[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

โ€œAku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.โ€

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] Tiga Pertapa : Tolstoy dan Pesan Moral dalam Karyanya

Leo Tolstoy lahir pada tahun 1828 di Yasnaya Polyana, Rusia, di kalangan ningrat Rusia. Masa kuliah dihabiskan dengan berfoya-foya, berjudi, dan minum-minum.

Pada tahun 1856 Tolstoy melakukan perjalanan keliling Eropa Barat. Kegelisahan jiwanya mulai menemukan arah dalam perjalanannya. Ia mulai mempertanyakan kesia-siaan hidup manusia. Selama sisa hidupnya ia bergulat dengan spiritualitas yang diyakininya.

Pada usia 34, Tolstoy menikah dan menghabiskan 15 tahun berikutnya di rumah keluarga besarnya. Di sana ia menulis novel yang mengukuhkan namanya di jagat sastra–War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873).

Pertanyaan tentang makna dan tujuan hidup masih memburunya. Ia menjadi pembaharu moral dan mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Hartanya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Orang-orang dari segala penjuru dunia mengikuti ajaran-ajarannya tentang kesederhanaan dan kebajikan.

Keberhasilan Tolstoy sebagai pemimpin spiritual amat dipengaruhi oleh reputasinya sebagai salah seorang penulis terbesar dunia. Novel-novel dan cerpen-cerpennya amat kuat dan bercorak realistis, serta tokoh-tokoh rekaannya tak terlupakan.

image

TIGA PERTAPA terdiri dari tiga buah cerpen yang ditulis oleh pria berdarah bangsawan ini, yaitu: Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang?, Tiga Pertapa, dan Pengasingan yang Panjang.

Cerpen pertama, Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang? bercerita tentang seorang petani yang tak pernah puas dalam hidupnya. Ia berpindah dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya demi meningkatkan derajat hidupnya. Jika ada tanah yang menjanjikan lebih, ia akan pindah ke tempat itu. Ending sekaligus inti pesan yang ingin disampaikan Tolstoy kepada pembacanya sangat menawan.

Cerpen kedua, Tiga Pertapa–sekaligus dijadikan sebagai judul kumpulan cerpen ini–cukup dikenal. Bahkan beberapa tahun silam sempat ‘hangat’ ketika salah satu cerpen pemenang di salah satu media cetak ternama diisukan memplagiat cerpen ini. Tiga Pertapa bercerita tentang tiga orang pertapa tua yang hidup di sebuah pulau.

Suatu hari seorang uskup mengunjungi mereka dan bertanya, “Bagaimana cara kalian melayani Tuhan di Pulau ini?”

Salah satu pertapa menjawab bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan.

Lalu sang uskup bertanya lagi, “Lalu bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?

Pertapa menjawab, “Kami berdoa seperti ini: ‘Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Begitulah, hingga sang uskup bersikeras mengajarkan tiga pertapa itu bagaimana cara berdoa yang benar sesuai cara berdoa yang diajarkan oleh kitab mereka. Sang Uskup menyuruh tiga pertapa untuk mengulang-ulang perkataannya sampai mereka bertiga menghapalkannya.

Tiga pertapa lalu berhasil menghapalkan doa yang diajarkan oleh uskup.

Lalu apakah yang menyebabkan Sang Uskup terperangah dan mengerti makna dari berdoa yang sebenarnya?

Cerpen terakhir, Pengasingan yang Panjang–dalam kumpulan lain berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu–bercerita tentang saudagar muda yang dihukum atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ia menghabiskan nyaris separuh hidupnya di penjara, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sikap sang saudagar-lah yang membuat cerita ini begitu religius, sangat menyentuh, dan tak disangka-sangka. Hal apa kira-kira yang diperbuat ‘sang terpidana’ ini semasa menjalani hukuman di penjara? Berhasilkah ia mendapatkan keadilan yang dulu ia sangat dambakan?

Sederhana dan menyentuh. Itulah yang saya tangkap setelah membaca karya-karya Tolstoy dalam buku ini. Tolstoy tidak menggunakan bahasa berbunga-bunga untuk menyampaikan kisah tokoh-tokohnya. Banyak pesan yang sama sekali tidak menggurui.

