[Resensi Buku] SAN FRANCISCO: Bunuh Diri, Musik Klasik, dan Kisah Cinta

Alasan orang bunuh diri berbeda-beda, tapi akarnya tetap sama: merasa kesepian. Ada anak-anak yang disiksa orang tuanya, bocah yang baru menemukan bahwa cinta pertamanya adalah bocah lain, ayah yang baru dipecat, ibu yang baru bercerai…. Untuk itulah mereka mengangkat telepon; untuk mendengarkan, dan meyakinkan kalau tidak ada yang sendirian di dunia ini.” (Halaman 21)

san francisco

Hari pertama Ansel bekerja sebagai relawan di Suicide Prevention Center San Francisco adalah menerima telepon tak terduga dari seorang gadis Indonesia bernama Rani. Lelaki bertubuh tinggi itu harus menebak musik yang disenandungkan Rani demi mencegah gadis itu lompat dari ketinggian Golden Gate Bridge. Tentu saja Ansel yang menyukai musik klasik berhasil menebak dan untuk sementara bisa mencegah Rani untuk bunuh diri, meskipun dengan karakter Ansel yang cukup menyebalkan bagi sebagian orang bisa memicu bunuh diri massal. Ha-ha.

Sebagai relawan penerima telepon di Suicide Prevention Center Ansel tak hanya menerima telepon dari orang-orang yang ingin bunuh diri saja.  Kadang mereka—para relawan—menerima telepon dari orang-orang yang baru kehilangan teman atau kerabat yang baru saja bunuh diri, orang-orang depresi atau kesepian dan butuh teman bicara, atau orang-orang sekarat—yang kadang pada saat-saat terakhir hanya ingin didengarkan dan ‘ditemani’.

Perkenalan Ansel dengan gadis bernama Rani kemudian berlanjut. Ia mendapati kenyataan bahwa Rani terlalu sering melakukan percobaan bunuh diri—sekitar 40 kali, mulai dari mengiris nadi hingga ingin melompat dari Golden Gate Bridge. Lalu muncul pertanyaan: Mengapa seorang gadis dari negara jauh itu memilih bunuh diri di San Francisco? Mengapa Golden Gate Bridge menjadi salah satu tempat yang paling sering digunakan untuk bunuh diri? Apakah warna asli jembatan itu? Merah atau jingga—yang sepertinya memicu orang untuk bunuh diri dengan hanya melihat warnanya saja…. Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] EGOSENTRIS : Tentang Rahasia yang Tersembunyi di Tempat Paling Dalam

Seringkali kita berusaha ingin terlihat baik, tetapi lupa untuk menjadi benar-benar baik.”

IMG_20180523_232701_193[1]

egosentris/ego·sen·tris/ /égoséntris/ a menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri). -KBBI V-

Pernahkah kalian merasa bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri, senang mengomentari secara negatif apa yang dilakukan orang lain, orang-orang yang hobi merisak, serta orang-orang yang selalu mencampuri hidup orang lain? Maka, kamu mungkin seperti Fatih, yang terlalu peduli dan kritis terhadap hal-hal di sekelilingnya.

Mungkin juga kamu seperti Saka, yang selalu bersikap baik pada semua orang hingga kebaikannya sering disalahartikan—terlebih oleh perempuan-perempuan. Saka yang baik pada semua orang, tetapi kali waktu ia bisa menunjukkan sisi lainnya kepada Sinar, adiknya.

Atau kamu pernah merasa hidupmu sangat teratur? Sejak lahir hingga kau merasa cukup umur untuk mengambil keputusan sendiri, hidup mandiri dan bebas, hidupmu masih saja di bawah kontrol orang tua. Kamu tak boleh memilih jurusan kuliahmu sendiri. Kamu bahkan tidak boleh menentukan baju yang mana yang akan kau kenakan saat liburan bersama sahabat-sahabatmu. Jika iya, maka kamu bisa saja adalah Fana, yang kadang punya kepekaan lebih besar dari yang dimiliki orang lain.

