[Review Buku] Fantasy : Musik Klasik dan Perjalanan Memenangkan Cinta

Ketika seseorang mempunyai banyak mimpi, namun terlalu lama berada di comfort zone, harus ada seseorang yang membantunya keluar bukan?

@dhilayaumil8980

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

 Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

 *

 Davina menyukai Awang, hanya ketika lelaki itu bermain piano. Awalnya memang seperti itu. Sampai Davina mendapati dirinya benar-benar menyukai lelaki itu bahkan ketika Awang tidak sedang menyentuh piano. Awalnya ia tidak yakin dengan perasaannya, apalagi Awang awalnya justru mengejar Armitha yang adalah sahabat Davina. Lama-kelamaan mereka bertiga—Davina, Awang, dan Armitha—menjadi dekat dan bersahabat baik di sekolah. Awang bahkan berhasil membuat Mitha mau belajar bermain piano dan memainkan musik klasik yang sangat digilai Awang sejak kecil.

 Masa-masa SMA mereka diisi dengan hal-hal menyenangkan dan tentunya tidak jauh-jauh dari piano dan musik klasik. Sampai Awang menyadari sesuatu terjadi di antara mereka bertiga. Ia benar-benar menyukai salah satu di antara dua sahabat karib itu. Awalnya, hubungan mereka baik-baik saja—baik hubungan persahabatan, maupun urusan perasaan—dan saling mendukung satu sama lain. Sampai mereka harus berpisah dengan Awang yang mendapat kesempatan untuk belajar musik dan mengejar mimpinya di Tokyo. Kehilangan, kekecewaan, putus asa, pengorbanan, dan rasa sayang mengiringi perjalanan ketiganya sampai mereka bertemu kembali tujuh tahun kemudian dengan kondisi yang sangat bertolak belakang dengan masa-masa pertemuan mereka di SMA dulu.

@dhilayaumil9084

ada ilustrasi piano pada tiap bab-nya 🙂

 Apa yang membuat Davina tidak mau membalas surat dan kartu pos yang dikirim Awang selama bertahun-tahun? Lalu apa yang membuat Armitha tidak mau lagi menyentuh piano yang membuatnya dulu sangat dekat dengan Awang? Dan apa yang akan dilakukan Awang saat dihadapkan pada pilihan persahabatan ataukah cintanya? Apakah Davina berhasil mempertemukan kedua sahabatnya di panggung kompetisi musik klasik dunia?

 Menyenangkan sekali saat membaca sebuah buku dan menemukan hal-hal baru di dalamnya. Seperti itulah yang saya rasakan saat membaca Fantasy ini. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan, terutama soal musik klasik. Pembaca akan diajak berkenalan dengan Mozart, Beethoven, Stravinsky, Johann Pachebel, dan komposer-komposer dunia lainnya. Barangkali ini adalah novel pertama yang mengangkat tema musik klasik yang saya baca. Kisah cinta remaja menuju dewasa yang disajikan dengan alunan musik klasik benar-benar menarik untuk dibaca.

@dhilayaumil8973

Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama dengan Davina dan Armitha—yang bergantian—sebagai naratornya. Ada dua pembagian waktu cerita dalam buku ini, yaitu saat mereka bertiga SMA dan tujuh tahun kemudian saat mereka bertemu kembali. Selain pengetahuan tentang musik klasik, pembaca juga diajak ‘berjalan-jalan’ mengunjungi beberapa negara dengan sejarah musik klasik di dalamnya. Deskripsi tempat yang digambarkan penulis sangat pas, seolah-olah saya diajak mengunjungi negara-negara tersebut melalui novel ini. Saya sampai googling untuk mengetahui lebih banyak soal kota Salzburg di Wina. :p

Salzburg-high-resolution-1

Kota Salzburg di Austria, salah satu kota yang didatangi Awang dan Mitha. (sumber: google)

 Saya menyukai karakter tokoh Davina dan Mitha yang kuat, dan karakter Awan yang lucu dan menyenangkan—mengingatkan saya pada karakter Levi di novel Fangirl. Hanya saja ada hal yang sedikit mengganggu saya soal karakter mereka bertiga. Meskipun di novel dijelaskan tentang karakter beberapa tokoh yang terlalu dewasa, saya tetap merasa aneh dengan karakter ketiga tokohnya yang—serempak—terlalu dewasa. Dalam pembukaan disebutkan bahwa mereka berusia sekitar 16 tahun, tapi bagi saya karakter yang digambarkan jauh lebih dewasa dari anak sekolah. Bahkan karakter tersebut tidak mengalami perubahan sampai tujuh tahun kemudian. Rasanya seperti ‘menyaksikan’ perubahan usia tokoh, tapi tidak dengan perubahan karakternya yang berjalan sesuai usia. Hmm…

 Meskipun di awal alurnya berjalan cukup lambat, tapi konflik yang dibangun tidak se-klise novel bertema cinta-persahabatan lainnya. Ada beberapa kesalahan pengetikan yang masih bisa dimaklumi. Sampulnya sebenarnya tidak terlalu manarik minta. Haha. Untungnya saya bukan pembaca yang tidak akan membaca buku hanya karena sampulnya tidak menarik. 😀

 Well, novel ini cocok buat kamu yang penasaran atau mencintai instrumen musik klasik, buat kamu yang mau belajar tentang hal-hal baru, buat kamu yang punya impian, buat kamu lagi nunggu angkot, buat kamu yang lagi galau, buat kamu yang lagi bahagia, buat kamu … ah, pokoknya buat siapa saja. 🙂

 Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya, betapa pun besar bakatnya.”

 *

 Judul Buku : Fantasy

 Penulis: Novellina A.

 Editor : Ruth Priscilia Angelina

 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

 Tahun terbit : 2014

 Jumlah hlm. : 312 Halaman

 ISBN : 978-602-03-0355-0

**

salam,

@dhilayaumil