[Resensi Buku] EGOSENTRIS : Tentang Rahasia yang Tersembunyi di Tempat Paling Dalam

Seringkali kita berusaha ingin terlihat baik, tetapi lupa untuk menjadi benar-benar baik.”

IMG_20180523_232701_193[1]

egosentris/ego·sen·tris/ /égoséntris/ a menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri). -KBBI V-

Pernahkah kalian merasa bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, senang mengomentari secara negatif apa yang dilakukan orang lain, orang-orang yang hobi merisak, serta orang-orang yang selalu mencampuri hidup orang lain? Maka, kamu mungkin seperti Fatih, yang terlalu peduli dan kritis terhadap hal-hal di sekelilingnya.

Mungkin juga kamu seperti Saka, yang selalu bersikap baik pada semua orang hingga kebaikannya sering disalahartikan—terlebih oleh perempuan-perempuan. Saka yang baik pada semua orang, tetapi kali waktu ia bisa menunjukkan sisi lainnya kepada Sinar, adiknya.

Atau kamu pernah merasa hidupmu sangat teratur? Sejak lahir hingga kau merasa cukup umur untuk mengambil keputusan sendiri, hidup mandiri dan bebas, hidupmu masih saja di bawah kontrol orang tua. Kamu tak boleh memilih jurusan kuliahmu sendiri. Kamu bahkan tidak boleh menentukan baju yang mana yang akan kau kenakan saat liburan bersama sahabat-sahabatmu. Jika iya, maka kamu bisa saja adalah Fana, yang kadang punya kepekaan lebih besar dari yang dimiliki orang lain.

….Masing-masing rohnya menyetujui bahwa kehilangan paling menyakitkan adalah kehilangan dirinya sendiri…. (Prolog, halaman 7)

*

Buku ini sudah tampak kelam dengan sampul hitam bergambar ‘pusat semesta’-nya, bahkan sebelum bertemu prolog. Berkisah tentang tiga orang sahabat yang memiliki hubungan aneh—setidaknya buat saya. Semacam love-hate relationship, mungkin. Haha. Fatih, Saka, dan Fana masing-masing menyimpan rahasia di dalam dada mereka. Ketiganya berbeda dalam berpikir, Saka dan Fatih yang hobi berdebat satu sama lain, atau Fatih dan Fana yang kadang saling mengerti satu sama lain. Mereka, mahasiswa psikologi setengah matang yang sedang mencari jati diri.

Lalu, apa yang ingin disampaikan penulisnya, Syahid Muhammad, melalui Egosentris? Buat saya, membaca buku sedikit menguras emosi. Isu mental illness, karakter yang ‘gelap’, alur yang tidak mudah ditebak, rahasia dan misteri di sepanjang cerita, cukup membuat tertekan. Haha.

Melalui tokoh Fatih, saya sesekali merasa ‘ditampar’. Fatih mengkritisi beberapa hal yang kita, sadar pun tak sadar, sering lakukan pada kehidupan sehari-hari. Tentang orang-orang yang tidak bisa lepas dari gawai, tentang orang-orang yang lebih mementingkan tanda hati atau tanda jempol  di media sosial, orang-orang yang mementingkan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka. Orang-orang yang lupa memberi makan jiwa-jiwa baik dalam dirinya sampai jiwa tersebut terkuras oleh pikiran-pikiran negatif dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak akan pernah terjadi….

Orang-orang seperti Fatih, Saka, dan Fana adalah orang-orang yang akan selalu kita temui di sekitar kita—atau mungkin kita adalah salah satu atau gabungan dari mereka. Iid menyentil kita melalui novel dengan makna di setiap lembarannya ini. Buat saya, pilihan penulis mengangkat tema yang tidak jauh dari apa yang sedang terjadi di sekitar kita sekarang, sangat tepat. Buku setebal 372 halaman ini berkisah banyak. Ada rahasia-rahasia, ada kesedihan yang akan membuatmu patah sepatah-patahnya, ada pesan yang mungkin terlambat tiba, dan ada yang meminta diselamatkan.

Setiap bab dalam #Egosentris akan dibuka dan ditutup dengan prosa lirik. Buat yang sudah baca dan merasa penulisnya sangat ganteng gaya penulisan Iid seperti membaca prosa panjang berima, saya juga merasa seperti itu. Ehehe. Saya pernah secara iseng bertanya tentang penyair favoritnya dan dijawab tidak ada yang spesifik. Namun, ia jatuh cinta pada Laskar Pelangi yang poetic, mesra, dan membumi. Nah! *nah apa coba, Dhil? -__-

Hanya saja, sepanjang membaca Egosentris saya selalu merasa ada yang mengganjal. Saya merasa kadang-kadang tone ketiga tokoh sulit dibedakan. Pemikiran Fatih kadang saya temukan pada diri Saka, karakter Saka kadang muncul dalam dialog Fatih, pun Fana yang kadang-kadang menjadi seperti Fatih. Oh, apa yang terjadi, mungkinkah aku sedang disorientasi tokoh? Ya, salah satu kesulitan membuat cerita dengan lebih dari satu tokoh sentral mungkin adalah membedakan ‘suara’ tokoh yang satu dengan lainnya.

Secara keseluruhan, novel ini akan semakin lavv jika diolah lebih matang lagi. Masih ada kesalahan terkait teknis yang saya temukan—biarlah itu menjadi urusan editornya hehehe. Tenang saja, tidak sampai mengganggu kenikmatan dan menyesakkan dada-nya membaca buku ini kok. Siapkan hati kalian untuk menerima rahasia-rahasia yang akan terungkap sepanjang membaca buku ini.

Pada akhirnya, kita kadang-kadang harus berhenti menjadikan diri kita sebagai pusat semesta. Seakan-akan yang menderita hanya kita. Seakan-akan yang peduli hanya kita. Seakan-akan yang ingin dunia lebih ramah hanya kita. Berhenti dan istirahatlah sesekali, lihatlah dunia dari sudut pandang lain.

“Konspirasi kecil termudah yang bisa dilakukan manusia adalah bersikap kritis terhadap apa yang ada di depannya, dan menuhankan asumsinya sendiri akan kebutuhan untuk dikasihani atau mencari dukungan bahwa dirinya benar. Dan, orang lain yang dia anggap menyakitinya adalah pihak yang salah.” (Halaman 68)

*

Judul buku: EGOSENTRIS | Penulis: Syahid Muhammad | Editor: Stefani Bella & fLo | Penyelaras Aksara: Tri Prasetyo | Desain Sampul dan Tata Letak: iidmhd, Techno | Penerbit: Gradien Mediatama | Tahun terbit: 2018 | Jumlah halaman: 372 halaman | ISBN: 978-602-208-165-4

**

sign

Advertisements

3 thoughts on “[Resensi Buku] EGOSENTRIS : Tentang Rahasia yang Tersembunyi di Tempat Paling Dalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s