[Catatan Buku] Aku dan Buku : Tentang Mimpi yang Semakin Menyala

Bahagia itu sederhana.

Berada di tengah-tengah tumpukan buku dan orang yang mencintai buku, misalnya.

PhotoGrid_1453989837694

Perkenalan saya dengan buku dimulai saat berumur kurang lebih tiga tahun. Waktu itu Ibu dan Ayah mulai mengenalkan buku-buku dongeng dan kisah nabi dan rasul untuk saya dan kakak yang umurnya terpaut satu tahun dengan saya. Karena saat itu saya belum lancar membaca, maka saya lebih suka dibacakan atau menikmati gambar-gambar dalam buku.

Salah satu buku favorit ketika saya masih kecil adalah Seri Lumba-Lumba Kecil yang terdiri dari empat buku. Gambar-gambar di dalamnya penuh warna dan menarik minat jiwa kanak-kanak saya. Buku bergambar lumba-lumba warna-warni di tiap sampulnya itulah yang begitu membekas di benak saya hingga kini. Saya mungkin lupa ekspresi saat membaca buku itu, tapi saya tidak lupa bagaimana kebahagiaan itu bertahan sampai sekarang.

Tentang Lumba-Lumba Warna-Warni dan Kebahagiaan Masa Kecil pernah saya tulis di sini.

Beranjak remaja, buku-buku yang saya baca mulai sedikit bertambah. Dari yang dulunya hanya membaca dongeng, kisah nabi dan rasul, serial detektif dan komik, saya mulai membaca buku-buku seperti Harry Potter, novel remaja berlabel ‘teenlit’, buku-buku detektif seperti Dan Brown dan Sherlock Holmes, buku-buku angkatan Balai Pustaka, buku-buku ‘dewasa’ seperti Mira W. dan Agnes Jessica, serta novel-novel pop lokal dan terjemahan. Saat itu saya sangat haus bacaan, segala koleksi buku di perpustakaan saya lahap. Apalagi dulu uang jajan saya tidak cukup untuk membeli buku—tidak sebanding dengan nafsu membaca dan waktu luang yang cukup banyak.

Memasuki bangku kuliah, nafsu membaca saya semakin meningkat. Sayangnya koleksi di perpustakaan kampus saya sangaaat kurang referensi buku fiksi. Untungnya di dekat kampus saya ada penyewaan komik dan novel. Akhirnya saya mendaftar anggota dan tiap tiga hari sekali saya ke tempat tersebut untuk mengembalikan dan meminjam buku. Alhamdulillah saat awal-awal kuliah saya sudah bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku. Continue reading

[Catatan Buku] Tentang Lelang Buku Bayar Karya dan Teman-Teman yang Baik

Groete, Vriend!

Beberapa waktu yang lalu saya sempat janji untuk posting cerita dan pengalaman saya ikut dan—Alhamdulillah—menang LBBK dan mendapatkan hadiah berupa beberapa buku. Dikarenakan sibuk menyelesaikan sesuatu yang mau tak mau harus selesai sebelum bulan delapan tahun ini, postingannya tertunda sampai hari ini. Maafkan Princess, ya!

img1458407841343

Pertama Princess mau menjelaskan tentang LBBK dulu nih. LBBK atau Lelang Buku Bayar Karya adalah salah satu program yang diadakan oleh grup What’s App Love Books a Lot Id. Pencetusnya—sekaligus sponsor pertama—adalah Mas Yayan, sosok yang tidak pelit ilmu dan juga tidak pelit dalam hal membagi buku tentunya. LBBK kali pertama di’mainkan’ di Lobaloid (singkatan Love Books a Lot Id) sekitar tiga tahun lalu.

