[Resensi Buku] The Three Musketeers : Sejarah Prancis dan Tokoh-tokoh Heroik

image

Gambar dari Ang

Judul : The Three Musketeers
Penulis : Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi
Jumlah halaman: 537 halaman

Resensi berikut saya tulis berdasarkan Diskusi Buku Bulanan di Grup WA Klub Buku Indonesia yang dimoderatori oleh Ipeh Alena. Diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2015 ini mencakup beberapa poin, antara lain:

1. Deskripsi: Deskripsi Musketri, Karakter, dan Detail Setting.

2. Perbedaan dan Persamaan: Perbedaan antar Tokoh Three Musketeers, Persamaan di antara Three Musketeers dan D’artagnan.

3. Kronologi Cerita: Tahap-tahap terjadinya duel antara d’Artagnan dengan Three Musketeers, proses yang mengawali hingga mengakhiri kisah intrik yang mengikutsertakan Constance Bonacieuxs.

4. Masalah dan Solusi yang disajikan pada cerita ini.

5. Sebab-Akibat: Dalam novel The Three Musketeers banyak sekali hubungan sebab akibat yang ada.

                            *

D’Artagnan berasal dari keluarga yang berbudi luhur dan ingin mengabdikan diri pada rajanya. Karena itulah dia meninggalkan rumah dan keluarganya ke Paris untuk bergabung dengan pasukan Musketri. 

Dalam perjalanan, dia terlibat percekcokan dengan seorang lelaki misterius. Di luar dugaan, surat pengantar dari bapaknya yang harus dia berikan untuk mempermudah dia bergabung dengan Musketri raib seiring dengan hilangnya lelaki misterius itu.

Cobaan belum berhenti di situ. Tidak berapa lama setelah menginjakkan kaki di Paris, dia langsung terlibat masalah dengan tiga orang lelaki. Entah sudah kehilangan akal sehatnya atau memang benar-benar pemberani, dia menyetujui untuk berduel dengan ketiganya dalam waktu hampir bersamaan.

Namun, pertarungan yang baru akan dimulai akhirnya batal. D’Artagnan justru berteman dengan tiga orang Musketri tersebut. Mereka adalah Athos, Porthos, dan Aramis.

Musketri di Perancis adalah satuan pengawal Raja yang dibentuk pada tahun 1622 dibawah kepemimpinan Louis XIII. Mereka bertugas sebagai pengawal Raja ketika berada di luar Istana.

Setting atau latar atau tempat yang terjadi dalam cerita ini berpindah-pindah. Pada awal kepergian D’Artagnan dari Gascon, dia memasuki satu tempat bernama Meung. Di Meung inilah d’Artagnan untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda yang memiliki tanda di wajahnya juga bertemu Milady. Sesampainya di Paris, d’Artagnan pertama kali menginap di Rue des Fossoyeurs dekat Luksemburgh. Pada bagian ini, pemuda Gascon banyak mengalami tragedi. Perkenalannya dengan seorang perempuan menghantarkannya pada rangkaian peristiwa lainnya. Setelahnya setting berubah-ubah seiring misi d’Artagnan. Ada beberapa pergantian setting dari inggris ke Prancis.

Juga ada satu tempat bernama La Rochelle, daerah pinggir pantai yang masyarakatnya beragama protestan dan selalu dalam posisi bersebrangan dengan Raja yang beragama Katolik.

Ketiga Musketri tersebut dengan d’Artagnan, mereka memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Jika dilihat dari karakteristik mereka, pastinya mereka banyak memiliki perbedaan. Namun, dalam hal rasa ingin berbakti, d’Artagnan dan ketiga Musketri tersebut memiliki persamaan yaitu memilih Berbakti pada Raja ketimbang pada Kardinal. Sementara itu, bagi d’Artagnan dan Athos, keduanya terbilang sangat dekat, karena keduanya memiliki tautan melalui satu wanita yaitu Milady.

Di antara persamaan para Musketri dan d’Artagnan, ada juga persamaan keempat pria yang mengambdi pada Raja ini dengan para pelayannya. Planchet adalah pelayan d’Artagnan, seorang pelayan yang juga cepat tanggap, dia yang memberitahu ada sesuatu tak beres ketika menunggu tempat penginapan mereka saat d’Artagnan pergi. Planchet juga yang menemukan surat dari Madam Bonacieux, pelayan itu yang dengan setia bersedia tidur di luar ruangan demi menjaga majikannya. Seorang pemberani, bahkan dia pernah ditugaskan untuk mengirimkan surat penting ke Inggris. Belum lagi dalam hal kecerdasan, dia sering membantu d’Artagnan tanpa harus diperintah seakan dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh majikannya.

