[Review Buku] Sarelgaz : Dari Band Folk Metal sampai Game Kingdom Rush

@dhilayaumil9421

Sarelgaz dan cerita-cerita lainnya terdiri dari 17 cerpen yang ditulis Sungging Raga dalam kurun waktu 5 tahun. Beberapa di antaranya pernah dimuat di media dan mengalami perombakan, beberapa lainnya adalah cerpen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, Hal menarik dalam cerpen-cerpen yang Raga tulis adalah proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Beberapa cerita lahir dari hal-hal sederhana yang didengar dan dilihat atau ditonton oleh penulisnya. Beberapa tokoh lahir dari lagu yang didengar, pengetahuan tentang suatu tempat di belahan bumi lain, bahkan dari band-band metal.

Cerpen berjudul ‘Alesia’ dan ‘Isara’, misalnya, adalah dua judul cerpen yang diambil dari dua judul lagu berjudul sama dari band folk metal asal Celtic bernama Eluveitie. Alesia bercerita tentang seorang gadis kecil yang berbincang dengan malaikat yang akan menemui ibunya yang sedang sakit keras. Inti dari cerpen ini sebenarnya adalah kekuatan doa. Cerpen ini pernah dimuat di Kompas tahun 2013, menjadi salah satu cerpen dalam antologi cerpen Kompas, dan sempat dibuatkan film pendeknya. Sedangkan cerpen Isara bercerita tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ‘wisata kehilangan’ di kota Yogyakarta, mengingat kembali sosok gadis bernama Isara yang menjadi bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan empat tahun lalu. Ending cerpen ini ditutup dengan kalimat, ‘Setelah bertahun-tahun berlalu, kukira stasiun ini tidak bisa lebih sedih lagi’. Nah, tebak sendiri ceritanya seperti apa. :p

Cerpen Sepertiga Malam Terakhir ditulis Raga setelah melihat kover album Scary Kids Scaring Kids. Pada kover tersebut tampak gambar seorang lelaki dan perempuan yang berpegangan tangan melihat kota yang terbakar. Sedangkan cerpennya bercerita tentang sebuah keluarga korban penggusuran yang pergi meninggalkan rumah mereka sebelum anak-anak mereka menyaksikan alat-alat berat meratakan rumah kecil mereka. Hubungan cerpen ini dengan gambar dalam kover album tersebut terletak di ending cerita. Lagi-lagi kekuatan doa yang menjadi inti cerita dalam cerpen ini.

Cerpen berjudul Nehalenia adalah salah satu cerpen yang unik menurut saya. Bercerita dari sudut pandang lelaki bernama Chiodos yang bertemu dengan hantu perempuan bernama Nehalenia yang mengaku adalah kekasih Chiodos dari dunia hantu. Saat membaca cerpen ini saya teringat salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Murjangkung karya AS. Laksana. Nehalenia sendiri adalah nama salah satu Dewi yang dipuja—di entah mitologi apa. Raga mengakhiri cerpen ini dengan menghadirkan ‘masalah baru’. Dia menyebutnya dengan teknik novel Goosebumps. Penasaran? Silakan baca cerpennya.

Sarelgaz—yang juga dijadikan judul untuk kumpulan cerpen ini—bercerita tentang seorang pemuda bernama Sarelgaz yang terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa selama tujuh tahun. Awalnya Sarelgaz berniat menyepi untuk mendapat ilmu silat dan kesaktian demi cintanya pada Cartesia, tapi justru bertemu seekor ratu laba-laba yang juga telah menunggu siapapun yang datang ke gunung tersebut untuk menjadi mangsanya. Lalu mengapa setelah tujuh tahun berlalu, sang Ratu Laba-Laba belum juga memangsa Sarelgaz? Nama Sarelgaz sendiri diambil dari nama salah satu ‘raja’ dalam game Kingdom Rush.

