[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

“Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.”

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

[Resensi Buku] The Old Man and The Sea : Belajar dari Santiago

picsart_01-08-06-38-391

The Old Man and The Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama delapan puluh empat hari berlayar tanpa mendapat satu ekor ikan pun sehingga ia dijuluki salao–bentuk terburuk dari keadaan sial. Si Lelaki Tua awalnya selalu ditemani Manolin, seorang bocah laki-laki yang sangat menyayangi Santiago. Sayangnya, orang tua si bocah pada empat puluh hari pertama melaut tanpa hasil tersebut menyuruh si bocah untuk pindah ke kapal lain dengan tangkapan yang besar dan banyak. Meski berat hati, si bocah tetap menuruti permintaan orang tuanya.

Kegagalan pada 84 hari berlayar tanpa hasil tersebut tak membuat Lelaki Tua menyerah. Pada hari kedelapan puluh lima ia memutuskan pergi berlayar sendiri demi menangkan seekor ikan yang besar. Bersama perahu dan layarnya, ia berangkat mengarungi laut luas demi menangkap seekor ikan yang besar.

“Setiap waktu adalah kesempatan baru dan ia tidak pernah memikirkan yang telah dikerjakannya pada masa lalu.” (Halaman 63)

Pada saat berlayar itulah ia akhirnya berhasil menangkap seekor ikan marlin yang besarnya bahkan dua kali lipat dari perahunya. Dengan usaha dan perlengkapan seadanya, ia ‘bertarung’ melawan ikan raksasa tersebut. Apa yang kemudian ia alami selanjutnya bukan hanya pertarungan melawan seekor ikan, melainkan pertarungan melawan dirinya sendiri, serta usaha untuk tetap menjaga ‘kewarasannya’.

*

The Old Man and The Sea bukan hanya cerita tentang kegagalan Santiago dalam 84 hari perlayaran tanpa ikan-nya, tetapi bagaimana dalam tiga hari pelayaran selanjutnya ia mengajarkan kepada para pembaca tentang kebijaksanaan, perjuangan, kesabaran, dan bagaimana menghadapi kegagalan pada masa lalu.

Continue reading

[Resensi Buku] The Girl on The Train : Kisah Muram Tiga Perempuan

Dua kali sehari aku disodori tawaran untuk melihat kehidupan orang lain, walau sekejap saja. Ada sesuatu yang melegakan ketika melihat orang-orang asing berada di rumah dengan aman.” (Halaman 2)

index

Gambar : Google

Buku yang terbit tahun 2015 ini menggunakan sudut pandang orang pertama dengan tiga pencerita: Rachel, seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, ditinggalkan oleh suami yang selingkuh, tidak stabil, dan seringkali mengalami memory blackout saat sedang mabuk. Megan, seorang istri dari lelaki yang posesif, mempunyai kecemasan yang tinggi dan susah tidur, serta memiliki rahasia masa lalu yang kelam. Anna, selingkuhan Tom—mantan suami Rachel—dan akhirnya menikah dengan Tom, memiliki seorang anak bernama Evie, merasa kehidupan keluarganya baik-baik saja jika saja mantan istri suaminya tidak pernah mengganggu mereka. Ketiga perempuan ini terhubung oleh satu peristiwa mengerikan.

Rachel merahasiakan tentang pekerjaannya kepada Cathy, teman yang bersedia ‘menampungnya’ di rumahnya. Maka dari itu, setiap hari ia harus ‘berpura-pura bekerja’, menaiki kereta komuter dari Ashbury menuju London dan sebaliknya agar Cathy tak curiga. Di komuter itulah ia sering memikirkan dan membayangkan banyak hal. Ia ‘memberikan cerita’ pada apa pun yang ia lihat. Gaun dan pita di sudut rel, rumah-rumah yang ia lihat, dan memberikan nama pada orang-orang. Di komuter itu pula Rachel memberi nama Jess dan Jason pada sepasang suami istri yang terlihat bahagia yang tinggal di pinggir perlintasan rel kereta. Pasangan suami istri yang tinggal di rumah nomor 15, hanya berjarak beberapa rumah dengan rumah nomor 23—rumah yang dulu ia tinggali bersama suaminya. Sebelum perempuan itu merusak segalanya.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan, yang lebih merusak, daripada kecurigaan.” (Halaman 351)

Keterlibatan ketiga perempuan tersebut dimulai saat berita hilangnya Megan Hipwell diumumkan. Rachel yang merasa sehari sebelum menghilangnya istri dari Scott Hipwell itu melihat sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya Megan kemudian melaporkan hal tersebut kepada polisi, berharap ‘kesaksiannya’ bisa membantu. Sayangnya, alih-alih dianggap membantu, Rachel dianggap mengacaukan penyelidikan. Kebiasaannya minum alkohol ditambah ia sering mengalami memory blackout saat mabuk membuat polisi menganggap ia kacau dan tidak stabil.

Akhirnya dengan berbagai cara ia membuat dirinya terlibat, termasuk dengan berbohong. Belum lagi tuduhan dari Anna yang mengatakan bahwa Rachel terlibat dalam hilangnya Megan Hipwell karena pada malam hilangnya Megan, Anna melihat Rachel berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka. Tentu saja Rachel tidak mengingat itu semua, sebab ia sedang dalam keadaan mabuk—ya, dia hampir tiap hari mabuk, sih.

Misteri hilangnya Megan Hipwell membuka rahasia-rahasia kelam yang disembunyikan beberapa tokoh dalam buku ini. Akankah Rachel berhasil ‘menemukan’ ingatan-ingatannya yang hilang saat Megan menghilang—juga ingatan lainnya di masa lalu? Rahasia apakah yang disembunyikan Megan? Ikuti kisah tiga perempuan yang terikat pada satu benang merah di buku ini.