Sementara Athos, memiliki pelayan bernama Girmaud. Keduanya memikiki persamaan yang benar-benar lucu termasuk ketika mereka bersembunyi di gudang hotel. Saat keduanya menghabiskan persediaan Anggur, Bir, Minyak dan Bahan makanan. Grimaund jenis pelayan yang konservatif, Ia tidak akan meminum anggur dengan kualitas yang sama dengan tuannya. Ia minum dari tong, tapi sepertinya ia lupa menutup kerannya!

Kedua orang Majikan-Pelayan ini ditemui d’Artagnan dalam keadaan mabuk. Dan ini justru membuat pemilik hotel menganggap perilaku mereka adalah hukuman atas perbuatannya.

Pada akhirnya, memang hubungan antara Majikan-Pelayan tidak putus. Aramis yang cita-citanya menjadi seorang biarawan, tanpa mengajak atau memaksa Bazin, sang pelayan justru dengan keinginan sendiri ikut dibaptis dan mengabdi pada Tuhan. Sementara Porthos yang menikah dengan seorang wanita yang pernah memberikannya tali bersulam emas, tetap menjadikan Mosqueton sebagai pelayannya.

                             *

Alexandre Dumas mengemas karakter-karakter dalam karyanya dengan sangat apik. 
Misalnya Aramis yang muda, sekitar 23 tahun, dengan raut wajah polos, rendah hati, mata gelap yang teduh dan pipi halus merona merah muda seperti buah persik. Kumisnya tertata rapi, ketika ia tertawa, tawanya tak bersuara, penampilannya sangat terawat.

Karakter lain yang heroik, cerdas, brutal dan memiliki gaya khas lelaki Paris yang anggun.

Dari ulasan-ulasan yang saya baca, ternyata beberapa tokoh dalam buku ini adalah nyata. Tokoh-tokoh dan cerita yang berhubungan dengan sejarah Prancis.

D’Artagnan sendiri adalah tokoh yang terinspirasi dari semi-Fictionalized Memoir d’Artagnan yang ditulis oleh Gatien de Courtilz de Sandras bernama Charles de Batz-
Castelmore d’Artagnan (semoga enggak salah tulis :p).

Oh iya, dalam buku ini yang menjadi tokoh sentral–katanya, sih–justru d’Artagnan, bukan Tiga Musketri.

Diskusi The Three Musketeers akan dilanjutkan bulan Februari. Mari siap-siap mencari bukunya lalu ‘menyaksikan’ sendiri petualangan d’Artagnan dengan ketiga musketri! 🙂

Review ini juga diikutkan dalam Monthly Book Review Challenge KBI 2015. Buku ini adalah buku terakhir yang dijadikan diskusi bulanan di KBI lho. Itu berarti #MBRCKBI2015 juga sudah berakhir.

image

Mau ikut keseruan diskusi bulanan? Yuk, gabung ke grup WhatsApp KBI. ^^

Advertisements

[Resensi Buku] Hamlet : Tragedi Tak Berkesudahan

image

Hamlet adalah sandiwara tragedi karya William Shakespeare yang ditulis sekitar tahun 1599-1601. Hamlet berkisah tentang seorang pangeran negara Denmark bernama Hamlet. Ayahnya baru saja meninggal secara misterius—yang kemudian digantikan oleh Claudius, paman Hamlet. Claudius juga menikahi ibu Hamlet. Pernikahan Claudius dengan Gertrude—ibu Hamlet—tentu menyakitkam hati Hamlet. Bayangkan saja, baru ditinggal oleh Sang Ayah, ia harus melihat ibunya menikah dengan pamannya sendiri.

Di tengah kemuraman yang terjadi, Hamlet bertemu dengan hantu yang mengaku sebagai ayahnya. Hantu ayahnya tersebut mengatakan bahwa ia dibunuh oleh Claudius dengan cara menuangkan racun ke dalam telinganya. Hantu ayahnya kemudian menyuruh Hamlet untuk membalaskan dendamnya. Hamlet pun setuju untuk melakukannya. Ia lalu berpura-pura gila agar Claudius tak merasa curiga.

