[Resensi Buku] P.S. I Like You : P.S. Aku Menyukaimu. Sangat Menyukaimu

Kalau kau menginginkan hubungan romantis dengan seorang cowok, pertama-tama dia harus menganggapmu sebagai cewek misterius, lalu menarik, lalu lucu. Urutannya seperti itu. Kalau urutannya berbeda, kau akan diberi label teman untuk selamanya.”

picsart_12-25-08-02-271

Saat sedang melamun di kelas Kimia, Lily menuliskan sebaris lirik lagu favoritnya di meja. Hari berikutnya, dia menemukan seseorang telah melanjutkan lirik itu dan bahkan menulis pesan untuknya!

Tak lama, Lily dan sahabat pena misteriusnya itu mulai berbagi surat dan rahasia, saling memperkenalkan band favorit mereka, dan mulai terbuka satu sama lain. Bahkan, Lily mulai menyukai orang yang menulis surat-surat itu. Hanya saja, siapa dia?

Lily mencoba mencari tahu siapa teman misteriusnya, tapi siapkah dia mengetahui kebenarannya?

*

Maafkan saya, Mr. Ortega. Saya dan Kimia tidak saling memahami.”

Lily Abbott tidak begitu menyukai pelajaran Kimia. Saat pelajaran Mr. Ortega tersebut berjalan, Lily lebih sering menulis di buku catatannya dibanding mencatat materi yang diberikan oleh gurunya. Akibatnya, Mr. Ortega yang mungkin sudah lelah menghukumnya dengan melarang Lily megeluarkan buku catatan hijau-ungu favoritnya saat pelajaran Kimia. Ia hanya dibolehkan mencatat di selembar kertas.

Saat pelajaran Kimia berikutnya Lily harus bertahan untuk tidak tertidur atau mati kebosanan tanpa buku catatannya. Ia memilih menulis sebaris lirik dari band indie favoritnya di mejanya. Betapa terkejutya ketika keesokan harinya, di kelas Kimia, ada seseorang yang melanjutkan lirik tersebut. Itu memberi harapan pada gadis tersebut bahwa pelajaran Kimia selanjutnya akan sedikit menyenangkan.

Lily mulai bertukar pesan dengan sahabat pena misteriusnya. Mulai dari pesan yang ditulis dengan pensil di meja, sampai dengan surat-surat yang ditulis di kertas lalu diselipkan di bawah meja. Ia dan sahabat pena-nya bahkan mulai berbagi rahasia dan hal-hal pribadi. Lily bahkan berbagi tentang keinginannya menjadi penulis lagu. Mereka berbagi lagu-lagu favorit serta kosakata baru yang bisa membantu Lily menulis lirik lagu.

Kehidupan Lily di sekolah sebenarnya tidak bisa dibilang buruk—tapi bukan berarti dia siswa yang beruntung. Dia berpenampilan tidak seperti siswa ‘normal’ kebanyakan. Sedikit hipster, senang mendaur ulang baju yang dia beli di toko barang bekas, senang menjahit, lebih suka menulis dan menggambar di buku catatan daripada mengobrol dengan orang lain. Selera musiknya pun tidak seperti teman-temannya. Ia punya seorang sahabat bernama Isabel Gonzales dan menyukai diam-diam senior yang bernama Lucas Dunham.

Tak punya banyak teman bukan berarti dia tak punya musuh. Cade Jennings adalah satu-satunya orang yang tidak ia sukai sejak peristiwa yang membuatnya dapat julukan yang sama sekali tidak ia sukai. Mereka selalu saja saling sindir, kapan pun mereka bertemu. Cade sendiri adalah mantan pacar Isabel.

Lily harus menahan-nahan untuk tidak mencari tahu siapa sahabat pena misteriusnya yang mulai menarik hatinya. Ia membuat daftar dengan judul ‘Tersangka’ pada salah satu bagian di buku catatannya dan menulis beberapa kandidat orang yang mungkin saja adalah sahabat penanya. Bahkan Lucas ada dalam salah satu daftarnya.

Akankah Lily bertemu dengan sahabat pena-nya? Ataukah dia sebenarnya adalah orang yang Lily kenal? Akankah Lily menyelesaikan lirik lagunya? Ikuti kehidupan Lily di kelas Kimia, kantin sekolah, hingga di dalam rumah yang tidak pernah berada dalam kondisi ‘normal’.

