[Resensi Buku] Pertemuan: Kritik dalam Cerpen Galsworthy

John Galsworthy (atau biasa dikenal dengan John Sinjohn) adalah penulis asal Inggris, penerima nobel sastra tahun 1932. Karya-karyanya sebagian besar merupakan kritik terhadap kelas sosialnya sendiri. Ia merupakan seorang pemberontak kelas wahid. Karya terkenalnya adalah The Forstyle Saga, serangkaian novel tentang sebuah keluarga Inggris.

wpid-photogrid_1436027899602.jpg

PERTEMUAN karya John Galsworthy ini berisi empat buah cerpen, yaitu Mutu, Kumpulan, Pertemuan, dan Kebajikan. Keempat cerpennya dituturkan dengan sederhana dan tidak berbelit. Disampaikan melalui buah pikiran tokoh-tokohnya.

Cerpen pertama, MUTU, bercerita tentang tokoh Aku yang selalu membuat sepatu di tempat Gessler bersaudara, salah satu pembuat sepatu dengan kualitas terbaik. Cerpen ini seolah-olah ingin bertanya pada pembacanya, “Apakah mutu lebih penting daripada jumlah?” Bagaimana usaha yang dirintis Gessler bersaudara makin lama makin bangkrut padahal sepatu buatan mereka adalah sepatu dengan mutu yang paling bagus, dikerjakan dengan penuh perincian dan sepenuh hati demi hasil terbaik.

“Di sanalah ia duduk, terus-menerus bekerja. Saya akan mengatakan hal ini untuknya–tak seorang pun di London mampu membuat sepatu yang lebih baik darinya! Tapi ada banyak lagi toko sepatu yang lain. Dan ia tak pernah mau beriklan….” (hal. 35)

Cerpen lain berjudul KUMPULAN, bercerita tentang seorang lelaki yang berbagi kenangan memalukan yang terjadi pada masa kuliahnya dulu. Tentang bagaimana seseorang yang berubah perilakunya ketika berada dalam sebuah kelompok.

Cerita yang diangkat, pada era sekarang, lebih sering disebut ‘bully’. Bagaimana seseorang yang sedikit unik dan berbeda dari orang lain menjadi ‘sasaran’ kelompok lain untuk di-bully. Tentu saja si P., sang tokoh kita, menyesali perbuatannya saat itu yang ikut tergabung dalam kumpulan orang-orang yang membully tersebut. Terkadang seseorang ikut berbuat jahat bukan karena mereka ingin, tapi karena ikut-ikutan dengan beberapa orang lainnya. Begitulah sifat manusia.

“Ketika kaum lelaki bergerombol dalam sebuah kumpulan, mereka kehilangan nalar atas benar dan salah. Seorang lelaki saat sendirian sebenarnya lebih dekat pada kebaikan daripada keburukan. Saat sendirian, ia jarang berbuat kejam.” (Hal. 39)

Cerpen-cerpen Galsworthy memiliki ide yang sederhana, tetapi dituturkan dengan sangat baik melalui tokoh-tokoh di dalamnya. Ditambah dengan gerak-gerik tokoh dan gambaran suasana pada masa itu. Membaca karya-karyanya membuat kita serta-merta bertanya hal yang sama seperti yang cerpen-cerpennya pertanyakan. Hal yang digambarkan nyata adanya dan memang dialami hampir sebagian besar manusia. Hanya saja kadang kita sendiri yang tidak sadar.

Nah, tidak rugi menikmati cerpen-cerpen penulis Inggris ini. Ada hal lain yang bisa kita ambil dalam cerita-cerita sederhana yang bisa dibaca dalam sekali duduk ini. 🙂
—————————–

Judul buku: Pertemuan | Penulis: John Galsworthy | Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | ISBN: 979-9481-59-7

-dhilayaumil-

Advertisements

[Resensi Buku] Gairah di Gurun : Pesan dalam Karya-karya Balzac

Mari berkenalan dengan seorang pengarang asal Prancis ini. Honoré de Balzac (1799-1850). Pada usia 30, ia mulai mengerjakan The Human Comedy, proyek raksasa yang kemudian menjadi salah satu monumen sastra terbesar sepanjang masa.

Seiring berjalannya waktu, The Human Comedy berkembang menjadi sebuah kumpulan novel dan cerita yang amat banyak. Lebih dari 2.000 tokoh terdapat di dalamnya. Secara keseluruhan, karya tersebut adalah bentuk sejarah kehidupan sosial pada masa hidup Balzac.

image

GAIRAH DI GURUN berisi tiga cerita pendek karya Honoré de Balzac. Rumah Misterius, Peristiwa di Ghent, dan Gairah di Gurun.