Namun, lambat laun Hamlet meragukan hantu yang mengaku ayahnya tersebut. Hamlet ragu apakah sang hantu mengatakan kebenaran atau tidak. Karena Hamlet terus-menerus meraung dan meratapi kematian ayahnya, maka Claudius mengutus dua orang teman Hamlet untuk memata-matai dan mencari tahu penyebab perilaku ganjil Hamlet.

Di tengah kebimbangan Hamlet terhadap kebenaran hantu yang mengaku sebagai ayahnya, ia menemukan solusi. Hamlet menyuruh rombongan artis penghibur untuk mementaskan drama yang berjudul The Murder of Gonzago, yang kisahnya meniru kejadian pembunuhan ayahnya agar ia bisa melihat reaksi Claudius ketika melihat drama tersebut.

Bagaimanakah akhir tragedi ini? Apakah Hamlet berhasil membalaskan dendam ayahnya?
*
Sinopsis Hamlet di atas saya ambil dari berbagai sumber, sebab saya sendiri belum pernah membaca Hamlet. Buku ini dijadikan bahan Diskusi Bulanan Klub Buku Indonesia untuk bulan November. Diskusi ini dimoderatori oleh Gyanita. Ada beberapa poin yang dibahas dalam diskusi, antara lain:
1. Overview cerita Hamlet
2. Tema yang diangkat meliputi; dendam, tragedi, paradox, ambiguitas, absurditas, tentang kematian, inces, sexual-desires, dan politik (perebutan takhta).
2. Overview karakter dan hubungan antara karakter dalam Hamlet.

Dari hasil diskusi beberapa member KBI—baik yang sudah baca bukunya maupun yang belum—memberi pendapat tentang karakter-karakter dalam cerita Hamlet.

Pertama, karakter Hamlet yang ragu-ragu dan masih labil. Hamlet yang masih muda baru saja kehilangan ayahnya, ia dituntut untuk menjadi seorang pewaris, padahal jiwanya belum matang untuk menjadi pangeran. Belum lagi menghadapi Claudius yang sekarang sudah menikahi ibunya. Lantas, ada yang berpendapat bahwa hantu ayah Hamlet itu sebenarnya adalah perwujudan jiwa rapuh Hamlet.

Lalu ada Claudius, Raja Denmark yang dituduh membunuh saudaranya sendiri yang juga merupakan raja sebelumnya—dan juga ayah Hamlet. Tak bisa dipungkiri bahwa ada intrik politik di sini. Perebutan tahta dan kekuasaan. Belum lagi setelah berhasil menjadi raja, Claudius berusaha untuk mengusir Hamlet dari kerajaan. Pada masa tersebut pula Denmark terancam perang dengan negara tetangganya sendiri, Norwegia.

Drama Hamlet sendiri terdiri dari 5 babak dan 20 adegan. Tokoh-tokohnya antara lain:
1. Hamlet : Putra mendiang raja dan Pangeran Denmark.
2. Claudius : Paman Hamlet dan Raja Denmark
3. Gertrude : Ratu Denmark, Ibu Hamlet
4. Polonius : Lord Chamberlain
5. Ophelia : Putri Polonius
6. Horatio : Sahabat Hamlet
7. Laertes : Putra Polonius
8. Hantu ayah Hamlet
*
Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup dengan cara menghubungi adminnya via twitter @klubbuku.

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam Monthly Book Review Challenge Klub Buku Indonesia 2015 atau #MBRCKBI2015.^^

image

[Resensi Buku] Cinta Tak Pernah Tepat Waktu : Mencintai dengan Cara yang Paling Sunyi

Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu, dan sialnya aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.” (Hal. 15)

image

Novel ini berkisah tentang tokoh ‘Aku’–seorang lelaki, mantan aktivis ’98 yang hingga akhir cerita tak diketahui namanya–yang dalam perjalanannya melupakan dan menyembuhkan hati, justru dipertemukan kembali dengan yang dicintainya. Sayangnya, seperti judul novel ini, cinta tak pernah tepat waktu. Begitu pun untuk tokoh utama novel ini. Orang yang ia cintai tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukannya senang, tokoh utama kita justru harus dihadapkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya sudah menjadi milik lelaki lain.

Maka, ia memilih mencintai dengan cara yang paling sunyi.

