[Resensi Buku] P.S. I Like You : P.S. Aku Menyukaimu. Sangat Menyukaimu

Kalau kau menginginkan hubungan romantis dengan seorang cowok, pertama-tama dia harus menganggapmu sebagai cewek misterius, lalu menarik, lalu lucu. Urutannya seperti itu. Kalau urutannya berbeda, kau akan diberi label teman untuk selamanya.”

picsart_12-25-08-02-271

Saat sedang melamun di kelas Kimia, Lily menuliskan sebaris lirik lagu favoritnya di meja. Hari berikutnya, dia menemukan seseorang telah melanjutkan lirik itu dan bahkan menulis pesan untuknya!

Tak lama, Lily dan sahabat pena misteriusnya itu mulai berbagi surat dan rahasia, saling memperkenalkan band favorit mereka, dan mulai terbuka satu sama lain. Bahkan, Lily mulai menyukai orang yang menulis surat-surat itu. Hanya saja, siapa dia?

Lily mencoba mencari tahu siapa teman misteriusnya, tapi siapkah dia mengetahui kebenarannya?

*

Maafkan saya, Mr. Ortega. Saya dan Kimia tidak saling memahami.”

Lily Abbott tidak begitu menyukai pelajaran Kimia. Saat pelajaran Mr. Ortega tersebut berjalan, Lily lebih sering menulis di buku catatannya dibanding mencatat materi yang diberikan oleh gurunya. Akibatnya, Mr. Ortega yang mungkin sudah lelah menghukumnya dengan melarang Lily megeluarkan buku catatan hijau-ungu favoritnya saat pelajaran Kimia. Ia hanya dibolehkan mencatat di selembar kertas.

Saat pelajaran Kimia berikutnya Lily harus bertahan untuk tidak tertidur atau mati kebosanan tanpa buku catatannya. Ia memilih menulis sebaris lirik dari band indie favoritnya di mejanya. Betapa terkejutya ketika keesokan harinya, di kelas Kimia, ada seseorang yang melanjutkan lirik tersebut. Itu memberi harapan pada gadis tersebut bahwa pelajaran Kimia selanjutnya akan sedikit menyenangkan.

Lily mulai bertukar pesan dengan sahabat pena misteriusnya. Mulai dari pesan yang ditulis dengan pensil di meja, sampai dengan surat-surat yang ditulis di kertas lalu diselipkan di bawah meja. Ia dan sahabat pena-nya bahkan mulai berbagi rahasia dan hal-hal pribadi. Lily bahkan berbagi tentang keinginannya menjadi penulis lagu. Mereka berbagi lagu-lagu favorit serta kosakata baru yang bisa membantu Lily menulis lirik lagu.

Kehidupan Lily di sekolah sebenarnya tidak bisa dibilang buruk—tapi bukan berarti dia siswa yang beruntung. Dia berpenampilan tidak seperti siswa ‘normal’ kebanyakan. Sedikit hipster, senang mendaur ulang baju yang dia beli di toko barang bekas, senang menjahit, lebih suka menulis dan menggambar di buku catatan daripada mengobrol dengan orang lain. Selera musiknya pun tidak seperti teman-temannya. Ia punya seorang sahabat bernama Isabel Gonzales dan menyukai diam-diam senior yang bernama Lucas Dunham.

Tak punya banyak teman bukan berarti dia tak punya musuh. Cade Jennings adalah satu-satunya orang yang tidak ia sukai sejak peristiwa yang membuatnya dapat julukan yang sama sekali tidak ia sukai. Mereka selalu saja saling sindir, kapan pun mereka bertemu. Cade sendiri adalah mantan pacar Isabel.

Lily harus menahan-nahan untuk tidak mencari tahu siapa sahabat pena misteriusnya yang mulai menarik hatinya. Ia membuat daftar dengan judul ‘Tersangka’ pada salah satu bagian di buku catatannya dan menulis beberapa kandidat orang yang mungkin saja adalah sahabat penanya. Bahkan Lucas ada dalam salah satu daftarnya.

Akankah Lily bertemu dengan sahabat pena-nya? Ataukah dia sebenarnya adalah orang yang Lily kenal? Akankah Lily menyelesaikan lirik lagunya? Ikuti kehidupan Lily di kelas Kimia, kantin sekolah, hingga di dalam rumah yang tidak pernah berada dalam kondisi ‘normal’.

