[Resensi Buku] DÉESSERT : Tentang Mimpi dan Kisah yang Belum Selesai

Tidak perlu memandang fisik, laki-laki tetap saja laki-laki. Isi kepala dan logika mereka sama saja. Ujung-ujungnya mereka tetap bisa memutuskan pergi tanpa merasa harus repot memberikan penjelasan.”

2016-10-03-05-09-56-1

Kinara Gayatri Adiharja—atau Naya—seorang presenter acara kuliner di salah satu stasiun televisi terkenal memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan memilih meninggalkan Ibukota kemudian kembali ke kota kelahirannya, Palembang. Di tempatnya menghabiskan masa kecil dan remajanya itulah Naya bersama sahabatnya, Lulu, mulai membangun kembali apa yang pernah mereka impikan: merintis sebuah usaha kuliner. Kafe yang kemudian diberi nama ‘Dapoer Ketje’ itu didirikan Naya dan Lulu dibantu Arfan, seorang chef profesional yang juga tunangan Lulu. Perlahan tapi pasti, Naya mulai menapaki mimpi-mimpinya.

Pulang ke Palembang tak hanya menjadi pilihan untuk mimpi-mimpi Naya, tapi juga kenangannya akan cinta pertama sepuluh tahun lalu—saat ia masih duduk di bangku SMA. Sadewa Banyu Sastrawirya, lelaki ‘sangat biasa’ tetapi sangat disayangi oleh Naya dengan begitu luar biasa. Dulu. Perempuan dengan mata indah itu harus menahan dirinya, sebab hampir semua sudut kota ini mengingatkannya akan Dewa, sosok yang selama enam tahun belakangan ia ingin lupakan.

Seakan tak didukung oleh semesta, proyek Dapoer Ketje mempertemukn kembali Naya dengan Dewa—yang kini penampilannya nyaris berubah total. Tak ada lagi Dewa, siswa nerd yang kerjanya hanya nongkrong di perpustakaan. Tak ada lagi Dewa yang kurus seperti orang-orangan sawah. Dewa kini menjelma menjadi sosok lelaki gagah, seorang chef pastry keluaran restoran bergengsi dari Australia. Meski bagi Naya, Dewa tetaplah sosok yang sama seperti yang ia kenal dulu. Datar dan irit bicara.

Pertemuan mereka tak memberi kesan yang baik. Naya terus bersikap ketus, sedangkan Dewa tak pernah menunjukkan emosi apa-apa. Ada masalah yang tak pernah selesai di antara mereka sejak tujuh tahun lalu. Ada luka di sana yang ternyata tak pernah kering. Luka yang diperparah oleh hadirnya Ava dan kisah Naya dengan mantan-mantannya.

Keduanya sama-sama keras kepala … meski mungkin diam-diam saling merindukan. Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan : Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Aku menjadi yakin bahwa pada dasarnya perempuan punya watak pelupa jika telah mendapatkan cinta lain yang membuatnya nyaman berlindung di dalamnya.”

2016-02-20_01.11.26

Renja, sang tokoh utama dalam novel ini, akhirnya bertemu dengan Adel, teman masa kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik dan berani. Pertemuan keduanya terjadi di bangku kuliah, saat keduanya—ternyata—kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Renja mengambil Jurusan Arsitektur sedangkan Adel mengambil Jurusan Teknik Sipil di Kampus Merah.

Pertemuan dua teman kecil ini tak hanya membuka jalan ingatan masa kecil mereka, tetapi juga menyadarkan salah satunya bahwa ternyata ada cinta yang ia pelihara sejak kecil… dan tak pernah padam hingga kini. Perjalanan untuk mendapatkan cinta salah satunya ternyata tak semulus yang dikira. Kini, ada orang lain di antara mereka. Bukan hanya itu, perasaan bersalah yang dibawa dari masa lalu makin membuka jurang tak nampak di antara mereka.

Pada akhirnya, bagi Renja, yang sulit dimengerti adalah perempuan.

*

Novel 245 halaman ini menggunakan sudut pandang Renja sebagai pencerita. Ada banyak tokoh yang masing-masing karakternya mudah dibaca. Renja si tokoh utama yang mencintai Adel, melankolis, dan labil; Adel yang seorang aktivis, pintar, dan memiliki senyum menawan; Rustang yang adalah sahabat Renja yang bisa diandalkan, humoris, dan doyan ikut demonstrasi;  Ketua BEM—yang sampai cerita selesai tak diketahui namanya—yang cerdas, dewasa, dan berwibawa; Kumala yang sebenarnya adalah perempuan idaman Rustang, tetapi malah mencintai Renja; Naufal teman kos Renja yang juga mahasiswa kedokteran gigi dan juga kutu buku.

