[Resensi Buku] Il Tiramisu : Manis dan Pahit, Seperti Hidup, Seperti Cinta

Hidup itu kayak labirin kaca. Kita kayak merdeka tapi sebenarnya terikat sama benang yang enggak kelihatan: takdir. Konyolnya takdir itu seringkali bikin kita muter di tempat.”

img1465936152669

Gytha Syareefa Thaheer, Executive Chef di Olive Garden, terpaksa menerima tawaran temannya untuk menjadi host chef dalam acara ‘Everybody Can Be a Chef’ bersama seorang penyanyi yang sedang naik daun, Wisnu Kanigara. Pria yang digandrungi para Winners—sebutan untuk fans Wisnu—itu memberi kesan pertama yang kurang baik pada Gytha. Selebritas yang angkuh dan menyebalkan. Pada akhirnya mereka harus memakai ‘topeng’ pura-pura akrab di depan kamera yang menyala dan kembali seperti orang asing saat kamera tak lagi menyorot.

Gytha harus sering menahan diri di awal kebersamaannya dengan Wisnu dalam memandu acara masak tersebut. Mereka harus selalu terlihat akrab di depan kamera selama kurang lebih setahun ke depan. Tetapi saat mereka mulai dekat, banyak hal yang mulai berubah dan tentunya itu tidak baik untuk karir mereka berdua, terlebih Wisnu—menurut sebagian orang. Sejak saat itu Gytha menjadi incaran media—yang disebut Wisnu sebagai hiena-hiena infotainment—karena kedekatan mereka. Media berusaha menghadirkan berita tentangnya. Mulai dari pekerjaannya di Olive Garden, latar belakangnya, sampai ke rahasia yang berusaha untuk ditutupi.

Ternyata, di balik sikap saling tak acuh keduanya ternyata menyimpan masa lalu yang mati-matian ditutupi. Apakah Gytha dan Wisnu bisa berdamai terhadap satu sama lain dan masa lalu masing-masing?

“Tiramisu itu manis, tapi juga ada pahitnya. Sama kayak hidup. Sama juga kayak cinta.” Continue reading

[Resensi Buku] My Wedding Dress : Teman Perjalanan yang Menyenangkan

Pada setiap kepergian, sakit bukan hanya milik mereka yang ditinggalkan, melainkan juga milik mereka yang memilih pergi.

Exif_JPEG_420

Apa yang akan kamu lakukan jika sesaat sebelum memasuki ruang ijab qabul atau altar pernikahan ternyata calon mempelaimu tidak muncul? Hancur? Sesak? Menangis sejadi-jadinya? Mari bertanya pada perempuan cantik bernama Abigail Kenan Larasati.

Abby masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tepat di hari pernikahannya. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menunggu Andre—sang calon suami—hingga berjam-jam, berharap ada keajaiban yang membawa Andre tiba di tempat upacara pernikahan. Kenyataannya … Andre tak pernah datang. Lelaki itu menghilang sesaat sebelum mengikat Abby di altar pernikahan.

Abby merasa dunianya seketika runtuh. Mimpi untuk membangun keluarga bahagia bersama Andre luruh bersama air matanya. Sejak peristiwa itu ia menutup diri dari sekitar bahkan orang-orang terdekatnya. Ia membenci tatapan kasihan yang diberikan orang-orang kepadanya. Abby hidup membawa luka-luka yang tak pernah ia biarkan mengering. Di depan adik dan kedua orang tuanya ia berpura-pura terlihat baik-baik saja.  Ia mencandu rasa sakitnya sendiri.

“Sendirian seperti sekarang ditambah sedikit kenangan dengan Andre berhasil membuatku galau dan menangis.”

Setelah setahun terjebak dalam kubangan kenangan, Abby memutuskan untuk berhenti memikirkan Andre dan kegagalan rencana pernikahannya. Ia mengumpulkan semua benda yang mengingatkannya pada Andre. Hasilnya? Nyaris lima kantong sampah besar! Sini sumbangin ke Princess aja, sih. Kalau kalian, gimana cara move on­-nya?

