[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Petualangan Kaki Setan

Akhir-akhir ini Watson jarang menulis kisah tentang sepak terjang Sherlock Holmes. Bukan karena ia kekurangan bahan, tapi lebih karena sifat temannya yang tak terlalu suka dielu-elukan. Watson berpendapat bahwa sahabatnya, Sherlock Holmes, tidak begitu menyukai publisitas.

Bagi Holmes yang pemuram dan sinis, sambutan publik sangat menjijikkan. Yang disukainya setiap kali berhasil menangani sebuah kasus ialah mengalihkan perhatian publik ke pihak berwajib, sehingga dia bisa tersenyum penuh canda ketika publik memberikan ucapan selamat kepada pihak yang tak seharusnya menerima ucapan itu.

Namun, tiba-tiba suatu hari Watson dikejutkan dengan telegram Holmes yang berisi:

Mengapa tak kau tuliskan kisah horor yang terjadi di Cornwall–kasus paling aneh yang pernah kutangani?

Dari situlah Watson lalu menceritakan sebuah kasus aneh yang terjadi pada musim semi tahun 1897. Awalnya Watson dan Holmes berniat menghabiskan waktu untuk beristirahat–dikarenakan kondisi Holmes yang nyaris ambruk–di pondok kecil dekat Poldhu Bay, yang terletak di salah satu ujung Semenanjung Cornwall.

Di sanalah mereka mengalami serangkaian peristiwa yang sempat menggemparkan Cornwall–dan seluruh Inggris Barat. Masyarakat melalui media menyebutnya sebagai ‘Cerita Horor dari Cornwall’.

Kehidupan kedua sahabat yang sederhana, tentram, dan sehat lalu terganggu dengan peristiwa aneh yang menimpa tiga bersaudara Tregennis. Brenda, saudara perempuan mereka, ditemukan tewas mengenaskan dengan sekujur tubuh kaku dan ekspresi wajah yang menakutkan. Sedangkan dua saudara lainnya–Owen dan George–mendadak jadi gila di antara mayat saudara perempuannya. Kesamaan yang ditemukan pada ketiga saudara ini adalah ekspresi wajah mereka yang amat sangat menakutkan. Malam sebelumnya mereka bertiga sempat bersenang-senang dengan satu lagi saudara mereka yang tak tinggal di rumah itu, Mr. Mortimer Tregennis.

Holmes diminta menangani kasus yang paling aneh yang pernah ia temui. Pendeta yang melaporkan kasus ini menyebut pelakunya adalah setan yang menakutkan.

Di tengah-tengah proses penyelidikan, mereka mendapati Mr. Tregennis Mortimer Tregennis tewas dengan cara yang sama anhenya dengan Brenda.

Hal misterius apakah yang menjadi penyebab dua bersaudara tewas dan dua lainnya menjadi gila?
*

Dendam, cinta, dan kesetiaan kali ini tersaji dalam kasus di rumah Tredannick Wartha. Kasus yang melibatkan ‘kaki setan’.

Pembaca masih akan tetap mendapati kelihaiannya Holmes dalam membuat analisis dan kesimpulan. Selain itu, melalui satu uji coba, Holmes dan Watson mempertaruhkan nyawa. Wew!

Cerita ini lagi-lagi sangat seru untuk sekadar dilewatkan pembaca. Banyak informasi baru yang dibeberkan detektif kenamaan kita ini. Melalui sosok Dokter Watson, pembaca diberikan detail-detail kasus yang mengagumkan. Meskipun kasus ini–ceritanya–sudah 13 tahun berlalu dan baru dikisahkan ulang oleh Watson atas permintaan Sherlock Holmes sendiri.

Kadang saya membayangkan kedua sosok mengagumkan ini benar-benar ada dan nyata. Sir Arthur Conan Doyle sangat pandai menciptakan cerita, karakter, dengan latar belakang tempat dan kondisi yang benar-benar nyata sehingga cerita beserta karakter dalam ceritanya memang seperti hidup di dunia nyata. ^^
———————————–
Judul: Sherlock Holmes – Petualangan Kaki Setan | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

Advertisements

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Rancangan Bruce-Partington

Rancangan kapal selam Bruce Partington, yang mengeluarkan dana cukup besar dalam proses monopolinya, lenyap! Berkas yang disimpan di dalam lemari besi yang letaknya dirahasiakan oleh pejabat pemerintahan ini lalu ditemukan dalam saku mayat lelaki yang merupakan pegawai junior di pemerintahan. Hanya 7 dari 10 lembar yang hilang yang ditemukan di saku Cadogan West. Sementara tiga lembar yang belum ditemukan adalah bagian paling penting dalam rancangan kapal selam tersebut.