Tokoh dalam buku ini saling berhubungan satu sama lain. Tak heran kalau sudah selesai membaca bukunya kalian juga akan berkomentar bahwa tokoh-tokoh dalam novel ini seperti rantai makanan yang berputar di area itu-itu saja. Tak ada tokoh kejutan. Hanya ada karakter tokoh yang rumit—alih-alih sulit dimengerti.

Konflik utama yang disajikan penulis tak lain dan tak bukan adalah tentang cinta. Bedanya, novel ini menyuguhkan hal lain selain tema yang sudah sangat klise itu. Penulis mengangkat kasus Kospin (Koperasi Simpan Pinjam) yang terjadi di Pinrang sekitar tahun 1998, yang pada saat itu investasi Kospin yang jumlahnya sekitar 800 Miliar dibawa kabur oleh para pemimpinnya dan memicu kerusuhan massal (halaman 60). Kospin menjadi salah satu benang merah penghubung antara Renja dan Adel—satunya anak korban dan satunya anak pelaku. Selain itu, penulis menyuguhkan hal yang berbeda tentang kehidupan mahasiswa yang sering muncul dalam novel-novel lain. Fitrawan dengan berani mengangkat kehidupan mahasiswa Kampus Merah—yang identik dengan salah satu kampus di Makassar—yang sering tawuran antar-fakultas, demonstrasi, bahkan sampai kelakuan para mahasiswa saat Ospek.

Menurut saya, ada dua karakter yang lebih menarik dari dua tokoh utama dalam novel bersampul indah ini; Rustang dan Naufal. Rustang adalah tokoh dengan karakter yang let it flow. Dia menanggapi masalah dengan santai dan tidak dibawa lebay atau melankolis. Bahkan ketika Kumala, gadis pujaannya, lebih memilih Renja daripada dirinya, dengan lapang dada Rustang menerimanya. Rustang adalah penetrasi sikap Renja yang terlalu ‘lemah’. Sedangkan Naufal adalah sosok dewasa yang lewat kalimat-kalimat bijaknya menasihati Renja tiap tokoh utama kita down. Naufal juga mewakili orang-orang yang pada zaman ini masih terikat tradisi dijodohkan dengan perempuan yang masih memiliki hubungan keluarga.

Kalau kau sakit gigi, meski saya belum selesai kuliah, saya bisa mengatasinya. Tapi kalau kau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” (Halaman 153).

Selain kelebihan dan kekurangan di atas, satu hal yang sedikit mengganggu saya adalah bahasa yang digunakan oleh tokoh. Antara mau menggunakan dialek Makassar dengan bahasa Indonesia yang baku, jadinya agak kaku dibaca. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja agar pembaca dari luar Makassar pun tidak terlalu ‘aneh’ saat membaca dialog-dialog tokohnya. Toh dengan penyebutan latar tempat dan budaya atau sesekali bahasa daerah para tokohnya, pembaca akan paham bahwa tokoh-tokohnya berbicara dengan logat atau dialek Makassar.

Kenapa masih mau berteman dengan saya?” Riak ombak menjadi latar suaranya, menambah efek penasaranku akan jawabannya. “Bukannya dirimu seharusnya membenciku?”

“Siapa yang mau berteman? Saya bilang mau lebih dari sekadar teman.”

“Tapi kenapa suka sama saya?”(Halaman 109).

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel ini cocok dibaca untuk siapa saja. Mulai dari remaja, ABG, dewasa, pelajar, mahasiswa, orang kantoran, atau yang pengangguran silakan baca buku ini. Banyak kritik dalam novel ini, kepada pemerintah, birokrasi kampus, bahkan kepada mahasiswa—yang katanya agent of change.

*

Identitas buku

Judul buku : Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis : Fitrawan Umar

Penyunting : Pringadi Abdi

Penyelaras Akhir : Shalahuddin Gh

Pemindai Aksara : Chandra Citrawati

Penata Letak: desain651

Desain Sampul: Iksaka Banu

Penerbit : Exchange

Tahun terbit : 2015

Jumlah hal. : 245 halaman

ISBN : 979602727933-9

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379776419-2-1.jpg

 

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Petualangan di Wisteria Lodge

Kalau hukum tak mampu berbuat apa-apa, kita harus berani mengambil risiko.” –Sherlock Holmes

Petualangan Holmes dan Watson kali ini dimulai dari sebuah telegram yang menarik perhatian Holmes karena tertera kata ‘fantastis’. Telegram tersebut lalu membawa mereka pada kasus unik dan sedikit aneh.

