[Resensi Buku] Magnetto : Kisah dari Balik ‘Dapur’ Magne

Magne, tetaplah menjadi baik, sekalipun seluruh dunia menyakitimu. Dan teruslah menjadi kuat, nggak peduli seberapa keras pun orang lain berusaha menghancurkanmu.” (Halaman 95)

1507383936854[1]

Magnesia Hanggara. Seorang siswa kelas 3 SMK Jurusan Tata Boga, yang keadaan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Masalah pelik di rumah ia bawa dan lampiaskan di sekolah bersama sahabat-sahabatnya; Netto, Airin, dan Gama. Kenakalan yang menurutnya menyenangkan. Setidaknya itu bisa membuatnya melupakan sejenak masalah kedua orang tuanya.

Netto Adi Putra. Sahabat sekaligus pacar Magne. Lelaki yang selalu menjadi benteng pertahanan Magne. Ia hidup bersama ibu dan adik perempuannya. Netto adalah sosok humoris, tetapi juga dewasa. Magne bahkan mungkin sudah sangat bergantung pada Netto.

Hubungan mereka selama dua tahun baik-baik saja. Meski banyak perbedaan di antara mereka, Magne merasa baik-baik saja. Meski masalah keluarganya kadang sudah terlalu berat, selama ada Netto, Magne masih bisa tersenyum.

Masalahnya adalah, akankah hubungan mereka bertahan? Saat Magne melakukan kesalahan yang membuat Netto merasa marah, akankah Netto memaafkannya? Lalu bisakah Magne menghadapi masalah dengan kedua orang tuanya sendirian? Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] To All The Boys I’ve Loved Before : Kisah Gadis Song

“Ibuku selalu bilang bahwa optimisme adalah kelebihanku. Baik Chris maupun Margot bilang bahwa sikapku itu menjengkelkan, tapi aku membalasnya dengan mengatakan bahwa melihat sisi baik dari kehidupan tidak pernah merugikan siapa pun.” (Halaman 91)

20170928_082224-01

Bagaimana perasaanmu jika surat-surat yang pernah kamu tulis—surat cinta, tepatnya—tanpa pernah berniat untuk mengirimkannya, tiba-tiba terkirim? Coba tanyakan pada Lara Jean Song Covey, seorang remaja SMA yang hobi menulis surat cinta setiap kali ada lelaki yang membuatnya tertarik, tetapi tidak pernah berniat mengirim surat-surat tersebut kepada ‘sang target’. Suatu hari, tiba- tiba saja surat-surat tersebut lenyap. Kemudian satu persatu kejutan menghampirinya.

Mulai dari Peter Kavinsky, cowok populer di sekolahnya—yang pernah ‘mencuri’ ciuman pertamanya—dating dengan surat di tangannya. Surat yang pernah ditulis Lara Jean. Lalu Josh Sanderson, tetangga sekaligus sahabatnya—dan sahabat bagi keluarganya—juga mendapat kiriman surat yang ditulis Lara Jean. Ya, Lara Jean pernah menyukai Josh. Masalahnya, Josh adalah mantan pacar Margot—kakaknya. Lalu jangan lupakan John Ambrose McClaren, Kenny dari perkemahan, dan Lucas Krapf. Ya, total suratnya ada lima. Dan Lara Jean tidak tahu siapa yang mengirim kertas-kertas itu!

Di antara kelima penerima surat tersebut, Peter K. dan Josh-lah yang paling membuat Lara Jean bingung. Continue reading

[Resensi Buku] BOY TOY : Tentang Dia yang Awalnya Tidak Kauinginkan

Aku tahu Mama pernah bilang kalau jodoh nggak akan ke mana. Masalahnya, aku nggak mau punya jodoh, Ma. Nggak lagi. Aku nggak mau merasakan jatuh cinta dan sakit hati lagi. Tapi masalahnya … aku kangen sama dia, Ma. Kangen banget.” (Halaman 195)

IMG_20170621_232747_322

Pertemuan Lea dan Taran, salah satu personel boyband yang sedang naik daun bernama Pentagon, bisa dibilang cukup memalukan. Lea sendiri tidak pernah membayangkan untuk bertemu, berbincang, apalagi sampai suka dengan pria yang lebih muda delapan tahun darinya–ditambah lagi seorang anggota boyband.