Setelah semua ‘sampah’ terkumpul, ternyata ada satu barang yang tertinggal. Apakah itu? Continue reading

[Resensi Buku] The Way We Were : Tokoh-tokoh yang Terlalu Cepat Jatuh Cinta

PhotoGrid_1456765345137

Karena tidak peduli seberapa kerasnya kamu berusaha, kalau memang sudah waktunya seseorang untuk terluka, dia akan terluka.”

Laut Senja, gadis berusia delapan belas tahun, bertemu dengan Oka Satria Adhiyaksa secara tidak sengaja di atas bus. Pertemuan yang mengantarkan mereka pada hubungan pertemanan yang aneh. Laut yang memilih Bandung untuk ‘kabur’ dari masalah keluarganya di Jakarta merasakan kenyamanan saat bersama Oka yang dewasa dan humoris. Hubungan itu terus berjalan bahkan sampai salah satu di antara mereka jatuh cinta pada satu lainnya dan satu lainnya justru suka pada sahabatnya.

Laut bersama masalah keluarganya yang cukup rumit seringkali memendam sakit sendirian. Dia tak membiarkan Oka, Kei, bahkan Alin—sahabatnya sejak dulu—untuk ikut merasakan lukanya. Sementara Oka menyimpan kisah masa lalu yang membuatnya menjadi impulsif—seperti yang selalu dikatakan Kei.

Siapakah yang pada akhirnya dipilih dan memilih?

*

Awalnya saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku di kamar sepupu saya. Saat saya ke rumahnya untuk satu tujuan, saya lupa membawa ponsel dan juga buku—karena awalnya saya pikir saya hanya sebentar. Nyatanya saya harus tinggal beberapa jam. Sambil menunggu, tak apa rasanya membaca untuk membunuh waktu. Daripada bosan?

Pada bab-bab awal saya disuguhi dengan perkenalan tokoh-tokohnya. Ada Laut Senja, gadis yang baru saja lulus kuliah dan memilih Bandung untuk tujuan pendidikan selanjutnya—sekaligus ‘lari’ dari masalah yang menimpa keluarganya. Lalu ada Oka, seorang freelancer arsitek yang rela mengorbankan dirinya dipukul pencopet demi menyelamatkan dompet seorang gadis. Kemudian ada Kei, sahabat Oka yang baik dan setia kawan—serta Alin, sahabat Laut yang heboh dan yang kecepatan move on dan jatuh cinta-nya berbanding lurus.

PhotoGrid_1456765559543

Sayangnya, penulis terkesan teledor atau terburu-buru dalam menciptakan tokoh beserta karakternya. Selain tokoh-tokoh yang tampaknya ‘terlalu mudah’ untuk jatuh cinta, karakter-karakternya ‘lemah’ dan ‘tidak hidup’. Saya tak bisa merasakan emosi para tokoh bahkan sampai halaman terakhir saya tak benar-benar mengenal karakter dalam novel ini. Sepertinya penulis mencoba menciptakan tokoh sempurna dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, tapi yang tampak justru karakter-karakter baik dengan kekurangan yang seperti tempelan. Laut yang digambarkan kuat dan tegar, tetapi tak jelas arah dan mimpinya, Oka yang menjadi pemeran utama tapi ‘pesonanya’ dikalahkan oleh Kei, dan karakter-karakter pendukung yang tidak membaur dengan cerita. Selain Laut dan Alin—karena mereka seumuran, karakter Oka dan Kei tak jelas umur dan latar belakangnya. Sekali lagi, saya merasa penulis sangat terburu-buru dalam menulis novel ini.

Konflik yang kentang—kena tanggung—pun makin membuat saya agak berat menyelesaikan buku ini. Tak jelas penulis ingin membawa konflik apa dalam buku ini. Saya tak merasakan emosi tokoh-tokohnya, padahal banyak kisah rumit dan sedih di dalamnya. Konflik yang diusung penulis—masalah keluarga dan kisah cinta—pun berakhir dengan maksa abis. Bahkan tak ada penyelesaian dari tokoh. Kisah ini diakhiri sendiri oleh penulisnya.

