[Resensi Buku] The Way We Were : Tokoh-tokoh yang Terlalu Cepat Jatuh Cinta

PhotoGrid_1456765345137

Karena tidak peduli seberapa kerasnya kamu berusaha, kalau memang sudah waktunya seseorang untuk terluka, dia akan terluka.”

Laut Senja, gadis berusia delapan belas tahun, bertemu dengan Oka Satria Adhiyaksa secara tidak sengaja di atas bus. Pertemuan yang mengantarkan mereka pada hubungan pertemanan yang aneh. Laut yang memilih Bandung untuk ‘kabur’ dari masalah keluarganya di Jakarta merasakan kenyamanan saat bersama Oka yang dewasa dan humoris. Hubungan itu terus berjalan bahkan sampai salah satu di antara mereka jatuh cinta pada satu lainnya dan satu lainnya justru suka pada sahabatnya.

Laut bersama masalah keluarganya yang cukup rumit seringkali memendam sakit sendirian. Dia tak membiarkan Oka, Kei, bahkan Alin—sahabatnya sejak dulu—untuk ikut merasakan lukanya. Sementara Oka menyimpan kisah masa lalu yang membuatnya menjadi impulsif—seperti yang selalu dikatakan Kei.

Siapakah yang pada akhirnya dipilih dan memilih?

*

Awalnya saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku di kamar sepupu saya. Saat saya ke rumahnya untuk satu tujuan, saya lupa membawa ponsel dan juga buku—karena awalnya saya pikir saya hanya sebentar. Nyatanya saya harus tinggal beberapa jam. Sambil menunggu, tak apa rasanya membaca untuk membunuh waktu. Daripada bosan?

Pada bab-bab awal saya disuguhi dengan perkenalan tokoh-tokohnya. Ada Laut Senja, gadis yang baru saja lulus kuliah dan memilih Bandung untuk tujuan pendidikan selanjutnya—sekaligus ‘lari’ dari masalah yang menimpa keluarganya. Lalu ada Oka, seorang freelancer arsitek yang rela mengorbankan dirinya dipukul pencopet demi menyelamatkan dompet seorang gadis. Kemudian ada Kei, sahabat Oka yang baik dan setia kawan—serta Alin, sahabat Laut yang heboh dan yang kecepatan move on dan jatuh cinta-nya berbanding lurus.

PhotoGrid_1456765559543

Sayangnya, penulis terkesan teledor atau terburu-buru dalam menciptakan tokoh beserta karakternya. Selain tokoh-tokoh yang tampaknya ‘terlalu mudah’ untuk jatuh cinta, karakter-karakternya ‘lemah’ dan ‘tidak hidup’. Saya tak bisa merasakan emosi para tokoh bahkan sampai halaman terakhir saya tak benar-benar mengenal karakter dalam novel ini. Sepertinya penulis mencoba menciptakan tokoh sempurna dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, tapi yang tampak justru karakter-karakter baik dengan kekurangan yang seperti tempelan. Laut yang digambarkan kuat dan tegar, tetapi tak jelas arah dan mimpinya, Oka yang menjadi pemeran utama tapi ‘pesonanya’ dikalahkan oleh Kei, dan karakter-karakter pendukung yang tidak membaur dengan cerita. Selain Laut dan Alin—karena mereka seumuran, karakter Oka dan Kei tak jelas umur dan latar belakangnya. Sekali lagi, saya merasa penulis sangat terburu-buru dalam menulis novel ini.

Konflik yang kentang—kena tanggung—pun makin membuat saya agak berat menyelesaikan buku ini. Tak jelas penulis ingin membawa konflik apa dalam buku ini. Saya tak merasakan emosi tokoh-tokohnya, padahal banyak kisah rumit dan sedih di dalamnya. Konflik yang diusung penulis—masalah keluarga dan kisah cinta—pun berakhir dengan maksa abis. Bahkan tak ada penyelesaian dari tokoh. Kisah ini diakhiri sendiri oleh penulisnya.

PhotoGrid_1456765634054

Novel 257 halaman ini ditolong oleh beberapa ilustrasi karya Wening Insani. Butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk menyelesaikan novel ini. Maafkan saya karena pada beberapa bagian bahkan saya skip untuk dibaca karena tidak terlalu penting menurut saya, yaitu pada halaman 168-175. Bagian saat Oka mengajari Laut tentang mikroekonomi.