Kasus pembunuhan keji yang ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Melibatkan pertikaian dua benua dan seorang diktator yang dijuluki Harimau San Pedro.

Seorang warga Spanyol, Mr. Aloysius Garcia, ditemukan tewas dengan kepala hancur tak jauh dari rumahnya di Wisteria Lodge. Hal-hal yang tidak wajar kemudian ditemukan dalam proses penelusuran Holmes dan polisi setempat.

Mulai dari kedua pelayan yang menghilang secara misterius, diundangnya seorang pria kaya bernama Mr. Scott Eccles–yang juga klien Holmes–untuk membuat alibi, sampai penemuan hal-hal aneh yang ternyata berkaitan dengan seorang yang fanatik dengan voodoo.

Berhasilkah Sherlock Holmes memecahkan kasus ‘fantastis’ ini? Apa hubungan seorang diktator kejam dengan pembunuhan warga Spanyol tersebut?
*

Kasus di Wisteria Lodge ini memang sedikit rumit. Bahkan Watson–sebagai pencerita–tak mampu ‘melaporkan’ kasus secara utuh. Hahaha. Saya pun harus membaca berulang kali di bagian tertentu agar dapat mengerti maksudnya.

Saya suka sikap jujur Holmes, yang meskipun kadang-kadang membuat orang kesal dan tersinggung, tapi justru dengan apa adanya diutarakannya dengan gaya khasnya yang tenang. Justru setelah membacanya saya merasa kalimat Holmes terkesan ‘lucu’.

“Anda ini tak ubahnya rekan saya Dr. Watson, yang punya kebiasaan menceritakan sesuatu dari arah yang berlawanan.”

Sikap penuh minat Holmes terhadap kasus-kasus unik diekspresikan dengan bahasa tubuh yang membuat saya membayangkan sambil tersenyum. Holmes tak ubahnya anak kecil yang sedang menanti mainan barunya selesai dirakit.

Sherlock Holmes tak bisa menahan gelaknya. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan riang, karena koleksi kasus uniknya bertambah satu.

Ada satu tokoh yang menarik dalam cerita ini. Yap, dialah Inspektur Baynes. Seorang polisi ramah, cekatan, cerdas, dan pandai menganalisis. Inspektur yang satu ini sangat bersemangat menangani kasus. Matanya berbinar saat mengetahui sesuatu, bahkan ia sempat mengecoh Holmes dan Watson.

Jadiiiii, kasus kali ini sayang untuk dilewatkan. Banyak hal baru yang bisa pembaca dapatkan, termasuk soal sejarah lho. Seperti cerita yang dibuka dengan kata ‘fantastis’, juga diakhiri dengan kata ‘fantastis’! ^^

Tapi, kalau aku boleh berkomentar, apa yang fantastis itu kok gampang sekali jadi mengerikan.” -Watson-
———————————–
Judul: Petualangan di Wisteria Lodge | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Review Buku]: 1984 – Peringatan Orwell dan Pasifitas Masyarakat Modern

wpid-img-20150404-wa0008.jpg

(pict by Riko)

Perang adalah Damai
Kebodohan adalah Kekuatan
Kebebasan adalah Perbudakan

Dengan slogan-slogan tersebut 1984 melejit menjadi novel yang mengangkat tema distopyan di pertengahan abad 20. Diterbitkan tahun 1949, dari tahun yang tidak begitu jauh dari selesainya perang dunia II, 1984 tidak serta merta menjadi novel yang secara keseluruhan memakai setting futurisme sebagai identitas. Kala itu Inggris sedang berada pada masa kelam, kelaparan dan kemiskinan akibat perang, kondisi dunia yang pernah berada di tangan para diktator macam Staline, Fuhrer, membawa pemikiran Orwell akan ketakutan bahwa dunia akan dibawa ke penjara totalitarianisme selama paham-paham diktator dan komunis masih meraja.

*

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Parta meski jauh di dalam hati dan pikirannyabersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pikiran dikendalikan. Hingga kini, 1984 merupakan karya penting Orwell yang mengantarkannya ke puncak kemasyuran.