Terlihat jelas bagaimana pengalaman religius Tolstoy dituangkan dalam cerita-ceritanya. Tolstoy menghadirkan Tuhan melalui cerpen-cerpennya. Bagaimana keadilan versi manusia dan versi Tuhan hadir melalui tokoh Aksionov yang dikurung dipenjara. Atau kekuatan doa hadir melalui interaksi Uskup dan Tiga Pertapa. Atau pesan kehidupan melalui petani yang tamak. Ketiga cerpen dalam buku ini juara! ๐Ÿ˜€

Karya-karya Tolstoy lebih banyak bercorak realis dan bernuansa religius. Sarat dengan perenungan moral dan filsafat.
———————————–
Judul buku: Tiga Pertapa | Penulis: Leo Tolstoy | Penerjemah: Anton Kurnia | Editor: M. Ni’mal Fata | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | Jumlah halaman: 96 halaman | ISBN: 979-9481-60-0

Rating:

image

[Resensi Buku] Pertemuan: Kritik dalam Cerpen Galsworthy

John Galsworthy (atau biasa dikenal dengan John Sinjohn) adalah penulis asal Inggris, penerima nobel sastra tahun 1932. Karya-karyanya sebagian besar merupakan kritik terhadap kelas sosialnya sendiri. Ia merupakan seorang pemberontak kelas wahid. Karya terkenalnya adalah The Forstyle Saga, serangkaian novel tentang sebuah keluarga Inggris.

wpid-photogrid_1436027899602.jpg

PERTEMUAN karya John Galsworthy ini berisi empat buah cerpen, yaitu Mutu, Kumpulan, Pertemuan, dan Kebajikan. Keempat cerpennya dituturkan dengan sederhana dan tidak berbelit. Disampaikan melalui buah pikiran tokoh-tokohnya.

Cerpen pertama, MUTU, bercerita tentang tokoh Aku yang selalu membuat sepatu di tempat Gessler bersaudara, salah satu pembuat sepatu dengan kualitas terbaik. Cerpen ini seolah-olah ingin bertanya pada pembacanya, “Apakah mutu lebih penting daripada jumlah?” Bagaimana usaha yang dirintis Gessler bersaudara makin lama makin bangkrut padahal sepatu buatan mereka adalah sepatu dengan mutu yang paling bagus, dikerjakan dengan penuh perincian dan sepenuh hati demi hasil terbaik.

“Di sanalah ia duduk, terus-menerus bekerja. Saya akan mengatakan hal ini untuknya–tak seorang pun di London mampu membuat sepatu yang lebih baik darinya! Tapi ada banyak lagi toko sepatu yang lain. Dan ia tak pernah mau beriklan….” (hal. 35)

Cerpen lain berjudul KUMPULAN, bercerita tentang seorang lelaki yang berbagi kenangan memalukan yang terjadi pada masa kuliahnya dulu. Tentang bagaimana seseorang yang berubah perilakunya ketika berada dalam sebuah kelompok.

Cerita yang diangkat, pada era sekarang, lebih sering disebut ‘bully’. Bagaimana seseorang yang sedikit unik dan berbeda dari orang lain menjadi ‘sasaran’ kelompok lain untuk di-bully. Tentu saja si P., sang tokoh kita, menyesali perbuatannya saat itu yang ikut tergabung dalam kumpulan orang-orang yang membully tersebut. Terkadang seseorang ikut berbuat jahat bukan karena mereka ingin, tapi karena ikut-ikutan dengan beberapa orang lainnya. Begitulah sifat manusia.

“Ketika kaum lelaki bergerombol dalam sebuah kumpulan, mereka kehilangan nalar atas benar dan salah. Seorang lelaki saat sendirian sebenarnya lebih dekat pada kebaikan daripada keburukan. Saat sendirian, ia jarang berbuat kejam.” (Hal. 39)

Cerpen-cerpen Galsworthy memiliki ide yang sederhana, tetapi dituturkan dengan sangat baik melalui tokoh-tokoh di dalamnya. Ditambah dengan gerak-gerik tokoh dan gambaran suasana pada masa itu. Membaca karya-karyanya membuat kita serta-merta bertanya hal yang sama seperti yang cerpen-cerpennya pertanyakan. Hal yang digambarkan nyata adanya dan memang dialami hampir sebagian besar manusia. Hanya saja kadang kita sendiri yang tidak sadar.

Nah, tidak rugi menikmati cerpen-cerpen penulis Inggris ini. Ada hal lain yang bisa kita ambil dalam cerita-cerita sederhana yang bisa dibaca dalam sekali duduk ini. ๐Ÿ™‚
—————————–

Judul buku: Pertemuan | Penulis: John Galsworthy | Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | ISBN: 979-9481-59-7

-dhilayaumil-

[Review Buku] Kucing Hitam : Sihir dalam Karya-karya Poe

Edgar Allan Poe (1809-1949) memiliki kisah hidup yang penuh penderitaan layaknya cerpen-cerpennya. Namun, ia memiliki bakat besar sebagai penulis dan merupakan seorang pekerja keras. Ia menulis puisi, cerpen, dan kritik sastra. Kisah-kisahnya mengenai misteri, horor, dan kejahatan menjadi dasar bagi cerita detektif modern. Hanya segelintir penulis yang mampu mendekati pencapaian Poe dalam hal kekuatan dramatis dan intensitas emosional.