Well, lelang ini bukan lelang biasa. Para peserta tidak membayar buku-buku yang dilelang dengan sejumlah uang, melainkan karya. Keren kan? Aturannya adalah ada satu orang atau lebih yang bertindak sebagai sponsor. Sponsor inilah yang memberikan hadiah kepada si pemenang lelang nantinya. Di awal LBBK sang sponsor menyebutkan buku apa yang akan dilelang. Seiring berjalannya waktu, yang dilelang bukan hanya dalam bentuk buku, tetapi juga pernak-pernik terkait buku seperti bookmark atau notes. Selain buku dan pernak-pernik, makin ke sini para sponsor—yang murah hati dan murah rejeki aamiiin—juga sering melelang kupon belanja buku di toko buku daring. Kebetulan di Lobaloid banyak pedagang buku. Hitung-hitung menambah rejeki untuk teman-teman yang jualan juga. ^^

Nah, setelah sudah ada sponsor. Biasanya sponsor kita ini menentukan persyaratan lelangnya. Pastinya sih terkait tulis-menulis dan membuat karya. Mulai dari cerpen, artikel, puisi, sampai model personal literature sudah pernah jadi syarat. Temanya pun macam-macam, dari tema umum sampai yang bikin peserta pusing tujuh keliling. Dari membuat cerpen dari lagu, membuat artikel dari berita, mengubah dongeng sampai membuat dongeng versi masing-masing dengan tokoh yang diambil dari karakter dan nama anggota grup Lobaloid. Syarat unik lainnya adalah jumlah karakter yang HARUS ‘pas’. Mulai dari syarat tak boleh lebih dan kurang dari 777 kata sampai minimal 1212 kata.

Setelah persyaratan dibagi ke grup, saatnya peserta yang mau ikut lelang untuk menggunakan imajinasi dan kreativitasnya untuk memukai juri. Oh, iya, pesertanya harus anggota grup WA Lobaloid lho. Juri dan penjuriannya pun macam-macam. Mulai penjurian terbuka atau voting anggota grup, juri dari sponsor itu sendiri, sampai blind judging.

Saya sendiri Alhamdulillah beberapa kali sempat menang lelang. Yeay. Terima kasih untuk orang-orang baik hati yang sering sekali berbagi. Untuk sponsor-sponsor LBBK dari awal sampai sekarang, yang tak ragu merogoh tabungan dalam jumlah yang tak bisa disebut sedikit—mengingat ongkir pun sekarang tak ada yang murah!—demi dibagi ke grup. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan berlipat ganda. Aamiin. Semoga saya bisa mengikuti jejak kalian. *kepalkan tangan* Terima kasih juga untuk teman-teman yang pernah menjadi peserta LBBK. Secara tidak langsung kalian memotivasi saya untuk menulis dan tidak berhenti berkarya. Ehehehe.

img1458408266442

pict from favim.com

LBBK terakhir yang saya menangkan adalah LBBK dari Mas Jamal yang dimulai sejak Desember tahun 2015 lalu dan diumumkan pertengahan Januari tahun 2016 ini. Tema ini cukup unik dan sempat membuat saya ragu dan ingin menyerah untuk ikut. Tema utamanya adalah Desember. Syarat utamanya adalah membuat cerita yang terinspirasi dari lagu Desember milik band indie Efek Rumah Kaca (tonton video clip-nya di sini). Mas Jamal melelang voucher belanja buku yang cukup menggiurkan, khususnya bagi #banciGA dan #PencintaBukuGratisan pencinta buku seperti saya. Pemenang berhak memilih sendiri 12 judul buku di www.bukuindie.com yang harga tiap bukunya maksimal Rp 120.000 dan belum termasuk ongkos kirim. Yah, total hitungan kasarnya sih bisa sampai 1,5 juta, Gaes. Continue reading

[Catatan Buku] 20 Bookish Facts about Me

Buku, perpustakaan, dan toko buku adalah hal dan menyenangkan dan menenangkan. Kali ini saya mencoba mengikuti tantangan dari Kak Nia melalui akun instagram @me.reads untuk menuliskan 20 Fakta tentang Saya sebagai Pembaca dan Pencinta buku.

