[Resensi Buku] KAPPA : Buku Tipis yang Penuh

“Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri.” 

IMG_20170724_215745_852

Mari mendengar kisah pasien no. 23 dari sebuah rumah sakit jiwa sebuah desa di luar kota Tokyo yang menderita dementia praecox. Suatu hari ia terdampar di dunia Kappa. Dunia yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Dunia yang menurutnya berbeda–sangat berkebalikan–dengan dunia manusia yang sehari-hari ia tinggali.

Di dunia Kappa, jika ada bayi Kappa yang akan lahir, sebelum lahir bayi Kappa akan ditanyai terlebih dahulu apakah ia ingin dilahirkan atau tidak. Jika ia menolak, maka bayi Kappa tersebut akan langsung lenyap. Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

“Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.”

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

[Resensi Buku] The Old Man and The Sea : Belajar dari Santiago

picsart_01-08-06-38-391

The Old Man and The Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama delapan puluh empat hari berlayar tanpa mendapat satu ekor ikan pun sehingga ia dijuluki salao–bentuk terburuk dari keadaan sial. Si Lelaki Tua awalnya selalu ditemani Manolin, seorang bocah laki-laki yang sangat menyayangi Santiago. Sayangnya, orang tua si bocah pada empat puluh hari pertama melaut tanpa hasil tersebut menyuruh si bocah untuk pindah ke kapal lain dengan tangkapan yang besar dan banyak. Meski berat hati, si bocah tetap menuruti permintaan orang tuanya.

Kegagalan pada 84 hari berlayar tanpa hasil tersebut tak membuat Lelaki Tua menyerah. Pada hari kedelapan puluh lima ia memutuskan pergi berlayar sendiri demi menangkan seekor ikan yang besar. Bersama perahu dan layarnya, ia berangkat mengarungi laut luas demi menangkap seekor ikan yang besar.

“Setiap waktu adalah kesempatan baru dan ia tidak pernah memikirkan yang telah dikerjakannya pada masa lalu.” (Halaman 63)

Pada saat berlayar itulah ia akhirnya berhasil menangkap seekor ikan marlin yang besarnya bahkan dua kali lipat dari perahunya. Dengan usaha dan perlengkapan seadanya, ia ‘bertarung’ melawan ikan raksasa tersebut. Apa yang kemudian ia alami selanjutnya bukan hanya pertarungan melawan seekor ikan, melainkan pertarungan melawan dirinya sendiri, serta usaha untuk tetap menjaga ‘kewarasannya’.

*

The Old Man and The Sea bukan hanya cerita tentang kegagalan Santiago dalam 84 hari perlayaran tanpa ikan-nya, tetapi bagaimana dalam tiga hari pelayaran selanjutnya ia mengajarkan kepada para pembaca tentang kebijaksanaan, perjuangan, kesabaran, dan bagaimana menghadapi kegagalan pada masa lalu.

Continue reading

[Resensi Buku] Rumah Kertas : Takdir Buku-Buku

Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

wp-image-1112992230jpg.jpg

Bluma Lennon, seorang profesor sastra di Universitas Cambrigde, membeli satu eksemplar buku lawas ‘Poems’ karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho. Saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.

Suatu pagi, rekannya mendapati sebuah paket yang dialamatkan kepada Bluma tanpa alamat pengirim. Paket misterius dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku La línea de sombra, terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad yang pinggiran serta sampul depan-belakangnya dipenuhi dengan serpihan semen kering.

Rasa penasaran yang tinggi membawa sang rekan untuk menyelidiki–sekaligus mengembalikan buku tersebut kepada si pengirim.

*

picsart_11-10-04.57.31.jpg
Sekadar menegaskan–sekaligus mengingatkan, buku ini hanya setebal tujuh puluh enam halaman. Tapi sensasi setelah membaca buku ini sungguh jauh dari jumlah halamannya sendiri.

Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” -New York Times-

Betul.

Sejak halaman pertama, pembaca sudah akan dibawa ke dalam dunia para penulis dunia. Dibuka dengan kisah tragis Bluma yang menjadi ‘korban’ buku. Paragraf selanjutnya mulai mengajak pembaca memasuki takdir orang-orang dengan buku. Continue reading

[Resensi Buku] 10 Anak Negro: Cerita Detektif Tanpa Detektif

Sajak anak-anak:
Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

image

Foto dari Bang Muchson

Ada sepuluh orang yang diundang oleh seseorang bernama Ulick Norman Owen atau U.N. Owen ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, pulau yang sedang ramai diperbincangkan karena kemisteriusannya. Masing-masing dari mereka memiliki latar belakang yang berbeda, serta membawa rahasia masing-masing.