Karya-karya Balzac seringkali bernuansa erotis, tetapi tema utamanya sesungguhnya adalah efek buruk uang terhadap manusia. Ini tampak jelas dalam cerpen berjudul ‘Peristiwa di Ghent’. Bercerita tentang seorang perempuan tua sakit-sakitan, yang pada detik-detik kematiannya, sambil dikeliling oleh kerabat-kerabatnya ia tiba-tiba melompat dari tempat tidur. Peristiwa tersebut mengagetkan para kerabat yang datang menemani–sekaligus berjaga-jaga kalau-kalau si perempuan tua mengubah surat wasiatnya. Sampai ajal menjemput, ada sebuah rahasia yang belum sempat diungkapkan si perempuan tua. Nah, apakah para ahli warisnya bisa menangkap ‘pesan terakhir’ yang coba ditunjukkan perempuan itu?

Tak seorang pun yang mau beranjak dari sisi ranjangnya. Mereka semua takut perempuan itu akan mengubah surat wasiatnya di saat-saat terakhir.

Dalam karya-karyanya Balzac juga kerap menggabungkan realisme dengan romantika dan melodrama. Cerpen berjudul ‘Gairah di Gurun Pasir’ (dalam buku lain berjudul Cinta Tak Ada Mati) misalnya, bercerita tentang kisah persahabatan seorang prajurit Prancis yang tersesat di gurun dan bertemu seekor macan betina di sebuah goa. Awalnya tentara memiliki niat untuk membunuh sang macan dikarenakan rasa takutnya akan hewan buas tersebut. Namun, lama-kelamaan terjalin hubungan kasih sayang antara dua makhluk kesepian tersebut. Melalui gerak-gerik dan tatapan matanya, tentara tahu bahwa sang macan tak akan melukainya. Cerita ini ditutup dengan kalimat, “Itu adalah Tuhan tanpa kemanusiaan”. Cerpen ini sendiri ditulis pada tahun 1831 dan untuk pertama kalinya muncul dalam kumpulan cerita berjudul Tales from The Military Life.

Nah, untuk yang senang dengan karya-karya klasik, cerpen Honoré de Balzac bisa dijadikan salah satu pilihan.
———————————–
Judul buku: Gairah di Gurun | Penulis: Honoré de Balzac | Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | ISBN: 979-9481-57-0

-dhilayaumil-

[Review Buku] Balada Ching-Ching : Tentang Balada Penuh Makna

Jika kamu pembaca situs http://www.fiksilotus.com, pasti tidak asing dengan nama Maggie Tiojakin. Dialah yang menerjemahkan cerpen-cerpen klasik karya penulis dunia melalui situs gratis fiksilotus, dengan tujuan menyajikan lebih banyak lagi cerpen asing dalam bahasa Indonesia. Selain menerjemahkan, Maggie juga menulis cerpen, baik itu berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing yang diterbitkan di media-media nasional dan mancanegara seperti Asian News Network, The Boston Globe, Other Voices, La Petite Zine, The Jakarta Post, Kompas, dan beberapa media lainnya. Maggie juga menulis artikel dan novel.

Saat pertama kali membaca cerpen-cerpen fiksilotus, saya mengira kalau Maggie Tiojakin adalah seorang lelaki berkebangsaan asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Hahaha. Kemampuannya menerjemahkan cerpen-cerpen di fiksilotus banyak dipuji. Cerpen-cerpen yang ia terjemahkan sangat bagus, bahkan untuk sebagian orang, terjemahannya tidak meninggalkan ‘jiwa’ dan ‘cita rasa’ karya aslinya. Bukan hanya itu, ia juga tak jarang mengulas sebuah karya untuk didiskusikan bersama dengan para pembaca.

Balada Ching-Ching adalah karya Maggie yang kali pertama saya baca. Sebelumnya saya hanyalah penikmat hasil terjemahannya di fiksilotus. Buku ini memuat 13 cerpen yang beberapa di antaranya pernah terbit di beberapa media. Sebagian besar bahkan lebih dulu terbit dalam bahasa asing sebelum diterjemahkan olehnya. Secara umum, Balada Ching-Ching bercerita tentang pengalaman hidup. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang obsesif, dan lainnya. Seperti judulnya—Balada Ching-Ching: dan balada lainnya—buku ini menyajikan balada kehidupan sehari-hari.

image

Buku ini diawali dengan cerpen Anatomi Mukjizat. Bercerita tentang Malik, seorang pekerja medis di sebuah rumah sakit dan Suci, seorang pasien penderita kerusakan jantung kronis. Malik yang sering melihat mukjizat terjadi pada pasien-pasien yang ia jaga, juga berharap mukjizat datang untuk Suci: sebuah jantung baru.