*

picsart_12-25-08-15-011

Membaca P.S. I Like You karya Kasie West ini mengingatkan saya pada sensasi saat membaca Fangirl karya Rainbow Rowell (juga diterbitkan Penerbit Spring). Cath dan Lily sepertinya sedikit memiliki kepribadian yang mirip, meski Lily ini lebih hipster. Saya kadang senyum-senyum sendiri membayangkan kehidupan Lily. Pastinya seru jika memiliki sahabat pena, seseorang yang jadi tempat berkirim surat. Mungkin sensasinya mirip-mirip dengan saat berkenalan dengan teman di MiRC dulu. Oke, lupakan soal MiRC. Masa sekolah memang salah satu momen yang susah untuk dilupakan. Continue reading

Advertisements

[Review Buku] Fantasy : Musik Klasik dan Perjalanan Memenangkan Cinta

Ketika seseorang mempunyai banyak mimpi, namun terlalu lama berada di comfort zone, harus ada seseorang yang membantunya keluar bukan?

@dhilayaumil8980

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

 Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

 *

 Davina menyukai Awang, hanya ketika lelaki itu bermain piano. Awalnya memang seperti itu. Sampai Davina mendapati dirinya benar-benar menyukai lelaki itu bahkan ketika Awang tidak sedang menyentuh piano. Awalnya ia tidak yakin dengan perasaannya, apalagi Awang awalnya justru mengejar Armitha yang adalah sahabat Davina. Lama-kelamaan mereka bertiga—Davina, Awang, dan Armitha—menjadi dekat dan bersahabat baik di sekolah. Awang bahkan berhasil membuat Mitha mau belajar bermain piano dan memainkan musik klasik yang sangat digilai Awang sejak kecil.

 Masa-masa SMA mereka diisi dengan hal-hal menyenangkan dan tentunya tidak jauh-jauh dari piano dan musik klasik. Sampai Awang menyadari sesuatu terjadi di antara mereka bertiga. Ia benar-benar menyukai salah satu di antara dua sahabat karib itu. Awalnya, hubungan mereka baik-baik saja—baik hubungan persahabatan, maupun urusan perasaan—dan saling mendukung satu sama lain. Sampai mereka harus berpisah dengan Awang yang mendapat kesempatan untuk belajar musik dan mengejar mimpinya di Tokyo. Kehilangan, kekecewaan, putus asa, pengorbanan, dan rasa sayang mengiringi perjalanan ketiganya sampai mereka bertemu kembali tujuh tahun kemudian dengan kondisi yang sangat bertolak belakang dengan masa-masa pertemuan mereka di SMA dulu.

@dhilayaumil9084

ada ilustrasi piano pada tiap bab-nya 🙂

 Apa yang membuat Davina tidak mau membalas surat dan kartu pos yang dikirim Awang selama bertahun-tahun? Lalu apa yang membuat Armitha tidak mau lagi menyentuh piano yang membuatnya dulu sangat dekat dengan Awang? Dan apa yang akan dilakukan Awang saat dihadapkan pada pilihan persahabatan ataukah cintanya? Apakah Davina berhasil mempertemukan kedua sahabatnya di panggung kompetisi musik klasik dunia?

 Menyenangkan sekali saat membaca sebuah buku dan menemukan hal-hal baru di dalamnya. Seperti itulah yang saya rasakan saat membaca Fantasy ini. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, terutama soal musik klasik. Pembaca akan diajak berkenalan dengan Mozart, Beethoven, Stravinsky, Johann Pachebel, dan komposer-komposer dunia lainnya. Barangkali ini adalah novel pertama yang mengangkat tema musik klasik yang saya baca. Kisah cinta remaja menuju dewasa yang disajikan dengan alunan musik klasik benar-benar menarik untuk dibaca.