*

Novel ini juga membawa visi gelap tentang masa depan yang akan segera hadir di dunia, menjadi peringatan bahayanya pemerintahan totalitarian yang didukung teknologi tinggi. Orwell dengan sangat baik menggambarkan sebuah dunia yang telah hancur akibat nuklir dan kemiskinan, dunia barat jatuh ke bawah kaki pemerintahan diktator totaliter sosialis : Bung Besar. Pemerintahan yang dijalankan bukan oleh seorang yang tampak secara virtual, tapi oleh sebuah perasaan ketidaknyamanan publik akibat pengawasan yang terus menerus dan menghilangkan privasi individu.

Partai penguasa, telah sempurna menggunakan teknologi tinggi untuk memonitor setiap gerak hidup populasi di bawahnya, membuatnya tunduk dengan pengawasa, propaganda, dan cuci otak. Tetapi di samping itu semua yang paling brilian tentu adalah Newspeak. Newspeak adalah proyek pemerintah yang mendekonstruksi kata-kata dalam bahasa sehari-hari (dalam novel ini bahasa inggris) menjadi Newspeak, atau bahasanya para anggota partai penguasa. Setiap edisi baru, Newspeak akan menampilkan deretan kata-kata yang jumlahnya semakin sedikit dari sebelumnya. Beberapa kata yang mengadung makna subversif, pemberontakan, perlawanan, revolusi, atau yang menghadirkan pemikiran-pemikiran untuk melawan kekuatan penguasa akan dihilangkan. Tanpa adanya kata-kata atau bahasa untuk mengekspresikan rasa ketidaknyamanan, perlawanan, revolusi, maka pemberontakan atau revolusi itu tidak akan pernah ada. Bagi mereka yang masih ngotot ingin melawan (akan disebut penjahat pikiran) Pasukan pengamanan partai atau polisi pikiran akan segera bertindak menngintervensi, menangkap, dan memasukkan para pemikir bebas itu ke dalam Kementrian Cinta Kasih, di mana mereka akan dicuci otaknya atau mungkin malah lebih parah.

Teknologi tinggi yang dipakai penguasa adalah hadirnya Teleskrin. Televisi interaktif dua arah, yang selalu mengawasi setiap gerak gerik masyarakat dan tidak dapat dimatikan selama 24 jam penuh. Tak ada yang pernah tahu siapa atau apa yang ada di balik teleskrin-teleskrin yang tersebar itu. Entah manusia, ataukah mesin. Hanya para petinggi partai yang punya hak untuk mematikan teleskrinnya itu untuk beberapa waktu.

Bayangkan kamu hidup di suatu negara di mana apa yang harus kita pikirkan pun di atur. Berpikir untuk berontak pun sudah termasuk tindak kejahatan. Apa yang harus kita terima sudah diatur. Bahasa yang keluar pun udah diatur. Sejarah pun diubah seenak penguasa.

Winston Smith, adalah seorang anggota partai kelas bawah, pekerjaannya menulis ulang arsip-arsip dari London Times agar konsisten dengan kebijakan gaya bahasa newspeak. Saat partai mengubah kebijakan politiknya ketika beraliansi dengan negara lain dan mengobarkan perang kepada mantan aliansi sebelumnya, tugas Winston adalah menulis ulang sejarah bahwa sejak dulu Oceania tidak pernah memiliki aliansi dengan negara yang kini berperang dengannya. Keadaan tersebut diperparah oleh orang-orang yang ia temui, yang tak pernah menyadari bahwa berbagai perubahan telah dilakukan. Winston yang bertransformasi menjadi penjahat pikiran karena kegundahannya akan sesuatu yang tidak beres di sini merasa kesepian tapi sedikit demi sedikit ia mulai memahami manipulasi berbahaya macam apa yang telah disuntikkan ke dalam kesadaran masyarakat.

