[Resensi Buku] Il Tiramisu : Manis dan Pahit, Seperti Hidup, Seperti Cinta

Hidup itu kayak labirin kaca. Kita kayak merdeka tapi sebenarnya terikat sama benang yang enggak kelihatan: takdir. Konyolnya takdir itu seringkali bikin kita muter di tempat.”

img1465936152669

Gytha Syareefa Thaheer, Executive Chef di Olive Garden, terpaksa menerima tawaran temannya untuk menjadi host chef dalam acara ‘Everybody Can Be a Chef’ bersama seorang penyanyi yang sedang naik daun, Wisnu Kanigara. Pria yang digandrungi para Winners—sebutan untuk fans Wisnu—itu memberi kesan pertama yang kurang baik pada Gytha. Selebritas yang angkuh dan menyebalkan. Pada akhirnya mereka harus memakai ‘topeng’ pura-pura akrab di depan kamera yang menyala dan kembali seperti orang asing saat kamera tak lagi menyorot.

Gytha harus sering menahan diri di awal kebersamaannya dengan Wisnu dalam memandu acara masak tersebut. Mereka harus selalu terlihat akrab di depan kamera selama kurang lebih setahun ke depan. Tetapi saat mereka mulai dekat, banyak hal yang mulai berubah dan tentunya itu tidak baik untuk karir mereka berdua, terlebih Wisnu—menurut sebagian orang. Sejak saat itu Gytha menjadi incaran media—yang disebut Wisnu sebagai hiena-hiena infotainment—karena kedekatan mereka. Media berusaha menghadirkan berita tentangnya. Mulai dari pekerjaannya di Olive Garden, latar belakangnya, sampai ke rahasia yang berusaha untuk ditutupi.

Ternyata, di balik sikap saling tak acuh keduanya ternyata menyimpan masa lalu yang mati-matian ditutupi. Apakah Gytha dan Wisnu bisa berdamai terhadap satu sama lain dan masa lalu masing-masing?

“Tiramisu itu manis, tapi juga ada pahitnya. Sama kayak hidup. Sama juga kayak cinta.” Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] My Wedding Dress : Teman Perjalanan yang Menyenangkan

Pada setiap kepergian, sakit bukan hanya milik mereka yang ditinggalkan, melainkan juga milik mereka yang memilih pergi.

Exif_JPEG_420

Apa yang akan kamu lakukan jika sesaat sebelum memasuki ruang ijab qabul atau altar pernikahan ternyata calon mempelaimu tidak muncul? Hancur? Sesak? Menangis sejadi-jadinya? Mari bertanya pada perempuan cantik bernama Abigail Kenan Larasati.

Abby masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tepat di hari pernikahannya. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menunggu Andre—sang calon suami—hingga berjam-jam, berharap ada keajaiban yang membawa Andre tiba di tempat upacara pernikahan. Kenyataannya … Andre tak pernah datang. Lelaki itu menghilang sesaat sebelum mengikat Abby di altar pernikahan.

Abby merasa dunianya seketika runtuh. Mimpi untuk membangun keluarga bahagia bersama Andre luruh bersama air matanya. Sejak peristiwa itu ia menutup diri dari sekitar bahkan orang-orang terdekatnya. Ia membenci tatapan kasihan yang diberikan orang-orang kepadanya. Abby hidup membawa luka-luka yang tak pernah ia biarkan mengering. Di depan adik dan kedua orang tuanya ia berpura-pura terlihat baik-baik saja.  Ia mencandu rasa sakitnya sendiri.

“Sendirian seperti sekarang ditambah sedikit kenangan dengan Andre berhasil membuatku galau dan menangis.”

Setelah setahun terjebak dalam kubangan kenangan, Abby memutuskan untuk berhenti memikirkan Andre dan kegagalan rencana pernikahannya. Ia mengumpulkan semua benda yang mengingatkannya pada Andre. Hasilnya? Nyaris lima kantong sampah besar! Sini sumbangin ke Princess aja, sih. Kalau kalian, gimana cara move on­-nya?

Setelah semua ‘sampah’ terkumpul, ternyata ada satu barang yang tertinggal. Apakah itu? Continue reading

[Resensi Buku] The Way We Were : Tokoh-tokoh yang Terlalu Cepat Jatuh Cinta

PhotoGrid_1456765345137

Karena tidak peduli seberapa kerasnya kamu berusaha, kalau memang sudah waktunya seseorang untuk terluka, dia akan terluka.”