Kasus ini melibatkan Mycroft Holmes yang merupakan kakak kandung Sherlock Holmes. Mycroft yang sangat jarang berkunjung–dikarenakan kesibukannya sebagai ‘orang paling penting di pemerintahan’–meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah yang membuat orang-orang penting di pemerintahan menjadi panik.

“Kau harus mengesampingkan kasus-kasusmu yang lain, Sherlock. Tak usah peduli dengan pengadilan-pengadilan yang sedang berlangsung. Kau sekarang hanya menangani masalah internasional yang teramat penting ini. Mengapa Cadogan West mengambil berkas itu, ada di mana berkas yang hilang itu, bagaimana Cadogan menemui ajalnya, bagaimana sampai mayatnya ditemukan di tempat itu, dan bagaimana agar kejahatan bisa dibasmi? Temukanlah jawaban atas semua pertanyaan ini, kau akan sangat berjasa bagi negaramu.”

Kasus yang benar-benar menantang kejelian Sherlock Holmes dalam melihat peluang bukti sekecil apa pun itu. Sebuah pertaruhan nama baik seorang detektif dan seorang warga yang sangat mencintai negaranya.
*

Jadi, mari berkenalan dengan pria karismatik, yang kehandalannya dan kemampuannya tak jauh berbeda dengan Sherlock Holmes. Otaknya brilian dan saran-sarannya sangat berguna bagi negara. Ia adalah salah satu orang penting di pemerintahan dengan gaji yang sangat tinggi, tapi masih bersikap sederhana.

Yap, Mycroft Holmes. Kemampuannya tak jauh beda dengan adiknya, Sherlock Holmes. Hanya saja ‘bidangnya’ bukan berlari kian kemari, menanyai orang-orang, dan mengamati dengan kaca pembesar.

Menariknya kasus kali ini adalah karena pembaca disuguhkan kemampuan otak Mycroft Holmes yang–memang–sangat cerdas. Kesan yang ditimbulkan dari tokoh Mycroft adalah lelaki yang cerdas dan pandai mengambil keputusan. Bahkan kemampuannya itu diakui sendiri oleh sang adik dan narator cerita kita–Dokter Watson.

Selain tokoh Mycroft yang menarik, sikap Sherlock Holmes yang tidak sabaran dalam menghadapi orang-orang yang daya pikirnya tak begitu tajam pun cukup membuat gemas. Karakter Holmes yang cuek, tukang sindir, sinis, dan kadang-kadang sering bergerak diam-diam justru yang membuat saya ‘ngefans’ dengan bujangan satu ini. Hahaha.

Salah satu ciri Sherlock Holmes yang khas adalah kemampuannya untuk menghentikan kerja otaknya dan mengalihkan ke hal-hal yang lebih ringan kalau dia yakin telah mengusahakan semuanya semaksimal mungkin. Sepanjang hari dia malah asyik menulis artikel musik, sedangkan aku sendiri menunggu dengan gelisah.

So, saya tidak akan bosan-bosan bilang ke pembaca resensi saya yang baik bahwa tak rugi mengikuti sepak terjang detektif kebanggaan kota London ini. β™₯
——————————
Judul: Sherlock Holmes – Rancangan Bruce-Partington | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Misteri Pusaran Warwickshire

Bukan alam yang memangsa manusia, Watson. Predator yang memangsa manusia adalah manusia itu sendiri.” -Sherlock Holmes-

Sherlock Holmes dan Dokter Watson sedang dalam perjalanan menuju San Fransisco dalam rangka penyelidikan terkait gempa bumi yang menelan ‘lebih banyak’ korban jiwa dan hubungannya dengan walikota yang korup, ketika di tengah perjalanan mereka dikejutkan dengan munculnya pria yang hilang selama kurang lebih 30 tahun lalu tanpa sehari pun kelihatan tua!

Lelaki itu adalah James Phillimore. Seorang lelaki yang secara aneh dan misterius tiba-tiba lenyap pada tahun 1875 dengan hanya meninggalkan bekas gosong berbentuk pusaran di lantai dan secara ajaib muncul tiga puluh tahun kemudian melalui rekaman Vitascope yang baru direkam beberapa saat sebelum Holmes dan Watson menonton rekamannya di sebuah gedung pertunjukan. Dan lelaki yang telah ‘hilang’ selama 30 tahun ini tampak tak berubah menjadi tua sehari pun! Melalui foto dan ingatan Holmes, ia mengidentifikasi bahwa lelaki yang muncul pada Vitascope tersebut adalah James Phillimore, lengkap dengan setelan jas dan payung yang lelaki itu kenakan 30 tahun lalu saat secara misterius menghilang.