Poe bisa dibilang merupakan arsitek cerpen modern. Pada 1832, ia merupakan orang pertama yang berkeras bahwa cerpen seharusnya membangun efek tunggal. Gagasan lainnya berkaitan dengan panjang cerpen. Ia meyakini bahwa seorang pembaca seharusnya bisa menuntaskan sebuah cerpen “dalam sekali duduk”. Poe diakui secara luas sebagai salah seorang pengarang Amerika paling penting abad ke-19.

image

Buku ini menghimpun empat buah cerpen Edgar Allan Poe, yakni: Tong Anggur, Topeng Maut Merah, Sebuah Kisah, dan Kucing Hitam. Keempatnya mewakili kekhasan Poe dalam menulis mengenai misteri, horor, kejahatan, mitos, dan hal yang menakutkan.

Cerita pertama, Tong Anggur, berkisah tentang dua orang kaya yang sangat menyukai anggur. Orang pertama adalah seorang yang sombong lagi bodoh. Sedangkan orang kedua lebih pandai, tetapi jahat. Salah satu di antara mereka ingin balas dendam atas sebuah penghinaan dari yang lain. Maka, disusunlah sebuah rencana yang mematikan berkaitan dengan kesukaan mereka terhadap anggur.

Cerpen kedua berjudul Topeng Maut Merah. Penyakit ‘maut merah’–dinamai berdasarkan nama darah–melanda sebuah negeri. Tak pernah ada penyakit yang begitu mematikan dan amat mengerikan sebelumnya. Sang Pangeran yang pandai mencoba meloloskan diri dari penyakit mematikan tersebut. Maka, ia dan rombongannya pergi ke sebuah puri megah miliknya yang terletak di luar wilayah negeri itu. Akankah rencana pangeran bisa mencegah nasib buruk mereka?

Cerita berjudul “Sebuah Kisah” merupakan salah satu favorit saya. Menggunakan sudut pandang orang pertama, seseorang yang merencanakan pembunuhan dengan begitu ‘sempurna’. Poe mengajak pembacanya melihat isi kepala orang gila yang berpikir cukup jernih untuk merencanakan sebuah pembunuhan. Melalui tokoh ‘aku’, pembaca diajak mengikuti secara detail apa yang dilakukannya terhadap lelaki tua. Kengerian yang dibangun perlahan-lahan dalam kisah ini pula yang membuatnya menjadi salah satu cerpen Poe yang paling terkenal.

Cerpen terakhir–dan juga dijadikan judul kumpulan cerita ini–berjudul Kucing Hitam. Bercerita tentang seseorang yang besok akan dihukum mati. Ia bercerita secara runut apa yang menyebabkan sampai ia berada di posisinya saat ini. Semua bermula pada saat ia menikah muda dan memiliki hewan piaraan yang banyak. Salah satunya adalah kucing hitam yang pintar dan menjadi salah satu hewan yang disayangi si ‘aku’ dan istrinya. Suatu hari, Istrinya bercerita tentang suatu tahayul, bahwa dongeng kuno mengatakan bahwa kucing hitam biasanya memiliki kekuatan sihir. Akibat kecanduan alkohol, tabiat si lelaki makin hari makin buruk. Ia sering bersikap buruk pada istri dan hewan peliharaannya. Puncaknya adalah saat ia mencongkel sebelah mata si kucing lalu beberapa waktu setelahnya ia pun membakar si kucing beserta rumah mereka. Setelah peristiwa itu kejadian-kejadian aneh mulai terjadi pada tokoh ‘aku’, termasuk datangnya seekor kucing yang mirip sekali dengan kucingnya sebelumnya. Akankah lelaki itu melakukan kesalahan yang sama terhadap si kucing? Kejahatan apakah yang telah ia lakukan sehingga hukuman yang sangat berat telah menantinya?

Membaca karya Poe rasanya seperti membaca kisah yang benar-benar terjadi di salah satu tempat di belahan dunia sana. Tentang dua sahabat yang di permukaan sangat akrab dan terlihat berteman baik. Tentang seseorang yang kelihatannya waras, tapi memiliki pikiran-pikiran gila. Atau tentang sebuah keluarga yang kena sihir dan kutukan dari hewan-hewan yang telah disiksa. Terjemahannya pun cukup nyaman dibaca. Cara bercerita Poe detail, menegangkan dari awal, dan penuh misteri sampai akhir. Jika kalian menyukai cerita-cerita misteri dan penuh ketegangan, tak salah jika kalian berkenalan dengan karya-karya Edgar Allan Poe. ^^
——————————–
Judul buku: Kucing Hitam | Penulis: Edgar Allan Poe | Penerjemah: Anton Kurnia | Editor: Mathori A Elwa | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | Jumlah halaman: 92 halaman | ISBN: 979-9481-62-7

-dhilayaumil-