[Review Buku] Balada Ching-Ching : Tentang Balada Penuh Makna

Jika kamu pembaca situs http://www.fiksilotus.com, pasti tidak asing dengan nama Maggie Tiojakin. Dialah yang menerjemahkan cerpen-cerpen klasik karya penulis dunia melalui situs gratis fiksilotus, dengan tujuan menyajikan lebih banyak lagi cerpen asing dalam bahasa Indonesia. Selain menerjemahkan, Maggie juga menulis cerpen, baik itu berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing yang diterbitkan di media-media nasional dan mancanegara seperti Asian News Network, The Boston Globe, Other Voices, La Petite Zine, The Jakarta Post, Kompas, dan beberapa media lainnya. Maggie juga menulis artikel dan novel.

Saat pertama kali membaca cerpen-cerpen fiksilotus, saya mengira kalau Maggie Tiojakin adalah seorang lelaki berkebangsaan asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Hahaha. Kemampuannya menerjemahkan cerpen-cerpen di fiksilotus banyak dipuji. Cerpen-cerpen yang ia terjemahkan sangat bagus, bahkan untuk sebagian orang, terjemahannya tidak meninggalkan ‘jiwa’ dan ‘cita rasa’ karya aslinya. Bukan hanya itu, ia juga tak jarang mengulas sebuah karya untuk didiskusikan bersama dengan para pembaca.

Balada Ching-Ching adalah karya Maggie yang kali pertama saya baca. Sebelumnya saya hanyalah penikmat hasil terjemahannya di fiksilotus. Buku ini memuat 13 cerpen yang beberapa di antaranya pernah terbit di beberapa media. Sebagian besar bahkan lebih dulu terbit dalam bahasa asing sebelum diterjemahkan olehnya. Secara umum, Balada Ching-Ching bercerita tentang pengalaman hidup. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang obsesif, dan lainnya. Seperti judulnya—Balada Ching-Ching: dan balada lainnya—buku ini menyajikan balada kehidupan sehari-hari.

image

Buku ini diawali dengan cerpen Anatomi Mukjizat. Bercerita tentang Malik, seorang pekerja medis di sebuah rumah sakit dan Suci, seorang pasien penderita kerusakan jantung kronis. Malik yang sering melihat mukjizat terjadi pada pasien-pasien yang ia jaga, juga berharap mukjizat datang untuk Suci: sebuah jantung baru.

Takdir, sama seperti muntahan lahar dari mulut gunung dan gulungan air laut yang membanjiri bumi, tidak membedakan korban-korbannya.”  (hal. 8)

Liana, Liana adalah salah satu cerpen favorit saya. Bercerita tentang Liana yang sedang menunggu ibunya yang–tidak seperti biasa–terlambat pulang ke rumah. Saking khawatirnya, berbagai pikiran mulai berputar di kepalanya. Beberapa skenario buruk pun terangkai tentang alasan keterlambatan ibunya. Belum lagi kekhawatirannya semakin besar saat ia melihat headline sebuah surat kabar tentang kecelakaan lalu lintas di alan tol yang menewaskan seorang wanita. Cerpen ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kekuatan sebuah pikiran. Bagaimana pikiran buruk bisa membuat sesuatu yang tadinya baik-baik saja, jadi terlihat tidak baik-baik saja.

Balada Ching-Ching yang juga dijadikan judul buku ini, bercerita tentang seorang gadis keturunan bernama Ching-Ching. Menjadi etnis minoritas di sekolah membuat ia sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya. Belum lagi sikap ayahnya—yang seorang pedagang kwetiau pinggir jalan—yang keras dan menganggap Ching-Ching tak bisa melakukan apa-apa membuat gadis 15 tahun itu tertekan. Balada kehidupan gadis remaja itulah yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini.

Cerpen terpanjang—mengambil 52 halaman—dalam buku ini, Dua Sisi, mengisahkan tokoh bernama Andari—pemuda Indonesia yang sedang bekerja di New York—yang menyaksikan sendiri bagaimana runtuhnya menara kembar WTC. Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Aysha, seorang gadis Beirut—Libanon, yang saat pertemuan pertama mereka melontarkan kalimat yang membuat Andari bergidik ngeri. ‘Sudah saatnya negeri ini mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya terhadap orang lain’. Andari yang membenci kekerasan dengan alasan apapun bertemu dengan gadis pemilik banyak luka akibat masa lalunya yang menyedihkan di Beirut.

image

Sesuai judulnya, cerpen ini mencoba memberitahukan kepada pembaca bagaimana melihat sebuah peristiwa dari kacamata yang berbeda. Dua sisi: Andari dan Aysha. Hebatnya lagi adalah sikap penulis yang sama sekali tidak menggiring pembaca untuk memihak salah satu sisi. Melalui bahasa dan penyampaian yang mengalir membuat kisah ini terkesan nyata. Akhir yang mengejutkan juga menjadikan cerpen ini semakin menarik.

“Semua orang menanti dengan mata nanar di depan televisi, menunggu pemimpin mereka mengucapkan apa yang ingin mereka dengar: balas dendam.” (halaman 55)

Cerpen lain berjudul Suami-Istri berkisah tentang sepasang suami istri yang sudah hidup berumah tangga selama 32 tahun. Saat ulang tahun sang istri yang ke-56, suami menghadiahi makan malam mewah dan seuntai kalung emas. Kehidupan mereka baik-baik saja meskipun selama 32 tahun hidup bersama belum juga dikaruniai seorang keturunan. Segala cara sudah mereka lakukan. Tak ada masalah pada diri mereka, hanya saja mungkin Yang Mahakuasa punya rencana berbeda untuk mereka—setidaknya itu yang dikatakan setiap dokter yang mereka datangi. Ada beberapa wanita—yang tak diketahui sang istri—yang menjadi selingan sang suami di tempat tidur. Karena itu, sang suami juga penasaran apakah ada lelaki lain di kehidupan sang istri selain dirinya.

Membaca cerpen-cerpen Maggie mengingatkan saya pada pernyataannya saat diwawancarai sebuah situs online beberapa tahun lalu: cerita yang baik adalah cerita yang sifatnya tidak kenal geografi dan tidak kenal waktu. Secara umum, cerpen-cerpen dalam buku ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan kita dari berbagai sudut pandang. Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dipahami—tidak berbelit dan tidak berbunga-bunga, hal itulah yang menjadi kekuatan dari cerpen-cerpennya.

Masing-masing cerita dalam buku ini merupakan sebuah bingkai yang memberitahu tentang apa artinya menjadi manusia biasa: yang sedih, senang, gamang, hidup, mati, gila, waras, dikhianati, dipercayai. Karakter-karakternya pun sangat kuat dan terlihat dewasa karena kejadian-kejadian yang mereka alami.

Sangat menyenangkan membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Maggie menghadirkan cerita yang sederhana dengan makna yang dalam pada setiap karyanya. Duncan Graham dari The Jakarta Post bahkan menyebutnya sebagai penulis global. Untuk yang haus akan karya-karya berkualitas, buku ini layak dibaca.
*
Judul : Balada Ching-Ching (dan balada lainnya)
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2010
Jumlah Halaman : 175 halaman
ISBN : 978-979-22-5828-8
**

Makassar, 7 Januari 2015
@dhilayaumil

Advertisements