[Resensi Buku] The Old Man and The Sea : Belajar dari Santiago

picsart_01-08-06-38-391

The Old Man and The Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua dari Kuba yang selama delapan puluh empat hari berlayar tanpa mendapat satu ekor ikan pun sehingga ia dijuluki salao–bentuk terburuk dari keadaan sial. Si Lelaki Tua awalnya selalu ditemani Manolin, seorang bocah laki-laki yang sangat menyayangi Santiago. Sayangnya, orang tua si bocah pada empat puluh hari pertama melaut tanpa hasil tersebut menyuruh si bocah untuk pindah ke kapal lain dengan tangkapan yang besar dan banyak. Meski berat hati, si bocah tetap menuruti permintaan orang tuanya.

Kegagalan pada 84 hari berlayar tanpa hasil tersebut tak membuat Lelaki Tua menyerah. Pada hari kedelapan puluh lima ia memutuskan pergi berlayar sendiri demi menangkan seekor ikan yang besar. Bersama perahu dan layarnya, ia berangkat mengarungi laut luas demi menangkap seekor ikan yang besar.

“Setiap waktu adalah kesempatan baru dan ia tidak pernah memikirkan yang telah dikerjakannya pada masa lalu.” (Halaman 63)

Pada saat berlayar itulah ia akhirnya berhasil menangkap seekor ikan marlin yang besarnya bahkan dua kali lipat dari perahunya. Dengan usaha dan perlengkapan seadanya, ia ‘bertarung’ melawan ikan raksasa tersebut. Apa yang kemudian ia alami selanjutnya bukan hanya pertarungan melawan seekor ikan, melainkan pertarungan melawan dirinya sendiri, serta usaha untuk tetap menjaga ‘kewarasannya’.

*

The Old Man and The Sea bukan hanya cerita tentang kegagalan Santiago dalam 84 hari perlayaran tanpa ikan-nya, tetapi bagaimana dalam tiga hari pelayaran selanjutnya ia mengajarkan kepada para pembaca tentang kebijaksanaan, perjuangan, kesabaran, dan bagaimana menghadapi kegagalan pada masa lalu.

Continue reading

Advertisements

[Catatan Buku] Aku dan Buku : Tentang Mimpi yang Semakin Menyala

Bahagia itu sederhana.

Berada di tengah-tengah tumpukan buku dan orang yang mencintai buku, misalnya.

PhotoGrid_1453989837694

Perkenalan saya dengan buku dimulai saat berumur kurang lebih tiga tahun. Waktu itu Ibu dan Ayah mulai mengenalkan buku-buku dongeng dan kisah nabi dan rasul untuk saya dan kakak yang umurnya terpaut satu tahun dengan saya. Karena saat itu saya belum lancar membaca, maka saya lebih suka dibacakan atau menikmati gambar-gambar dalam buku.

Salah satu buku favorit ketika saya masih kecil adalah Seri Lumba-Lumba Kecil yang terdiri dari empat buku. Gambar-gambar di dalamnya penuh warna dan menarik minat jiwa kanak-kanak saya. Buku bergambar lumba-lumba warna-warni di tiap sampulnya itulah yang begitu membekas di benak saya hingga kini. Saya mungkin lupa ekspresi saat membaca buku itu, tapi saya tidak lupa bagaimana kebahagiaan itu bertahan sampai sekarang.

Tentang Lumba-Lumba Warna-Warni dan Kebahagiaan Masa Kecil pernah saya tulis di sini.

Beranjak remaja, buku-buku yang saya baca mulai sedikit bertambah. Dari yang dulunya hanya membaca dongeng, kisah nabi dan rasul, serial detektif dan komik, saya mulai membaca buku-buku seperti Harry Potter, novel remaja berlabel ‘teenlit’, buku-buku detektif seperti Dan Brown dan Sherlock Holmes, buku-buku angkatan Balai Pustaka, buku-buku ‘dewasa’ seperti Mira W. dan Agnes Jessica, serta novel-novel pop lokal dan terjemahan. Saat itu saya sangat haus bacaan, segala koleksi buku di perpustakaan saya lahap. Apalagi dulu uang jajan saya tidak cukup untuk membeli buku—tidak sebanding dengan nafsu membaca dan waktu luang yang cukup banyak.