….Masing-masing rohnya menyetujui bahwa kehilangan paling menyakitkan adalah kehilangan dirinya sendiri…. (Prolog, halaman 7)

Continue reading

[Resensi Buku + Pengumuman Giveaway] Arteri(o): Dunia Kartanaraya, Keluarga Nayef, dan Sepasang Arterio

Menjadi Arterio adalah jurusan yang paling humanis. Aku merasakan betul-betul menjadi seorang manusia yang harus menolong sesamanya tanpa pamrih.” (Halaman 223)

Processed with VSCO with m5 preset

Tersebutlah Kartanaraya, sebuah negeri tempat semua anak-anak berusia 9 tahun harus menuju sebuah tempat bernama Akademi untuk belajar sampai mereka memperoleh pekerjaan sesuai jurusan masing-masing. Setelah melewati masa inisiasi–kira-kira saat berumur 18 tahun, murid-murid di Akademi akan memulai masa penjurusan itu. Ada lima jurusan di Akademi, yaitu Lazuar, Vitaera, Pragma, Arterio, dan Zewira.

Yap, dari judul buku ini mungkin sudah bisa ditebak nama jurusan yang akan sering muncul sepanjang novel setebal 412 halaman ini. Arterio. Jurusan ini diperuntukkan kepada mereka yang menggandrungi ilmu tentang kesehatan dan penyembuhan. Mereka mempelajarinya dalam rangka mengatasi masalah kerentanan manusia terhadap rival bernama penyakit. Mengeluhlah tentang rasa sakit, maka para Arterio dengan penuh perhatian akan merawatmu.

Lalu ada Zag Waringga dan Nawacita Lummie, dua siswa Arterio dengan ketertarikan berbeda. Bagi Zag, masuk jurusan Arterio adalah kutukan–ia sama sekali tidak bangga berada di Arterio. Berbeda dengan Nawacita yang sangat bangga berada di Arterio. Bagi Cita, Arterio adalah tempatnya mengembangkan bakatnya, tempatnya menemukan sahabat-sahabat yang tidak hanya berbakat, tetapi sangat baik. Tempatnya menemukan cinta. Continue reading

[Resensi Buku] Aroma Karsa: Membaui Masa Lalu

Penciuman adalah jendela pertama manusia mengenal dunia. Manusia lebih mudah dipengaruhi oleh yang tidak terlihat.” (Halaman 153)


1523105446800[1]

Jati Wesi tumbuh besar di antara gunungan sampah Bantar Gebang. Tanaya Suma tumbuh besar dengan gejala hiperosmia—berhubungan dengan bau yang berefek secara berlebihan bagi tubuh. Mereka terhubung oleh sebuah kisah bernama ‘Puspa Karsa’ yang dulu diyakini sebagai dongeng oleh Raras Prayagung. Jati, si peracik parfum jenius, yang oleh sebab yang tidak bisa dijelaskan di sini, dibimbing oleh Raras untuk menemukan tanaman rahasia dan misterius tersebut, melalui kemampuannya membaui sesuatu di atas rata-rata manusia biasa.

Bukan cuma wujudnya yang menjadi teka-teki, pula dipercaya bahwa tidak ada yang bisa mendeteksi aroma Puspa Karsa, terkecuali orang-orang pilihan. Puspa Karsa adalah tanaman yang punya kehendak dan bisa mengendalikan kehendak. Kehendak Puspa Karsa jualah yang menentukan siapa yang bisa membauinya. (Halaman 10)

Perjalanan mencari Puspa Karsa sudah dimulai sejak bertahun-tahun lalu. Raras Prayagung memulai ekspedisi pertamanya 26 tahun yang lalu, dan kini Jati Wesi diarahkan untuk melanjutkan ekspedisi yang tertunda puluhan tahun itu. Masalahnya ternyata tidak sesederhana itu. Jati Si Hidung Tikus ternyata punya obsesi yang berbeda dengan Raras. Jati ingin meracik kembali Puspa Ananta, seri parfum keluaran Kemara, perusahaan yang dibangun keluarga Prayagung sekaligus parfum andalan buatan Suma—yang juga memiliki kemampuan yang serupa dengan Jati. Tak main-main, obsesi Jati membawanya ingin membaui secara detil sang ibu dari Puspa Ananta. Hal tersebut membuat Suma sangat membenci Jati.