Lea, seorang dosen bergelar Ph.D berumur 30-an tahun merasakan menjadi ABG lagi ketika mulai tertarik pada Taran, seorang personel boyband yang lebih muda delapan tahun darinya.

Lea adalah tipe perempuan yang anti-brondong dan tidak tertarik dengan boyband–termasuk Pentagon, boyband yang sedang naik daun. Taran sendiri tidak bisa menghapus bayang-bayang Lea sejak pertemuan pertama mereka di Bali. Sejak itu Taran tahu dia menginginkan Lea lebih dari apa pun.

Akankah hubungan mereka berlanjut? Mampukah Lea membuka kembali hatinya yang sempat terluka dan membuatnya tidak percaya hubungan serius, apalagi dengan lelaki yang delapan tahun lebih muda darinya? Continue reading

[Resensi Buku] KAPPA : Buku Tipis yang Penuh

“Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri.” 

IMG_20170724_215745_852

Mari mendengar kisah pasien no. 23 dari sebuah rumah sakit jiwa sebuah desa di luar kota Tokyo yang menderita dementia praecox. Suatu hari ia terdampar di dunia Kappa. Dunia yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Dunia yang menurutnya berbeda–sangat berkebalikan–dengan dunia manusia yang sehari-hari ia tinggali.

Di dunia Kappa, jika ada bayi Kappa yang akan lahir, sebelum lahir bayi Kappa akan ditanyai terlebih dahulu apakah ia ingin dilahirkan atau tidak. Jika ia menolak, maka bayi Kappa tersebut akan langsung lenyap. Continue reading

[Resensi Buku] Table For Two : Kisah Petinju dan Dietisen

“Ternyata benar, kenangan tidak tersimpan dalam ingatan atau hati. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi.”

PicsArt_07-21-11.54.04

Asha, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu gizi, sekaligus pekerja paruh waktu di klinik kesehatan milik mamanya–klinik yang khusus menangani pasien yang membutuhkan pengaturan pola makanan karena berbagai alasan kesehatan. Asha nyaris menolak permintaan mamanya saat diminta menjadi pengawas diet seorang petinju muda bernama Satya Arganta Yudha atau Arga.

Asha membenci tinju setelah kejadian yang merenggut nyawa papanya. Continue reading

[Resensi Buku] Aku, Meps, dan Beps : Menjadi Keluarga Bahagia, Bukan Sempurna

Kelihatannya aku sudah ketularan penyakit Meps: pelupa. Senin yang lalu, waktu sudah sampai di depan sekolah aku baru ingat kalau lupa bawa tas.” (Halaman 80)

1489426297166

Bagaimana rasanya punya orang tua yang unik? Ibu berambut pendek dan ayah berambut panjang. Ibu yang sipit berkulit putih dan ayah hitam bermata besar. Ibu yang bekerja di kantor dan ayah yang bekerja di rumah. Atau bagaimana rasanya mempunyai piaraan ayam, nyamuk, dan semut? Mari bertanya pada Soca.

Aku panggil emakku Meps dan bapakku Beps. Kenapa? Hihihi, aku enggak tahu. Tahu-tahu aku sudah panggil mereka begitu.” (Halaman 1)

Aku, Meps, dan Beps adalah ‘buku harian’ yang ditulis Soca Sobhita dalam rentang waktu sejak masuk sekolah sampai hampir lulus Sekolah Dasar dibantu Meps-nya, Reda Gaudiamo. Catatan yang sudah sejak lama ‘ditinggalkan’ coba dihidupkan kembali oleh Reda dan Soca bertahun-tahun kemudian. Jika Na Willa semacam catatan perjalanan milik Meps–Reda Gaudiamo–saat TK, maka Aku, Meps, dan Beps adalah catatan yang ditulis oleh Soca kecil dengan gayanya yang polos, usil, dan jujur. Continue reading