*

 “Satu berarti peneritaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. Tiga berarti bocah perempuan. Aku tertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah. Tiga berarti bocah perempuan. Aku bisa mendengar burung-burung magpie itu, mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar. Kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari. Bukan burung-burung itu, tapi sesuatu yang lain. Seseorang datang. Seseorang bicara kepadaku. Kini lihatlah. Lihatlah apa yang terpaksa kulakukan karenamu.

Continue reading

[Resensi Buku] P.S. I Like You : P.S. Aku Menyukaimu. Sangat Menyukaimu

Kalau kau menginginkan hubungan romantis dengan seorang cowok, pertama-tama dia harus menganggapmu sebagai cewek misterius, lalu menarik, lalu lucu. Urutannya seperti itu. Kalau urutannya berbeda, kau akan diberi label teman untuk selamanya.”

picsart_12-25-08-02-271

Saat sedang melamun di kelas Kimia, Lily menuliskan sebaris lirik lagu favoritnya di meja. Hari berikutnya, dia menemukan seseorang telah melanjutkan lirik itu dan bahkan menulis pesan untuknya!

Tak lama, Lily dan sahabat pena misteriusnya itu mulai berbagi surat dan rahasia, saling memperkenalkan band favorit mereka, dan mulai terbuka satu sama lain. Bahkan, Lily mulai menyukai orang yang menulis surat-surat itu. Hanya saja, siapa dia?

Lily mencoba mencari tahu siapa teman misteriusnya, tapi siapkah dia mengetahui kebenarannya?

*

Maafkan saya, Mr. Ortega. Saya dan Kimia tidak saling memahami.”

Lily Abbott tidak begitu menyukai pelajaran Kimia. Saat pelajaran Mr. Ortega tersebut berjalan, Lily lebih sering menulis di buku catatannya dibanding mencatat materi yang diberikan oleh gurunya. Akibatnya, Mr. Ortega yang mungkin sudah lelah menghukumnya dengan melarang Lily megeluarkan buku catatan hijau-ungu favoritnya saat pelajaran Kimia. Ia hanya dibolehkan mencatat di selembar kertas.

Saat pelajaran Kimia berikutnya Lily harus bertahan untuk tidak tertidur atau mati kebosanan tanpa buku catatannya. Ia memilih menulis sebaris lirik dari band indie favoritnya di mejanya. Betapa terkejutya ketika keesokan harinya, di kelas Kimia, ada seseorang yang melanjutkan lirik tersebut. Itu memberi harapan pada gadis tersebut bahwa pelajaran Kimia selanjutnya akan sedikit menyenangkan.

Lily mulai bertukar pesan dengan sahabat pena misteriusnya. Mulai dari pesan yang ditulis dengan pensil di meja, sampai dengan surat-surat yang ditulis di kertas lalu diselipkan di bawah meja. Ia dan sahabat pena-nya bahkan mulai berbagi rahasia dan hal-hal pribadi. Lily bahkan berbagi tentang keinginannya menjadi penulis lagu. Mereka berbagi lagu-lagu favorit serta kosakata baru yang bisa membantu Lily menulis lirik lagu.

Kehidupan Lily di sekolah sebenarnya tidak bisa dibilang buruk—tapi bukan berarti dia siswa yang beruntung. Dia berpenampilan tidak seperti siswa ‘normal’ kebanyakan. Sedikit hipster, senang mendaur ulang baju yang dia beli di toko barang bekas, senang menjahit, lebih suka menulis dan menggambar di buku catatan daripada mengobrol dengan orang lain. Selera musiknya pun tidak seperti teman-temannya. Ia punya seorang sahabat bernama Isabel Gonzales dan menyukai diam-diam senior yang bernama Lucas Dunham.

Tak punya banyak teman bukan berarti dia tak punya musuh. Cade Jennings adalah satu-satunya orang yang tidak ia sukai sejak peristiwa yang membuatnya dapat julukan yang sama sekali tidak ia sukai. Mereka selalu saja saling sindir, kapan pun mereka bertemu. Cade sendiri adalah mantan pacar Isabel.

Lily harus menahan-nahan untuk tidak mencari tahu siapa sahabat pena misteriusnya yang mulai menarik hatinya. Ia membuat daftar dengan judul ‘Tersangka’ pada salah satu bagian di buku catatannya dan menulis beberapa kandidat orang yang mungkin saja adalah sahabat penanya. Bahkan Lucas ada dalam salah satu daftarnya.

Akankah Lily bertemu dengan sahabat pena-nya? Ataukah dia sebenarnya adalah orang yang Lily kenal? Akankah Lily menyelesaikan lirik lagunya? Ikuti kehidupan Lily di kelas Kimia, kantin sekolah, hingga di dalam rumah yang tidak pernah berada dalam kondisi ‘normal’.

*

picsart_12-25-08-15-011

Membaca P.S. I Like You karya Kasie West ini mengingatkan saya pada sensasi saat membaca Fangirl karya Rainbow Rowell (juga diterbitkan Penerbit Spring). Cath dan Lily sepertinya sedikit memiliki kepribadian yang mirip, meski Lily ini lebih hipster. Saya kadang senyum-senyum sendiri membayangkan kehidupan Lily. Pastinya seru jika memiliki sahabat pena, seseorang yang jadi tempat berkirim surat. Mungkin sensasinya mirip-mirip dengan saat berkenalan dengan teman di MiRC dulu. Oke, lupakan soal MiRC. Masa sekolah memang salah satu momen yang susah untuk dilupakan. Continue reading