya menjadi bagian dari keluarga sempurna? Jika kakakku terlahir dalam keluarga semacam itu, mungkinkah dia masih hidup?” (Halaman 47)

Seperti kematian Keiko yang selalu berhasil membuat Ren berandai-andai ini itu, Clarissa mungkin ingin memberitahu pembaca bahwa kesedihan, kekecewaan, dan luka itu hadir karena diri kita sendiri yang ingin menghadirkannya. Bagaimana bagi seorang Ren, kakaknya adalah seorang yang selalu peduli pada orang lain dan sangat disukai. Masalahnya, kau tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang ‘kan?

“… sejenis burung kukuk. Di Australia disebut rainbird—burung hujan. Mereka kerap berkicau sebelum hujan badai—ada hubungannya dengan pola migrasi mereka.” (Halaman 389)

**

Judul buku: RAINBIRDS | Penulis: Clarissa Goenawan | Alih bahasa: Lulu Fitri Rahman | Editor: Barokah Ruziati | Penyelaras Aksara: Nadira Yasmine | Perancang Sampul: Staven Andersen | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2018 | Jumlah halaman: 400 halaman | ISBN: 978-602-03-7919-7

sign

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s