Dari situ dimulailah petualangan detektif kawakan dan seorang dokter menyusuri Manhattan untuk menemukan pria yang ‘melintasi waktu 30 tahun tanpa tua sehari pun’.

Ternyata, kejutan lain telah menanti Holmes dan Watson dalam rangka pencariannya. Berhasilkah mereka memecahkan kasus yang tertunda 30 tahun lamanya dalam waktu kurang dari 16 jam sebelum melanjutkan perjalanan ke San Fransisco?
*

Seru dan sedikit ribet. Itulah kesan saya terhadap kasus kali ini. Beberapa kali saya harus mengulang beberapa kalimat sampai saya mengerti. Di awal, khususnya bagian tentang sejarah dan kondisi politik Amerika sedikit disinggung, saya cukup bingung.

Terlepas dari itu, petualangan kali ini cukup seru. Banyak pengetahuan baru yang diberitahukan oleh Holmes kepada pembacanya. Salah satunya tentang perbedaan orang Inggris dengan Amerika dari cara mengikat tali sepatu dan gaya hormatnya. Hihihi. Lalu sedikit disinggung tentang sejarah penemuan benda-benda.

Gaya Holmes yang suka tiba-tiba–memerintah atau mengagetkan orang dengan tindakannya, cuek, dan suka menyindir masih tetap dinikmati dalam cerita ini. Seperti saat Holmes secara tersirat menyindir–bahkan mengejek–Vitascope penemuan Edison.

“Edison tidak menemukan Vitascope seperti aku tak menemukan roda, Watson. Kamera kinetografik dan proyektor pertama dibuat oleh Louis Le Prince, seorang pria Prancis yang tinggal du Yorkshire.”

Dan…

Alat pendidikan paling hebat yang pernah dibuat, dan Edison ini menyia-nyiakannya dengan sandiwara lelucon asal-asalan,” komentar Holmes jijik.

Menarik sekali mengikuti petualangan Holmes dan Watson memecahkan suatu kasus. Kadang saya ikut menebak kira-kira trik apa yang dilakukan pelaku untuk mengelabui Holmes–dan tentunya pembaca lainnya.

Well, Sir Arthur Conan Doyle … Good job! ^^
——————————
Judul: Sherlock Holmes – Misteri Pusaran Warwickshire | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Pria Berbibir Miring

Saya memang sudah sering mengalami bahwa perasaan wanita lebih berharga daripada kesimpulan analitis seorang pemikir.

Petualangan dimulai saat Watson dan Holmes tidak sengaja bertemu di sebuah pondok candu bernama Emas Batangan, yang terletak di Upper Swandam Lane. Saat itu Watson sedang menjemput temannya yang sedang teler dan belum pulang selama dua hari dua malam. Sedangkan Holmes yang ditemui sedang menyamar dalam rangka menyelidi kasus hilangnya seseorang.

Neville St. Clair adalah seorang yang cukup kaya dan menetap di Lee. Ia memiliki seorang istri dan dua orang anak. Dia tak punya pekerjaan, tetapi memiliki simpanan yang cukup banyak di Capital & Counties Bank. Mr. St. Clair memiliki kebiasaan, yaitu tiap pagi dia pergi ke kota, lalu kembali naik kereta api pukul 17.14 dari Cannon Street.

Suatu hari istrinya datang melapor bahwa ia melihat suaminya berada di jendela lantai atas gedung Emas Batangan dan sedang melambaikan tangan dengan wajah bingung dan gelisah. Karena panik istrinya lalu menuju gedung itu dan betapa kagetnya ia karena tak melihat suaminya berada di ruangan itu. Justru yang ia temukan adalah seorang pengemis timpang dengan bibir miring yang berpakaian sangat kumal. Pengemis yang bernama Hugh Boone bahkan berani bersumpah kalau ia tak pernah melihat Mr. St. Clair di tempat itu.

Kecurigaan lalu mengarah oada Hugh Boone karena ditemukan noda darah dan pakaian Mr. St. Clair di kamar sewaannya sekaligus tempat  Mrs. St. Clair terakhir kali melihat suaminya. Pengemis itu lalu ditangkap dan diamankan di kantor polisi.