Dalam perjalanannya untuk menyembuhkan luka, Si Aku mengalami banyak kejadian yang kelak membuatnya merenung dan mengerti bahwa dalam hidup apa yang kita inginkan kadang-kadang tidak sepenting apa yang kita miliki. Bahwa luka, kadang-kadang tidak hanya memberikan rasa sakit atau perih, tapi juga pelajaran berharga dalam proses penyembuhannya.

Novel ini dibuka dengan prolog tentang betapa ‘sial’nya kehidupan tokoh Aku ini, terutama soal cinta. Selanjutnya pembaca akan dikenalkan dengan beberapa perempuan yang menjalin hubungan dengan tokoh Aku dalam rangka menyembuhkan luka hatinya. Berhasilkah ia melupakan mantan kekasihnya yang sudah menjadi istri orang lain? Bagaimanakah pergolakan pemikiran, proses pencarian cinta, dan upaya tokoh utama kita dalam menyembuhkan penyakit yang dideritanya? Silakan baca sendiri. 😀

Pada satu bagian, pembaca akan dibuat sedikit bingung dengan perubahan sudut pandang. Tokoh ‘Aku’ akan berubah menjadi ‘kamu’, entah apa alasan penulis mengubah untuk sementara sudut pandangnya. Selain perubahan sudut pandang pada satu bagian dan beberapa kesalahan pengetikan, tak ada hal lain yang mengganggu. Novel ini cukup menghibur dan berisi banyak hal untuk dinikmati.

Nah, cobalah berkenalan dengan lelaki yang masih betah berkubang dalam kenangan di novel ini.

*

Buku ini juga dijadikan sebagai bahan Diskusi Bulanan Klub Buku Indonesia di WhatsApp untuk bulan Oktober, dengan Maulana Muzirwan sebagai moderatornya.

Diskusi berlangsung seru meskipun saya lumayan telat untuk gabung. Topik yang ramai pastinya tak jauh dari ‘kenangan’, ‘mantan’, dan ‘susah move on‘. Kak Mo berfokus pada tokoh utama kita yang sedikit mempunyai ketakutan untuk menikah setelah ditinggal menikah oleh kekasih yang sangat ia cintai.

Buku yang sekitar 3 kali berpindah penerbit ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata sahabat Sang Penulis sendiri, Puthut EA, yang berinisian N.

Nah, penasaran dengan keseruan Diskusi Bulanan di Grup WA KBI? Yuk, gabung dengan 60-an member lainnya. Selain itu kalian juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

wpid-mbrc2015.jpg

* Buku ini juga bisa kalian dapatkan di toko buku online @foboekoe, @standbuku, atau @demabuku.
———————————–
Judul buku: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Penulis: Puthut EA | Penerbit: INSISTPress | Tahun terbit: 2009 | Jumlah halaman: 213 halaman | ISBN: 978-602-8384-18-6 |

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Kasus Identitas

Apakah saat ini kau sedang menangani sebuah kasus?”

Pertanyaan Watson yang penuh minat di bagian awal cerita membawa mereka pada seorang perempuan yang berdiri di trotoar seberang Baker Street. Perempuan yang mengintip ke arah jendela dengan gelisah dan ragu-ragu.

“Aku pernah melihat gejala ini sebelumnya. Keragu-raguannya itu tanda adanya masalah yang amat berat. Dia perlu minta nasihatku, tapi dia ragu-ragu karena masalahnya sebetulnya sangat rahasia….”

Miss Mary Sutherland sedang kabur dari rumah saat menemui Sherlock Holmes di kediamannya hari itu. Ia ingin agar Holmes mencari seseorang bernama Mr. Hosmer Angel yang merupakan tunangannya. Mr. Hosmer Angel menghilang secara misterius pada hari pernikahan mereka.

Selain menghilangnya calon suami, Miss Mary Sutherland juga mengeluhkan sikap ayah tirinya, Mr. Windibank. Umur ayah tirinya hanya terpaut sekitar lima tahun dari dirinya. Mr. Windibank melarang Miss Mary menghadiri pesta atau pertemuan-pertemuan yang memungkinkan Miss Mary untuk berinteraksi dengan banyak orang. Akibatnya Miss Mary tak punya banyak kenalan bahkan tak pernah memiliki seorang kekasih. Pada hari ia bertemu dengan Mr. Hosmer Angel adalah saat ia membangkang dari larangan ayah tirinya dan mendatangi sebuah pesta. Di sanalah ia bertemu dengan calon suaminya yang saat ini menghilang.