Memasuki bangku kuliah, nafsu membaca saya semakin meningkat. Sayangnya koleksi di perpustakaan kampus saya sangaaat kurang referensi buku fiksi. Untungnya di dekat kampus saya ada penyewaan komik dan novel. Akhirnya saya mendaftar anggota dan tiap tiga hari sekali saya ke tempat tersebut untuk mengembalikan dan meminjam buku. Alhamdulillah saat awal-awal kuliah saya sudah bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku. Continue reading

[Review Buku] Danur : Sahabat Beda Dunia

image

Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya…. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima hantu anak Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick–dua sahabat yang sering berkelahi–alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Jahnsen.

Jauh dari kehidupan ‘normal’ adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang….”

*

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu penulis itu sendiri, Risa Saraswati. Bercerita tentang pengalaman Risa yang sejak kecil dapat melihat hal-hal yang kasat mata dan tidak semua orang dapat merasakannya. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan ‘hantu’. Pengalaman sejak Risa kecil sampai dewasa itu ditulis dalam berbagai bagian dengan gaya bercerita yang sesuai dengan umur saat Risa mengalaminya. Dalam satu bagian tokoh aku adalah Risa yang memakai seragam SD, bagian lain adalah aku yang seorang remaja, bahkan saat Risa sudah memasuki usia dewasa.

Buku ini boleh bercerita tentang persahabatan tidak biasa antara manusia dan hantu-hantu. Tapi buku ini sama sekali tidak horor, mencekam, apalagi menakutkan. Sebagian besar bercerita tentang bagaimana Risa bertemu dengan hantu-hantu yang di antaranya lalu menjadi sahabat-sahabatnya–sampai sekarang, bagaimana cara hantu-hantu tersebut mati, atau hantu-hantu yang datang meminta pertolongan padanya.

Uniknya, kadang Risa memosisikan diri sebagai si hantu dengan mengubah sudut pandang berceritanya. Tak jarang pula Risa ‘curhat’ kepada pembacanya bagaimana tertekannya memiliki kemampuan seperti yang dimilikinya. Apalagi saat hantu-hantu yang mendatanginya menunjukkan wajah asli mereka, wajah mengerikan.

Yang mengejutkan adalah, ternyata beberapa kali tokoh aku melakukan percobaan bunuh diri hanya agar dapat bergabung dengan ‘teman-temannya’.

Selain cerita kelima sahabat kecilnya–Peter, Hans, Hendrick, William, dan Jahnsen–cerita lainnya yang menarik adalah cerita tiga hantu perempuan cantik berumur sekitar 19-22 tahun yang juga ‘menghuni’ rumahnya. Elizabeth, Sarah, dan Teddy. Mereka adalah hantu-hantu yang jatuh cinta dengan manusia, anak pemilik rumah–yang salah satu di antara ketiga lelaki itu adalah ayah Risa.

“Kau tahu kan apa itu danur? Itu adalah air berbau busuk yang keluar dari mayat yang mulai membusuk.” -halaman 181-

Sampai buku ini selesai saya baca, saya masih bertanya-tanya tentang satu hal. Mengapa hantu-hantu yang mendominasi cerita Risa adalah hantu-hantu Belanda? Apakah Risa lebih ‘diminati’ oleh hantu bule daripada hantu lokal? :p

Baru-baru ini Risa Saraswati menjadi salah satu partisipan dalam kegiatan Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) 2015 yang diadakan di Benteng Jumpandang (Fort Rotterdam). Dalam salah satu kesempatan lagi-lagi Mbak Risa menunjukkan ‘kemampuannya’. Selain menperkenalkan ‘teman-teman Belanda-nya’, ia juga ‘bercakap’ dengan beberapa ‘penghuni’ benteng. Hihihi.