*

picsart_12-25-08-15-011

Membaca P.S. I Like You karya Kasie West ini mengingatkan saya pada sensasi saat membaca Fangirl karya Rainbow Rowell (juga diterbitkan Penerbit Spring). Cath dan Lily sepertinya sedikit memiliki kepribadian yang mirip, meski Lily ini lebih hipster. Saya kadang senyum-senyum sendiri membayangkan kehidupan Lily. Pastinya seru jika memiliki sahabat pena, seseorang yang jadi tempat berkirim surat. Mungkin sensasinya mirip-mirip dengan saat berkenalan dengan teman di MiRC dulu. Oke, lupakan soal MiRC. Masa sekolah memang salah satu momen yang susah untuk dilupakan. Continue reading

[Resensi Buku] In A Strange Room : Perjalanan Mencari Jati Diri

Perjalanan adalah gerakan yang digoreskan dalam ruang, gerakan itu hilang bahkan selagi dilakukan. Kita pergi dari satu tempat ke tempat lain, menuju tempat lain lagi, dan di belakangmu tertinggal jejak yang menegaskan kehadiranmu di sana. Jalan yang kita lewati kemarin sudah dipenuhi jejak-jejak orang lain hari ini, tak seorang pun di antara mereka mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Potongan-potongan tanda keberadaan dirimu dihapus dan dibuang. Udara menutup di belakangmu seperti air. Tak lama kemudian kehadiranmu sudah benar-benar hilang. Semua hal terjadi hanya sekali dan tidak pernah terulang, tidak pernah kembali. Kecuali dalam ingatan.

20161205_054733.jpg

Damon melakukan perjalanan dari Cape Town, Afrika Selatan, menuju Yunani, lalu kembali ke Afrika Selatan, kemudian melakukan perjalanan lagi menuju India. Di perjalanan ia bertemu dengan orang-orang yang tanpa sengaja menjadi teman seperjalanannya. Di Yunani ia bertemu Reiner, seorang lelaki Jerman yang menarik dan unik, tetapi memiliki sikap superior yang tinggi. Bersama Reiner, Damon menjadi seorang ‘Pengikut’. Meski ingin, ia merasa tidak mampu dan tetap menjadi pengikut bagi Reiner.

Kembali ke Afrika Selatan, ia melakukan perjalanan lagi. Kali ini menuju tempat-tempat di Afrika: Zimbabwe, Tanzania, Malawi, Zambia, dan tempat-tempat lain di Afrika. Di perjalanan, ia bertemu dengan sekelompok backpacker ceroboh: Alice, Jerome, Christian, dan Roderigo. Bersama rombongan tersebut, ia menjadi seorang ‘Pencinta’.

Setelah melalui perjalanan panjang yang berakhir dengan surat dari Swiss yang mengabarkan peristiwa tragis, Damon memilih ‘pulang’. Ia menempati sebuah rumah yang bisa ia tempati. Damon masih memikirkan perjalanan-perjalanan lainnya. Pada akhirnya ia melakukannya lagi. Kali ini ia menuju India bersama seorang teman bernama Anna yang menderita depresi tingkat tinggi. Dalam perjalanan yang dimaksudkan untuk ‘liburan’ bagi si sakit, Damon adalah seorang ‘Pelindung’. Apa yang dialami Damon di India adalah perjalanan yang sugguh melelahkan fisik dan mental.

Pada akhirnya, Damon masih mencari-cari apa yang disebut ‘pulang’.

*

Tak seperti kisah-kisah perjalanan yang menyenangkan dan penuh dengan pengalaman-pengalaman bahagia, perjalanan Damon dalam novel ini sungguh, sungguh, sungguh melelahkan. Membacanya membuat saya merasakan apa yang mungkin Damon rasakan: kesepian yang teramat, keputusasaan, kelam, keinginan akan sesuatu yang sulit diwujudkan, serta perasaan yang asing.

Damon menggambarkan dengan total perasaan-perasaan tersebut. Bagaimana ia berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, menciptakan kenangan. Perjalanan memaknai arti ‘pulang’ dan mencari tempat yang disebut ‘rumah’.