Selain petunjuk ciri-ciri fisik, Miss Mary juga memberitahukan tentang kebiasaan mereka bertemu saat ayah tirinya berangkat untuk sebuah pekerjaan ke Perancis. Juga cara komunikasi mereka lewat surat. Mr. Hosmer Angel menulis suratnya dengan cata diketik melalu mesin tik dan alamat tujuannya selalu dialamatkan ke kantor pos. Anehnya lagi, Miss Mary tak tahu alamat lengkap rumah dan kantor tunangannya. Kalau zaman sekarang pasti dibilang aneh. Semacam pacaran lewat dunia maya yang belum pernah ketemuan gitu. Hihihi. Untung Miss Mary sama Mr. Hosmer Angel sudah pernah ketemu sebelum menikah.

Nah, berhasilkah Sherlock Holmes menemukan Mr. Hosmer Angel yang menghilang tiba-tiba? Pesan apa yang diberikan Mr. Hosmer Angel kepada calon istrinya sesaat sebelum ia menghilang tiba-tiba? Dan kenyataan seperti apa yang sedang menanti Miss Mary yang sedang menanti dengan setia sambil harap-harap cemas kembalinya sang kekasih ke pelukannya?

Bahaya sekali merenggut anak singa dari induknya, sama bahayanya dengan merenggut angan-angan indah dari seorang gadis.” -Pepatah Persia Kuno-

**

Kawanku, hidup ini jauh lebih aneh daripada apapun yang dapat kita khayalkan. Dibandingkan dengan hal-hal sepele yang terjadi sehari-hari, hasil imajinasi kita sebetulnya tak ada artinya.”

Itulah kalimat pembuka dari Holmes. Kalimat selanjutnya lebih menyentil. Baca sendiri, ya, kisah lengkapnya. :p

Kasus kali ini berhubungan dengan romansa sepasang kekasih. Seorang perempuan yang lemah lembut dan berjanji untuk selalu setia pada pasangannya tiba-tiba harus mendapati kenyataan bahwa kekasihnya justru hilang tepat pada hari pernikahannya.

Sayangnya, Holmes yang jeli menemukan beberapa kejanggalan dalam kisah Miss Mary, termasuk hubungannya dengan ayah tirinya. Kasus yang seru dan menarik pokoknya!

Kejelian Sherlock Holmes dan kepandaiannya membuat deduksi tak lepas dari tangan dingin Sir Arthur Conan Doyle sebagai pencipta tokoh fenomenal ini. ♥

Selain pengetahuan-pengetahuan baru, dalam beberapa kisah Conan Doyle juga menyelipkan kritik-kritik terhadap pemerintah, aparat, ataupun kritik sosial dan politik–tentunya lewat gaya khas detektif kita. Dalam cerita yang tidak terlalu panjang, pembaca disuguhkan banyaaaakkk hal yang bermanfaat. Jadi, tidak sekadar membaca lalu tak menemukan apa-apa.

“Kalau mau realistis, ya perlu seleksi dan kebijaksanaan. Ini yang sebenarnya harus ada dalam laporan polisi. Selama ini, hanya omong kosong hakim saja yang lebih ditekankan. Padahal, bagi orang yang jeli, detail-detailnyalah yang penting. Di situlah letak keunikan dari kasus yang nampaknya biasa-biasa saja itu.”

———————————–
Judul: Sherlock Holmes – Kasus Identitas | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Lilitan Bintik-bintik

Kasus-kasus yang dihadapi Sherlock Holmes, sepanjang yang bisa diingat dan dicatat oleh Dr. Watson, tak ada yang biasa-biasa saja. Kasus-kasus tersebut ada yang tragis, unik, aneh, bahkan menggelikan. Holmes mencintai seni menyelidiki kriminalitas, daripada sekadar mengumpulkan kekayaan dari kemampuannya itu. Maka dari itu dia hanya mau menangani kasus-kasus fantastis dan menolak menangani kasus yang biasa-biasa saja.

Kasus yang ditangani Holmes ini terjadi pada awal-awal perkenalannya dengan Watson, yang saat ini menjadi sahabatnya. Waktu itu mereka masih sama-sama bujangan dan tinggal bersama di sebuah kamar sewaan di Baker Street.