20 Bookish Facts about Me:

bookish fact

  1. ‘Seri Lumba-Lumba’ dan ‘Kisah Nabi dan Rasul’ adalah buku-buku yang sering dibacakan oleh kedua orang tua saat saya masih kecil.
  2. Doraemon dan Detektif Conan adalah komik-komik yang masih saya baca sampai sekarang.
  3. Sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi penulis.
  4. Saya pernah menulis novel bergenre remaja dan mencetaknya sendiri lalu membagi-bagikan kepada teman sekolah dan kuliah untuk dibaca dan dikomentari oleh mereka. Saya memiliki tokoh fiksi favorit yang saya ciptakan sendiri, yaitu sepasang anak kembar bernama Arel dan Deril.
  5. Selama tiga tahun terakhir saya menjadi volunteer dalam program Makassar International Writers Festival (MIWF).
  6. Saya bisa membaca dalam kondisi tenang maupun ramai.
  7. Saya sering diberi hadiah buku oleh teman-teman saya meskipun mereka tahu bahwa ongkos kirim ke rumah saya cukup mahal.
  8. Saya adalah pembaca poligami, membaca banyak buku dalam satu waktu.
  9. Senang menciumi bau kertas buku.
  10. Seorang penikmat puisi, tetapi tidak pandai menulis puisi.
  11. Saya memiliki blog dan instagram khusus buku di http://www.perpustakaandhila.wordpress.com dan instagram @nyctopidhila.
  12. Jatuh cinta pada novel ‘Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan.
  13. Pada tahun 2015, saya berhasil membaca 50 buku lebih dan menargetkan 66 buku untuk dibaca pada tahun 2016 ini. Sedangkan tumpukan buku saya mencapai 100 buku lebih.
  14. Memiliki misi untuk menyebarkan virus membaca.PhotoGrid_1453989837694
  15. Saya memiliki mimpi untuk membangun sebuah kafe yang juga berfungsi sebagai perpustakaan.
  16. Saya ingin menjadi editor di sebuah kantor penerbitan.
  17. Saya pernah menerbitkan beberapa kumpulan tulisan bersama teman-teman secara indie.
  18. Teman-teman saya sering memanggil dengan sebutan ‘KBBI Berjalan’ dan ‘Polisi EyD’.
  19. Saya selalu membawa buku ke manapun saya pergi, bahkan saat tidur.
  20. Saya memiliki beberapa grup yang berhubungan dengan buku dan dunia menulis, di antaranya: Rumpun Nektar, Lovebooks, Klub Buku Indonesia, Pecandu Buku, Sastra Kepo, dan Pojok Nusantara.
books-library-reading-Favim.com-3940177

pict from favim.com

Nah, itulah fakta-fakta saya sebagai pembaca buku. Tentunya masih banyak fakta-fakta seru lainnya buat saya. Bagaimana dengan kalian?

Yuk, tuliskan 20 fakta kalian sebagai pembaca buku dan ikutan challenge #20BookishFactsAboutMeGA. ^^

[Catatan Buku] Tentang Beberapa Buku yang Saya Inginkan #1

Beberapa waktu lalu, seorang saudara kembar berulang kali menanyakan daftar buku yang sedang saya ingin baca atau sedang saya cari. Itu–mungkin–dia perlukan untuk menambah daftar koleksi bukunya–yang kalau digabungkan bisa membuka toko buku sendiri.

Kalau ditanya buku apa yang ingin saya baca, saya pasti akan menjawab, “Banyak!”. Mengingat saya gampang sekali tergiur oleh buku-buku yang direview teman atau pun buku-buku-langka-nan-murah. (Iya, saya lemah terhadap buku-buku bagus dan murah. Selemah kekuatan dompet saya). *nangis di toto jongkok*

Daftar buku di bawah adalah buku-buku yang dua tahun terakhir saya inginkan, tapi belum kesampaian memilikinya karena kendala harga yang selangit–plus ongkos kirim kalau beli online–dan buku-buku yang lumayan susah dicari.

Nah, berikut daftar buku-bukunya. Semua buku yang saya sebutkan tentunya berbahasa Indonesia. (Iya, saya lemah di bahasa asing -_-“). Saya akan berterima kasih jika kalian mau mengirim salah satu dari buku tersebut ke rumah saya–yang kata sebagian orang–di pedalaman. -_____-

1. Seratus Buku Sastra yang Patut Dibaca Sebelum DikuburkanIndonesia Buku.

image

Beberapa hari lalu teman saya yang sedang kuliah di Jogja memberitahu bahwa buku dia menjual buku itu.
“Ini limited edition, Dhil,” katanya di obrolan BBM.
Oke. Saya mau buku ini. Tebalnya 1000-an halaman. Salah satu penyusunnya Gus Muh. Isinya ulasan tentang 100 buku sastra Indonesia yang pastinya bagus.
Berapa harganya?
“400 ribu saja.”
EMPAT RATUS RIBU SAJA!
Nyaris setengah juta. Seharga Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Alamak!
“Oke. Makasih infonya, nanti kalau ada uang, saya mau deh.” Saya menutup obrolan.