Meskipun menurut saya buku ini bukan genre bacaan saya, tapi saya cukup terhibur dengan cerita-cerita penulis tentang teman-teman hantunya. Terlepas dari cerita itu benar-benar nyata ataukah sekadar karangan penulis. Nah, buat kalian yang mau mencoba cerita yang sedikit berbeda dan unik, silakan baca Danur.
**

Judul buku: DANUR | Penulis: Risa Saraswati | Penerbit: Bukune | Editor: Syafial Rustama | Proof Reader: Dewi Fita | Tahun terbit: 2011 (Cetakan ke-5, 2014) | Jumlah halaman: 216 halaman | ISBN: 602-220-019-9

-dhilayaumil-

[Review Buku] KAMU: Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Identitas Buku
Judul : KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Penulis : Sabda Armandio
Penyunting : Dea Anugrah
Penerbit : Moka Media
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm. : viii + 348 Halaman
ISBN : 979-795-961-9

PicsArt_1432280900578[1]

Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Apa yang terpikirkan saat temanmu mengajak bolos sekolah hanya untuk mencari sendok yang tertukar di tukang bakso? Atau bagaimana jika kamu yang terbiasa melihat kaos bertuliskan ‘Save Earth’ atau ‘Save Orang Utan’ justru bertemu orang utan yang memakai kaos bertuliskan ‘Save Human’? Lalu bagaimana reaksimu saat pacarmu tiba-tiba meminta putus karena dia hamil dengan lelaki lain?

Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) dibuka dengan cerita tokoh utama, yaitu ‘aku’—pemuda berumur 27 tahun—yang baru saja menempati kamar kontrakan dan mengenang beberapa kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Di antaranya tentang jarinya yang kini tinggal tujuh dan orang tuanya yang meninggal dalam kebakaran beberapa tahun silam.

Cerita selanjutnya adalah ketika tokoh ‘Aku’ mengenang masa 10 tahun lalu, saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Petualangan selama tiga hari yang diceritakan ‘aku’ inilah yang akan mengajak pembaca merasakan keresahan penulis yang dituangkan dalam buku setebal 348 halaman ini.

Mengambil latar kota Bogor, cerita yang terjadi selama tiga hari ini dimulai ketika ‘Kamu’ yang merupakan teman sekolah ‘Aku’ mengajak bolos sekolah untuk membantunya mencari sendok yang tertukar juga menemani Kamu untuk mengantar titipan dari Ayah Kamu. Dalam perjalanan mengantarkan titipan itulah Aku mengalami pengalaman yang absurd. Mereka harus berhenti di tengah jalan karena Bogor sedang diserang Badai Monyet Parit. Mereka lalu melewati jalan pintas berupa gorong-gorong yang membawa ke suatu tempat dan bertemu dengan kawanan orang utan yang bisa berbicara. Di bagian ini penulis tampaknya ingin menghadirkan konsep hubungan antara manusia dan alam serta manusia dengan makhluk lainnya.

Buat apa alam diselamatkan? Lagipula diselamatkan dari siapa? Alam selalu bisa menjaga diri, ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Pohon dan rumput akan tetap tumbuh meski kita tak ada. Justru kita yang harus saling menyelamatkan, bukan?

Peristiwa aneh tersebut berlanjut saat mereka sampai di rumah Kek Su yang menjadi tujuan mereka. Kek Su digambarkan memiliki kebiasaan unik. Ia gemar melukis dan hanya memiliki satu buah mata. Ia melukis satu buah mata—yang tampak seperti mata asli—lagi untuk melengkapi kedua buah matanya.

Hari kedua tokoh Aku mendapat ajakan bolos lagi. Kali ini dari ‘Mantan Pacarku’ yang minta ditemani ke dokter kandungan. Konon kabarnya si Mantan Pacar ini hamil oleh pria lain. Saat berada di kafe dengan Si Mantan Pacar, tokoh Aku bertemu dengan seorang pesulap yang memberikan kartu nama aneh kepadanya. Seorang pesulap yang tertelan oleh topinya sendiri.

Hari ketiga, tokoh Aku lagi-lagi membolos. Kali ini ia mendapat ajakan bolos dari siapa? Nah, silakan baca sendiri bukunya. ^^

*

Novel Kamu berisi banyak hal absurd, unik, dan ganjil—alih-alih disebut surealis. Penulis, lewat beberapa tokohnya seakan menceritakan tentang keresahan-keresahannya terhadap beberapa hal. Selain tokoh Aku, Kamu, Mantan Pacar, ada juga tokoh Perempuan Teman Sekelas, Permen, Kek Su, dan Johan yang masing-masing karakter membawa pesan sendiri terhadap keresahan-keresahan yang coba diungkapkan penulis dalam bukunya. Melalui narasi yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dalam tulisannya, penulis mencoba mengkritik beberapa hal.