Laut Senja, gadis berusia delapan belas tahun, bertemu dengan Oka Satria Adhiyaksa secara tidak sengaja di atas bus. Pertemuan yang mengantarkan mereka pada hubungan pertemanan yang aneh. Laut yang memilih Bandung untuk ‘kabur’ dari masalah keluarganya di Jakarta merasakan kenyamanan saat bersama Oka yang dewasa dan humoris. Hubungan itu terus berjalan bahkan sampai salah satu di antara mereka jatuh cinta pada satu lainnya dan satu lainnya justru suka pada sahabatnya.

Laut bersama masalah keluarganya yang cukup rumit seringkali memendam sakit sendirian. Dia tak membiarkan Oka, Kei, bahkan Alin—sahabatnya sejak dulu—untuk ikut merasakan lukanya. Sementara Oka menyimpan kisah masa lalu yang membuatnya menjadi impulsif—seperti yang selalu dikatakan Kei.

Siapakah yang pada akhirnya dipilih dan memilih?

*

Awalnya saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku di kamar sepupu saya. Saat saya ke rumahnya untuk satu tujuan, saya lupa membawa ponsel dan juga buku—karena awalnya saya pikir saya hanya sebentar. Nyatanya saya harus tinggal beberapa jam. Sambil menunggu, tak apa rasanya membaca untuk membunuh waktu. Daripada bosan?

Pada bab-bab awal saya disuguhi dengan perkenalan tokoh-tokohnya. Ada Laut Senja, gadis yang baru saja lulus kuliah dan memilih Bandung untuk tujuan pendidikan selanjutnya—sekaligus ‘lari’ dari masalah yang menimpa keluarganya. Lalu ada Oka, seorang freelancer arsitek yang rela mengorbankan dirinya dipukul pencopet demi menyelamatkan dompet seorang gadis. Kemudian ada Kei, sahabat Oka yang baik dan setia kawan—serta Alin, sahabat Laut yang heboh dan yang kecepatan move on dan jatuh cinta-nya berbanding lurus.

PhotoGrid_1456765559543

Sayangnya, penulis terkesan teledor atau terburu-buru dalam menciptakan tokoh beserta karakternya. Selain tokoh-tokoh yang tampaknya ‘terlalu mudah’ untuk jatuh cinta, karakter-karakternya ‘lemah’ dan ‘tidak hidup’. Saya tak bisa merasakan emosi para tokoh bahkan sampai halaman terakhir saya tak benar-benar mengenal karakter dalam novel ini. Sepertinya penulis mencoba menciptakan tokoh sempurna dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, tapi yang tampak justru karakter-karakter baik dengan kekurangan yang seperti tempelan. Laut yang digambarkan kuat dan tegar, tetapi tak jelas arah dan mimpinya, Oka yang menjadi pemeran utama tapi ‘pesonanya’ dikalahkan oleh Kei, dan karakter-karakter pendukung yang tidak membaur dengan cerita. Selain Laut dan Alin—karena mereka seumuran, karakter Oka dan Kei tak jelas umur dan latar belakangnya. Sekali lagi, saya merasa penulis sangat terburu-buru dalam menulis novel ini.

Konflik yang kentang—kena tanggung—pun makin membuat saya agak berat menyelesaikan buku ini. Tak jelas penulis ingin membawa konflik apa dalam buku ini. Saya tak merasakan emosi tokoh-tokohnya, padahal banyak kisah rumit dan sedih di dalamnya. Konflik yang diusung penulis—masalah keluarga dan kisah cinta—pun berakhir dengan maksa abis. Bahkan tak ada penyelesaian dari tokoh. Kisah ini diakhiri sendiri oleh penulisnya.

PhotoGrid_1456765634054

Novel 257 halaman ini ditolong oleh beberapa ilustrasi karya Wening Insani. Butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk menyelesaikan novel ini. Maafkan saya karena pada beberapa bagian bahkan saya skip untuk dibaca karena tidak terlalu penting menurut saya, yaitu pada halaman 168-175. Bagian saat Oka mengajari Laut tentang mikroekonomi.