Pada akhirnya, kamu tidak akan tahu sebuah buku itu baik atau kurang baik, layak atau kurang layak, cocok sebagai bacaan hiburan atau bagusnya dikritik habis-habisan … sebelum kamu membacanya sendiri. ^^

*

Identitas buku

Judul buku : The Way We Were: kita dulu dan sekarang

Penulis : Sky Nakayama

Ilustrasi : Wening Insani

Penyunting : Mita M. Supardi

Proofreader: Patresia Kirnandita

Penata Letak: Landi A. Handwiko

Desain Sampul: Cecillia Hidayat

Penerbit : GagasMedia

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 257 halaman

ISBN : 9797805367

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379734148-1.jpg

 

 

Advertisements

[Resensi Buku] Kambing Jantan : Komedi ala Raditya Dika

Pernah memelihara ikan, kelinci, ayam, anjing, sampai kucing siam… dan semuanya berakhir tragis! Lalu, pengalaman kuliah di luar negeri, jauh dari keluarga dan pacar. Ada juga cerita soal metode penyembuhan jerawat menggunakan ‘kolor bokap’ dan kisah seru tentang anggota keluarga yang lain. Semua Dika bagi dalam diary online-nya di http://www.kambingjantan.com

image

Kambing Jantan adalah kumpulan cerita sehari-hari yang konyol dan unik dari kehidupan Raditya Dika. Format yang ditampilkan adalah format diary, sesuai dengan kalimat di belakang kover–Blog Indonesia Pertama yang Dibukukan–buku ini merupakan kumpulan tulisan Dika yang diterbitkan di blog pribadinya: http://www.kambingjantan.com dalam kurun waktu 2002-2004.

*

Buku Kambing Jantan berisi kisah-kisah ajaib, unik, dan kocak yang ditulis oleh Raditya Dika di blog pribadinya. Objek utama tulisannya tentunya adalah dirinya sendiri–sebagaimana tulisan di bawah judul, ‘sebuah catatan harian pelajar bodoh‘–dan juga kehidupan orang-orang di sekitarnya. Mulai dari orang tua, adik-adik, sahabat, teman kuliah, sampai pacarnya yang dipanggil ‘Kebo’.

Sebelum saya membaca bukunya, saya lebih dulu menonton film Kambing Jantan yang disutradarai Rudy Soedjarwo, beberapa tahun silam. Baru setelah itu saya membaca bukunya.

Sebenarnya, saya tidak pernah benar-benar selesai membaca buku yang terbit sepuluh tahun lalu ini. Saya membaca bagian yang judulnya menarik saja. Beberapa judul tak saya baca karena sudah ‘garing’ sejak di paragraf awal. Ada yang lumayan lucu, tapi tak sedikit juga justru garing. Mungkin kotak ketawa saya tidak banyak. 😐

Kambing Jantan menjadi pionir lahirnya buku-buku sejenis setelahnya. Beberapa penulis buku-buku komedi bahkan blogger lahir dengan buku-buku personal literature yang menjual tema yang sama. Hebatnya, sampai sekarang, buku Kambing Jantan masih bertahan. Entah sudah memasuki cetakan ke 30 atau bahkan 40 lebih. Raditya Dika bahkan belum ada yang ‘menandingi’ dalam hal menulis buku-buku sejenis. Terbukti dengan setiap peluncuran buku terbarunya, pembaca akan berbondong-bondong memesan dan bukunya akan terpajang dalam rak ‘best seller’ di toko-toko buku. Bahkan Kambing Jantan pun naik cetak bahkan setelah 10 tahun masa terbitnya. Wew.

Lalu apa yang ‘dijual’ Dika dalam buku-bukunya, khususnya Kambing Jantan?

Sebagai pembaca beberapa buku Raditya Dika–tapi sayangnya bukan penggemar karyanya–saya menemukan ‘kepolosan’ dalam Kambing Jantan. Kepolosan Dika dalam menulis kisahnya. Tujuan Dika mungkin murni menghibur pembaca setia blognya–meskipun saya tetap tak merasa lucu setelah membaca–tanpa dibuat-buat agar pembaca terkesan. Justru dibanding karya-karya Dika setelahnya, Kambing Jantan menurut saya adalah karyanya yang paling jujur.