@dhilayaumil8973

Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama dengan Davina dan Armitha—yang bergantian—sebagai naratornya. Ada dua pembagian waktu cerita dalam buku ini, yaitu saat mereka bertiga SMA dan tujuh tahun kemudian saat mereka bertemu kembali. Selain pengetahuan tentang musik klasik, pembaca juga diajak ‘berjalan-jalan’ mengunjungi beberapa negara dengan sejarah musik klasik di dalamnya. Deskripsi tempat yang digambarkan penulis sangat pas, seolah-olah saya diajak mengunjungi negara-negara tersebut melalui novel ini. Saya sampai googling untuk mengetahui lebih banyak soal kota Salzburg di Wina. :p

Salzburg-high-resolution-1

Kota Salzburg di Austria, salah satu kota yang didatangi Awang dan Mitha. (sumber: google)

 Saya menyukai karakter tokoh Davina dan Mitha yang kuat, dan karakter Awan yang lucu dan menyenangkan—mengingatkan saya pada karakter Levi di novel Fangirl. Hanya saja ada hal yang sedikit mengganggu saya soal karakter mereka bertiga. Meskipun di novel dijelaskan tentang karakter beberapa tokoh yang terlalu dewasa, saya tetap merasa aneh dengan karakter ketiga tokohnya yang—serempak—terlalu dewasa. Dalam pembukaan disebutkan bahwa mereka berusia sekitar 16 tahun, tapi bagi saya karakter yang digambarkan jauh lebih dewasa dari anak sekolah. Bahkan karakter tersebut tidak mengalami perubahan sampai tujuh tahun kemudian. Rasanya seperti ‘menyaksikan’ perubahan usia tokoh, tapi tidak dengan perubahan karakternya yang berjalan sesuai usia. Hmm…

 Meskipun di awal alurnya berjalan cukup lambat, tapi konflik yang dibangun tidak se-klise novel bertema cinta-persahabatan lainnya. Ada beberapa kesalahan pengetikan yang masih bisa dimaklumi. Sampulnya sebenarnya tidak terlalu manarik minta. Haha. Untungnya saya bukan pembaca yang tidak akan membaca buku hanya karena sampulnya tidak menarik. 😀

 Well, novel ini cocok buat kamu yang penasaran atau mencintai instrumen musik klasik, buat kamu yang mau belajar tentang hal-hal baru, buat kamu yang punya impian, buat kamu lagi nunggu angkot, buat kamu yang lagi galau, buat kamu yang lagi bahagia, buat kamu … ah, pokoknya buat siapa saja. 🙂

 Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya, betapa pun besar bakatnya.”

 *

 Judul Buku : Fantasy

 Penulis: Novellina A.

 Editor : Ruth Priscilia Angelina

 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

 Tahun terbit : 2014

 Jumlah hlm. : 312 Halaman

 ISBN : 978-602-03-0355-0

**

salam,

@dhilayaumil

[Review Buku] Balada Ching-Ching : Tentang Balada Penuh Makna

Jika kamu pembaca situs http://www.fiksilotus.com, pasti tidak asing dengan nama Maggie Tiojakin. Dialah yang menerjemahkan cerpen-cerpen klasik karya penulis dunia melalui situs gratis fiksilotus, dengan tujuan menyajikan lebih banyak lagi cerpen asing dalam bahasa Indonesia. Selain menerjemahkan, Maggie juga menulis cerpen, baik itu berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing yang diterbitkan di media-media nasional dan mancanegara seperti Asian News Network, The Boston Globe, Other Voices, La Petite Zine, The Jakarta Post, Kompas, dan beberapa media lainnya. Maggie juga menulis artikel dan novel.

Saat pertama kali membaca cerpen-cerpen fiksilotus, saya mengira kalau Maggie Tiojakin adalah seorang lelaki berkebangsaan asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Hahaha. Kemampuannya menerjemahkan cerpen-cerpen di fiksilotus banyak dipuji. Cerpen-cerpen yang ia terjemahkan sangat bagus, bahkan untuk sebagian orang, terjemahannya tidak meninggalkan ‘jiwa’ dan ‘cita rasa’ karya aslinya. Bukan hanya itu, ia juga tak jarang mengulas sebuah karya untuk didiskusikan bersama dengan para pembaca.

Balada Ching-Ching adalah karya Maggie yang kali pertama saya baca. Sebelumnya saya hanyalah penikmat hasil terjemahannya di fiksilotus. Buku ini memuat 13 cerpen yang beberapa di antaranya pernah terbit di beberapa media. Sebagian besar bahkan lebih dulu terbit dalam bahasa asing sebelum diterjemahkan olehnya. Secara umum, Balada Ching-Ching bercerita tentang pengalaman hidup. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang obsesif, dan lainnya. Seperti judulnya—Balada Ching-Ching: dan balada lainnya—buku ini menyajikan balada kehidupan sehari-hari.

image

Buku ini diawali dengan cerpen Anatomi Mukjizat. Bercerita tentang Malik, seorang pekerja medis di sebuah rumah sakit dan Suci, seorang pasien penderita kerusakan jantung kronis. Malik yang sering melihat mukjizat terjadi pada pasien-pasien yang ia jaga, juga berharap mukjizat datang untuk Suci: sebuah jantung baru.