Pada akhirnya, kamu tidak akan tahu sebuah buku itu baik atau kurang baik, layak atau kurang layak, cocok sebagai bacaan hiburan atau bagusnya dikritik habis-habisan … sebelum kamu membacanya sendiri. ^^

*

Identitas buku

Judul buku : The Way We Were: kita dulu dan sekarang

Penulis : Sky Nakayama

Ilustrasi : Wening Insani

Penyunting : Mita M. Supardi

Proofreader: Patresia Kirnandita

Penata Letak: Landi A. Handwiko

Desain Sampul: Cecillia Hidayat

Penerbit : GagasMedia

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 257 halaman

ISBN : 9797805367

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379734148-1.jpg

 

 

[Resensi Buku] Leafie : Belajar dari Keteguhan Ayam Betina

PhotoGrid_1456800478648

Hal seperti ini tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Hal-hal yang berharga tidak akan singgah untuk waktu yang lama.”

Leafie hanya merasa bahagia saat memandangi halaman. Melihat para bebek berlalu-lalang dan anjing yang mengejar-ngejar bebek, mengajak mereka bercanda. Menatap semua itu, meski dari balik kandang kawat, lebih menyenangkan dibandingkan dengan menghabiskan makanan.

Ya, Leafie adalah seekor ayam petelur. Sudah setahun lebih sejak Leafie dimasukkan ke dalam kandang kawatnya untuk bertelur setiap harinya. Ia tak bisa mengepakkan sayapnya, pun dengan berjalan-jalan seperti keluarga hewan di halaman. Ia tak bisa mengerami telur-telurnya—meski diam-diam ia sangat ingin. Keinginan yang muncul setelah ia melihat ayam betina di halaman sedang berkeliaran dengan anak-anaknya. Leafie sangat ingin mengerami telur dan melihat kelahiran anak ayam. Sekali saja.

Suatu hari, kesempatan untuk terbebas dari kandang kawat itu muncul. Sayangnya, Leafie harus berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup. Ia terjebak dalam lubang yang penuh dengan bangkai ayam. Leafie nyaris dimangsa oleh musang pemangsa jika tidak segera ditolong oleh Bebek Liar.

Akhirnya Leafie terbebas—sementara—dari musang. Ia berjalan menuju tempat keluarga halaman berada dan minta agar diizinkan bergabung bersama aam, bebek, dan anjing di halaman. Sayangnya, Leafie ditolak dan disuruh pergi meninggalkan halaman. Leafie lalu meninggalkan halaman dan dimulailah petualangan si Ayam Buruk Rupa.

Dimulai dari keajaiban yang datang suatu malam. Leafie akhirnya bisa mengerami sebuah telur. Meski belum tahu siapa pemilik telur tersebut, Leafie merasa sangat senang dan terharu karena bisa merawat dan mengerami telur tersebut. Ternyata, setelah telur itu menetas yang muncul bukanlah anak ayam tetapi anak bebek.

Bukannya meninggalkan si bebek yang diberi nama Greenie dengan gerombolannya, Leafie malah merawat bebek tersebut dengan penuh kasih dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Berdua mereka melalui hari-hari penuh perjuangan, kewaspadaan, dan hidup berpindah-pindah.

Leafie harus mengahadapi segala kesulitan yang mungkin tak pernah dibayangkan saat ia di balik kandang kawat. Mulai dari dimusuhi oleh sesama hewan, nyaris mati dimangsa, kehilangan teman, bertahan hidup, kekurangan makanan, sampai tak punya tempat untuk menetap.

Apakah Leafie tetap bahagia?

*

Leafie merupakan salah satu fabel kontemporer yang terkenal di Korea. Dikisahkan dengan sangat indah oleh Hwan Sun-mi. Tentang pengorbanan, kekuatan, semangat, cinta, dan kebebasan sejati. Ada beberapa tokoh yang cukup ‘kuat’ dalam buku ini. Pertama, Leafie si ayam betina yang pantang menyerah. Ia menamai sendiri namanya dengan Leafie yang berasal dari kata leaf yang berarti daun, salah satu hal yang paling disukainya. Ia memiliki mimpi dan dengan sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Kedua, Bebek Liar atau Si Pengelana adalah seekor bebek yang menghuni halaman rumah dan terkadang disisihkan oleh keluarga bebek yang memberinya tumpangan. Ia adalah seekor bebek yang baik hati, berani, dan rela berkorban. Ketiga, Greenie dari kata green atau hijau seperti daun. Greenie adalah anak dari telur yang dierami Leafie. Seekor bebek yang ceria dan berbeda dari lainnya. Bagi Leafie, Greenie adalah bebek yang istimewa. Lalu ada Musang yang tak pernah menyerah mengincar Leafie dan Greenie, Pasangan Ayam Jantan dan Betina, kelompok bebek putih, dan anjing tua penjaga halaman.