“Dalam kondisi ini, perjalanan bukan perayaan melainkan malah terasa seperti berkabung, suatu cara untuk menghilang.” (Halaman 94)

Damon belajar banyak hal dari perjalanannya. Bagian favorit saya—sekaligus saya rasa paling melelahkan saat membaca—adalah bagian ketiga, saat Damon bersama Anna menuju India. Novel yang menjadi nominator The Man Booker Prize 2010 ini terbagi menjadi tiga bagian; Pengikut, Pencinta, dan Pelindung. Tiap bagian memiliki kisah masing-masing yang memberitahu banyak hal kepada pembaca.

Bagian tentang perjalanan yang paling terasa adalah saat Damon bersama para backpacker di Afrika. Saya suka saat mereka di Zimbabwe—oke, ini alasannya sangat pribadi hahaha. Melalui sudut pandang Damon, ia bisa menceritakan sisi lain tempat-tempat tersebut. Meski lagi-lagi, bagi Damon, tak ada penggambaran tempat yang benar-benar indah.

Damon adalah seorang penyendiri, tetapi jika datang ajakan untuk melakukan perjalanan, ia mau-mau saja. Meski ia tetap saja menjaga jarak dengan orang-orang. Begitulah Damon. Ia memilih bersama-sama tetapi berdiri di luar lingkaran.

img_20161202_2341091Lebih dari sebuah novel perjalanan, In A Strange Room adalah novel tentang pencarian jati diri.

*

Judul buku: IN A STRANGE ROOM │ Penulis: Damon Galgut │ Alih bahasa: Yuliany C. dan Shandy T. │ Penerbit: Elex Media Komputindo │ Tahun terbit: 2010 │ Jumlah halaman: 265 halaman │ ISBN: 978-979-27-8972-0

[Resensi Buku] Rumah Kertas : Takdir Buku-Buku

Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

wp-image-1112992230jpg.jpg

Bluma Lennon, seorang profesor sastra di Universitas Cambrigde, membeli satu eksemplar buku lawas ‘Poems’ karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho. Saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.

Suatu pagi, rekannya mendapati sebuah paket yang dialamatkan kepada Bluma tanpa alamat pengirim. Paket misterius dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku La línea de sombra, terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad yang pinggiran serta sampul depan-belakangnya dipenuhi dengan serpihan semen kering.

Rasa penasaran yang tinggi membawa sang rekan untuk menyelidiki–sekaligus mengembalikan buku tersebut kepada si pengirim.

*

picsart_11-10-04.57.31.jpg
Sekadar menegaskan–sekaligus mengingatkan, buku ini hanya setebal tujuh puluh enam halaman. Tapi sensasi setelah membaca buku ini sungguh jauh dari jumlah halamannya sendiri.

Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” -New York Times-

Betul.

Sejak halaman pertama, pembaca sudah akan dibawa ke dalam dunia para penulis dunia. Dibuka dengan kisah tragis Bluma yang menjadi ‘korban’ buku. Paragraf selanjutnya mulai mengajak pembaca memasuki takdir orang-orang dengan buku. Continue reading

[Resensi Buku] HATTA : Jejak yang Melampaui Zaman

Hanya satu tanah air yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku.” -Hatta-

20161122_1715021

Baca via aplikasi i-Jakarta

Ia lahir pada 12 Agustus 1902 di Desa Aur Tajungkang, Bukittinggi, dari pasangan Mohammad Djamil dan Saleha Djamil. Orang-orang tua di Bukittinggi menyebutnya ‘anak cie pamaenan mato’–anak yang pada dirinya terpendam kebaikan dan perangainya mengundang rasa sayang.

Dialah Mohammad Hatta. Lelaki dengan senyum ikhlas, wajah teduh, rambut dan pakaian rapi, serta pribadi yang kalem, praktis, dan taat beragama. Bung Hatta adalah sosok bersahaja, tenang, dan penuh wibawa.

Hatta adalah negarawan yang langka, sebab ia menulis. Hatta mulai menulis saat umurnya 18 tahun, sebelum masuk universitas. Tulisannya menunjukkan luasnya bacaan dan minatnya pada sastra Ia menguasai sekurangnya bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Jerman, serta Prancis. Saat dibuang ke Tanah Merah, Boven Digul, ia membawa 16 peti buku.

Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo sepanjang 2001-2009, serial buku ini mereportasi kehidupan keempat pemimpin republik–Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Mulai dari pergolakan pemikiran, petualangan, ketakutan, hingga kisah cinta, dan cerita kamar tidur mereka. Continue reading