Takdir, sama seperti muntahan lahar dari mulut gunung dan gulungan air laut yang membanjiri bumi, tidak membedakan korban-korbannya.”  (hal. 8)

Liana, Liana adalah salah satu cerpen favorit saya. Bercerita tentang Liana yang sedang menunggu ibunya yang–tidak seperti biasa–terlambat pulang ke rumah. Saking khawatirnya, berbagai pikiran mulai berputar di kepalanya. Beberapa skenario buruk pun terangkai tentang alasan keterlambatan ibunya. Belum lagi kekhawatirannya semakin besar saat ia melihat headline sebuah surat kabar tentang kecelakaan lalu lintas di alan tol yang menewaskan seorang wanita. Cerpen ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kekuatan sebuah pikiran. Bagaimana pikiran buruk bisa membuat sesuatu yang tadinya baik-baik saja, jadi terlihat tidak baik-baik saja.

Balada Ching-Ching yang juga dijadikan judul buku ini, bercerita tentang seorang gadis keturunan bernama Ching-Ching. Menjadi etnis minoritas di sekolah membuat ia sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya. Belum lagi sikap ayahnya—yang seorang pedagang kwetiau pinggir jalan—yang keras dan menganggap Ching-Ching tak bisa melakukan apa-apa membuat gadis 15 tahun itu tertekan. Balada kehidupan gadis remaja itulah yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini.

Cerpen terpanjang—mengambil 52 halaman—dalam buku ini, Dua Sisi, mengisahkan tokoh bernama Andari—pemuda Indonesia yang sedang bekerja di New York—yang menyaksikan sendiri bagaimana runtuhnya menara kembar WTC. Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Aysha, seorang gadis Beirut—Libanon, yang saat pertemuan pertama mereka melontarkan kalimat yang membuat Andari bergidik ngeri. ‘Sudah saatnya negeri ini mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya terhadap orang lain’. Andari yang membenci kekerasan dengan alasan apapun bertemu dengan gadis pemilik banyak luka akibat masa lalunya yang menyedihkan di Beirut.

image

Sesuai judulnya, cerpen ini mencoba memberitahukan kepada pembaca bagaimana melihat sebuah peristiwa dari kacamata yang berbeda. Dua sisi: Andari dan Aysha. Hebatnya lagi adalah sikap penulis yang sama sekali tidak menggiring pembaca untuk memihak salah satu sisi. Melalui bahasa dan penyampaian yang mengalir membuat kisah ini terkesan nyata. Akhir yang mengejutkan juga menjadikan cerpen ini semakin menarik.

“Semua orang menanti dengan mata nanar di depan televisi, menunggu pemimpin mereka mengucapkan apa yang ingin mereka dengar: balas dendam.” (halaman 55)

Cerpen lain berjudul Suami-Istri berkisah tentang sepasang suami istri yang sudah hidup berumah tangga selama 32 tahun. Saat ulang tahun sang istri yang ke-56, suami menghadiahi makan malam mewah dan seuntai kalung emas. Kehidupan mereka baik-baik saja meskipun selama 32 tahun hidup bersama belum juga dikaruniai seorang keturunan. Segala cara sudah mereka lakukan. Tak ada masalah pada diri mereka, hanya saja mungkin Yang Mahakuasa punya rencana berbeda untuk mereka—setidaknya itu yang dikatakan setiap dokter yang mereka datangi. Ada beberapa wanita—yang tak diketahui sang istri—yang menjadi selingan sang suami di tempat tidur. Karena itu, sang suami juga penasaran apakah ada lelaki lain di kehidupan sang istri selain dirinya.

Membaca cerpen-cerpen Maggie mengingatkan saya pada pernyataannya saat diwawancarai sebuah situs online beberapa tahun lalu: cerita yang baik adalah cerita yang sifatnya tidak kenal geografi dan tidak kenal waktu. Secara umum, cerpen-cerpen dalam buku ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan kita dari berbagai sudut pandang. Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dipahami—tidak berbelit dan tidak berbunga-bunga, hal itulah yang menjadi kekuatan dari cerpen-cerpennya.

Masing-masing cerita dalam buku ini merupakan sebuah bingkai yang memberitahu tentang apa artinya menjadi manusia biasa: yang sedih, senang, gamang, hidup, mati, gila, waras, dikhianati, dipercayai. Karakter-karakternya pun sangat kuat dan terlihat dewasa karena kejadian-kejadian yang mereka alami.

Sangat menyenangkan membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Maggie menghadirkan cerita yang sederhana dengan makna yang dalam pada setiap karyanya. Duncan Graham dari The Jakarta Post bahkan menyebutnya sebagai penulis global. Untuk yang haus akan karya-karya berkualitas, buku ini layak dibaca.
*
Judul : Balada Ching-Ching (dan balada lainnya)
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2010
Jumlah Halaman : 175 halaman
ISBN : 978-979-22-5828-8
**

Makassar, 7 Januari 2015
@dhilayaumil