PhotoGrid_1456800312239

Greenie

Aku telah sadar kalau aku baru merasa bahagia saat bersama Ibu. Karenanya, aku pulang, Ibu.”

Saya selalu suka membaca buku cerita anak-anak, dongeng, maupun buku yang tokohnya adalah seorang anak-anak. Saya seakan diajak plesiran ke masa kanak-kanak dulu. menikmati kisah lumba-lumba, bertemu gadis korek api, kurcaci-kurcaci, ataupun kisah petualangan di negeri antah berantah. Leafie mengingatkan saya pada ibu dan ayah yang sering sekali membacakan cerita. Mengingatkan saya bahwa sampai sekarang terlalu banyak pengorbanan yang orang tua saya berikan agar anak-anaknya bisa bertahan hidup. Mengajarkan saya untuk menjadi seorang pejuang yang memiliki mimpi-mimpi yang tak akan pernah berhenti untuk diwujudkan.

Buku ini tak hanya cocok dibaca oleh anak-anak, tetapi bisa dibaca semua umur. Melalui seekor ayam dengan leher botak, kurus, dan tua, kita diajarkan tentang pengorbanan, semangat, dan cinta. Tentang sebuah hubungan yang dibangun bukan dari ‘hubungan darah’ tetapi oleh perasaan saling membutuhkan dan saling cinta.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya—meskipun ilustrasinya mungkin tidak terlalu menarik untuk ukuran anak-anak karena tidak kaya warna atau tidak ‘cerah’. Terjemahannya pun sangat nyaman dibaca. Kekurangan—jika bisa disebut kekurangan—dalam buku ini hanyalah beberapa kesalahan pengetikan. Misalnya, pada kata ‘Leafia’ pada halaman 171 yang harusnya ‘Leafie’. Selain itu, saya rasa novel ini cukup pantas untuk direkomendasikan.

PhotoGrid_1456800173258

Leafie si Ayam dan Greenie si Itik

Mengutip kalimat Kim Seo Jeong, seorang Kritikus Sastra Anak-anak, yang terdapat pada halaman belakang buku ini: Ada tiga jenis ayam betina dalam buku ini. Pertama adalah ayam betina tanpa pikir panjang yang hanya makan dengan kenyang walaupun harus terkunci di dalam kandang kawat tanpa bisa mengerami telurnya sendiri. Kedua adalah ayam betina yang hidup di halaman dengan ayam jantan dan anak-anak ayam. Ia bisa hidup dengan penuh kepuasan, tapi selalu ketakutan seseorang akan ikut campur dan menghancurkan kesehariannya. Dan ketiga adalah ayam betina yang menyimpan keinginan untuk mengerami telur dan menyaksikan kelahiran anak ayam, sampai pada akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan itu.

Kamu mau menjadi ayam betina yang mana?

*

Identitas buku

Judul buku : Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Judul asli : Madangeul Naon Amtak

Penulis : Hwang Sun-mi

Ilustrasi : Kim Hwang Young

Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas

Penyunting : Esti A. Budihabsari

Penerbit : Qanita

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 224 halaman

ISBN : 978-602-9225-75-4

**

Rating:

photogrid_1439379776419-1.jpg

 

[Resensi Buku] Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan : Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Aku menjadi yakin bahwa pada dasarnya perempuan punya watak pelupa jika telah mendapatkan cinta lain yang membuatnya nyaman berlindung di dalamnya.”

2016-02-20_01.11.26

Renja, sang tokoh utama dalam novel ini, akhirnya bertemu dengan Adel, teman masa kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik dan berani. Pertemuan keduanya terjadi di bangku kuliah, saat keduanya—ternyata—kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Renja mengambil Jurusan Arsitektur sedangkan Adel mengambil Jurusan Teknik Sipil di Kampus Merah.

Pertemuan dua teman kecil ini tak hanya membuka jalan ingatan masa kecil mereka, tetapi juga menyadarkan salah satunya bahwa ternyata ada cinta yang ia pelihara sejak kecil… dan tak pernah padam hingga kini. Perjalanan untuk mendapatkan cinta salah satunya ternyata tak semulus yang dikira. Kini, ada orang lain di antara mereka. Bukan hanya itu, perasaan bersalah yang dibawa dari masa lalu makin membuka jurang tak nampak di antara mereka.