Maka ia menjadi korban berikutnya bagi kebijakan pemerintah. Winston mulai mempelajari sebuah kopian buku yang telah lama dibredel karena dianggap mengobarkan semangat revolusi, yang ditulis oleh sosok musuh negara yang paling terkenal: Goldstein. Winston menemukan banyak kesesuaian dengan pemikiran Goldstein ditambah Julia (rekan kerja yang terlibat kisah cinta dengannya) juga seorang pemberontak, lagipula buku terlarang itu juga diberi oleh rekan kerja dari petinggi partai O’Brien. Ia semakin yakin akan ‘kawan-kawannya’ ini. Karena keyakinannya dan kegembiraannya menemukan kawan sepemikiran ia terlalu terlambat menyadari bahwa O’Brien adalah polisi pikiran, dan O’Brien pula yang menulis buku terlarang tersebut atas nama Goldstein, dengan tujuan menangkap sebanyak mungkin para revolusioner dan menyeret mereka ke ruang 101 (sebuah ruang penyiksaan di mana ketakutan terdalam dari seseorang akan menjadi nyata). Maka dalam keadaan hancur sepenuhnya, tercuci otaknya dan terprogram ulang (sehingga menyetujui bahwa 2 + 2 = 5 seperti kata O’Brien) Winston dikembalikan ke tengah masyarakat sebagai pemuja Bung Besar yang tak berbahaya. Di akhir buku, Winston berlinang air mata karena takut dan gembira, memproklamirkan kecintaannya pada Bung Besar. Seluruh pemikirannya, harapan dan impiannya akan pelarian diri dan kebebasan, secara permanen telah terhapus dari kesadarannya.

Pikirkan beberapa hal berikut ini: Engkau dapat mematikan televisimu, tetapi apakah memang itu yang kau inginkan? Engkau hidup dalam sebuah masyarakat yang demokratis karena Pemilu yang lalu berjalan demokratis, tetapi kau melihat populasi masyarakat miskin terus bertambah, lantas kau berpikir, mengapa tak ada cukup dana untuk itu semua sementara para birokrat semakin bertambah kaya? Engkau bebas untuk menggunakan uangmu sesuka hatimu. Tetapi mengapa kau selalu ingin membelanjakannya untuk hal-hal yang didiktekan oleh iklan-iklan di sekelilingmu?

Kini garis bawahi pernyataan berikut: engkau tak memiliki kebebasan ataupun kekuatan. Engkau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan lebih buruknya lagi, engkau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut.

Orwell memang tepat!

*

Identitas Buku

Judul : 1984
Penulis : George Orwell
Penerjemah : Landung Simatupang
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit : Bentang Pustaka
[Cetakan Kedua, Mei 2014]
*
Novel 1984 juga dijadikan bahan diskusi bulanan di grup WhatsApp Klub Buku Indonesia.

wpid-mbrc2015.jpg

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup. Kamu juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

Salam,

-dhilayaumil-

[Review Buku] Sarelgaz : Dari Band Folk Metal sampai Game Kingdom Rush

@dhilayaumil9421

Sarelgaz dan cerita-cerita lainnya terdiri dari 17 cerpen yang ditulis Sungging Raga dalam kurun waktu 5 tahun. Beberapa di antaranya pernah dimuat di media dan mengalami perombakan, beberapa lainnya adalah cerpen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, Hal menarik dalam cerpen-cerpen yang Raga tulis adalah proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Beberapa cerita lahir dari hal-hal sederhana yang didengar dan dilihat atau ditonton oleh penulisnya. Beberapa tokoh lahir dari lagu yang didengar, pengetahuan tentang suatu tempat di belahan bumi lain, bahkan dari band-band metal.

Cerpen berjudul ‘Alesia’ dan ‘Isara’, misalnya, adalah dua judul cerpen yang diambil dari dua judul lagu berjudul sama dari band folk metal asal Celtic bernama Eluveitie. Alesia bercerita tentang seorang gadis kecil yang berbincang dengan malaikat yang akan menemui ibunya yang sedang sakit keras. Inti dari cerpen ini sebenarnya adalah kekuatan doa. Cerpen ini pernah dimuat di Kompas tahun 2013, menjadi salah satu cerpen dalam antologi cerpen Kompas, dan sempat dibuatkan film pendeknya. Sedangkan cerpen Isara bercerita tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ‘wisata kehilangan’ di kota Yogyakarta, mengingat kembali sosok gadis bernama Isara yang menjadi bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan empat tahun lalu. Ending cerpen ini ditutup dengan kalimat, ‘Setelah bertahun-tahun berlalu, kukira stasiun ini tidak bisa lebih sedih lagi’. Nah, tebak sendiri ceritanya seperti apa. :p

Cerpen Sepertiga Malam Terakhir ditulis Raga setelah melihat kover album Scary Kids Scaring Kids. Pada kover tersebut tampak gambar seorang lelaki dan perempuan yang berpegangan tangan melihat kota yang terbakar. Sedangkan cerpennya bercerita tentang sebuah keluarga korban penggusuran yang pergi meninggalkan rumah mereka sebelum anak-anak mereka menyaksikan alat-alat berat meratakan rumah kecil mereka. Hubungan cerpen ini dengan gambar dalam kover album tersebut terletak di ending cerita. Lagi-lagi kekuatan doa yang menjadi inti cerita dalam cerpen ini.