Cerpen Sebuah Patung Menangis bercerita tentang mitos patung menangis yang terkenal di daerah Woolwich. Mitos yang kemudian dipercayai oleh beberapa muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Jika sepasang kekasih masuk dan mendengar suara tangisan di dekat patung tersebut, maka dipercaya bahwa hubungan mereka tak akan bertahan lama. Sebaliknya, jika tak terdengar suara tangisan, maka hubungan mereka akan berlangsung lama. Sampai suatu ketika sepasang kekasih yang buta masuk lalu keluar dengan wajah murung dan bergumam, “Kami mendengar patung itu tertawa.”, semua pengunjung yang hadir tampak bingung dan bertanya-tanya. Hal menarik lainnya dari cerpen ini adalah proses kreatifnya yang berhubungan dengan kecintaan penulis dengan klub sepakbola Arsenal.

Dongeng Balas Dendam salah satu yang menjadi favorit saya. Inti dari cerpen ini adalah sebuah kesalahan masa lalu yang masih dipertahankan penerusnya sampai sekarang. Mirip-mirip yang terjadi di negara kita, kayaknya. :p

Selain judul-judul cerpen yang saya sebutkan di atas, ada beberapa cerpen lagi yang menarik, seperti Bidadari Serayu, Surat dari Janelle, Kutukan Kurir Kematian, Pesugihan Zombie (yang mengingatkan saya pada game Plants vs Zombie), Laut Kesedihan, dll.

Seperti yang saya kemukakan pada pembuka di atas, banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca kumpulan cerpen ini. Apalagi setelah mengetahui proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Nama-nama unik yang diambil dari nama band metal seperti Eluveitie, Chiodos, Ensiferum, Wintersun, Korpiklaani. Atau cerita yang hadir setelah mendengar lagu-lagu atau video dari band metal tersebut, membaca novel detektif, sampai cerita yang terinspirasi dari sebuah game. Hal-hal yang melekat dalam diri penulis pun tampak pada cerpen-cerpennya: Arsenal, stasiun, dan kisah cinta dramatis ala novel.

Meskipun di awal-awal saya sempat nyaris bosan, tapi semakin menjelang halaman terakhir saya seperti ketagihan membaca tulisan-tulisan Raga. Cerpen-cerpennya dibumbui beberapa humor dan pesan-pesan kecil. Bahkan beberapa cerpen yang sudah saya baca sebelumnya—di http://www.surgakata.wordpress.com— masih menarik untuk dibaca ulang.

Membaca cerita-cerita Raga seperti membaca cerita fantasi. Nama tokoh dan latar tempatnya mengingatkan pada dongeng-dongeng dari negeri lain. Selain surealis, cerpen-cerpen Raga juga mengandung sindiran akan hal-hal yang dianggap sederhana oleh orang lain yang pada kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu. Bagaimana sebuah cerita dan mitos di suatu tempat/daerah dapat memengaruhi keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya. Raga membuktikan bahwa sastra tidak melulu berhubungan dengan sesuatu yang sulit dipahami dan surealis tak serumit yang dibayangkan.

Judul   : Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya

Penulis : Sungging Raga

Editor    : Irwang Bajang

Penerbit : Indie Book Corner

Tahun    : 2014

Jmlh hal. : 144 halaman

ISBN        : 978-602-3090-06-8

 @dhilayaumil

Advertisements

[Catatan Buku] Tentang Lumba-Lumba Warna-Warni dan Kebahagiaan Masa Kecil

Karir membaca saya dimulai sejak umur 4-5 tahun atau saat saya duduk di bangku TK (Taman Kanak-kanak). Saya bersyukur pada umur sekecil itu sudah pandai membaca walau masih terbata-bata. Meskipun perkembangan ‘kualitas’ buku bacaan saya terbilang masih minim, tapi sejak kecil saya terbiasa membaca apapun yang bisa saya baca. Menyenangkan rasanya bisa membaca sederet huruf yang bergabung menjadi kata dan tersusun menjadi kalimat-kalimat indah. Sejak TK sampai umur 22 tahun sekarang, tiap ditanya apa hobi saya, membaca tak pernah absen saya sebutkan. Kalau kata sebuah tagline yang pernah saya baca: reading is my blood. ^^