Pada akhirnya, bagi Renja, yang sulit dimengerti adalah perempuan.

*

Novel 245 halaman ini menggunakan sudut pandang Renja sebagai pencerita. Ada banyak tokoh yang masing-masing karakternya mudah dibaca. Renja si tokoh utama yang mencintai Adel, melankolis, dan labil; Adel yang seorang aktivis, pintar, dan memiliki senyum menawan; Rustang yang adalah sahabat Renja yang bisa diandalkan, humoris, dan doyan ikut demonstrasi;  Ketua BEM—yang sampai cerita selesai tak diketahui namanya—yang cerdas, dewasa, dan berwibawa; Kumala yang sebenarnya adalah perempuan idaman Rustang, tetapi malah mencintai Renja; Naufal teman kos Renja yang juga mahasiswa kedokteran gigi dan juga kutu buku.

Tokoh dalam buku ini saling berhubungan satu sama lain. Tak heran kalau sudah selesai membaca bukunya kalian juga akan berkomentar bahwa tokoh-tokoh dalam novel ini seperti rantai makanan yang berputar di area itu-itu saja. Tak ada tokoh kejutan. Hanya ada karakter tokoh yang rumit—alih-alih sulit dimengerti.

Konflik utama yang disajikan penulis tak lain dan tak bukan adalah tentang cinta. Bedanya, novel ini menyuguhkan hal lain selain tema yang sudah sangat klise itu. Penulis mengangkat kasus Kospin (Koperasi Simpan Pinjam) yang terjadi di Pinrang sekitar tahun 1998, yang pada saat itu investasi Kospin yang jumlahnya sekitar 800 Miliar dibawa kabur oleh para pemimpinnya dan memicu kerusuhan massal (halaman 60). Kospin menjadi salah satu benang merah penghubung antara Renja dan Adel—satunya anak korban dan satunya anak pelaku. Selain itu, penulis menyuguhkan hal yang berbeda tentang kehidupan mahasiswa yang sering muncul dalam novel-novel lain. Fitrawan dengan berani mengangkat kehidupan mahasiswa Kampus Merah—yang identik dengan salah satu kampus di Makassar—yang sering tawuran antar-fakultas, demonstrasi, bahkan sampai kelakuan para mahasiswa saat Ospek.

Menurut saya, ada dua karakter yang lebih menarik dari dua tokoh utama dalam novel bersampul indah ini; Rustang dan Naufal. Rustang adalah tokoh dengan karakter yang let it flow. Dia menanggapi masalah dengan santai dan tidak dibawa lebay atau melankolis. Bahkan ketika Kumala, gadis pujaannya, lebih memilih Renja daripada dirinya, dengan lapang dada Rustang menerimanya. Rustang adalah penetrasi sikap Renja yang terlalu ‘lemah’. Sedangkan Naufal adalah sosok dewasa yang lewat kalimat-kalimat bijaknya menasihati Renja tiap tokoh utama kita down. Naufal juga mewakili orang-orang yang pada zaman ini masih terikat tradisi dijodohkan dengan perempuan yang masih memiliki hubungan keluarga.

Kalau kau sakit gigi, meski saya belum selesai kuliah, saya bisa mengatasinya. Tapi kalau kau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” (Halaman 153).

Selain kelebihan dan kekurangan di atas, satu hal yang sedikit mengganggu saya adalah bahasa yang digunakan oleh tokoh. Antara mau menggunakan dialek Makassar dengan bahasa Indonesia yang baku, jadinya agak kaku dibaca. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja agar pembaca dari luar Makassar pun tidak terlalu ‘aneh’ saat membaca dialog-dialog tokohnya. Toh dengan penyebutan latar tempat dan budaya atau sesekali bahasa daerah para tokohnya, pembaca akan paham bahwa tokoh-tokohnya berbicara dengan logat atau dialek Makassar.

Kenapa masih mau berteman dengan saya?” Riak ombak menjadi latar suaranya, menambah efek penasaranku akan jawabannya. “Bukannya dirimu seharusnya membenciku?”

“Siapa yang mau berteman? Saya bilang mau lebih dari sekadar teman.”

“Tapi kenapa suka sama saya?”(Halaman 109).

