[Review Buku] Surat untuk Ruth : Tentang Penulis yang Menyukai Senja

Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling jatuh cinta.

image

Saya mengenal nama Bernard Batubara—atau Benzbara atau Bara—kali pertama justru bukan dari karya-karyanya yang laris. Bahkan waktu itu saya tak tahu bahwa dia adalah seorang selebtwit. Hujan Panas dan Hantu Jaring-jaring-lah yang kali pertama mengenalkan saya pada penulis produktif ini. Cerpen yang dimuat dalam Mata : Jurnal Cerpen Indonesia edisi 12 cukup menarik dan berkesan bagi saya—mengingat saya masih terbayang ceritanya setelah setahun lalu saya baca. Menurut saya pribadi, cerpen-cerpen yang ia tulis sangat berbeda dengan novel-novelnya. Saya lebih suka cerpen-cerpennya dan tidak keberatan jika ada yang mengirimi kumpulan cerpen terbarunya. Hakhak. ^^

Saya pernah bertemu dengan Bara dalam sebuah kesempatan. Saat itu dia sudah menjadi selebtwit dengan jumlah pengikut ratusan ribu. Ia menjadi pembicara dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) dan saya menjadi salah satu volunteers, 2013 lalu. Pada salah satu momen sarapan pagi di hotel, saya sempat mengikuti perbincangannya dengan Agustinus Wibowo. Perbincangan singkat yang sangat seru tentunya. Bara memiliki pengetahuan yang luas tentang dunia tulis-menulis dan perkembangan industri perbukuan. Pada satu kesempatan pula saya menyaksikan si penulis itu memborong buku-buku Sapardi Djoko Damono di bookstore yang disediakan di venue acara. Sempat saya mendengar ia berkata kepada SDD saat meminta tanda tangan, “Saya ngefans dengan Bapak”.

Surat untuk Ruth adalah novel kedua Benzbara yang saya baca, setelah sebelumnya Cinta.. Menggunakan sudut pandang orang pertama yang diwakilkan oleh seorang tokoh bernama Areno Adamar yang menulis surat kepada kekasihnya, Ruthefia Milana. Isi suratnya sebenarnya adalah semacam ziarah kenangan mereka, sebab yang ditulis tokoh Are tak lebih dari kejadian yang pernah mereka lalui bersama. Latar tempat yang dipakai dalam novel ini adalah Bali, Surabaya, dan Malang. Hmmm… tentunya juga sedikit sentuhan Jogja—yang merupakan tempat si tokoh—dan penulis—bekerja.

Sejujurnya, ada beberapa hal yang mengganjal saat saya membaca novel yang cukup tipis ini. Pertama, penggunaan konsep surat. Apakah bab pertama sampai seterusnya dalam novel ini adalah sebuah surat? Mengapa hanya pada bab akhir saja diberi keterangan tanggal? Jika surat ditulis untuk mengenang kembali saat-saat mereka bersama, tidakkah itu terlalu detail? Bagaimanapun Are menulis hal yang sudah terjadi sebelumnya. Bahkan sampai menuliskan kembali dialog-dialog yang tak penting. Ingatannya tentu sangat super. Belum lagi pada halaman 64 saat Are menceritakan tentang mimpinya. Sangat aneh bahwa Are dapat mengingat dan menghitung berapa lama kejadian di mimpinya.

Tiga puluh menit berikutnya kuhabiskan dengan menatap senja itu tanpa mengedipkan mata.

Sungguh ajaib Are bisa mengingat detail mimpinya lalu menuliskannya kembali dalam bentuk surat.

Kedua, penggunaan sudut pandang. Agak aneh pada halaman 133 menemukan ada bagian perbincangan antara Ayudita dengan tokoh Ruth. Mengapa tiba-tiba sudut pandangnya berubah menjadi–seperti–orang ketiga?

Ketiga, beberapa pengulangan informasi. Cukup bosan menemukan beberapa informasi yang sudah kaudapatkan di bab awal lalu muncul lagi di bab-bab selanjutnya. Sungguh. Misalnya tentang mimpi Are. Di bagian yang lain diulang dengan detail yang sama. Padahal dalam novel Cinta. saya tak menemukan hal semacam ini terjadi beberapa kali.

Keempat, karakter tokoh Ruth yang tidak kuat. Apa yang saya tangkap tentang sosok Are? Dia mungkin refleksi penulis itu sendiri. :p Menyukai fotografi, tinggal dan bekerja di Yogyakarta, berasal dari Pontianak, dan menyukai senja. Untuk yang terakhir, saya benar-benar yakin kalau penulis adalah seorang penganut Jama’ah Maghribiyah—meminjam istilah Mas Yayan Sopyan untuk penulis yang sering menghadirkan senja dalam karya-karyanya—terbukti dari sosok senja yang tak pernah absen dari karya Bara.

Lalu bagaimana sosok Ruth sendiri? Dia adalah seorang perempuan misterius. Jika banyak pertanyaan yang muncul tentang perempuan ini sepanjang saya membaca SUR, jawaban itu tak saya temukan sampai halaman terakhir buku ini. Sosok perempuan yang dibangun Are dalam suratnya tak begitu kuat, menurutku.

Namun, terlepas dari beberapa hal yang mengganjal tersebut, setidaknya ada beberapa hal juga yang membuat saya tertarik selama membaca novel setebal 168 halaman ini. Pertama, sampulnya. Hahaha. Di antara semua buku-buku Bara, saya paling suka sampul yang ini. Saya selalu suka segala hal yang berhubungan dengan surat-menyurat, dan sampul dengan surat berwarna biru itu cukup menarik.

Kedua, beberapa informasi menarik. Misalnya analogi pisau Victorinox dan penggambaran tempat-tempat di Bali yang deskripsinya tidak membuat saya bosan.

Ketiga, tokoh Bli Nugraha dan Ayudita. Entah mengapa saya lebih tertarik pada dua sosok tokoh ini. Tokoh Bli Nugraha lebih melekat bagi saya dibanding tokoh Are. Mungkin kelak Bara akan menulis sebuah cerpen khusus tentang kisah cinta lelaki Bali itu? Karakter Bli Nugraha muncul beberapa kali dan memberi peranan penting untuk tokoh Are itu sendiri. Bli Nugraha sendiri mengingatkan saya pada seorang penyair—dan penggiat malam puisi—asal Bali, Putu Aditya Nugraha—yang sangat diidolakan oleh seorang sahabat saya yang berpipi chubby.

image

Curhatan Bli Nugraha :p (hal. 34)

Keempat, ada satu bagian ketika Are bercerita tentang mitos Hantu Jaring-jaring di kampung halamannya di Pontianak. Hmmm… tidakkah Bara rindu menulis cerpen seperti itu lagi? Atau mungkin dia menulis, tapi saya belum sempat membacanya. Bagaimanapun saya adalah penyuka cerpen-cerpennya yang mengangkat mitos atau latar budaya daerah—apalagi daerah asalnya.

Well, Bara adalah salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif. Tahun 2013 saja tercatat beberapa karyanya yang dibukukan dalam jarak yang berdekatan: Cerpen ‘Kemenangan Apuk’ (Kumcer Singgah, 2013), Cerpen ‘Goa Maria’ (Kumpulan Tulisan Trough Darkness to Light, 2013), Kumcer Milana (2013), dan Cinta. (2013).
*

Judul: Surat untuk Ruth
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Editor: Siska Yuanita
Tahun terbit: April, 2014
Jumlah halaman: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-0413-7

**

Makassar, 5 Januari 2015
@dhilayaumil

Advertisements