“Dia cacat, dalam arti jalannya pincang, tapi dalam hal-hal lain dia masih cukup sehat dan kuat. Sebagai seorang dokter, tentunya kau tahu, Watson, bahwa kelemahan satu anggota badan seringkali terkompensasi dengan kekuatan ekstra anggota badan lainnya.”

Lantas, bagaimanakah nasib Mr. Nevill St. Clair selanjutnya? Apakah ia berhasil ditemukan dalam keadaan hidup–ataupun mati? Fakta mengejutkan apakah yang didapatkan dari pekerjaan mengemis yang dilakukan Hugh Boone?

Apa yang dilakukan Holmes untuk memecahkan kasus yang terlihat sederhana tetapi memiliki keunikan tersendiri ini?

*

Hal menarik yang saya temukan dalam kisah ini adalah fakta bahwa pekerjaan mengemis itu bisa menghasilkan uang yang banyak dengan perhitungan-perhitungan brilian. Dalam kisah ini bahkan seseorang rela berhenti dari pekerjaan sebelumnya untuk kemudian beralih menjadi pengemis. Tak ada bedanya dengan pengemis-pengemis zaman sekarang. Bahkan di beberapa negara, ada pengemis yang mampu membeli mobil serta barang-barang bermerk lainnya, bahkan ada pula yang tinggal di sebuah apartemen mewah!

Meskipun kebiasaannya tidak tidur berhari-hari sambil menghisap tembakau amat sangat mengkhawatirkan, tapi kejelian dari hasil pemikiran dan analisisnya patut diacungi jempol.

Salut untuk Sir Arthur Conan Doyle yang mampu menciptakan tokoh yang begitu memikat! ^^

———————————–
Judul: Sherlock Holmes – Pria Berbibir Miring | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Petualangan di Wisteria Lodge

Kalau hukum tak mampu berbuat apa-apa, kita harus berani mengambil risiko.” –Sherlock Holmes

Petualangan Holmes dan Watson kali ini dimulai dari sebuah telegram yang menarik perhatian Holmes karena tertera kata ‘fantastis’. Telegram tersebut lalu membawa mereka pada kasus unik dan sedikit aneh.

Kasus pembunuhan keji yang ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Melibatkan pertikaian dua benua dan seorang diktator yang dijuluki Harimau San Pedro.

Seorang warga Spanyol, Mr. Aloysius Garcia, ditemukan tewas dengan kepala hancur tak jauh dari rumahnya di Wisteria Lodge. Hal-hal yang tidak wajar kemudian ditemukan dalam proses penelusuran Holmes dan polisi setempat.

Mulai dari kedua pelayan yang menghilang secara misterius, diundangnya seorang pria kaya bernama Mr. Scott Eccles–yang juga klien Holmes–untuk membuat alibi, sampai penemuan hal-hal aneh yang ternyata berkaitan dengan seorang yang fanatik dengan voodoo.

Berhasilkah Sherlock Holmes memecahkan kasus ‘fantastis’ ini? Apa hubungan seorang diktator kejam dengan pembunuhan warga Spanyol tersebut?
*

Kasus di Wisteria Lodge ini memang sedikit rumit. Bahkan Watson–sebagai pencerita–tak mampu ‘melaporkan’ kasus secara utuh. Hahaha. Saya pun harus membaca berulang kali di bagian tertentu agar dapat mengerti maksudnya.

Saya suka sikap jujur Holmes, yang meskipun kadang-kadang membuat orang kesal dan tersinggung, tapi justru dengan apa adanya diutarakannya dengan gaya khasnya yang tenang. Justru setelah membacanya saya merasa kalimat Holmes terkesan ‘lucu’.

“Anda ini tak ubahnya rekan saya Dr. Watson, yang punya kebiasaan menceritakan sesuatu dari arah yang berlawanan.”

Sikap penuh minat Holmes terhadap kasus-kasus unik diekspresikan dengan bahasa tubuh yang membuat saya membayangkan sambil tersenyum. Holmes tak ubahnya anak kecil yang sedang menanti mainan barunya selesai dirakit.

Sherlock Holmes tak bisa menahan gelaknya. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya dengan riang, karena koleksi kasus uniknya bertambah satu.

Ada satu tokoh yang menarik dalam cerita ini. Yap, dialah Inspektur Baynes. Seorang polisi ramah, cekatan, cerdas, dan pandai menganalisis. Inspektur yang satu ini sangat bersemangat menangani kasus. Matanya berbinar saat mengetahui sesuatu, bahkan ia sempat mengecoh Holmes dan Watson.