Di samping itu, pencarian tanaman misterius membawa Jati bertemu dengan misteri lainnya yang berhubungan dengan masa lalunya. Sebuah misteri besar yang mungkin akan mengubah segalanya. Apakah Jati berhasil mendapatkan Puspa Karsa? Bagaimana dengan kebencian Suma akan Jati? Apa hubungan sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya pada masa lalu dengan tanaman misterius tersebut? Continue reading

[Resensi Buku] Sayap-Sayap Kecil : Lana, Buku Harian, dan Memar Di Tubuh

Manusia pada akhirnya harus menghadapi semuanya sendirian, meskipun dikelilingi banyak orang.” (Halaman 15)

sayap sayap kecil

Kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan anak-anak yang riskan mengalami kekerasan oleh orang-orang terdekat di sekelilingnya. Anak-anak tentu tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Dia berada di kekuasaan ibunya, dan tdidak mungkin melaporkan kekerasan yang dia alami. Jadi di sinilah sebetulnya butuh bantuan orang sekelilingnya.” (Retno Listyarti, Komisioner KPAI)

Coba sekali-kali mengunjungi situs www.kpai.go.id dan buka tab bank data. Atau sekadar membaca judul artikel dan berita pd halaman depan. Kalian mungkin akan tercengang melihat statistik jumlah kekerasan pada anak yg terus meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (2015-2017). Miris sekaligus sedih.

Lana Wijaya menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri dalam kurun waktu lima tahun terakhir–setelah kedua orang tuanya berpisah. Ibunya sering menyiksa dan memukuli hingga sekujur tubuhnya memar-memar. Continue reading

[Resensi Buku] Seventeen Once Again : Tentang Ingatan yang Ingin Kaulupakan

“Ketika para penggila traveling selalu mengatakan bahwa hidup adalah serangkaian perjalanan, bagiku hidup justru sekelumit pelarian.” (Halaman 9)

1513220360683[1]

Blurb

Raka akhirnya membalas perasaan Briana. Ya, Raka, ketua OSIS yang digandrungi banyak siswi di sekolah. Raka yang juga pacar Tara, sahabat baiknya. Eh, bukankah itu artinya Briana merebut pacar sahabatnya sendiri? Ah, entahlah! Saat study tour, Raka berjanji akan membuat hubungan mereka jelas.

Sayangnya, saat semua akan terjawab, Briana mengalami kecelakaan di India. Sejak kecelakaan itu Briana sulit mengingat hal-hal yang terjadi. Lebih menyebalkan lagi, Mama malah memindahkannya ke Bandung—jauh dari Raka, Tara, dan teman-teman dekatnya.

Selain itu, di sekolah barunya Briana dihadapkan pada drama yang menyebalkan. Ben—ketua klub penyiaran—ngotot merekrut Briana jadi anggota! Di sisi lain, Alisha—cewek sok berkuasa—memintanya untuk menjauhi Ben!

Seolah semuanya belum cukup, Briana mulai merasakan keganjilan pada hidupnya. Kenapa keberadaan Raka misterius? Kenapa teman-teman Briana tidak menghubungi lagi? Dan… benarkah Briana berusia tujuh belas tahun?

*

Novel bergenre young adult terbitan Gramedia Pustaka Utama ini berkisah tentang Briana, seorang gadis yang mengalami kecelakaan saat berada di India. Saat terbangun dia lupa alasan ia berada di India. Ingatan terakhirnya adalah saat ia sedang bersiap mengikuti study tour yang diadakan sekolahnya. Nah lho. Setelah perawatan selama beberapa waktu, mama dan abangnya membawa Briana kembali ke Indonesia. Continue reading