Cerpen berjudul Nehalenia adalah salah satu cerpen yang unik menurut saya. Bercerita dari sudut pandang lelaki bernama Chiodos yang bertemu dengan hantu perempuan bernama Nehalenia yang mengaku adalah kekasih Chiodos dari dunia hantu. Saat membaca cerpen ini saya teringat salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Murjangkung karya AS. Laksana. Nehalenia sendiri adalah nama salah satu Dewi yang dipuja—di entah mitologi apa. Raga mengakhiri cerpen ini dengan menghadirkan ‘masalah baru’. Dia menyebutnya dengan teknik novel Goosebumps. Penasaran? Silakan baca cerpennya.

Sarelgaz—yang juga dijadikan judul untuk kumpulan cerpen ini—bercerita tentang seorang pemuda bernama Sarelgaz yang terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa selama tujuh tahun. Awalnya Sarelgaz berniat menyepi untuk mendapat ilmu silat dan kesaktian demi cintanya pada Cartesia, tapi justru bertemu seekor ratu laba-laba yang juga telah menunggu siapapun yang datang ke gunung tersebut untuk menjadi mangsanya. Lalu mengapa setelah tujuh tahun berlalu, sang Ratu Laba-Laba belum juga memangsa Sarelgaz? Nama Sarelgaz sendiri diambil dari nama salah satu ‘raja’ dalam game Kingdom Rush.

Cerpen Sebuah Patung Menangis bercerita tentang mitos patung menangis yang terkenal di daerah Woolwich. Mitos yang kemudian dipercayai oleh beberapa muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Jika sepasang kekasih masuk dan mendengar suara tangisan di dekat patung tersebut, maka dipercaya bahwa hubungan mereka tak akan bertahan lama. Sebaliknya, jika tak terdengar suara tangisan, maka hubungan mereka akan berlangsung lama. Sampai suatu ketika sepasang kekasih yang buta masuk lalu keluar dengan wajah murung dan bergumam, “Kami mendengar patung itu tertawa.”, semua pengunjung yang hadir tampak bingung dan bertanya-tanya. Hal menarik lainnya dari cerpen ini adalah proses kreatifnya yang berhubungan dengan kecintaan penulis dengan klub sepakbola Arsenal.

Dongeng Balas Dendam salah satu yang menjadi favorit saya. Inti dari cerpen ini adalah sebuah kesalahan masa lalu yang masih dipertahankan penerusnya sampai sekarang. Mirip-mirip yang terjadi di negara kita, kayaknya. :p

Selain judul-judul cerpen yang saya sebutkan di atas, ada beberapa cerpen lagi yang menarik, seperti Bidadari Serayu, Surat dari Janelle, Kutukan Kurir Kematian, Pesugihan Zombie (yang mengingatkan saya pada game Plants vs Zombie), Laut Kesedihan, dll.

Seperti yang saya kemukakan pada pembuka di atas, banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca kumpulan cerpen ini. Apalagi setelah mengetahui proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Nama-nama unik yang diambil dari nama band metal seperti Eluveitie, Chiodos, Ensiferum, Wintersun, Korpiklaani. Atau cerita yang hadir setelah mendengar lagu-lagu atau video dari band metal tersebut, membaca novel detektif, sampai cerita yang terinspirasi dari sebuah game. Hal-hal yang melekat dalam diri penulis pun tampak pada cerpen-cerpennya: Arsenal, stasiun, dan kisah cinta dramatis ala novel.

Meskipun di awal-awal saya sempat nyaris bosan, tapi semakin menjelang halaman terakhir saya seperti ketagihan membaca tulisan-tulisan Raga. Cerpen-cerpennya dibumbui beberapa humor dan pesan-pesan kecil. Bahkan beberapa cerpen yang sudah saya baca sebelumnya—di http://www.surgakata.wordpress.com— masih menarik untuk dibaca ulang.

Membaca cerita-cerita Raga seperti membaca cerita fantasi. Nama tokoh dan latar tempatnya mengingatkan pada dongeng-dongeng dari negeri lain. Selain surealis, cerpen-cerpen Raga juga mengandung sindiran akan hal-hal yang dianggap sederhana oleh orang lain yang pada kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu. Bagaimana sebuah cerita dan mitos di suatu tempat/daerah dapat memengaruhi keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya. Raga membuktikan bahwa sastra tidak melulu berhubungan dengan sesuatu yang sulit dipahami dan surealis tak serumit yang dibayangkan.