PhotoGrid_1456765634054

Novel 257 halaman ini ditolong oleh beberapa ilustrasi karya Wening Insani. Butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk menyelesaikan novel ini. Maafkan saya karena pada beberapa bagian bahkan saya skip untuk dibaca karena tidak terlalu penting menurut saya, yaitu pada halaman 168-175. Bagian saat Oka mengajari Laut tentang mikroekonomi.

Pada akhirnya, kamu tidak akan tahu sebuah buku itu baik atau kurang baik, layak atau kurang layak, cocok sebagai bacaan hiburan atau bagusnya dikritik habis-habisan … sebelum kamu membacanya sendiri. ^^

*

Identitas buku

Judul buku : The Way We Were: kita dulu dan sekarang

Penulis : Sky Nakayama

Ilustrasi : Wening Insani

Penyunting : Mita M. Supardi

Proofreader: Patresia Kirnandita

Penata Letak: Landi A. Handwiko

Desain Sampul: Cecillia Hidayat

Penerbit : GagasMedia

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 257 halaman

ISBN : 9797805367

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379734148-1.jpg

 

 

[Resensi Buku] Leafie : Belajar dari Keteguhan Ayam Betina

PhotoGrid_1456800478648

Hal seperti ini tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Hal-hal yang berharga tidak akan singgah untuk waktu yang lama.”

Leafie hanya merasa bahagia saat memandangi halaman. Melihat para bebek berlalu-lalang dan anjing yang mengejar-ngejar bebek, mengajak mereka bercanda. Menatap semua itu, meski dari balik kandang kawat, lebih menyenangkan dibandingkan dengan menghabiskan makanan.

Ya, Leafie adalah seekor ayam petelur. Sudah setahun lebih sejak Leafie dimasukkan ke dalam kandang kawatnya untuk bertelur setiap harinya. Ia tak bisa mengepakkan sayapnya, pun dengan berjalan-jalan seperti keluarga hewan di halaman. Ia tak bisa mengerami telur-telurnya—meski diam-diam ia sangat ingin. Keinginan yang muncul setelah ia melihat ayam betina di halaman sedang berkeliaran dengan anak-anaknya. Leafie sangat ingin mengerami telur dan melihat kelahiran anak ayam. Sekali saja.

Suatu hari, kesempatan untuk terbebas dari kandang kawat itu muncul. Sayangnya, Leafie harus berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup. Ia terjebak dalam lubang yang penuh dengan bangkai ayam. Leafie nyaris dimangsa oleh musang pemangsa jika tidak segera ditolong oleh Bebek Liar.

Akhirnya Leafie terbebas—sementara—dari musang. Ia berjalan menuju tempat keluarga halaman berada dan minta agar diizinkan bergabung bersama aam, bebek, dan anjing di halaman. Sayangnya, Leafie ditolak dan disuruh pergi meninggalkan halaman. Leafie lalu meninggalkan halaman dan dimulailah petualangan si Ayam Buruk Rupa.

Dimulai dari keajaiban yang datang suatu malam. Leafie akhirnya bisa mengerami sebuah telur. Meski belum tahu siapa pemilik telur tersebut, Leafie merasa sangat senang dan terharu karena bisa merawat dan mengerami telur tersebut. Ternyata, setelah telur itu menetas yang muncul bukanlah anak ayam tetapi anak bebek.

Bukannya meninggalkan si bebek yang diberi nama Greenie dengan gerombolannya, Leafie malah merawat bebek tersebut dengan penuh kasih dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Berdua mereka melalui hari-hari penuh perjuangan, kewaspadaan, dan hidup berpindah-pindah.

Leafie harus mengahadapi segala kesulitan yang mungkin tak pernah dibayangkan saat ia di balik kandang kawat. Mulai dari dimusuhi oleh sesama hewan, nyaris mati dimangsa, kehilangan teman, bertahan hidup, kekurangan makanan, sampai tak punya tempat untuk menetap.

Apakah Leafie tetap bahagia?