Seseorang yang bertuhan seharusnya membangun jembatan, bukan dinding. Membangun tanah lapang, bukan menara. Sebab keimanan seharusnya menghubungkan, bukan membatasi. Meluas, bukan meninggi.” (halaman 75)

Televisi menyiarkan berita korupsi yang terjadi dalam persiapan Ujian Nasional. Lucu sekali. Sekolah menekankan betapa buruknya mengambil hak orang lain. Namun, tak bisa mencegah orang-orang dalam sistem pendidikan melakukannya.” (halaman 201)

Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang secara emosional datar-datar saja. Tidak memiliki selera humor, dan bereaksi sama terhadap semua hal yang dialaminya. Saat tiga jarinya harus tanggal, saat orang tuanya meninggal akibat kebakaran, diajak putus dia setuju, diberitahu kalau mantannya hamil anak orang lain dia biasa saja, tidak diberitahu bapak si jabang bayi dia tak masalah. Tokoh aku digambarkan tak pernah marah pun tak pernah sedih. Datar-datar saja.

Marah nggak akan mengubah apa yang sudah terjadi, kan? Aku nggak mau direpotkan dengan perasaan seperti itu. Marah terhadap pilihan orang lain itu merepotkan, karena secara nggak langsung aku harus memikirkannya terus-menerus. Rasanya seperti membawa neraka kecil di pundak, dan aku harus membawanya ke mana-mana.” (halaman 212)

Tokoh Kamu, memiliki selera humor yang sama ganjilnya dengan tokoh Aku, digambarkan sebagai orang yang paling dekat dengan tokoh Aku. Tapi, dalam sebuah part, tokoh Aku menjelaskan hubungannya dengan Kamu. ‘Bukan sahabat, bukan juga musuh. Sama saja. Aku senang menghabiskan waktu dengannya, akan tetapi bukan masalah besar jika ia tak ada. Kurasa ia pun berpikir demikian’. Tokoh Kamu dan tokoh Aku seperti satu jiwa dalam dua raga. Kadang-kadang keduanya memiliki ‘suara’ yang sama dalam memandang beberapa hal. Anak SMA hobi mengisap ganja dan minum-minum, yang senang membahas hal-hal kurang penting dan menjadikannya menarik untuk disimak.

Ada juga tokoh Permen, perempuan yang—konon—ditaksir oleh Kamu. Lewat tokoh Permen, Johan, dan seorang teman Permen penulis mencoba mengkritisi sistem pendidikan khususnya yang terjadi di negeri ini. Melalui tokoh Perempuan Teman Sekelas, penulis ingin sedikit menyinggung apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Lalu lewat tokoh Mantan Pacar, penulis tampaknya ingin mencoba menghadirkan tema ‘Anak Sekolah yang Hamil di Luar Nikah, tapi Tetap Ingin Sekolah’.

Menurutku jatuh cinta itu nggak indah-indah amat. Kau buka hatimu supaya seseorang masuk ke dalam, kau jaga dia agar betah dan sehat, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti memelihara orang lain dalam tubuh sendiri. Sialnya, kau nggak punya perangkat untuk sepenuhnya memahami orang lain.” (halaman 279)

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya sebagai pembaca—alih-alih disebut kekurangan—adalah pada beberapa tokoh saya masih mendapati keseragaman ‘suara’. Entah itu tokoh Aku dengan tokoh Kamu yang kadang-kadang susah dibedakan ‘suaranya’. Atau saat detektif polisi yang menyamar sebagai pedagang bakso sedang membahas soal kehilangan dengan tokoh Aku dan Kamu.

Di dunia ini tak ada yang hilang. segala sesuatu yang tidak ada di tempat semula, kan, hanya berpindah tempat. Kalau dicari terus mungkin akan ketemu, tapi buat apa? Biar saja begitu. Tadinya ada, lalu tidak ada. Seperti mimpi. Orang-orang lahir dan mati, benda-benda diciptakan, lalu rusak, dan dibuang. Tak perlu disesali. Biar saja. Segalanya baik dan tidak ada yang terluka.” (halaman 153)

Selain itu, ada beberapa kata yang tidak dipisahkan dengan spasi, jadi dua kata bersambung. Meskipun tidak terlalu mengganggu, tapi cukup mengalihkan perhatianku *duh. Ada pula satu kata yang tidak sesuai ejaan: frustasi yang harusnya ‘frustrasi’ (halaman 278).