Judul   : Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya

Penulis : Sungging Raga

Editor    : Irwang Bajang

Penerbit : Indie Book Corner

Tahun    : 2014

Jmlh hal. : 144 halaman

ISBN        : 978-602-3090-06-8

 @dhilayaumil

[Review Buku] Mati Baik-Baik, Kawan: Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

image

Judul buku : Mati Baik-Baik, Kawan
Penulis : Martin Aleida
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Penerbit : Akar Indonesia
Tahun terbit : 2009
Jumlah hal. : 144 halaman
ISBN : 979190044-2

 

Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…”

Saat saya sekolah dulu—bahkan sampai sekarang—pengetahuan sejarah saya sangat minim. Saya tidak begitu tertarik mempelajari sejarah, jujur. Baru dua tahun terakhir ini entah kenapa, melalui sastra, saya sepertinya mulai menyukai sejarah. Haha. Sastra, membawa saya mengetahui hal-hal yang bahkan tak akan saya temui di bangku sekolah. Sejarah yang coba ditutup-tutupi atau dibuat kabur misalnya.

Mati Baik-Baik, Kawan berisi sembilan cerpen yang ditulis Martin Aleida, mengangkat tema peristiwa ’65—disebut-sebut sebagai tahun-tahun tergelap bangsa Indonesia—yang dalam buku-buku sejarah dulu dikenal dengan G30S/PKI. Penulis mencoba menghadirkan lagi cerita bertema ’65 dengan versi yang sangat berbeda dengan yang dibentuk pemerintahan orde baru.

Melalui antologi cerpennya, Martin bercerita dari sudut pandang korban peristiwa tersebut, korban ‘pelabelan’ komunis, korban stigma dari apa yang dibentuk oleh pemerintah, korban—bahkan keturunannya—yang sampai mati membawa ketakutan-ketakutan akibat label tersebut.

Cerpen pertama, Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh, bercerita tentang lelaki berdarah Bali yang memilih lari meninggalkan tanah kelahirannya demi angan bahwa suatu hari dia bisa mati terhormat. Tidak seperti ayahnya yang diseret ke tepi lubang lalu tengkuknya dihantam linggis hingga meninggal di dalam lubang, ditimbun bersama jasad petani lain, tanpa doa dan upacara.
Dalam cerpen pertama jelas keinginan tokoh Mangku yang tidak tahan dan ingin lari sejauh-jauhnya dari kampung yang ia cintai tapi tak ingin mati di tanahnya. Mangku sebagai perwakilan dari mereka yang tidak tahan dengan tekanan dari masyarakat dan aparat pemerintah yang memandang dia sebagai antek-antek komunis. Cerpen ini memiliki magisnya sendiri bagi saya—dan mungkin berlaku untuk pembaca yang lain. Bahkan di paragraf terakhir—di mana Mangku memperlakukan kera-nya yang mati dengan sangat terhormat—saya sempat bergidik saat membacanya, “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…

Tanpa Pelayat dan Mawar Duka adalah cerpen kedua dalam buku ini. Bercerita tentang seorang lelaki yang pada saat meninggal dunia, tak ada seorang pun yang datang melayat. Orang-orang yang dia rebut tanahnya secara paksa dulu—sebelum pemerintahan 30 tahun lebih di negeri ini lengser—telah datang membawa dendamnya masing-masing. Tak ada pelayat yang datang, apalagi bunga duka. Pekuburan sepi, bahkan para penggali kuburan memilih menepi dan tak menghiraukan peti mati yang teronggok di atas tanah-tanah hasil rampasan dari mereka.
Pikiran mereka melayang mengenang ayah mereka yang dipaksa naik ke atas truk di tengah malam, dilarikan entah ke mana. Disiksa untuk mengakui apa yang tak mereka perbuat, atau pikirkan sekalipun. Melalui kalimat tersebut, penulis mencoba memperlihatkan lagi bagaimana kenyataan yang harus dihadapi oleh mereka yang tak tahu apa-apa tapi dipaksa mengakui dan bagaimana nasib keturunan-keturunan mereka. Dan lagi-lagi pada penutup, Martin seolah menunjukkan kegetiran dari sisi lain: Tak ada suasana duka di pekuburan itu. Kecuali pada sebentuk hati seorang istri yang harus menggali sendiri liang lahat untuk jenazah suaminya.