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel ini cocok dibaca untuk siapa saja. Mulai dari remaja, ABG, dewasa, pelajar, mahasiswa, orang kantoran, atau yang pengangguran silakan baca buku ini. Banyak kritik dalam novel ini, kepada pemerintah, birokrasi kampus, bahkan kepada mahasiswa—yang katanya agent of change.

*

Identitas buku

Judul buku : Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis : Fitrawan Umar

Penyunting : Pringadi Abdi

Penyelaras Akhir : Shalahuddin Gh

Pemindai Aksara : Chandra Citrawati

Penata Letak: desain651

Desain Sampul: Iksaka Banu

Penerbit : Exchange

Tahun terbit : 2015

Jumlah hal. : 245 halaman

ISBN : 979602727933-9

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379776419-2-1.jpg

 

[Resensi Buku] Cinta Tak Pernah Tepat Waktu : Mencintai dengan Cara yang Paling Sunyi

Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu, dan sialnya aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.” (Hal. 15)

image

Novel ini berkisah tentang tokoh ‘Aku’–seorang lelaki, mantan aktivis ’98 yang hingga akhir cerita tak diketahui namanya–yang dalam perjalanannya melupakan dan menyembuhkan hati, justru dipertemukan kembali dengan yang dicintainya. Sayangnya, seperti judul novel ini, cinta tak pernah tepat waktu. Begitu pun untuk tokoh utama novel ini. Orang yang ia cintai tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukannya senang, tokoh utama kita justru harus dihadapkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya sudah menjadi milik lelaki lain.

Maka, ia memilih mencintai dengan cara yang paling sunyi.

Dalam perjalanannya untuk menyembuhkan luka, Si Aku mengalami banyak kejadian yang kelak membuatnya merenung dan mengerti bahwa dalam hidup apa yang kita inginkan kadang-kadang tidak sepenting apa yang kita miliki. Bahwa luka, kadang-kadang tidak hanya memberikan rasa sakit atau perih, tapi juga pelajaran berharga dalam proses penyembuhannya.

Novel ini dibuka dengan prolog tentang betapa ‘sial’nya kehidupan tokoh Aku ini, terutama soal cinta. Selanjutnya pembaca akan dikenalkan dengan beberapa perempuan yang menjalin hubungan dengan tokoh Aku dalam rangka menyembuhkan luka hatinya. Berhasilkah ia melupakan mantan kekasihnya yang sudah menjadi istri orang lain? Bagaimanakah pergolakan pemikiran, proses pencarian cinta, dan upaya tokoh utama kita dalam menyembuhkan penyakit yang dideritanya? Silakan baca sendiri. 😀

Pada satu bagian, pembaca akan dibuat sedikit bingung dengan perubahan sudut pandang. Tokoh ‘Aku’ akan berubah menjadi ‘kamu’, entah apa alasan penulis mengubah untuk sementara sudut pandangnya. Selain perubahan sudut pandang pada satu bagian dan beberapa kesalahan pengetikan, tak ada hal lain yang mengganggu. Novel ini cukup menghibur dan berisi banyak hal untuk dinikmati.

Nah, cobalah berkenalan dengan lelaki yang masih betah berkubang dalam kenangan di novel ini.

*

Buku ini juga dijadikan sebagai bahan Diskusi Bulanan Klub Buku Indonesia di WhatsApp untuk bulan Oktober, dengan Maulana Muzirwan sebagai moderatornya.

Diskusi berlangsung seru meskipun saya lumayan telat untuk gabung. Topik yang ramai pastinya tak jauh dari ‘kenangan’, ‘mantan’, dan ‘susah move on‘. Kak Mo berfokus pada tokoh utama kita yang sedikit mempunyai ketakutan untuk menikah setelah ditinggal menikah oleh kekasih yang sangat ia cintai.

Buku yang sekitar 3 kali berpindah penerbit ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata sahabat Sang Penulis sendiri, Puthut EA, yang berinisian N.

Nah, penasaran dengan keseruan Diskusi Bulanan di Grup WA KBI? Yuk, gabung dengan 60-an member lainnya. Selain itu kalian juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

wpid-mbrc2015.jpg

* Buku ini juga bisa kalian dapatkan di toko buku online @foboekoe, @standbuku, atau @demabuku.
———————————–
Judul buku: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Penulis: Puthut EA | Penerbit: INSISTPress | Tahun terbit: 2009 | Jumlah halaman: 213 halaman | ISBN: 978-602-8384-18-6 |

Rating:

image