[Resensi Buku] Paper Towns : Kota Kertas dengan Segala Misteri di Dalamnya

Kota ini terbuat dari kertas, tapi kenangan-kenangannya tidak. Semua yang telah kulakukan di sini, seluruh rasa cinta, iba, belas kasihan, kekerasan, dan dendam, terus membuncah dalam diriku. Dinding-dinding batu genting yang dikapur putih. Dinding-dinding putihku. Dinding-dinding putih Margo. Kami telah terpenjara di dalamnya begitu lama, terperangkap dalam perutnya seperti Yunus.”

wp-1488570157647.jpg

Quentin Jacobson berteman dengan tetangganya, si cantik Margo Roth Spiegelman, setidaknya sampai mereka menginjak umur sebelas tahun. Setelah itu mereka seperti orang asing. Mereka tumbuh menjadi remaja yang berbeda. Di sekolah, Margo adalah gadis yang populer, memiliki pacar yang ganteng dan atletis. Sedangkan Q tergabung bersama para nerd. Ia memiliki dua sahabat karib bernama Ben dan Radar.

Lalu, sebuah malam mengubah semuanya. Margo tiba-tiba muncul di depan jendela Q seolah-olah selama ini mereka adalah teman sangat akrab. Margo mengajak Q menjalani satu malam mendebarkan dan mengasyikkan. Margo menyebut malam tersebut sebagai malam ‘Mendatangkan hujan badai untuk musuh-musuh kita’.

Q mengira itulah awal mula ia akan kembali akrab dengan tetangga–sekaligus cinta monyet–nya. Sayangnya, Margo selalu penuh kejutan. Besoknya, ia menghilang. Tak ada yang tahu di mana gadis itu berada, termasuk orang tuanya. Mereka bahkan bilang kalau ini sudah kali keempat Margo menghilang dan berharap gadis itu tak usah pulang saja saking jengkelnya.

Melalui petunjuk-petunjuk yang–entah sengaja atau tidak ditujukan kepada Q–ditinggalkan Margo, Q menelusuri jejak-jejak gadis itu. Ia bersama kedua sahabatnya mengalami petualangan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan dilalui pada tahun terakhir mereka di SMA. Continue reading

[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

“Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.”

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

[Resensi Buku] Corat-Coret di Toilet : Cerita dari Balik Dinding

Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik, penjahat  besar yang keji, kotor, dan bau neraka memang susah dikalahkan dan susah mati.” (Peter Pan)

photogrid_1478120869306

Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata: ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan-gagasan radikal progresif, tentang ajakan kencan mesum, dan ada pula penyair-penyair yang puisinya ditolak penerbit menuliskan seluruh masterpiece-nya di dinding toilet. Dan para kartunis amatir, ikut menyemarakkannya dengan gagasan-gagasan ‘the toilet comedy’. Hasilnya, dindig toilet penuh dengan corat-coret nakal, cerdas maupun goblok, sebagaimana toilet-toilet umum di mana pun: di terminal, di stasiun, di sekolah-sekolah, di stadion, bahkan di gedung-gedung departemen. (Corat-Coret di Toilet, halaman 27-28)

Buku ini memuat 12 judul cerpen yang ditulis selama periode tahun 1999-2000. Corat-coret di Toilet kali pertama terbit sekitar tahun 2000 oleh Yayasan Aksara Indonesia berisi sepuluh cerpen, kemudian diterbitkan ulang oleh Gramedia pada tahun 2014 dengan menambah dua cerpen lagi. Cerpen-cerpen tersebut adalah Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat Si Orang Gila, Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, Siapa Kirim Aku Bunga?, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti, Kisah dari Seorang Kawan, Dewi Amor, serta Kandang Babi. Hampir semua cerpen saya suka. Favorit saya adalah tiga cerpen pertama—Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, serta Corat-Coret di Toilet.

Peter Pan bercerita tentang seseorang yang suka membaca buku dan menulis puisi yang gemar mencuri buku. Ia mencuri buku agar ditangkap, dengan demikian ia tahu bahwa pemerintah sangat mencintai buku seperti dirinya. Sayangnya, ia tak pernah ditangkap karena mencuri buku-buku yang jumlahnya mencapai ribuan. Kisah Peter Pan ini mengingatkan kita pada sosok Wiji Tukul dan orang-orang yang sampai sekarang masih dinyatakan hilang. Silakan baca cerpennya untuk tahu hubungan Peter Pan si Pencuri Buku dengan penyair kita itu.