Takdir, sama seperti muntahan lahar dari mulut gunung dan gulungan air laut yang membanjiri bumi, tidak membedakan korban-korbannya.”  (hal. 8)

Liana, Liana adalah salah satu cerpen favorit saya. Bercerita tentang Liana yang sedang menunggu ibunya yang–tidak seperti biasa–terlambat pulang ke rumah. Saking khawatirnya, berbagai pikiran mulai berputar di kepalanya. Beberapa skenario buruk pun terangkai tentang alasan keterlambatan ibunya. Belum lagi kekhawatirannya semakin besar saat ia melihat headline sebuah surat kabar tentang kecelakaan lalu lintas di alan tol yang menewaskan seorang wanita. Cerpen ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kekuatan sebuah pikiran. Bagaimana pikiran buruk bisa membuat sesuatu yang tadinya baik-baik saja, jadi terlihat tidak baik-baik saja.

Balada Ching-Ching yang juga dijadikan judul buku ini, bercerita tentang seorang gadis keturunan bernama Ching-Ching. Menjadi etnis minoritas di sekolah membuat ia sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya. Belum lagi sikap ayahnya—yang seorang pedagang kwetiau pinggir jalan—yang keras dan menganggap Ching-Ching tak bisa melakukan apa-apa membuat gadis 15 tahun itu tertekan. Balada kehidupan gadis remaja itulah yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini.

Cerpen terpanjang—mengambil 52 halaman—dalam buku ini, Dua Sisi, mengisahkan tokoh bernama Andari—pemuda Indonesia yang sedang bekerja di New York—yang menyaksikan sendiri bagaimana runtuhnya menara kembar WTC. Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Aysha, seorang gadis Beirut—Libanon, yang saat pertemuan pertama mereka melontarkan kalimat yang membuat Andari bergidik ngeri. ‘Sudah saatnya negeri ini mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya terhadap orang lain’. Andari yang membenci kekerasan dengan alasan apapun bertemu dengan gadis pemilik banyak luka akibat masa lalunya yang menyedihkan di Beirut.

image

Sesuai judulnya, cerpen ini mencoba memberitahukan kepada pembaca bagaimana melihat sebuah peristiwa dari kacamata yang berbeda. Dua sisi: Andari dan Aysha. Hebatnya lagi adalah sikap penulis yang sama sekali tidak menggiring pembaca untuk memihak salah satu sisi. Melalui bahasa dan penyampaian yang mengalir membuat kisah ini terkesan nyata. Akhir yang mengejutkan juga menjadikan cerpen ini semakin menarik.

“Semua orang menanti dengan mata nanar di depan televisi, menunggu pemimpin mereka mengucapkan apa yang ingin mereka dengar: balas dendam.” (halaman 55)

Cerpen lain berjudul Suami-Istri berkisah tentang sepasang suami istri yang sudah hidup berumah tangga selama 32 tahun. Saat ulang tahun sang istri yang ke-56, suami menghadiahi makan malam mewah dan seuntai kalung emas. Kehidupan mereka baik-baik saja meskipun selama 32 tahun hidup bersama belum juga dikaruniai seorang keturunan. Segala cara sudah mereka lakukan. Tak ada masalah pada diri mereka, hanya saja mungkin Yang Mahakuasa punya rencana berbeda untuk mereka—setidaknya itu yang dikatakan setiap dokter yang mereka datangi. Ada beberapa wanita—yang tak diketahui sang istri—yang menjadi selingan sang suami di tempat tidur. Karena itu, sang suami juga penasaran apakah ada lelaki lain di kehidupan sang istri selain dirinya.

Membaca cerpen-cerpen Maggie mengingatkan saya pada pernyataannya saat diwawancarai sebuah situs online beberapa tahun lalu: cerita yang baik adalah cerita yang sifatnya tidak kenal geografi dan tidak kenal waktu. Secara umum, cerpen-cerpen dalam buku ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan kita dari berbagai sudut pandang. Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dipahami—tidak berbelit dan tidak berbunga-bunga, hal itulah yang menjadi kekuatan dari cerpen-cerpennya.