Jadiiiii, kasus kali ini sayang untuk dilewatkan. Banyak hal baru yang bisa pembaca dapatkan, termasuk soal sejarah lho. Seperti cerita yang dibuka dengan kata ‘fantastis’, juga diakhiri dengan kata ‘fantastis’! ^^

Tapi, kalau aku boleh berkomentar, apa yang fantastis itu kok gampang sekali jadi mengerikan.” -Watson-
———————————–
Judul: Petualangan di Wisteria Lodge | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image

[Resensi Buku] Sherlock Holmes : Tuan Tanah di Reigate

Yang paling penting bagi seorang detektif adalah kemampuan untuk mengetahui fakta mana yang cuma kebetulan saja, dan mana yang amat berguna. Kalau tak mampu berbuat demikian, energi dan perhatian akan menjadi kacau dan bukannya terkonsentrasi.” -Sherlock Holmes

Kasus yang ditangani Sherlock Holmes bersama Dokter Watson kali ini terjadi saat musim semi 1887. Saat itu kondisi Holmes sedang tidak baik dikarenakan kelelahan akibat kerja keras.

Demi memulihkan kondisi sang kawan, Watson mengajak Holmes mengunjungi rumah seorang kawannya di Reigate, Surrey. Semata-mata ingin memberikan suasana baru yang lebih nyaman di pedesaan.

Dasar detektif, hidupnya tak jauh-jauh dari kasus. Di Reigate, Holmes nyatanya dihadapkan pada sebuah kasus pencurian yang kemudian berlanjut menjadi kasus pembunuhan yang melibatkan keluarga tuan tanah di sana.

Hm! Kelihatannya sangat sederhana, ya? Tapi kalau dilihat secara lebih cermat, menimbulkan rasa penasaran. Sekelompok pencuri yang beroperasi di sebuah kota kecil biasanya mengincar tempat-tempat bervariasi, dan tak pernah memasuki dua tempat di daerah yang sama hanya dalam tenggang waktu beberapa hari. Ketika tadi malam Anda mengatakan soal adanya bahaya yang mengancam, saya sempat berpikir bahwa tempat ini sebenarnya tak terlalu cocok untuk operasi pencurian. Wah, ternyata saya salah.”

Atas kelihaiannya memecahkan kasus-kasus sebelumnya–mulai dari yang paling sederhana sampai yang berskala besar–polisi di Reigate kemudian meminta bantuan Holmes untuk menemukan pencuri–sekaligus pembunuh dalam kasus ini.

Berhasilkah Holmes memecahkan kasus tuan tanah di Reigate?

Kasus yang awalnya sederhana tapi hampir membuat Holmes celaka!

*

Well, membaca karya-karya Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle tak pernah membosankan. Selalu ada hal yang baru yang disajikan penulis brilian satu ini. Meski pembaca sudah tau karakter tokoh utama kita–Sherlock Holmes–dan sahabatnya–Dokter Watson, tapi membaca kisah-kisahnya tetaplah membawa kesenangan sendiri.

Pembaca tak hanya diajak untuk menelaah kasus, membuat hipotesa, atau menebak siapa pelaku sebenarnya, tapi juga diberi pengetahuan-pengetahuan baru. Pun pembaca diajak melihat kejelian Holmes dalam melihat detail-detail yang kecil dan seringkali dianggap tidak penting.

Dalam kasus Tuan Tanah di Reigate, misalnya, lagi-lagi Holmes memperlihatkan kemampuannya dalam deduksi. Kali ini Holmes menganalisis jenis kelamin dan umur berdasarkan tulisan tangan pelaku.

“Kalian mungkin tak menyadari bahwa kita sebenarnya bisa menduga usia seseorang dari tulisannya. Dan ini sudah dibuktikan kebenarannya oleh para ahli. Biasanya, cara demikian cukup meyakinkan. Saya katakan biasanya karena bisa saja orang yang kita sangka tua berdasarkan tulisannya, sebenarnya belum tua sama sekali, tapi tulisannya mengesankan demikian mungkin karena kesehatannya yang buruk atau tubuhnya yang lemah.”

Jadi, tak rugi mengikuti kisah-kisah detektif bergaya bohemian ini. ^^
———————————–
Judul: Sherlock Holmes – Tuan Tanah di Reigate | Penulis: Sir Arthur Conan Doyle

Rating:

image