Besoknya, pacar teman saya itu–yang juga sahabat perempuan saya–memasang foto buku itu sebagai display picture kontak BBM-nya. Dalam statusnya ia menulis, kira-kira isinya begini: “Dibelikan buku ini oleh orang yang saya sayang. Bahagianya. Mengingat harga buku ini yang sangat mahal, dia pasti juga sayang sama saya.”

Pacar mana pacar?!

2. Keluarga Pascual Duarte – Camilo Jose Cela
Saya mencari buku ini sudah sekitar dua tahun lebih. Seorang teman di salah satu grup menulis di facebook mengenalkan saya pada buku ini. “Kamu harus cari buku ini dan baca, Dhil!” katanya waktu itu.

Saya tak tahu kenapa sampai sekarang judul dan penulis buku ini begitu melekat di kepala saya.
Buku ini sepertinya sudah sangat langka. Susah sekali menemukannya. Sekali waktu saya membaca review Sungging Raga tentang buku ini. Saya makin tertarik dan penasaran membaca buku yang ‘suram’ ini.

3. Fatelessness – Imre Kertesz
Dulu saya sering mendengar seseorang bercerita tentang bagaimana buku ini berpengaruh bagi hidupnya. Dan, dia selalu merekomendasikan buku ini untuk saya baca. Sayangnya, buku ini juga susah ditemukan. Sampai sekarang saya mau sekali membacanya, biar kelak saya bisa bercerita padanya tentang ‘pengaruh’ buku favoritnya ini.

4. Mrs. Dalloway – Virginia Woolf

5. Albert Camus – Orang Asing

6. John Steinbeck – The Grapes of Wrath (Amarah)
Saya jatuh cinta pada penulis ini setelah membaca noveletnya yang berjudul Of Mice and Men. Setelah itu, saya penasaran membaca karya-karya Steinbeck yang lain. Dari hasil kulik sana-sini, buku ini menjadi salah satu rekomendasi untuk karya-karya terbaik penulisnya.

7. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer
Selain langka, harga buku ini sungguh bersaing dengan buku di urutan pertama saya sebutkan di atas. -____-”

8. The Godfather – Mario Puzo

9. Knut Hamsun – Lapar

10. Boxset 1Q84 – Haruki Murakami
Saya belum pernah membaca karya–novel–Murakami selain cerpen-cerpennya yang beredar di beberapa situs online. Beberapa teman berkata bahwa membaca novel penulis Jepang seperti menelaah gaya hidup dan apa yang menjadi hal lumrah di sana. Hmmm.. betulkah?

11. Sastra, Perempuan, dan Seks – Katrin Bandel

12. Madilog – Tan Malaka

13. Max Havelaar – Multatuli

14. The Time Keeper – Mitch Albom
Saya sudah membaca beberapa buku Mitch Albom dan masih ingin membaca buku-buku dia yang lain. Salah satunya buku yang–mungkin–bercerita tentang time travel–atau semacamnya–ini.

15. Anna Karenina – Leo Tolstoy

16. – Gone With The Wind – Margaret Mitchell’s
Scarlet – Alexandra Ripley
Selain bisa dijadikan bantal dan harga yang lumayan menguras kantong, dua buku klasik ini memiliki hal menarik lainnya. Antara buku pertama dan lanjutannya ditulis dalam rentang waktu satu abad atau 100 tahun! Hmm.. buku yang–katanya–bersambung tapi ditulis oleh dua orang yang rengang umurnya sangat jauh berbeda. Pastinya menarik membandingkan gaya menulis ‘penulis asli’nya dengan ‘pewaris’nya. 😀

17. Negeri Senja – Seno Gumira Adjidarma

18. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken – Jostein Gaarder

19. Pohon Duka Tumbuh Di Matamu – Khrisna Pabichara

20. Buku Cerita Bergambar: Seri Lumba-Lumba Kecil.
Tentang buku ini, pernah saya tulis sebelumnya di sini. Susah sekali menemukan buku masa kecil saya ini. Sekali waktu menemukan toko buku bekas online yang menjualnya, harganya lumayan nganu. *nangis di pojokan*