Kebiasaan Dika ‘curhat’ di blog juga diikuti sebagian besar pembacanya yang kemudian rajin menulis kegiatan sehari-harinya di diary online tersebut. Fenomena Kambing Jantan bertahan hingga sekarang.

Selain garing di beberapa tulisan (hahaha), hal yang sebenarnya mengganggu saya saat membaca buku ini adalah penggunaan bahasa gaul atau bahasa yang digunakan penulis. Kesalahan pengetikan, penggunaan tanda baca yang tidak pada tempatnya, bahasa prokem/gaul, bahasa tidak baku, sampai tulisan yang disingkat-singkat sebenarnya cukup membuat saya melatih kesabaran. Tapi, mengingat informasi bahwa isi buku ini merupakan tulisan yang diambil dari blog, saya mahfum saja. Mungkin editor dan pihak penerbit mau mempertahankan ke-orisinalitas-an tulisan sang blogger.

Hal lain yang untuk saya pribadi agak kurang nyaman adalah sebagian besar tulisan Dika menggunakan kata-kata yang hmmm menjurus ke hal-hal vulgar–atau apalah istilahnya. Meskipun diceritakan dengan gaya komedi, saya masih aneh saja membaca tulisan yang berbau hal-hal seperti itu. Yang pasti sih, buku ini belum akan saya rekomendasikan kepada adik-adik saya. :p

Tinggal Lima Hari Lagi Saya di Jakarta (Monday, July 5)
Gw: (baru pulang dari jalan”) Duh capek….
Ingga: (tiba” dateng) Bang bang…
Gw: kenapa ngga?
Ingga: Bang tadi mama nitip pesen…
Gw: apaan?
Ingga: katanya mama, abang harus NGASI LIAT TITIT ABANG KE EDGAR!
Gw: masyaoloh
Ingga: Iyah, biar Edgar tau contohnya titit yang sudah disunat.
Gw: Ya ampun, liat aja tuh idungnya Bang Pito !!

Poin lain dalam buku ini adalah saat Dika membagi pengalamannya kuliah dan hidup di luar negeri. Atau tentang kisah hubungan jarak jauhnya dengan pacarnya. Meskipun tidak banyak hal yang bisa diambil dari kisahnya, setidaknya penulis berbagi tentang kebiasaan orang luar dan cara mengatasi hal-hal yang unik di sana–tentunya tipsnya ‘unik-unik’ juga. 😀

Adelaide adalah Kota Paling Miskin di Ostrali (Monday, April 26)
Perbedaan antara Jakarta dan Adelaide sebagai kota paling miskin di Oatrali udah mulai kerasa. Yang jelas pas gw turun dari pesawat kemaren, gw langsung dikagetkan dengan fakta bahwa kita turun pesawat dengan menggunakan TANGGA. Yak, itu benar sekali sodara” … T-A-N-G-G-A.

Oh, iya, saya akhirnya membaca ulang Kambing Jantan setelah Klub Buku Indonesia menjadikan buku ini sebagai buku untuk Diskusi Bulanan Bulan Juli beberapa hari yang lalu. Yah, meski lagi-lagi saya tidak membaca secara keseluruhan.

Poin-poin yang jadi bahasan utama saat diskusi adalah:
1. Fenomena ‘curhat’ di media sosial–blog–serta kaitannya dengan generasi Z atau generasi internet.
2. Batasan curhat di media sosial.
3. Bahasa prokem/gaul yang dipakai Raditya Dika dalam bukunya yang memberi perspektif baru kepada pembaca.

Dan dua jam yang lalu akhirnya saya benar-benar membaca buku ini secara keseluruhan demi kepentingan resensi ini. Huaaa akhirnya berhasil–setelah jatuh tertidur dua kali! *sujud syukur*

Judul buku: Kambing Jantan: sebuah catatan harian pelajar bodoh | Penulis: Raditya Dika | Penyunting: Denny Indra | Penerbit: GagasMedia | Tahun Terbit: 2005 (cetakan ke-23, 2008) | Jumlah halaman: xx + 235 halaman | ISBN: 979-3600-69-1
———————————–

image

Nah, buat kamu yang mau ikut keseruan Diskusi Buku Bulanan KBI, silakan bergabung di grup WhatsApp KBI. Kamu juga berkesempatan mengikuti
#MBRCKBI2015 lho.^^