Misteri dimulai oleh suara dari sebuah gramophon kuno dengan terompet besar yang mengeluarkan suara yang ditujukan kepada 10 tamu yang hadir. Melalui gramophon itulah ’10 dosa anak Negro’ diungkapkan.

“Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut:

‘Edward George Armstrong menyebabkan kematian Louisa Marv Dees.’
‘Emily Caroline Brent bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor.’
‘William Henry Blore menyebabkan kematian Jows Stephen Landor.’
‘Tera Elizabeth Daythorne membunuh Cyril Ogilvie Hamilton.’
‘Philip Lombard bersalah atas kematian dua puluh satu orang suku Afrika Timur.’
‘John Gordon Macarthur dengan sengaja membunuh pacar istri Anda, Arthur Richmond.’
‘Anthony James Marston bersalah atas kematian John dan Lucy Combes.’
‘Thomas Rogers dan Ethel Rogers menyebabkan kematian Jennifer Brady.’
‘Lawrence John Wagrave bersalah atas kematian Edward Seton.’

Terdakwa, apakah Anda ingin mengajukan pembelaan?”

Kejadian mengerikan secara beruntun lalu menimpa sepuluh orang yang awalnya tidak saling kenal tersebut. Kejadian tragis yang mirip dengan kalimat dalam syair 10 Anak Negro.

Apakah motifnya dan siapakah pelaku ‘sakit jiwa’ yang telah meneror orang-orang yang terisolasi di Pulau Negro?

*

Detil dan cerita yang sangat menarik membuktikan nama besar Agatha Christie memang mumpuni dalam dunia cerita detektif. Awalnya saya tidak punya petunjuk siapa pelakunya, lalu mulai menebak-nebak dan sampai akhir dibuat terkejut dengan twist yang sama sekali di luar dugaan.

Alur cerita yang menegangkan dan susah ditebak–meskipun sejak awal sudah diberikan beberapa petunjuk–membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan kasusnya. Kisah misteri tak lengkap tanpa kejutan-kejutan sampai akhir cerita dan yang paling seru dari kisah ini tentunya saat pelaku dan cara membunuhnya ketahuan.

Hanya satu yang mengganjal buat saya, yaitu motif pelaku untuk melakukan pembunuhan dengan cara yang ‘unik’ ini kurang kuat, atau malah terkesan dipaksakan. Tetapi, secara keseluruhan saya sangat menikmati buku ini.

Bagi saya yang baru beberapa kali membaca karya Agatha Christie, 10 Anak Negro menjadi pilihan pas untuk pembaca yang menyukai kisah-kisah misteri dan ingin merasakan sensasi berbeda dengan membaca cerita detektif … tanpa detektif ini! ^^

“Baiknya suatu pulau adalah sekali engkau ke sana, engkau tak bisa ke mana-mana lagi… engkau sampai pada akhir segala-galanya….”

———————————————————————-
Judul buku: 10 Anak Negro | Penulis: Agatha Christie | Penerjemah: Mareta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 1984 (Cetakan Kedua: Juni 1994) | Jumlah halaman: 264 halaman

Rating:

image

[Resensi Buku] Prajurit Schweik : Patriotisme dari Seorang yang Dianggap Lemah Akal

Mohon melapor, Tuan, aku menderita encok. Tetapi aku bersedia berjuang sampai titik darah terakhir untuk sang Kaisar.” -Jacob Schweik-

image

Pernahkah bertemu dengan seorang yang sangat lugu, polos, dan ‘terlalu baik hati’? Jika belum, mari berkenalan dengan Jacob Schweik–atau Josef Svejk, seorang prajurit teladan dari Austria. Penampilannya sederhana, tampak eksentrik, penuh kejujuran dan ketulusan, dan lugu–jika tak mau disebut bodoh.

Schweik adalah seorang bekas tentara. Beberapa tahun yang lalu ia dikeluarkan dari dinas ketentaraan karena dewan kesehatan tentara menyatakan ia menderita lemah akal yang tak bisa disembuhkan lagi. Kini Schweik hidup dari menjual anjing. -hal. 10-

Kisah dimulai saat Schweik ditangkap oleh polisi rahasia saat sedang minum-minum di kedai minum ‘Botol’. Ia ditangkap atas berbagai macam tuduhan, di antaranya pengkhianatan terhadap negara. Padahal apa yang dibicarakan di kedai minum itu semata-mata hanya pendapatnya terhadap kasus penembakan terhadap Ferdinand si Putera Mahkota.