Masing-masing cerita dalam buku ini merupakan sebuah bingkai yang memberitahu tentang apa artinya menjadi manusia biasa: yang sedih, senang, gamang, hidup, mati, gila, waras, dikhianati, dipercayai. Karakter-karakternya pun sangat kuat dan terlihat dewasa karena kejadian-kejadian yang mereka alami.

Sangat menyenangkan membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Maggie menghadirkan cerita yang sederhana dengan makna yang dalam pada setiap karyanya. Duncan Graham dari The Jakarta Post bahkan menyebutnya sebagai penulis global. Untuk yang haus akan karya-karya berkualitas, buku ini layak dibaca.
*
Judul : Balada Ching-Ching (dan balada lainnya)
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2010
Jumlah Halaman : 175 halaman
ISBN : 978-979-22-5828-8
**

Makassar, 7 Januari 2015
@dhilayaumil

[Review Buku] Surat untuk Ruth : Tentang Penulis yang Menyukai Senja

Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling jatuh cinta.

image

Saya mengenal nama Bernard Batubara—atau Benzbara atau Bara—kali pertama justru bukan dari karya-karyanya yang laris. Bahkan waktu itu saya tak tahu bahwa dia adalah seorang selebtwit. Hujan Panas dan Hantu Jaring-jaring-lah yang kali pertama mengenalkan saya pada penulis produktif ini. Cerpen yang dimuat dalam Mata : Jurnal Cerpen Indonesia edisi 12 cukup menarik dan berkesan bagi saya—mengingat saya masih terbayang ceritanya setelah setahun lalu saya baca. Menurut saya pribadi, cerpen-cerpen yang ia tulis sangat berbeda dengan novel-novelnya. Saya lebih suka cerpen-cerpennya dan tidak keberatan jika ada yang mengirimi kumpulan cerpen terbarunya. Hakhak. ^^

Saya pernah bertemu dengan Bara dalam sebuah kesempatan. Saat itu dia sudah menjadi selebtwit dengan jumlah pengikut ratusan ribu. Ia menjadi pembicara dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) dan saya menjadi salah satu volunteers, 2013 lalu. Pada salah satu momen sarapan pagi di hotel, saya sempat mengikuti perbincangannya dengan Agustinus Wibowo. Perbincangan singkat yang sangat seru tentunya. Bara memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia tulis-menulis dan perkembangan industri perbukuan. Pada satu kesempatan pula saya menyaksikan si penulis itu memborong buku-buku Sapardi Djoko Damono di bookstore yang disediakan di venue acara. Sempat saya mendengar ia berkata kepada SDD saat meminta tanda tangan, “Saya ngefans dengan Bapak”.

Surat untuk Ruth adalah novel kedua Benzbara yang saya baca, setelah sebelumnya Cinta.. Menggunakan sudut pandang orang pertama yang diwakilkan oleh seorang tokoh bernama Areno Adamar yang menulis surat kepada kekasihnya, Ruthefia Milana. Isi suratnya sebenarnya adalah semacam ziarah kenangan mereka, sebab yang ditulis tokoh Are tak lebih dari kejadian yang pernah mereka lalui bersama. Latar tempat yang dipakai dalam novel ini adalah Bali, Surabaya, dan Malang. Hmmm… tentunya juga sedikit sentuhan Jogja—yang merupakan tempat si tokoh—dan penulis—bekerja.

Sejujurnya, ada beberapa hal yang mengganjal saat saya membaca novel yang cukup tipis ini. Pertama, penggunaan konsep surat. Apakah bab pertama sampai seterusnya dalam novel ini adalah sebuah surat? Mengapa hanya pada bab akhir saja diberi keterangan tanggal? Jika surat ditulis untuk mengenang kembali saat-saat mereka bersama, tidakkah itu terlalu detail? Bagaimanapun Are menulis hal yang sudah terjadi sebelumnya. Bahkan sampai menuliskan kembali dialog-dialog yang tak penting. Ingatannya tentu sangat super. Belum lagi pada halaman 64 saat Are menceritakan tentang mimpinya. Sangat aneh bahwa Are dapat mengingat dan menghitung berapa lama kejadian di mimpinya.