Kali ini kasus berhubungan dengan keluarga Roylott dari Stoke Moran. Seorang perempuan muda bernama Helen Stoner yang merupakan anak tiri dari keturunan terakhir dari keluarga Roylott, Dr. Grimesby Roylott. Perangai ayah tirinya sangatlah kasar, brutal, dan ia tak memiliki kawan kecuali orang-orang gipsi yang sering berkemah di halaman rumahnya yang luas. Ayah tirinya pun memiliki piaraan yang aneh, yaitu babun dan macan tutul.

Miss Stoner meminta Holmes untuk menyelidiki kasus kematian Julia, saudara kembarnya, yang meninggal sekitar dua tahun lalu. Terdapat hal-hal yang baru dirasa aneh olehnya terhadap kematian kembarannya dan ia pun sedang mengalami beberapa di antaranya.

Beberapa petunjuk tentang kasus ini adalah suara siulan dan logam yang jatuh, lubang ventilasi, lilitan bintik-bintik, dan orang-orang gipsi yang ‘betah tinggal’ di halaman rumahnya.

Apakah Holmes dibantu Watson dapat memecahkan masalah yang cukup rumit ini?

**

Kemampuan deduksi Holmes memang tak perlu diragukan. Lagi-lagi dalam cerita ini Holmes menunjukkan kemampuannya menarik kesimpulan. Bahkan sahabatnya, Dr. Watson, sangat mengagumi kemampuan Holmes yang satu ini.

Tak ada yang lebih menggembirakan hatiku kecuali mengikuti penyelidikan-penyelidikan profesional yang dilakukan oleh Holmes, dan mengagumi kesimpulan-kesimpulannya yang bisa dengan begitu cepat didapatkannya seolah-olah langsung keluar dari intuisinya. Tapi toh, semua didukung oleh intuisinya yang logis.

Selain itu, karakter Holmes yang senang merangsang pikiran-pikiran Watson dengan pertanyaan-pertanyaan seputar detil secara tidak langsung ikut menguji para pembacanya. Jadi, Holmes tak langsung memberi tahu jawaban dari deduksinya yang luar biasa cerdas itu, tetapi membuat Watson yang menganalisis sendiri dibantu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar itu pada Watson–dan juga pada pembaca. Salut deh sama Sir Arthur Conan Doyle. ♥

Satu hal lagi yang saya suka dari karakter detektif bohemian ini adalah sikapnya yang amat santai dan cenderung cuek. Bahkan dalam keadaan terdesak atau tertekan pun sifat santainya tidak berubah. Sifatnya itu juga yang kadang membuat Dr. Watson suka ‘gemas’ sendiri. Hahaha.

Pokoknya tak rugi mengikuti petualangan-petualang detektif ‘jomblo’ kita ini. Banyak hal baru di setiap kisah dan kasus yang ia tangani. ^^
———————————–
Judul: Sherlock Holmes – Lilitan Bintik-bintik | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:
image

[Resensi Buku] Pasukan Mau Tahu : The Mystery of Banshee Towers

Kamu pencinta tokoh anak-anak penggila misteri karangan Enid Blyton? Berarti tak asing dengan lima orang anak dengan seekor anjing yang senang sekali memecahkan misteri yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Yap, mereka adalah Pasukan Mau Tahu!

image

Kali ini Pasukan Mau Tahu—Fatty, Pip, Larry, Bets, Daisy, dan Ern—ditambah dua anjing kesayangan mereka: Buster dan Bingo mengajak kita mengunjungi Banshee Towers di Bukit Banshee. Awalnya mereka hanya berniat sekadar bersenang-senang mengisi liburan, tanpa memikirkan kasus ataupun misteri. Melalui voting dipilihlah Banshee Towers dan Gua Air sebagai tempat tujuan jalan-jalan mereka.

Aku tidak keberatan, jika saat ini tak ada misteri yang perlu diselidiki. Maksudku, aku suka misteri, tapi juga senang jika keadaan tenang,” kata Bets.

Sayangnya, niat awal mereka untuk bersenang-senang melihat lukisan laut yang indah sedikit terganggu dengan lolongan yang disangka puaka—hantu penunggu—Banshee Towers. Lolongan mengerikan yang didengar Fatty dan kawan-kawan ternyata membawa mereka pada misteri baru yang nantinya akan berusaha dipecahkan Pasukan Mau Tahu. Dari manakah asal suara mengerikan yang membuat bulu kuduk yang mendengarnya bergidik? Mengapa banshee hanya melolong pada hari Kamis setiap pekannya?