Cerpen Malam Kelabu, tentang seorang pemuda bernama Kamaluddin Armada yang ingin melamar kekasihnya di satu desa yang sedang memanas karena isu komunis. Sebelum sampai di rumah kekasihnya, dia harus menemui kenyataan pahit tentang calon istrinya itu beserta keluarganya. Buah dari pelabelan ‘komunis’, lagi-lagi.

Mengawini anak seorang komunis bukan berarti kita komunis. Aku kawin dengan anaknya, bukan dengan ayahnya.’

Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis, tak peduli Ibu Mulyo yang buta huruf. Seperti di daerah lain, keluarga komunis ikut hilang, tak peduli apakah mereka buta politik atau tidak.’

Lagi-lagi melalui cerpen ini penulis mewakili korban-korban yang diberi ‘cap’ ikut bertanya, apa salahnya menjadi komunis? Apa salah keluarga yang tak tahu apa-apa, lalu karena satu orang di keluarganya ‘dituduh komunis’, lantas mereka ikut dihilangkan? Lewat tokoh Kamal dan seorang carik desa, Martin memberitaukan bagaimana rasa kehilangan dan penyesalan atas sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa-apa.

Leontin Dewangga mengisahkan pasangan suami istri yang menyembunyikan rahasia masa lalu yang sebenarnya saling berkaitan. Mereka adalah korban-korban pe-label-an orba, yang takut jika suatu saat nanti pasangan mereka tahu dan membenci satu sama lain. Hingga di detik-detik terakhir Dewangga menghembuskan nafas, rahasia itu baru terkuak. Betapa kesedihan dan kedukaan masa lalu harus mereka bawa dan rahasiakan selama membangun rumah tangga.

Lalu, Ode untuk Selembar KTP, tentang perempuan berusia tujuh puluh dua tahun yang begitu bahagia di umurnya yang renta itu, menerima selembar KTP yang di dalamnya tak ada lagi embel-embel ET—eks tahanan politik. ‘Aku tak tahu apa kesalahan suamiku menjelang bencana tahun 1965, sehingga dia harus dilenyapkan. Dan istrinya, anak-anaknya yang masih merah, harus menderita.’

Bertungkus Lumus, tentang duka yang dibawa seorang perempuan korban kebiadaban zamannya, yang meskipun terluka dengan apa yang didapatkannya, dia tetap bertahan demi anak yang dicintainya. ‘Dendam bisa kehilangan isi, ingatan tak akan pernah.’

Salawat untuk Pendakwah Kami adalah kisah dari seorang Haji Johansyah, seorang penjual kupiah yang terkenal ramah dan humoris. Saat Haji Johansyah meninggal begitu banyak pelayat yang datang dari penjuru kota, mengenang hal-hal baik yang sering dilakukan pak haji itu. Dan lagi-lagi benang merahnya adalah tahun ’65. Melalui kisah sederhana Haji Johansyah, Martin seolah ingin memberitahu pada pembacanya bahwa siapa saja bisa jadi korban kebiadaban orba, meskipun hanya seorang penjual kupiah yang secara kebetulan dituduh menyumbangkan kupiah untuk hari ulang tahun Partai Komunis Indonesia.

Dendang Perempuan Pendendam tentang seorang perempuan yang mendendam pada pamannya yang dengan tega merampas tanah warisan ayahnya—yang ‘hilang’ karena dituduh komunis—dengan cara menggeser patok secara licik. ‘Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Terlalu lama aku memendam dendam yang telah membatu…’

Di akhir, Ratusan Mata di Mana-Mana sebagai penutup memberikan cerita tentang kisah si penulis itu sendiri. Apa dan bagaimana dia menggeluti pekerjaannya serta alasan ketika dia memilih berhenti.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini memberi penekanan yang mendalam terhadap rasa sedih, pilu, kehilangan, dendam, dan rahasia luka di masa lalu, yang bahkan mereka—para korban—sendiri tak tahu apa yang mereka perbuat sehingga diperlakukan semena-mena oleh penguasa yang lalim.
Martin berhasil memberi emosi pada setiap cerpennya, seolah-olah korbanlah yang sedang bercerita. Realisme magis dalam cerpen-cerpen tersebut sangat tampak, lagi- lagi berkat keberhasilan penelitian dan riset mendalam yang dilakukan oleh penulis. Tak ragu saya memberikan 5 dari 5 bintang untuk buku ini.

-dhilayaumil-