Tiga puluh menit berikutnya kuhabiskan dengan menatap senja itu tanpa mengedipkan mata.

Sungguh ajaib Are bisa mengingat detail mimpinya lalu menuliskannya kembali dalam bentuk surat.

Kedua, penggunaan sudut pandang. Agak aneh pada halaman 133 menemukan ada bagian perbincangan antara Ayudita dengan tokoh Ruth. Mengapa tiba-tiba sudut pandangnya berubah menjadi–seperti–orang ketiga?

Ketiga, beberapa pengulangan informasi. Cukup bosan menemukan beberapa informasi yang sudah kaudapatkan di bab awal lalu muncul lagi di bab-bab selanjutnya. Sungguh. Misalnya tentang mimpi Are. Di bagian yang lain diulang dengan detail yang sama. Padahal dalam novel Cinta. saya tak menemukan hal semacam ini terjadi beberapa kali.

Keempat, karakter tokoh Ruth yang tidak kuat. Apa yang saya tangkap tentang sosok Are? Dia mungkin refleksi penulis itu sendiri. :p Menyukai fotografi, tinggal dan bekerja di Yogyakarta, berasal dari Pontianak, dan menyukai senja. Untuk yang terakhir, saya benar-benar yakin kalau penulis adalah seorang penganut Jama’ah Maghribiyah—meminjam istilah Mas Yayan Sopyan untuk penulis yang sering menghadirkan senja dalam karya-karyanya—terbukti dari sosok senja yang tak pernah absen dari karya Bara.

Lalu bagaimana sosok Ruth sendiri? Dia adalah seorang perempuan misterius. Jika banyak pertanyaan yang muncul tentang perempuan ini sepanjang saya membaca SUR, jawaban itu tak saya temukan sampai halaman terakhir buku ini. Sosok perempuan yang dibangun Are dalam suratnya tak begitu kuat, menurutku.

Namun, terlepas dari beberapa hal yang mengganjal tersebut, setidaknya ada beberapa hal juga yang membuat saya tertarik selama membaca novel setebal 168 halaman ini. Pertama, sampulnya. Hahaha. Di antara semua buku-buku Bara, saya paling suka sampul yang ini. Saya selalu suka segala hal yang berhubungan dengan surat-menyurat, dan sampul dengan surat berwarna biru itu cukup menarik.

Kedua, beberapa informasi menarik. Misalnya analogi pisau Victorinox dan penggambaran tempat-tempat di Bali yang deskripsinya tidak membuat saya bosan.

Ketiga, tokoh Bli Nugraha dan Ayudita. Entah mengapa saya lebih tertarik pada dua sosok tokoh ini. Tokoh Bli Nugraha lebih melekat bagi saya dibanding tokoh Are. Mungkin kelak Bara akan menulis sebuah cerpen khusus tentang kisah cinta lelaki Bali itu? Karakter Bli Nugraha muncul beberapa kali dan memberi peranan penting untuk tokoh Are itu sendiri. Bli Nugraha sendiri mengingatkan saya pada seorang penyair—dan penggiat malam puisi—asal Bali, Putu Aditya Nugraha—yang sangat diidolakan oleh seorang sahabat saya yang berpipi chubby.

image

Curhatan Bli Nugraha :p (hal. 34)

Keempat, ada satu bagian ketika Are bercerita tentang mitos Hantu Jaring-jaring di kampung halamannya di Pontianak. Hmmm… tidakkah Bara rindu menulis cerpen seperti itu lagi? Atau mungkin dia menulis, tapi saya belum sempat membacanya. Bagaimanapun saya adalah penyuka cerpen-cerpennya yang mengangkat mitos atau latar budaya daerah—apalagi daerah asalnya.

Well, Bara adalah salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif. Tahun 2013 saja tercatat beberapa karyanya yang dibukukan dalam jarak yang berdekatan: Cerpen ‘Kemenangan Apuk’ (Kumcer Singgah, 2013), Cerpen ‘Goa Maria’ (Kumpulan Tulisan Trough Darkness to Light, 2013), Kumcer Milana (2013), dan Cinta. (2013).
*

Judul: Surat untuk Ruth
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Editor: Siska Yuanita
Tahun terbit: April, 2014
Jumlah halaman: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-0413-7

**

Makassar, 5 Januari 2015
@dhilayaumil