*

Leafie merupakan salah satu fabel kontemporer yang terkenal di Korea. Dikisahkan dengan sangat indah oleh Hwan Sun-mi. Tentang pengorbanan, kekuatan, semangat, cinta, dan kebebasan sejati. Ada beberapa tokoh yang cukup ‘kuat’ dalam buku ini. Pertama, Leafie si ayam betina yang pantang menyerah. Ia menamai sendiri namanya dengan Leafie yang berasal dari kata leaf yang berarti daun, salah satu hal yang paling disukainya. Ia memiliki mimpi dan dengan sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Kedua, Bebek Liar atau Si Pengelana adalah seekor bebek yang menghuni halaman rumah dan terkadang disisihkan oleh keluarga bebek yang memberinya tumpangan. Ia adalah seekor bebek yang baik hati, berani, dan rela berkorban. Ketiga, Greenie dari kata green atau hijau seperti daun. Greenie adalah anak dari telur yang dierami Leafie. Seekor bebek yang ceria dan berbeda dari lainnya. Bagi Leafie, Greenie adalah bebek yang istimewa. Lalu ada Musang yang tak pernah menyerah mengincar Leafie dan Greenie, Pasangan Ayam Jantan dan Betina, kelompok bebek putih, dan anjing tua penjaga halaman.

PhotoGrid_1456800312239

Greenie

Aku telah sadar kalau aku baru merasa bahagia saat bersama Ibu. Karenanya, aku pulang, Ibu.”

Saya selalu suka membaca buku cerita anak-anak, dongeng, maupun buku yang tokohnya adalah seorang anak-anak. Saya seakan diajak plesiran ke masa kanak-kanak dulu. menikmati kisah lumba-lumba, bertemu gadis korek api, kurcaci-kurcaci, ataupun kisah petualangan di negeri antah berantah. Leafie mengingatkan saya pada ibu dan ayah yang sering sekali membacakan cerita. Mengingatkan saya bahwa sampai sekarang terlalu banyak pengorbanan yang orang tua saya berikan agar anak-anaknya bisa bertahan hidup. Mengajarkan saya untuk menjadi seorang pejuang yang memiliki mimpi-mimpi yang tak akan pernah berhenti untuk diwujudkan.

Buku ini tak hanya cocok dibaca oleh anak-anak, tetapi bisa dibaca semua umur. Melalui seekor ayam dengan leher botak, kurus, dan tua, kita diajarkan tentang pengorbanan, semangat, dan cinta. Tentang sebuah hubungan yang dibangun bukan dari ‘hubungan darah’ tetapi oleh perasaan saling membutuhkan dan saling cinta.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya—meskipun ilustrasinya mungkin tidak terlalu menarik untuk ukuran anak-anak karena tidak kaya warna atau tidak ‘cerah’. Terjemahannya pun sangat nyaman dibaca. Kekurangan—jika bisa disebut kekurangan—dalam buku ini hanyalah beberapa kesalahan pengetikan. Misalnya, pada kata ‘Leafia’ pada halaman 171 yang harusnya ‘Leafie’. Selain itu, saya rasa novel ini cukup pantas untuk direkomendasikan.

PhotoGrid_1456800173258

Leafie si Ayam dan Greenie si Itik

Mengutip kalimat Kim Seo Jeong, seorang Kritikus Sastra Anak-anak, yang terdapat pada halaman belakang buku ini: Ada tiga jenis ayam betina dalam buku ini. Pertama adalah ayam betina tanpa pikir panjang yang hanya makan dengan kenyang walaupun harus terkunci di dalam kandang kawat tanpa bisa mengerami telurnya sendiri. Kedua adalah ayam betina yang hidup di halaman dengan ayam jantan dan anak-anak ayam. Ia bisa hidup dengan penuh kepuasan, tapi selalu ketakutan seseorang akan ikut campur dan menghancurkan kesehariannya. Dan ketiga adalah ayam betina yang menyimpan keinginan untuk mengerami telur dan menyaksikan kelahiran anak ayam, sampai pada akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan itu.

Kamu mau menjadi ayam betina yang mana?

*

Identitas buku

Judul buku : Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Judul asli : Madangeul Naon Amtak

Penulis : Hwang Sun-mi

Ilustrasi : Kim Hwang Young

Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas

Penyunting : Esti A. Budihabsari

Penerbit : Qanita

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 224 halaman

ISBN : 978-602-9225-75-4

**

Rating:

photogrid_1439379776419-1.jpg