Pada akhirnya, Sabda Armandio melalui hal-hal absurd dalam buku ini memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk pembacanya. Penulis menularkan keresahan-keresahannya kepada para pembacanya. KAMU tidak menawarkan hal apa-apa. Seperti dalam buku yang sering dibaca tokoh Aku, ‘Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik’, tak ada bagian terbaik dalam buku ini. Tapi justru itulah yang membuat buku ini menarik untuk dibaca dan dikulik.

*

Setelah permainan berakhir, raja dan bidak masuk ke kotak yang sama.”

Seperti bahagia, tidak bahagia pun sederhana. Dan keduanya tetap masuk kotak yang sama setelah semuanya selesai. Sama saja.

-dhilayaumil-

[Review Buku]: 1984 – Peringatan Orwell dan Pasifitas Masyarakat Modern

wpid-img-20150404-wa0008.jpg

(pict by Riko)

Perang adalah Damai
Kebodohan adalah Kekuatan
Kebebasan adalah Perbudakan

Dengan slogan-slogan tersebut 1984 melejit menjadi novel yang mengangkat tema distopyan di pertengahan abad 20. Diterbitkan tahun 1949, dari tahun yang tidak begitu jauh dari selesainya perang dunia II, 1984 tidak serta merta menjadi novel yang secara keseluruhan memakai setting futurisme sebagai identitas. Kala itu Inggris sedang berada pada masa kelam, kelaparan dan kemiskinan akibat perang, kondisi dunia yang pernah berada di tangan para diktator macam Staline, Fuhrer, membawa pemikiran Orwell akan ketakutan bahwa dunia akan dibawa ke penjara totalitarianisme selama paham-paham diktator dan komunis masih meraja.

*

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Parta meski jauh di dalam hati dan pikirannyabersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyuran.

*

Novel ini juga membawa visi gelap tentang masa depan yang akan segera hadir di dunia, menjadi peringatan bahayanya pemerintahan totalitarian yang didukung teknologi tinggi. Orwell dengan sangat baik menggambarkan sebuah dunia yang telah hancur akibat nuklir dan kemiskinan, dunia barat jatuh ke bawah kaki pemerintahan diktator totaliter sosialis : Bung Besar. Pemerintahan yang dijalankan bukan oleh seorang yang tampak secara virtual, tapi oleh sebuah perasaan ketidaknyamanan publik akibat pengawasan yang terus menerus dan menghilangkan privasi individu.

Partai penguasa, telah sempurna menggunakan teknologi tinggi untuk memonitor setiap gerak hidup populasi di bawahnya, membuatnya tunduk dengan pengawasa, propaganda, dan cuci otak. Tetapi di samping itu semua yang paling brilian tentu adalah Newspeak. Newspeak adalah proyek pemerintah yang mendekonstruksi kata-kata dalam bahasa sehari-hari (dalam novel ini bahasa inggris) menjadi Newspeak, atau bahasanya para anggota partai penguasa. Setiap edisi baru, Newspeak akan menampilkan deretan kata-kata yang jumlahnya semakin sedikit dari sebelumnya. Beberapa kata yang mengadung makna subversif, pemberontakan, perlawanan, revolusi, atau yang menghadirkan pemikiran-pemikiran untuk melawan kekuatan penguasa akan dihilangkan. Tanpa adanya kata-kata atau bahasa untuk mengekspresikan rasa ketidaknyamanan, perlawanan, revolusi, maka pemberontakan atau revolusi itu tidak akan pernah ada. Bagi mereka yang masih ngotot ingin melawan (akan disebut penjahat pikiran) Pasukan pengamanan partai atau polisi pikiran akan segera bertindak menngintervensi, menangkap, dan memasukkan para pemikir bebas itu ke dalam Kementrian Cinta Kasih, di mana mereka akan dicuci otaknya atau mungkin malah lebih parah.