Saya bersyukur memiliki keluarga yang mendukung hobi membaca saya, terlebih kedua orang tua. Sejak kecil saya dan kakak saya terbiasa disajikan berbagai bacaan. Buku Kisah Nabi dan Rasul, dongeng anak-anak, sampai Koran dan tabloid. Bahkan saat SD saya sudah disuguhi novel tebal seperti Harry Potter dan beberapa novel terjemahan.

Ada beberapa buku yang sangat saya suka saat masih kecil—bahkan sampai sekarang. Tapi ada satu buku yang tiap saya ingat, rasa cinta saya pada kedua orang tua saya—yang mengenalkan membaca sejak kecil—semakin bertambah. Itu adalah empat buah buku bergambar dengan gambar lumba-lumba berwarna-warni di tiap sampulnya.

image

Seri Lumba-Lumba Kecil ♥ (pict from google)

Seri Lumba-Lumba Kecil dengan empat buku yang masing-masing berjudul: Lumba-Lumba Bermimpi, Lumba-Lumba Terjaring, Lumba-Lumba Menari, dan Lumba-Lumba Berwisata.

Saya ingat waktu TK, dulu sering ada penjual buku keliling, mirip sales yang keliling dari satu rumah ke rumah lainnya untuk menawarkan barang dagangannya. Waktu itu saya sedang bermain di teras rumah tepat saat penjual buku masuk dan menenteng tas dan satu bookset buku tersebut. Saya lalu meminta Ibu untuk membelikan buku itu. Ibu membeli dua buah bookset. Satu untuk saya dan satunya untuk kakak saya yang lelaki, selisih satu tahun dengan saya.

Saya mungkin lupa bagaimana ekspresi saya hari itu, tapi saya tak pernah lupa bagaimana kebahagiaan kecil itu bertahan sampai sekarang. :’)

Jadi, buku-buku itu bercerita tentang empat ekor lumba-lumba lucu dan para sahabat mereka. Mereka adalah Lulu Kelabu, Bambabiru, Ungu Terung, dan Jauganggang. nama mereka berdasarkan warna tubuh mereka. Sahabat-sahabat mereka juga memiliki nama yang unik: Sisiripi, Gaga Gurita, dan Kakek Kura-Kura.

image

Lumba-Lumba Terjaring (pict from google)

Buku yang penuh warna dan ilustrasi indah membuat saya tidak bosan membacanya berulang kali. Bayangkan lumba-lumba dengan warna abu-abu, biru, ungu, dan hijau melompat, berenang, bahkan menari di depanmu. Menyenangkan bukan? Buku ini membuat imajinasi anak-anak saya begitu hidup. Mungkin karena itulah buku ini begitu melekat bahkan sampai sekarang. Padahal saya terakhir memegang buku itu waktu SMA, sekitar enam tahun lalu.

Seri buku itu juga merupakan salah satu koleksi buku pertama saya yang bertahan sampai belasan tahun selanjutnya. Gara-gara buku itu juga waktu kecil saya punya impian untuk melihat bentuk lumba-lumba secara langsung dan mau sekali menyentuh mereka.

Buku ini telah turun-temurun dibaca oleh ketiga adik saya. Sayangnya, adik saya—entah yang SD atau yang masih TK sekarang—menaruh buku itu di suatu tempat sehingga buku itu kini raib. Saya cukup sedih ketika tidak menemukan buku itu di rak manapun di rumah. Buku itu cukup bersejarah dan mempunyai kenangan untuk saya.

Nah, kalau kamu, apa buku yang begitu berkesan buatmu dan kenapa itu begitu berkesan?