Selain misteri lolongan banshee, Pasukan Mau Tahu menemukan lorong rahasia di dalam Banshee Towers. Ada pula misteri perahu yang hilang dalam lukisan. Bagaimanakah naluri ingin tahu keenam anak-anak itu memecahkan misteri yang sedang terjadi? Lalu mengapa Komisaris Jenks menghubungi Fatty atas laporan memasuki gedung tanpa izin?

Selamat menikmati misteri terakhir dari Pasukan Mau Tahu!
*

Sejak kecil saya menyukai serial detektif atau buku-buku yang bertema misteri dan petualangan. Serial Lima Sekawan karangan Enid Blyton adalah salah satunya. Selain Lima Sekawan, ada banyak tokoh anak-anak penggila misteri yang diciptakan Enid Mary Blyton. Dalam serial Pasukan Mau Tahu ada lima tokoh anak-anak—Fatty, Pip, Larry, Daisy, dan Bets—yang menjadi toko sentral, dalam beberapa judul juga sering muncul tokoh Ern. Nah, dalam Misteri Rumah Setan ini, Ern muncul lagi, kali ini dengan anjing kesayangannya yang bernama Bingo. Anjing ini sangat menyukai dan sering sekali menuruti apa yang dilakukan Buster—anjing milik Fatty.

Dalam Misteri Rumah Setan kali ini Fatty dan Ern lebih dominan dibanding empat sahabatnya yang lain. Fatty adalah anak yang memiliki intuisi paling kuat di antara yang lain. Ia pandai menyamar, cerdas, banyak akal, selalu ingin tahu, tetapi kadang-kadang bersikap terlalu dewasa melebihi umurnya. Sedangkan Ern adala anak yang baik, dia adalah keponakan Pak Goon—si polisi yang galak—yang pada seri ini ‘kabur’ dan tinggal sementara di gudang milik Fatty. Ern sangat memuja Fatty. Anak yang polos dan bersemangat ini pun senang membuat pantun yang sering berhenti di tengah jalan. Pada akhirnya teman-temannyalah yang akan menyelesaikan pantunnya. Hihihi. Ada juga Bets, gadis kecil yang polos dan selalu ingin tahu, tapi kadang penakut. Ia sangat benci dan takut dengan lolongan banshee.

Kelebihan Enid Blyton dalam menciptakan cerita dan karakter anak-anak patut diacungi jempol. Melalui tokoh ciptaannya pembaca dapat melihat anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, berani, tapi masih tetap polos dan lugu khas anak-anak. Tokoh-tokoh orang dewasa yang dihadirkan pun berperan banyak terhadap karakter anak-anaknya.
Dalam buku ini misalnya, ada Pak Goon yang galak dan tidak disukai anak-anak. Fatty yang disebut sebagai ‘musuh abadi’ Pak Goon sering usil pada polisi galak itu. Bukan tanpa alasan Fatty dan teman-temannya tak begitu menyukai paman Ern itu. Lalu ada komisaris Jenks yang juga atasan Pak Goon di kepolisian. Komisaris Jenks menyukai anak-anak karena kadang Pasukan Mau Tahu membantu kepolisian memecahkan misteri. Nah, komisaris ini juga kagum dengan kepandaian Fatty. Ia kadang gemas dengan polah tingkah anak kecil yang sering berlaku seperti orang dewasa itu.

“Ulahmu selalu ada-ada saja! Aku lebih senang kau cepat-cepat dewasa, lalu bergabung dalam kepolisian—supaya aku lebih mudah mengawasimu. Sekarang jangan ke mana-mana sampai aku datang. Ini perintah, mengerti?”

Well, membaca karya-karya Enid Blyton membangkitkan kerinduan dan kenangan akan masa kecil saya. Betapa waktu tiba-tiba terasa sangat cepat berlalu. Buat kalian yang saat kecil selalu ingin tahu dan sering membayangkan diri sebagai anak-anak yang tergabung dalam kelompok detektif cilik, tak ada ruginya membaca karya-karya penulis yang lahir pada tanggal 11 Agustus 1897 ini. ^^
———————————–
Judul buku: The Mystery of Banshee Towers (Misteri Rumah Setan) | Penulis: Enid Blyton | Penerjemah: Agus Setiadi | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 1985 (Cetakan kelima, Juni 2013) | Jumlah halaman: 216 halaman | ISBN: 978-979-22-9646-4

Rating:
image