Teknologi tinggi yang dipakai penguasa adalah hadirnya Teleskrin. Televisi interaktif dua arah, yang selalu mengawasi setiap gerak gerik masyarakat dan tidak dapat dimatikan selama 24 jam penuh. Tak ada yang pernah tahu siapa atau apa yang ada di balik teleskrin-teleskrin yang tersebar itu. Entah manusia, ataukah mesin. Hanya para petinggi partai yang punya hak untuk mematikan teleskrinnya itu untuk beberapa waktu.

Bayangkan kamu hidup di suatu negara di mana apa yang harus kita pikirkan pun di atur. Berpikir untuk berontak pun sudah termasuk tindak kejahatan. Apa yang harus kita terima sudah diatur. Bahasa yang keluar pun udah diatur. Sejarah pun diubah seenak penguasa.

Winston Smith, adalah seorang anggota partai kelas bawah, pekerjaannya menulis ulang arsip-arsip dari London Times agar konsisten dengan kebijakan gaya bahasa newspeak. Saat partai mengubah kebijakan politiknya ketika beraliansi dengan negara lain dan mengobarkan perang kepada mantan aliansi sebelumnya, tugas Winston adalah menulis ulang sejarah bahwa sejak dulu Oceania tidak pernah memiliki aliansi dengan negara yang kini berperang dengannya. Keadaan tersebut diperparah oleh orang-orang yang ia temui, yang tak pernah menyadari bahwa berbagai perubahan telah dilakukan. Winston yang bertransformasi menjadi penjahat pikiran karena kegundahannya akan sesuatu yang tidak beres di sini merasa kesepian tapi sedikit demi sedikit ia mulai memahami manipulasi berbahaya macam apa yang telah disuntikkan ke dalam kesadaran masyarakat.

Maka ia menjadi korban berikutnya bagi kebijakan pemerintah. Winston mulai mempelajari sebuah kopian buku yang telah lama dibredel karena dianggap mengobarkan semangat revolusi, yang ditulis oleh sosok musuh negara yang paling terkenal: Goldstein. Winston menemukan banyak kesesuaian dengan pemikiran Goldstein ditambah Julia (rekan kerja yang terlibat kisah cinta dengannya) juga seorang pemberontak, lagipula buku terlarang itu juga diberi oleh rekan kerja dari petinggi partai O’Brien. Ia semakin yakin akan ‘kawan-kawannya’ ini. Karena keyakinannya dan kegembiraannya menemukan kawan sepemikiran ia terlalu terlambat menyadari bahwa O’Brien adalah polisi pikiran, dan O’Brien pula yang menulis buku terlarang tersebut atas nama Goldstein, dengan tujuan menangkap sebanyak mungkin para revolusioner dan menyeret mereka ke ruang 101 (sebuah ruang penyiksaan di mana ketakutan terdalam dari seseorang akan menjadi nyata). Maka dalam keadaan hancur sepenuhnya, tercuci otaknya dan terprogram ulang (sehingga menyetujui bahwa 2 + 2 = 5 seperti kata O’Brien) Winston dikembalikan ke tengah masyarakat sebagai pemuja Bung Besar yang tak berbahaya. Di akhir buku, Winston berlinang air mata karena takut dan gembira, memproklamirkan kecintaannya pada Bung Besar. Seluruh pemikirannya, harapan dan impiannya akan pelarian diri dan kebebasan, secara permanen telah terhapus dari kesadarannya.

Pikirkan beberapa hal berikut ini: Engkau dapat mematikan televisimu, tetapi apakah memang itu yang kau inginkan? Engkau hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis karena Pemilu yang lalu berjalan demokratis, tetapi kau melihat populasi masyarakat miskin terus bertambah, lantas kau berpikir, mengapa tak ada cukup dana untuk itu semua sementara para birokrat semakin bertambah kaya? Engkau bebas untuk menggunakan uangmu sesuka hatimu. Tetapi mengapa kau selalu ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang didiktekan oleh iklan-iklan di sekelilingmu?

Kini garis bawahi pernyataan berikut: engkau tak memiliki kebebasan ataupun kekuatan. Engkau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan lebih buruknya lagi, engkau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut.

Orwell memang tepat!

*

Identitas Buku

Judul : 1984
Penulis : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit : Bentang Pustaka
[Cetakan Kedua, Mei 2014]
*
Novel 1984 juga dijadikan bahan diskusi bulanan di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia.

wpid-mbrc2015.jpg

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

Salam,

-dhilayaumil-