Dari situ, si prajurit baik hati yang tak punya latar belakang pendidikan diplomatik ini mulai terjun ke dalam perang dunia yang menjadi latar kisah ini.

Ia dibawa ke kantor polisi, ‘dipaksa’ menandatangi laporan yang sama sekali tak dilakukannya, dipindahkan ke pengadilan kriminal lalu diperiksa para pejabat kesehatan di sana. Schweik menjalani dengan santai bahkan setelah didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan.

Sepeninggalnya, ketiga ahli itu memutuskan bahwa Schweik betul-betul seorang sinting sesuai dengan hukum alamiah yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli penyakit jiwa.

Tak sampai di situ, akibat sakit encok yang tak memungkinkannya bisa berjalan dengan baik, prajurit lugu kita, tetap menguatkan dirinya untuk tetap ikut berperang.

Orang itu sambil melambai-lambaikan tongkatnya berkali-kali berseru di sepanjanh jalan kota Praha: “Ke Belgrado! Ke Belgrado!”

Namun, lagi-lagi sial bagi Schweik, ia ditangkap dan dituduh berpura-pura sakit hanya karena ingin menghindari wajib militer.

Mengalami nasib ‘sial’ dan perlakuan tidak adil tak berarti menyerah bagi prajurit yang kadang bertindak seenaknya ini. Ia menjalani apa yang memang sedang menimpanya.

All hail, a good soldier, Schweik!

*

Meski kisah ini berlatar belakang Perang Dunia I, tapi pembaca tak akan menemukan kisah ‘berdarah’ atau peperangan yang sering dibaca di buku-buku sejarah. Jaroslav Hasek dengan sukses membuat tokoh Schweik dicintai para pembaca.

Novel yang kali pertama terbit dalam bahasa Indonesia pada tahun 1978 ini sangat satir, humoritis, dan filosofis. Banyak hal yang bisa dipelajari dari prajurit yang justru dicap sinting dan lemah akal ini. Hasek berhasil membuat karya yang berkisah tentang ‘tragedi dibalut komedi’.

Selain tokoh sentral kita, ada banyak sekali tokoh pendukung dalam novel ini. Hasek jelas ‘memunculkan’ mereka bukan tanpa sebab. Tokoh-tokoh tersebut mewakili sebulah kondisi, kelompok, atau kepribadian yang nantinya membuat kita merenung sendiri bahwa di sekitar kita–bahkan setelah puluhan tahun buku ini terbit–masih banyak orang yang berperilaku seperti tokoh-tokoh tersebut.

Buku ini juga dijadikan bahan Diskusi Buku Bulan Agustus di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia dan dimoderatori oleh Eko Agustanto dan Ilham Wahyudin. Banyak hal baru yang saya ketahui mengenai buku ini. Salah satunya isu tentang ending buku ini yang tidak sempat diselesaikan lantaran Jaroslav Hasek meninggal. Entahlah, yang jelas ending buku ini juga cukup mewakili karakter Schweik.

Satu hal yang sempat jadi perhatian member yang lain juga tentang peran media saat itu yang dikorelasikan dengan peran media saat ini. Sebagian besar media dengan gampangnya membolak-balikkan fakta, menambah, mengurangi, bahkan membuat berita palsu hanya untuk menaikkan oplah penjualan. Dan dalam buku ini, Schweik sempat menjadi ‘korban media’.

Monumen Hasek dan Patung Svejk ternyata juga ada lho. Monumen dan patung dari penulis dan tokohnya ini terdapat di negara Ceko–asal Jaroslav Hasek–dan di Polandia.

image

Patung Svejk di Polandia

Nah, penasaran dengan prajurit yang dipuja karena dapat menumbuhkan semangat patriotisme bagi bangsanya ini? Tak rugi membeli dan membaca buku ini lho. ^^

*

Judul buku: Prajurit Schweik (The Good Soldier Svejk) | Penulis: Jaroslav Hasek | Penerjemah: Djokolelono | Penerbit: Pustaka Jaya | Tahun terbit: 1978 (Cetakan ketiga, 2008) | Jumlah halaman: 278 halaman | ISBN: 978-979-419-106-4

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho.^^

image

* Buku ini juga bisa kalian dapatkan di toko buku online @foboekoe dan @standbuku.

Rating:

image