Dongeng Sebelum Tidur mengambil kisah Syarazad dalam 1001 Malam. Berkisah tentang pasangan yang baru saja menikah. Sang istri tak mau melakukan hubungan suami istri jika dongengnya belum selesai dibacakan. Tengan saja, tak ada adegan tebas-tebasan leher dalam cerita ini. Tapi, kalian akan kagum dengan kecerdasan penulis meramu ending yang … hmm baca sendiri, monggo.

Corat-Coret di Toilet lebih sederhana lagi. Berkisah tentang dinding toilet yang menyimpan banyak kisah. Seperti potongan paragraf dalam pembuka ulasan ini, dinding toilet hanya ruangan marjinal tempat orang-orang berceloteh. Banyak hal yang disimpan oleh dinding toilet, bahkan dinding toilet lebih dipercaya daripada bapak-bapak anggota dewan.

Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.”

*

Saya kali pertama bertemu dengan Eka Kurniawan sekitar Juni 2014. Saat itu saya menjadi volunteer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) di mana Eka Kurniawan sebagai salah satu partisipan dalam festival tersebut. Saat itu saya mengurusi dua program yang dibawakan Eka—salah satunya adalah launching buku Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Saat meminta tanda tangan untuk buku Cantik Itu Luka—buku Eka Kurniawan yang saya baca kali pertama dan langsung membuat saya jatuh cinta dengan tulisan-tulisannya—saya sempat bertanya padanya, “Apa sih isi kepala Mas Eka? Sehari-hari makan apa, Mas?” dan dia hanya menjawab dengan senyum sambil menandatangani buku. Kami akhirnya bertemu kembali saat MIWF 2016 dan lagi-lagi saya mengurusi program-program yang ia bawakan—termasuk launching buku O. Continue reading

[Resensi Buku] Wonderful Life : Hidup Ini Indah Jika …

2016-09-28-05-12-46-11

Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi. Petualanganku tiap pagi sejak kanak-kanak hingga remaja selalu dimulai dengan raut wajah Bapak yang dingin. Ia mewajibkan kami, kelima anaknya, sarapan bersama di meja makan dengan sikap sempurna. Duduk tegak, berpakaian rapi, sikap tertib.

“Membaca itu,” kata Bapak, “… adalah jendela dunia. Kamu akan menonjol jika pengetahuanmu luas! Percaya dirimu akan tumbuh kuat jika engkau paham banyak hal! Orang akan menghargai isi otakmu, bukan penampilanmu!”

Begitulah kisah Amalia Prabowo dimulai. Sejak kecil ia menjalani hidup teratur dan terencana. Semua aman terkendali. Selepas SMA ia mendapat ‘tiket’ PMDK (Penelusuran Minat Dan Bakat) di salah satu universitas terbaik dan bergengsi di negeri ini. Taklama setelah lulus kuliah ia menikah dengan sosok laki-laki yang menurutnya mendekati ‘sempurna’—sampai tiba-tiba bencana itu datang. Mereka harus berpisah dikarenakan beberapa prinsip. Salah satunya karena keluarga suaminya ‘menuntut’ adanya keturunan dalam pernikahan mereka sementara Amalia dan suaminya waktu itu lebih memilih fokus pada karir dan tak terlalu memikirkan keturunan.

Tanpa sadar kugali sendiri jurang yang memisahkan diriku dengan suami, yang dulu pernah menjadi idolaku. Setelah berjalan 10 tahun, kehidupan perkawinan kami merapuh. Kami menjadi dua sosok alien di rumah sendiri. Bahasa kami berbeda, ritme hidup kami tak lagi sama, bahkan kami saling menjauh.” (Halaman 35)

Tak butuh waktu lama bagi Amalia untuk bangkit. Baginya, hidup harus terus berjalan. Karirnya terus meningkat, tanggung jawab bertambah, dan gaya hidup juga berubah. Setelah dua tahun hidup—dalam sepi—naluri perempuannya memintanya untuk berkeluarga lagi dan punya anak. Dia ingin hidupnya lebih berwarna. Ia akhirnya menikah lagi dengan seorang lelaki yang memberinya dua malaikat kecil; Aqil dan Satria.

Hidup nyaris sempurna bukan berarti tak ada masalah dalam hidupnya. Satu per satu masalah datang. Mulai dari masalah kantor—dikhianati, dimusuhi karyawan, lalu dikucilkan—hingga masalah rumah tangganya. Namun, masalah perkembangan Aqil-lah yang membuatnya paling kaget.

Aqil suspek disleksia.

Bagaimana seorang Amalia, ibu dari dua orang anak, menghadapi masalah yang bertubi-tubi menimpanya? Akankah ia menyerah? Atau berdamai dengan Pemilik Kehidupan? Ikuti kisahnya dalam buku ‘penuh warna’ ini.

Continue reading